Kulit & Kelamin

Lichen Sclerosus

Diterbitkan: 21 Apr 2021 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Lichen Sclerosus
Lichen Sclerosus paling sering terjadi di kulit kelamin
Lichen sclerosus adalah kondisi peradangan kronis, ditandai dengan timbulnya bercak-bercak putih yang paling sering terjadi di area kelamin. Kulit yang terkena bercak biasanya terlihat lebih tipis dibandingkan kulit normal.Semua orang berisiko mengalami lichen sclerosus. Namun, kelomopok yang berisiko tinggi adalah wanita setelah menopause atau sebelum pubertas. Meski sangat jarang terjadi, kondisi ini juga dapat menimpa laki-laki. Lichen sclerosus pada laki-laki disebut juga dengan Balanitis Xerotica Obliterans.Lichen sclerosus tidak dapat disembuhkan dan bersifat kambuhan. Meski demikian, terdapat pilihan perawatan untuk mengendalikan dan mengurangi keparahan gejala. Penanganan lichen sclerosus meliputi pemberian obat-obatan dan penyesuaian gaya hidup.Penderita lichen sclerosus dianjurkan untuk telaten merawat dan rutin memeriksakan kondisi kulitnya ke dokter.
Lichen Sclerosus
Dokter spesialis Kulit
GejalaMuncul bercak putih di kulit kelamin, gatal, sakit saat buang air
Faktor risikoFaktor genetik, gangguan hormon, infeksi
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, biopsi kulit
PengobatanObat-obatan, tindakan medis
ObatKortikostreoid, immunosuppressant, retinoid
KomplikasiSakit saat berhubungan intim, sulit kencing, sembelit
Kapan harus ke dokter?Saat mengalami gejala
Gejala lichen sclerosus yang utama adalah munculnya bercak-bercak putih dengan permukaan yang halus dan mengilap. Lama-kelamaan, bercak ini semakin membesar sampai akhirnya membuat kulit menipis dan keriput. Bercaknya dapat terbentang dari area labia hingga ke anus.Selain itu, gejala lain yang sering muncul pada penderita lichen sclerosus, di antaranya adalah:
  • Gatal di area vulva (kemaluan wanita)
  • Kulit yang terdampak menjadi lebih mudah tergores dan terluka.
  • Muncul lebam yang besar.
  • Kulit melepuh
  • Kulit mudah berdarah meskipun hanya diusap
  • Gatal, berdarah, atau rasa sakit pada anus
  • Rasa sakit saat berhubungan intim
  • Rasa sakit atau bahkan berdarah saat buang air besar
  • Susah kencing atau sakit saat kencing
  • Ereksi yang terasa menyakitkan (bagi laki-laki)
Perlu diketahui bahwa penyakit lichen sclerosus tidak mempengaruhi organ seksual bagian dalam seperti vagina atau rahim.
Penyebab lichen sclerosus belum diketahui dengan jelas hingga sekarang. Sebagian besar penelitian mengemukakan bahwa lichen sclerosus merupakan kondisi autoimun. Gangguan autoimun muncul ketika sistem imun atau kekebalan tubuh menyerang jaringan tubuh yang sehat karena keliru membedakannya dengan zat berbahaya di dalam tubuh.  Di samping itu, para pakar menduga bahwa beberapa faktor di bawah ini bisa meningkatkan risikonya:
  • Faktor genetik
  • Ketidakseimbangan hormon
  • Infeksi
  • Cedera kulit yang sudah lama terjadi
  • Wanita yang telah mengalami menopause
  • Pira yang tidak menjalani sunat (penyakit ini sering memengaruhi kulup)
  • Anak yang belum mengalami pubertas
  • Menderita penyakit autoimun, seperti:
    • Penyakit tiroid terkait autoimun
    • Anemia terkait autoimun
    • Vitiligo
    • Diabetes tipe I
    • Alopecia areata
  • Memiliki riwayat pelecehan seksual
Dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan tentang gejala serta riwayat penyakit yang pernah Anda derita. Dokter kemudian melakukan pemeriksaan fisik pada area kulit yang mengalami kelainan.Pada umumnya, dokter dapat memastikan diagnosis lichen sclerosus melalui tanya jawab dan pemeriksaan fisik. Namun bila diperlukan, dokter juga bisa menganjurkan pemeriksaan penunjang berupa biopsi kulit.Melalui biopsi, dokter akan mengambil sedikit jaringan kulit Anda. Sampel ini kemudian diperiksa di bawah mikroskop guna menentukan diagnosis.
Sampai saat ini, belum ada pengobatan khusus yang dapat menyembuhkan lichen sclerosus secara total. Penderita yang mengalami lichen sclerosus pada area kelamin, tetap perlu melakukan penanganan walau tidak merasakan gejala. Pasalnya, kondisi ini berpotensi menimbulkan masalah saat buang air kecil maupun berhubungan intim.Tujuan penanganan lichen sclerosus adalah untuk meringankan gejala yang dialami. Pilihan perawatan lichen sclerosus yang dianjurkan meliputi:
  • Kortikosteroid. Pada awal pengobatan, obat ini perlu dioleskan dua kali sehari. Tapi setelah beberapa minggu, biasanya dokter akan membatasi penggunaan menjadi dua kali seminggu. Jika obat oles kurang menunjukkan hasil, dokter mungkin akan memberikan kortikosteroid dalam bentuk injeksi.
  • Obat imunosupresif seperti tacrolimus. Obat ini diberikan apabila terapi kortikosteroid tidak memberikan hasil atau jika ingin menghindari penggunaan kortikostreoid dalam jangka Panjang
  • Obat golongan retinoid seperti acitretin yang bekerja dengan menormalkan pertumbuhan dan perkembangan kulit.
  • Sunat pada pria yang mengalami lichen sclerosus di area kulup.
  • Terapi sinar ultraviolet pada area kulit yang mengalami bercak. Namun langkah ini tidak dianjurkan pada bercak-bercak di area kelamin.
  • Pada wanita yang mengalami lesi kulit di area genital hingga memicu nyeri saat berhubungan seks, dokter mungkin memberikan terapi dilator vagina, pelumas berbahan dasar air, dan salep pereda nyeri.
Baca jawaban dokter: Bagaimana cara menjaga kesehatan kulit secara umum?

Komplikasi

Jika tidak diobati dengan baik, penyakit lichen sclerosus dapat menimbulkan komplikasi berupa:
  • Rasa sakit saat berhubungan intim
  • Retensi urine (sulit kencing)
  • Sembelit
  • Ketidakmampuan menarik kembali kulup.
  • Meningkatkan risiko terkena karsinoma sel skuamosa (satu jenis kanker kulit) pada kulit area kelamin.
Baca juga: Vagina Sakit saat Berhubungan Intim? Ini Ragam Penyebabnya
Tidak ada cara untuk mencegah lichen sclerosus, karena penyebabnya belum tidak diketahui secara pasti. Akan tetapi, terdapat sejumlah langkah yang bisa Anda lakukan untuk mencegah lichen sclerosus semakin parah dengan meredakan berbagai gejalanya.Pencegahan tersebut dapat dilakukan dengan menghindari gesekan serta iritasi (pada kulit area kelamin) dengan menerapkan hal berikut ini:
  • Menghindari kegiatan berkuda serta bersepeda jarak jauh.
  • Pakai pakaian dalam serta pakaian luar yang longgar.
  • Gunakan sabun serta detergen tanpa pewangi. Hindari juga mandi busa karena busanya dapat menyebabkan iritasi yang berujung pada rasa gatal.
  • Saat pakaian basah (misalnya setelah renang atau kehujanan), ganti sesegera mungkin.
  • Meski tidak ada pola diet khusus untuk penderita lichen sclerosus, tetapi Anda dapat menerapkan panduan pola makan yang dapat mengurangi inflamasi atau perdangan, seperti:
    • Pilih makanan dan minuman rendah oksalat
    • Makan makanan kaya kalsium
    • Konsumsi suplemen kalsium sitrat setiap hari
    • Minum banyak air putih
Baca juga: Ini Jenis Makanan untuk Penderita Autoimun Seperti Ashanty
Berkonsultasilah ke dokter bila Anda mengalami gejala lichen sclerosus. Konsultasi medis rutin setiap 6-12 bulan sekali juga diperlukan bagi Anda yang pernah terdiagnosis mengalami kondisi ini.
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait lichen sclerosus?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis lichen sclerosus agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
Cedars Sinai. https://www.cedars-sinai.org/health-library/diseases-and-conditions/l/lichen-sclerosus.html
Diakses pada 7 April 2021
Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/16564-lichen-sclerosus/prevention
Diakses pada 7 April 2021
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/lichen-sclerosus/symptoms-causes/syc-20374448
Diakses pada 7 April 2021
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK538246/
Diakses pada 7 April 2021
WebMD. https://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/lichen-sclerosis#1
Diakses pada 3 Desember 2019
Healthline. https://www.healthline.com/health/lichen-sclerosus#treatment
Diakses pada 3 Desember 2019
NCBI.
Diakses pada 7 April 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email