Tingginya sel darah putih di dalam darah (Leukositosis) dapat menjadi pertanda seseorang mengidap kanker.
Tingginya sel darah putih di dalam darah (Leukositosis) dapat menjadi pertanda seseorang mengidap kanker.

Leukositosis adalah suatu keadaan dimana sel darah putih (leukosit) dalam darah meningkat atau diproduksi secara berlebihan. Sel darah putih (leukosit) merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh (sistem imun) yang berperan dalam membantu tubuh memerangi infeksi dan penyakit. Sel darah putih dibuat atau diproduksi oleh sumsum tulang belakang yang kemudian akan disalurkan dalam darah dan sisanya akan disimpan dalam sumsum tulang belakang. Dalam tubuh manusia, terdapat banyak jenis atau komponen sel darah putih (leukosit) yaitu neutrofil, limfosit, monosit, eosinofil, dan basofil.

Leukositosis dapat terjadi pada semua orang, baik pria maupun wanita. Leukositosis umum terjadi apabila tubuh Anda dalam keadaan sakit. Akan tetapi, kadang dapat muncul sebagai isyarat bahwa tubuh Anda sedang dalam keadaan stres. Berikut merupakan gejala-gejala yang paling umum ditemukan pada penyakit leukositosis antara lain:

  • Berat badan serta nafsu makan yang menurun.
  • Mudah lebam maupun perdarahan (bleeding) pada area tubuh.
  • Nyeri pada bagian perut (abdomen), lengan, dan kaki.
  • Pengeluaran keringat yang berlebihan.
  • Mual yang terus menerus.
  • Demam tinggi.
  • Penglihatan menjadi terganggu.
  • Pusing.
  • Lemah dan merasa lelah.
  • Kesulitan dalam berpikir.

Penyebab leukositosis dikategorikan berdasarkan tipe sel darah putih yang meningkat dalam tubuh, yaitu:

  • Neutrofilia
    Neutrofilia merupakan jenis leukositosis yang terjadi akibat peningkatan jumlah neutrofil dalam tubuh. Neutrofil merupakan jenis leukosit yang paling umum dan berjumlah 40 hingga 60 persen dari total sel leukosit tubuh. Selain itu, neutrofilia merupakan jenis leukositosis yang paling umum ditemukan. Peningkatan neutrofil dalam tubuh dapat disebabkan oleh:
    • Infeksi
    • Peradangan (inflamasi) dalam jangka waktu yang cukup lama, termasuk luka dan peradangan sendi (arthritis).
    • Reaksi pada obat-obatan jenis tertentu seperti steroid, lithium, dan obat-obatan hirup (inhalasi).
    • Reaksi terhadap stres atau tekanan baik secara fisik maupun mental; seperti kecemasan, perawatan bedah, maupun olahraga.
    • Kebiasaan merokok.
    • Pasca tindakan pengambilan limpa dalam tubuh.
  • Limfositosis
    Limfositosis merupakan jenis leukositosis yang terjadi akibat peningkatan jumlah limfosit dalam tubuh. Limfosit berjumlah sekitar 20 hingga 40 persen dari total jumlah sel leukosit. Selain neutrofilia, limfositosis juga merupakan jenis leukositosis yang paling sering ditemukan. Limfositosis disebabkan oleh:
    • Infeksi virus.
    • Reaksi alergi.
    • Leukemia (kanker sel darah putih).
    • Batuk rejan (pertusis atau batuk seratus hari)
  • Monositosis
    Monositosis merupakan jenis leukositosis yang terjadi akibat peningkatan jumlah monosit dalam tubuh. Monosit hanya terdapat sekitar dua hingga delapan persen dalam leukosit tubuh sehingga leukositosis jenis ini jarang ditemukan. Monositosis dapat terjadi karena hal-hal berikut yaitu:
    • Infeksi terhadap beberapa hal seperti virus Epstein-Barr, tuberkulosis, serta infeksi jamur.
    • Pasca tindakan pengambilan limpa dari dalam tubuh.
    • Penyakit sistem kekebalan tubuh (autoimun), seperti penyakit lupus dan kolitis ulseratif (luka dan peradangan pada usus besar).
    • Kanker
  • Eosinofilia
    Eosinofilia merupakan jenis leukositosis yang terjadi akibat peningkatan jumlah eosinofil dalam tubuh. Eosinofil hanya terdapat sekitar satu hingga dua persen dalam leukosit tubuh sehingga leukositosis jenis ini jarang ditemukan. Eosinofilia dapat terjadi karena:
    • Infeksi parasit.
    • Beberapa penyakit kulit.
    • Reaksi alergi termasuk asma dan rhinitis
    • Limfoma atau kanker yang berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh.
  • Basofilia
    Basofilia merupakan jenis leukositosis yang terjadi akibat peningkatan jumlah basofil dalam tubuh. Basofil merupakan jenis leukosit yang paling sedikit dalam tubuh, yaitu hanya 0.1 hingga satu persen. Oleh karena itu, basofilia sangat jarang ditemukan atau dapat dikatakan merupakan keadaan yang langka. Basofilia dapat terjadi karena:
    • Leukemia dan kanker sumsum tulang merupakan penyebab yang paling sering ditemukan pada penderita basofilia.
    • Basofilia juga dapat disebabkan oleh reaksi alergi.

Beberapa prosedur yang dapat dilakukan guna memastikan diagnosis penyakit leukositosis antara lain adalah sebagai berikut:

  • Dokter pada awalnya akan menanyakan mengenai riwayat kesehatan Anda, termasuk obat-obatan yang sedang Anda konsumsi saat ini, hingga alergi yang mungkin Anda miliki.
  • Biasanya Anda memiliki antara 4.000 dan 11.000 sel darah putih per mikroliter darah.
  • Leukositosis terjadi apabila jumlah sel darah putih (leukosit) dalam tubuh Anda mencapai lebih dari 11.000 sel/mm3.
  • Jumlah sel darah putih antara 50.000 dan 100.000 per mikroliter biasanya berarti infeksi yang sangat parah atau kanker di suatu tempat di dalam tubuh.
  • Jumlah sel darah putih >100.000 per mikroliter paling sering terjadi pada leukemia atau kanker darah dan sumsum tulang lainnya.
  • Selanjutnya, dokter dapat merekomendasikan Anda untuk melakukan pemeriksaan darah untuk mengetahui jumlah dan keadaan sel-sel dalam darah Anda, terutama sel darah putih (leukosit).
  • Pemeriksaan sumsum tulang belakang juga dapat dilakukan mengingat masalah pada sumsum tulang belakang juga dapat menjadi penyebab leukositosis.

Pada kasus leukositosis yang ringan, jumlah sel darah putih (leukosit) dapat kembali pada jumlah normal tanpa memerlukan perawatan tertentu. Akan tetapi, dalam pengobatan leukositosis, pengobatan akan difokuskan pada penyebab terjadinya leukositosis. Hal ini dilakukan karena sel darah putih (leukosit) akan kembali pada jumlah normal ketika penyebabnya telah teratasi. Beberapa pengobatan yang dapat diberikan pada penderita leukositosis antara lan:

  • Transplantasi sumsum tulang belakang. Penggantian sumsum tulang belakang yang bermasalah dan menimbulkan terjadinya leukositosis dengan sumsum tulang belakang baru yang sehat.
  • Pemberian obat-obatan antibiotik apabila penyebab leukositosis yang diderita adalah akibat infeksi
  • Jika leukositosis terjadi akibat peradangan, maka dapat diatasi dengan pemberian obat-obatan anti-radang (anti-inflamasi) maupun obat-obatan steroid.
  • Pemberian obat-obatan anti-alergi (antihistamin) apabila penyebab leukositosis yang diderita adalah akibat adanya reaksi alergi.
  • Kemoterapi, radiasi, dan transplantasi sumsum tulang belakang, jika leukositosis terjadi akibat leukemia.

Cara terbaik untuk mencegah terjadinya leukositosis adalah dengan menghindari maupun mengurangi risiko yang dapat menyebabkan timbulnya leukositosis, antara lain seperti:

  • Menjaga dan menerapkan pola hidup sehat, termasuk cara mencuci tangan yang baik dan benar guna mencegah timbulnya infeksi.
  • Berhenti merokok untuk mencegah terjadinya leukositosis yang berkaitan dengan kebiasaan merokok serta mengurangi risiko terkena kanker.
  • Mengurangi stres atau kecemasan dalam hidup Anda, dan segera berkonsultasi pada dokter apabila keadaan tersebut terlalu mengganggu aktivitas Anda sehari-hari.
  • Menjauhi hal atau barang-barang yang dapat memicu reaksi alergi pada tubuh Anda.
  • Menghindari atau mengurangi konsumsi alkohol.
  • Meningkatkan konsumsi makanan-makanan yang kaya akan antioksidan; seperti anggur, teh, dan bawang putih. Kandungan antioksidan berperan dalam memerangi zat-zat berbahaya dalam tubuh, sehingga juga membantu menjaga jumlah sel darah putih (leukosit) dalam tubuh.
  • Meningkatkan konsumsi sayur dan buah-buahan.

Apabila Anda merasakan gejala-gejala yang mengarah pada leukositosis, sebaiknya segera lakukan konsultasi pada dokter. Hal tersebut harus dilakukan sejak dini karena leukositosis dapat menjadi pertanda tubuh Anda mengalami beberapa penyakit serius seperti leukemia maupun jenis kanker yang lain.

Drugs. https://www.drugs.com/cg/leukocytosis.html
diakses pada 28 Desember 2018.

Healthline. https://www.healthline.com/health/leukocytosis#types
diakses pada 28 Desember 2018.

MDDK. https://mddk.com/leukocytosis.html
diakses pada 28 Desember 2018.

Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/956278-overview
diakses pada 28 Desember 2018.

Perioperative Evaluation of Patients with Hematologic Disorders. https://www.sciencedirect.com/topics/medicine-and-dentistry/leukocytosis
diakses pada 28 Desember 2018.

Wellness Possible. https://wellnesspossible.com/leukocytosis-symptoms/
diakses pada 28 Desember 2018.

Artikel Terkait