Kanker

Limfoma Hodgkin

Diterbitkan: 03 Dec 2019 | dr. Joni Indah SariDitinjau oleh dr. Anandika Pawitri
image Limfoma Hodgkin
Limfoma Hodgkin terjadi apda sistem limfatik
Limfoma Hodgkin adalah kanker darah yang berasal dari sistem limfatik. Sistem limfatik merupakan bagian dari imunitas tubuh.Sistem limfatik tersusun atas kelenjar, pembuluh dan cairan getah bening. Cairan getah bening mengalir di dalam pembuluh getah bening dan mengandung sel darah putih (limfosit).Pada limfoma Hodgkin, terjadi gangguan pada sel darah putih limfosit tipe B. Limfosit yang rusak diproduksi dalam jumlah berlebihan dan tidak dapat berfungsi dengan baik. Akibatnya, penderita menjadi rentan terkena infeksi.Limfoma Hodgkin dapat menyerang orang pada segala usia. Namun mayoritas penderitanya berusia 20 hingga 40 tahun, atau 55 tahun ke atas.
Limfoma Hodgkin
Dokter spesialis Onkologi
GejalaPembengkakan kelenjar getah bening, demam, keringat malam
Faktor risikoSistem imun yang lemah, pernah mengalami limfoma non-hodgkin, Epstein barr virus
Metode diagnosisWawancara, pemeriksaan fisik, biopsi pada kelenjar getah bening
PengobatanKemoterapi, radioterapi, transplantasi stem cell
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala
Secara umum, tanda dan gejala limfoma Hodgkin meliputi:
  • Pembengkakan pada kelenjar getah bening, terutama di leher, ketiak, dan selangkangan. Pembengkakan ini biasanya tidak terasa nyeri.
  • Demam
  • Berkeringat saat malam hari.
  • Penurunan berat badan.
  • Rasa lelah yang tidak kunjung hilang.
  • Gatal-gatal di seluruh tubuh yang parah dan terus berlangsung.
  • Rasa nyeri di kelenjar getah bening setelah meminum alkohol.
  • Pendarahan, seperti mimisan atau darah menstruasi yang terlalu banyak.
  • Batuk yang tidak kunjung sembuh.
  • Sesak napas.
Penyebab utama limfoma Hodgkin adalah mutasi pada DNA sel limfosit tipe B. Mutasi ini menyebabkan sel tidak dapat berfungsi dengan baik dan memperbanyak diri secara berlebihan.Limfosit yang tidak normal tersebut awalnya hanya ada di satu atau beberapa kelenjar getah bening di area tertentu. Misalnya, di leher, ketiak, dan selangkangan.Beberapa waktu kemudian, sel-sel ini bisa menyebar ke organ lain. Mulai dari sumsum tulang, hati, hingga paru-paru.Penyebab pasti dari mutasi DNA belum diketahui hingga saat ini. Namun para pakar menduga bahwa beberapa faktor di bawah ini bisa berpengaruh:
  • Sistem kekebalan tubuh yang lemah

Berbagai kondisi yang menurunkan sistem kekebalan tubuh berpotensi meningkatkan risiko limfoma Hodgkin. Contohnya, menderita penyakit HIV/AIDS atau mengonsumsi obat penurun kekebalan tubuh (imunosupresan) karena menerima transplantasi organ.
  • Pernah menderita limfoma non-Hodgkin

Limfoma non-Hodgkin termasuk dalam kelompok kanker darah. Peningkatan risiko limfoma Hodgkin pada orang yang pernah menderita limfoma non-Hodgkin mungkin disebabkan oleh kemoterapi atau radioterapi.
  • Epstein barr virus ( EBV)

Orang yang pernah terinfeksi virus ini berisiko lebih tinggi untuk menderita limfoma Hodgkin. EBV seringkali menyebabkan penyakit demam kelenjar (glandular fever).
  • Kelebihan berat badan

Kelebihan berat badan atau obesitas bisa meningkatkan risiko limfoma Hodgkin, terutama pada wanita.
Dokter menentukan diagnosis limfoma Hodgkin melalui tanya jawab, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
  • Tanya jawab

Dokter akan menanyakan keluhan Anda serta riwayat medis Anda maupun keluarga.
  • Pemeriksaan fisik

Dokter akan mengecek ada tidaknya pembengkakan kelenjar getah bening di tubuh Anda.
  • Pemeriksaan penunjang

Beberapa pemeriksaan penunjang yang akan diminta adalah:
  • Biopsi

Biopsi dilakukan dengan mengambil sebagian kecil kelenjar getah bening yang bermasalah. Sampel ini kemudian diperiksa di bawah mikroskop untuk melihat ada tidaknya sel-sel kanker atau tidak.Melalui biopsi, dokter juga bisa menentukan jenis limfoma Hodgkin. Hal ini penting untuk menentukan jenis pengobatan yang akan diberikan.
  • Tes darah

Pemeriksaan darah bertujuan memeriksa jumlah sel darah putih, sel darah merah, keping darah, serta zat lainnya. Dengan ini, fungsi hati dan ginjal pun bisa dinilai.Selain untuk mendukung diagnosis, tes darah juga digunakan untuk melihat keefektifan terapi pengobatan yang dijalani oleh pasien.
  • Pungsi lumbal

Pada pungsi lumbal, dokter akan menggunakan jarum panjang untuk mengambil cairan dari dalam sumsum tulang. Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan bius lokal.
  • Pemeriksaan pemindaian

Pemindaian yang dapat dianjurkan meliputi rongten dada, CT scan, MRI, serta PET scan. Pemeriksaan ini memungkinkan dokter untuk mendeteksi stadium serta penyebaran kanker.

Stadium limfoma Hodgkin

Sama seperti kanker pada umumnya, limfoma juga memiliki beberapa stadium di bawah ini:
  • Stadium 1

Kanker hanya menyerang satu kelompok kelenjar getah bening, misalnya hanya kelenjar getah bening di leher.
  • Stadium 2

Kanker menyerang dua atau lebih kelenjar getah bening. Pada stadium 2, kanker dapat terjadi pada kelanjar getah bening di bagian atas atau bawah diafragma, tapi tidak keduanya.
  • Stadium 3

Kanker menyerang kelompok getah bening yang ada di atas dan di bawah diafragma.
  • Stadium 4

Kanker telah menyebar melalui pembuluh getah bening ke organ lain atau sumsum tulang.
Pengobatan limfoma Hodgkin tergantung pada tingkat keparahan dan tipe limfoma Hodgkin. Kondisi kesehatan maupun pilihan Anda juga akan jadi pertimbangan.Beberapa pilihan pengobatan yang bisa dianjurkan oleh dokter meliputi:
  • Kemoterapi

Kemoterapi dilakukan dengan memberikan obat yang dapat membunuh sel-sel kanker. Obat ini dapat diberikan melalui pil, infus, atau keduanya. Kemoterapi sering kali diberikan bersama dengan radioterapi.Efek samping kemoterapi tergantung dari obat apa yang diberikan. Namun secara umum, efek sampingnya bisa berupa rasa mual dan rambut rontok.Dalam jangka panjang, kemoterapi juga berisiko menyebabkan penyakit jantung, kerusakan paru-paru, gangguan kesuburan, dan kanker lain (seperti leukemia).
  • Radioterapi

Radioterapi menggunakan sinar berenergi besar untuk membunuh sel-sel kanker. Durasi terapi yang akan dijalani oleh pasien tergantung dari tingkat keparahan penyakitnya. Umumnya, terapi ini berlangsung selama 30 menit dan dilakukan lima kali seminggu.Efek samping radioterapi meliputi kemerahan pada kulit dan kerontokan rambut pada area yang disinari. Beberapa penderita bisa pula merasa lemas setelah terapi.Selain itu, terapi radiasi juga memiliki berisiko untuk menyebabkan penyakit jantung, gangguan tiroid, infertilitas, dan kanker lain (seperti kanker payudara atau kanker paru-paru).
  • Transplantasi stem cell

Pada transplantasi ini, sebagian sel punca atau stem cell akan diambil dan disimpan. Penderita kemudian akan menjalani terapi radiasi dan kemoterapi yang bertujuan untuk membunuh sel kanker.Setelah itu, stem cell yang disimpan tadi akan dimasukkan kembali ke dalam tubuh Anda melalui pembuluh darah. Sel punca ini akan membantu dalam pembentukan sumsum tulang yang sehat.Namun sama seperti operasi lain, transplantasi sel punca juga memiliki risiko komplikasi. Salah satu komplikasinya adalah infeksi.
Karena penyebabnya belum diketahui  dengan pasti, pencegahan limfoma Hodgkin juga belum bisa dilakukan secara pasti.Yang bisa Anda lakukan adalah menghindari faktor-faktor risiko limfoma Hodgkin. Contohnya, mencegah penularan HIV/AIDS dengan tidak menggunakan obat-obatan terlarang dan menerapkan seks bebas.
Anda sebaiknya berkonsultasi dengan Dokter jika mengalami pembengkakan kelenjar getah bening. Pasalnya, kondisi ini bisa saja menandakan gejala limfoma Hodgkin atau gangguan medis serius lainnya.
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Cari tahu apakah ada anggota keluarga Anda yang mengalami keluhan yang serupa.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait limfoma Hodgkin?
  • Apakah Anda rutin mengkonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan bisa menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis limfoma Hodgkin. Dengan ini, penyebabnya bisa diketahui agar pengobatan segera bisa diberikan.
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/hodgkin-lymphoma/
Diakses pada 2 Desember 2019
Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/201886-overview#showall
Diakses pada 2 Desember 2019
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hodgkins-lymphoma/symptoms-causes/syc-20352646
Diakses pada 2 Desember 2019
American Cancer  Society. https://www.cancer.org/cancer/hodgkin-lymphoma/causes-risks-prevention/prevention.html
Diakses pada 2 Desember 2019
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Dokter Terkait

Artikel Terkait

Mengenal Fungsi Leukosit (Sel Darah Putih) dan Beragam Jenisnya untuk Melawan Infeksi

Selain sel darah merah, tubuh manusia juga memiliki sel darah putih alias leukosit yang beragam jenis. Apa sebenarnya fungsi leukosit?
09 Dec 2019|Arif Putra
Baca selengkapnya
Apa itu leukosit dan fungsi sel darah putih dalam tubuh

Ria Irawan Meninggal Dunia Setelah Mengidap Kanker untuk yang Kedua Kali

Ria Irawan meninggal dunia, Senin, 6 Januari 2020, akibat kanker yang diidapnya. Setelah sempat sembuh dari kanker kelenjar getah bening, Ria kembali didiagnosis menderita kanker endometrium, yang akhirnya meluas hingga ke paru-paru dan otak.
06 Jan 2020|Nina Hertiwi Putri
Baca selengkapnya
Ria Irawan meninggal dunia setelah dua kali terdiagnosis kanker

Leukemia Adalah Penyakit Keturunan, Benarkah?

Leukemia penyakit keturunan sempat menjadi perbincangan beberapa waktu yang lalu. Faktor keturunan memang memegang peranan dalam terjadinya kanker darah. Anda akan memiliki risiko yang lebih besar mengalami kanker apabila memiliki keluarga dengan riwayat serupa.
11 Jun 2019|Giovanni Jessica
Baca selengkapnya
Leukemia penyakit keturunan dalam keluarga