Lupus

Gejala sakit lupus pada umumnya adalah pusing, demam, nyeri sendi, nyeri dada, mata kering dan rambut rontok.
Penyakit lupus lebih banyak menyerang perempuan dibanding laki-laki.

Pengertian Lupus

Lupus merupakan salah satu penyakit autoimun. Penyakit ini muncul ketika sistem kekebalan dalam tubuh menyerang jaringan tubuhnya sendiri. Lupus dapat menyebabkan radang pada berbagai bagian tubuh seperti sendi, jantung, paru-paru, pembuluh darah, ginjal, bahkan otak. Terdapat beberapa tipe lupus, antara lain:

  1. Systemic Lupus Erythematous (SLE)
    SLE merupakan jenis lupus yang paling sering ditemukan dan dapat dibedakan menjadi ringan dan berat. Lupus jenis ini banyak menyerang bagian dalam tubuh.
  1. Neonatal Lupus
    Neonatal Lupus merupakan jenis lupus yang terjadi pada bayi baru lahir, akibat lupus yang diderita sang ibu. Meski demikian, lupus jenis ini jarang ditemukan.
  1. Cutaneous Lupus Erythematosus (CLE)
    Ini merupakan jenis lupus penyebab ruam merah yang sulit hilang.
  1. Drug-Induced Lupus atau Lupus akibat Efek Obat
    Drug-Induced Lupus terjadi akibat konsumsi jenis obat-obatan tertentu, seperti beberapa jenis obat darah tinggi (hipertensi), antibiotik, maupun obat antikejang. Oleh karena itu, biasanya gejala lupus jenis ini akan menghilang dengan sendirinya, jika pemakaian obat tersebut dihentikan.

Jumlah penderita lupus di Indonesia belum diketahui secara pasti. Namun berdasarkan data Kementerian Kesehatan, ada 2.166 pasien rawat inap dengan lupus di 858 rumah sakit di Indonesia tahun 2016. Penyakit ini harus tetap diwaspadai. Sebab, lupus bisa menyebabkan kerusakan pada berbagai bagian tubuh, sehingga memerlukan penanganan yang rumit.

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Lupus memiliki banyak gejala yang seringkali menyerupai penyakit lain, seperti pusing, demam, dan nyeri sendi. Penderita lupus pun akan menunjukkan tanda-tanda berupa rasa kaku dan bengkak, nyeri dada, mata kering, rambut rontok, jari yang pucat atau kebiruan saat dingin (fenomena Raynaud), sesak napas, dan sariawan.

Selain itu, gejala khas dari lupus adalah munculnya ruam (rash) di pipi dan hidung. Bentuknya menyerupai kupu-kupu, sehingga disebut butterfly-shaped rash. Komplikasi pada lupus yang dapat timbul seperti gagal ginjal, radang paru, maupun penyakit kardiovaskular (pada jantung dan pembuluh darah), seperti serangan jantung.

Penyebab

Penyebab lupus belum diketahui dengan pasti hingga saat ini. Namun, ada beberapa faktor yang diduga berkaitan dengan penyakit ini, yaitu:

  • Genetik
    Lupus dapat diturunkan apabila ada orangtua atau keluarga dekat yang sebelumnya menderita lupus.
  • Hormon
    Belum ada penelitian yang spesifik membahas peran hormon dalam penyakit lupus. Meski demikian, penelitian lain telah mengungkap adanya kaitan hormon estrogen (hormon seks pada perempuan) dengan penyakit lupus. Sehingga, lupus lebih banyak menyerang perempuan dibanding laki-laki.
  • Faktor-faktor lingkungan yang lain
    Faktor-faktor lain yang diduga bisa menyebabkan atau memicu gejala penyakit lupus adalah obat-obatan, stres, kebiasaan merokok, infeksi, dan paparan sinar matahari. Perempuan berusia 15-45 tahun memiliki risiko lebih tinggi terhadap lupus.

Diagnosis

Pemeriksaan untuk penyakit lupus tidak bisa berdiri sendiri. Sebab, gejala yang dialami akan berbeda pada setiap orang. Selain itu, lupus dapat menyerang berbagai bagian dalam tubuh.

Lupus sering menimbulkan gejala serupa penyakit lain. Oleh karena itu, selain melihat gejalanya, penting untuk menjalani beberapa pemeriksaan. Misalnya, pemeriksaan darah dan urine, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang lain yang bisa menjadi acuan untuk memastikan adanya penyakit lupus pada seorang pasien.

  • Pemeriksaan darah lengkap
    Pemeriksaan darah lengkap dilakukan untuk menghitung jumlah sel darah merah, sel darah putih, trombosit, serta hemoglobin (protein dalam sel darah merah).
  • Pemeriksaan urine
    Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengambil sampel urine untuk melihat peningkatan protein maupun jumlah sel darah merah dalam urine, yang menandakan kerusakan ginjal. Adanya kerusakan ginjal merupakan salah satu tanda penyakit lupus. Pemeriksaan tambahan seperti pemeriksaan ginjal, bisa mendukung tes urine.
  • Pemeriksaan fisik
    Pemeriksaan fisik bertujuan menemukan ruam khas penderita lupus, yang juga dikenal sebagai butterfly-shaped rash, maupun ruam di bagian tubuh lain. Selain itu, pemeriksaan juga dilakukan untuk menemukan tanda lain seperti sariawan pada rongga mulut.
  • X-ray
    X-ray pada dada dilakukan untuk melihat kelainan di paru-paru. Sebab, lupus juga bisa menyebabkan kerusakan paru-paru.
  • Biopsi
    Pemeriksaan dilakukan melalui pengambilan jaringan pada organ tertentu. Untuk pasien yang diduga menderita lupus, pemeriksaan dijalankan dengan mengambil sampel jaringan dari kulit yang terkena ruam.
  • Antinuclear antibody test (ANA)
    Ini merupakan tes darah yang dilakukan laboratorium untuk mendeteksi adanya antibodi hasil produksi sistem imun (ketahanan tubuh). Mayoritas penderita lupus menunjukkan hasil tes ANA yang positif. Namun, tes ini bukan satu-satunya jaminan dalam diagnosis lupus. Apabila tes ANA menunjukkan hasil positif, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan antibodi lanjutan untuk memastikan diagnosis.

Pengobatan

Belum ada pengobatan yang efektif untuk lupus. Sebab, penyebab dari penyakit ini pun sebenarnya belum terungkap sampai sekarang. Meski demikian, pemberian obat-obatan sesuai gejala yang timbul, dapat membantu. Oleh karena itu, penderita lupus biasanya perlu berkonsultasi dengan beberapa dokter dari berbagai spesialisasi, sesuai dengan gejala yang dialami. Sebab pada prinsipnya, pengobatan lupus dilakukan untuk mencegah meluasnya penyakit ini, meredakan rasa sakit, dan mempertahankan bagian tubuh yang masih sehat. 

Pencegahan

Pencegahan penyakit lupus dilakukan sesuai dengan gejala yang muncul. Pencegahan ini penting agar gejala yang telah muncul tidak memburuk. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan, yaitu:

  • Memeriksakan kondisi kesehatan ke dokter secara berkala, serta jika gejala yang Anda rasakan, ternyata memburuk. Jangan lupa untuk rutin mengonsumsi obat-obatan dari dokter, untuk mencegah gejala semakin parah.
  • Menggunakan tabir surya dengan sun protection factor (SPF) tinggi, memakai topi, serta baju lengan panjang dan celana panjang. Sebab, para penderita lupus biasanya sangat rentan terhadap sinar ultraviolet (UV) dari matahari.
  • Berolahraga secara teratur, untuk meregangkan sendi yang kaku akibat penyakit lupus, sekaligus memelihara kebugaran tubuh.
  • Menjalani pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan sehat seperti buah dan sayur, beristirahat dengan cukup, serta mengurangi stres. Langkah ini bisa membantu Anda mencegah gejala semakin parah.

Informasi Dokter

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Jika muncul ruam yang tidak diketahui penyebabnya maupun tiba-tiba, Anda perlu berkonsultasi dengan dokter. Sebab, ruam merupakan ciri khas lupus. Anda pun disarankan mengunjungi dokter jika timbul gejala-gejala lain seperti demam, nyeri, sakit, dan rasa tidak nyaman pada bagian-bagian tubuh. 

Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Berkonsultasi dengan Dokter?

Sebelum berkonsultasi dengan dokter, Anda dapat membuat daftar pertanyaan yang ingin disampaikan saat berkonsultasi. Selain itu, ketika berkonsultasi, sebaiknya Anda menjelaskan secara terperinci mengenai gejala-gejala yang dialami. Sebab, dokter akan menentukan perawatan selanjutnya sesuai dengan gejala-gejala yang Anda alami.

 

Referensi

Diagnosis and Management of Systemic Lupus Erythematosus: A Case Report. https://www.journalmc.org/index.php/JMC/article/view/2782/2146
diakses pada 28 Oktober 2018.

Lupus Foundation of America. https://resources.lupus.org/entry/doctors-who-treat
diakses pada 28 Oktober 2018.

Lupus: An Overview of the Disease and Management Options. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3351863/
diakses pada 28 Oktober 2018.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/lupus/diagnosis-treatment/drc-20365790
diakses pada 28 Oktober 2018.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/lupus/symptoms-causes/syc-20365789
diakses pada 28 Oktober 2018.

Medline. https://medlineplus.gov/lupus.html
diakses pada 28 Oktober 2018.

Situasi Lupus di Indonesia (Depkes). http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/Infodatin-Lupus-2017.pdf
diakses pada 28 Oktober 2018.

Back to Top