Lymphogranuloma Venereum

Ditulis oleh Lenny Tan
Ditinjau dr. Reni Utari
Lymphogranuloma venereum disebabkan infeksi bakteri Chlamydia yang menimbulkan lesi pada kulit

Pengertian Lymphogranuloma Venereum

Lymphogranuloma venereum adalah salah satu penyakit menular seksual (PMS), yang disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis. Penyakit ini sering ditemukan di beberapa negara di Asia Tenggara, Afrika, India, maupun Amerika Selatan.

Jumlah kasus lymphogranuloma venereum meningkat dalam kurun waktu 10 tahun terakhir pada negara-negara maju, terutama pada hubungan homoseksual di antara pria.

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Gejala pada penyakit lymphogranuloma venereum dapat muncul beberapa hari atau beberapa bulan setelah terjadi kontak dengan bakteri penyebabnya. Indikasi yang sering ditemukan antara lain:

  • Luka kecil tanpa rasa sakit pada penis maupun vagina.
  • Bengkak dan kemerahan pada kulit di sekitar pangkal paha.
  • Pembengkakan pada bibir vagina (labia).
  • Munculnya darah atau nanah pada dubur maupun feses.
  • Pergerakan usus yang menimbulkan rasa nyeri (tenesmus).
  • Pembengkakan pada kelenjar getah bening di pangkal paha kanan dan kiri. Kondisi ini juga dapat berdampak pada kelenjar getah bening di anus, misalnya pada orang yang melakukan hubungan seks anal.

Penampakan klinis dari gejala-gejala lymphogranuloma venereum dibagi dalam tiga kategori berikut ini:

  1. Primary lesions
    Tahapan ini ditandai oleh hal-hal berikut:
    • Adanya benjolan atau luka pada kulit di area yang terpapar bakteri penyebab, seperti area genital ataupun mulut (oral).
    • Proctitis yang dapat menyebabkan perdarahan serta gejala nyeri pada area dubur, adanya lendir, konstipasi, maupun gejala gangguan saluran pencernaan lain.
    • Infeksi tenggorokan yang dapat menimbulkan peradangan maupun luka.
    • Infeksi tanpa gejala di bagian dubur pada penderita HIV.
  2. Secondary lesions
    Tahapan ini ditandai dengan:
    • Peradangan pada kelenjar getah bening, terutama pada area paha.
    • Adanya gejala sistemik, seperti demam, radang sendi, maupun radang paru-paru.
  3. Tertiary lesions
    Tahapan ini ditandai dengan infeksi bakteri yang menetap dalam tubuh dan mengarah pada kondisi peradangan yang kronis serta berdampak pada kerusakan jaringan sekitar. Hal ini dapat diperparah dengan terjadinya penyempitan pada area dubur.

Penyebab

Lymphogranuloma venereum termasuk infeksi kronis (jangka panjang) pada sistem limfatik tubuh manusia. Infeksi ini disebabkan oleh tiga jenis (serovars) bakteri Chlamydia trachomatis yang berbed, yaitu L1, L2, dan L3.

Bakteri-bakteri tersebut dapat menyebar melalui kontak seksual (baik anal, oral, maupun vaginal). Penyakit ini juga lebih umum terjadi pada pria daripada wanita, dan penderita HIV berpotensi tinggi untuk mengalaminya.

Diagnosis

Dalam memastikan diagnosis penyakit lymphogranuloma venereum, dokter terlebih dahulu akan memeriksa riwayat kesehatan maupun riwayat hubungan seksual pasien. Oleh sebab itu, Anda tidak perlu malu dan harus menjelaskan pada dokter apabila Anda merasa pernah berhubungan intim dengan orang yang dicurigai menderita penyakit ini.

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik. Beberapa hasil pemeriksaan fisik yang mengarah pada lymphogranuloma venereum meliputi:

  • Adanya saluran dan aliran tidak normal pada area dubur.
  • Pembengkakan pada labia maupun vulva di vagina.
  • Adanya rasa sakit atau nyeri pada area organ kelamin.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening pada bagian pangkal paha (inguinal lymphadenopathy).

Selain pemeriksaan fisik, terdapat sederet metode pemeriksaan penunjang yang dapat membantu proses diagnosis lymphogranuloma venereum. Serangkaian tes tersebut meliputi:

  • Tes darah untuk melihat ada atau tidaknya bakteri penyebab lymphogranuloma venereum dalam tubuh Anda.
  • Pemeriksaan biopsi dengan mengambil sampel jaringan pada kelenjar getah bening untuk diperiksa di laboratorium.
  • Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan untuk mendeteksi chlamydia.

Pengobatan

Lymphogranuloma venereum dapat diobati dengan menggunakan obat antibiotik. Contoh antibiotik yang bisa digunakan adalah doxycycline, erythromycin, azithromycin, tetracycline, dan fluoroquinolone.

Khusus tetracycline, obat ini tidak disarankan untuk digunakan pada penderita yang sedang hamil. Sementara penggunaan fluoroquinolone membutuhkan penelitian lebih lanjut mengenai dosis maupun durasi pemakaiannya.

Apabila pengobatan dijalani dengan saksama, harapan kesembuhan dari penyakit ini juga tinggi. Oleh sebab itu, patuhilah anjuran dari dokter.

Sebaliknya, jika tidak ditangani dengan baik, lymphogranuloma venereum dapat menyebabkan beberapa komplikasi berikut ini:

  • Peradangan pada otak (encephalitis). Komplikasi ini sangat jarang terjadi.
  • Terbentuk saluran yang tidak normal (fistula) antara dubur dan vagina.
  • Infeksi pada sendi, mata, hati, maupun jantung.
  • Adanya jaringan parut (scarring) dan penyempitan pada dubur.
  • Peradangan jangka panjang serta pembengkakan pada organ kelamin.

Dokter juga harus memberikan edukasi pada penderita lymphogranuloma venereum yang meliputi:

  • Pentingnya melakukan pemeriksaan maupun pengobatan secara dini.
  • Pentingnya pengetahuan mengenai penyakit lymphogranuloma venereum, yang dapat terlihat gejala-gejalanya secara klinis.
  • Pentingnya pemeriksaan pada penderita HIV mengingat penderitanya berisiko tinggi untuk terkena lymphogranuloma venereum.
  • Pantang melakukan hubungan seksual hingga pengobatan lymphogranuloma venereum benar-benar dinyatakan selesai dan pasien sudah sembuh total. Langkah ini bertujuan menghindari risiko penularan lymphogranuloma venereum.
  • Perlunya tindak lanjut pengobatan setiap satu minggu sekali. Pada pemeriksaan lanjutan ini, dokter akan:
    1. Mengulas kembali hasil dari kunjungan sebelumnya.
    2. Memastikan kepatuhan pasien terhadap langkah pengobatan untuk meredakan gejala-gejala yang timbul.
    3. Memberikan edukasi mengenai kesehatan seksual yang lebih dalam serta melakukan konseling untuk gangguan-gangguan kesehatan lain yang mungkin muncul.
  • Perlu dilakukan tes penyembuhan (test of cure atau TOC) pada empat minggu setelah perawatan selesai.

Pencegahan

Cara terbaik untuk mencegah lymphogranuloma venereum adalah dengan menghindari seks bebas dan setialah pada pasangan Anda. Anda juga bisa menggunakan alat pengaman ketika berhubungan intim, misalnya dengan kondom. Langkah ini dapat mengurangi risiko penularan penyakit ini.

Informasi Dokter

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Segera lakukan konsultasi dengan dokter apabila Anda merasa telah melakukan kontak seksual dengan orang yang Anda curigai menderita penyakit menular seksual, termasuk lymphogranuloma venereum. Demikian pula bila Anda merasakan gejala-gejala yang mengarah pada penyakit ini.

Referensi

Medline Plus. https://medlineplus.gov/ency/article/000634.htm
Diakses pada 13 Maret 2019

Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/220869-overview
Diakses pada 13 Maret 2019

Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/std/tg2015/lgv.htm
Diakses pada 13 Maret 2019

Pathology Outlines. http://www.pathologyoutlines.com/topic/penscrotumLGV.html
Diakses pada 13 Maret 2019

South Australia Health. https://www.sahealth.sa.gov.au/wps/wcm/connect/public+content/sa+health+internet/clinical+resources/clinical+topics/sexually+transmitted+infection+guidelines/lymphogranuloma+venereum+diagnosis+and+treatment
Diakses pada 13 Maret 2019

Stanford Health Care. https://stanfordhealthcare.org/medical-conditions/sexual-and-reproductive-health/lgv.html
Diakses pada 13 Maret 2019

New South Wales Ministry of Health. https://www.health.nsw.gov.au/Infectious/factsheets/Pages/lymphogranuloma_venereum.aspx
Diakses pada 13 Maret 2019

Australasian Sexual Health Association. http://sti.guidelines.org.au/sexually-transmissible-infections/lgv
Diakses pada 13 Maret 2019

Back to Top