Pengobatan leukemia akut atau kanker darah dilakukan dengan kemoterapi agresif

Leukemia akut adalah penyakit tumor ganas yang berasal dari sel darah pada sumsum tulang. Kondisi ini disebut akut karena perkembangannya terjadi dengan cepat.

Leukemia jenis akut dibagi menjadi dua kategori, berdasarkan asal sel tumornya. Berikut penjelasannya:

Leukemia limfoblastik akut (LLA)

Sel tumor berasal dari sel darah putih (limfosit) pada sumsum tulang. LLA merupakan penyakit ganas pada anak-anak yang paling banyak ditemukan. Usia puncak terjadinya LLA adalah sekitar umur dua hingga lima tahun. Anak laki-laki juga cenderung lebih banyak diserang kanker ini daripada anak perempuan.

Leukemia mielositik akut (LMA)

Sel tumor berasal tidak hanya dari sel darah putih, namun juga sel darah merah dan bekuan darah pada sumsum tulang. Leukemia akut jenis ini terjadi lebih banyak pada orang dewasa dengan puncak usia sekitar 65 tahun.

Kedua jenis leukemia akut di atas diduga memiliki hubungan dengan kelainan genetik lainnya, seperti sindrom Down dan kerusakan sumsum tulang oleh faktor eksternal (misalnya, radioterapi, kemoterapi, dan paparan terhadap benzene).

Bila menjalani perawatan dengan saksama, angka harapan hidup lima tahun pada orang dengan LLA adalah 20% untuk dewasa dan 80% untuk anak-anak dan remaja. Sementara angka harapan hidup lima tahun pada orang dengan LMA yang menerima perawatan adalah 30%.

Leukemia akut ditandai dengan pertumbuhan abnormal dari sel darah yang belum sepenuhnya matang dan nonfungsional pada sumsum tulang. Sel-sel tersebut pada akhirnya dilepaskan ke dalam darah dan beredar ke seluruh tubuh.

Penumpukan sel imatur dan non-fungsional di sumsum tulang akan akan mengganggu fungsi sumsum tulang untuk memproduksi sel darah yang normal. Kondisi ini kemudian bisa mengakibatkan:

  • Anemia (kurang sel darah merah).
  • Leukopenia (kurang sel darah putih), yang menyebabkan penurunan ketahanan tubuh sehingga tubuh lebih rentan terhadap infeksi.
  • Trombositopenia (kurang sel pembekuan darah), yang menyebabkan penderita rentan mengalami

Sementara gejala yang dapat timbul pada penderita LLA dan LMA meliputi:

  • Gejala mirip flu akibat turunnya sistem imun, seperti demam, batuk, pilek, dan sakit tenggorokan. Gejala ini dapat merupakan gejala awal yang terjadi pada leukemia akut.
  • Mudah lelah, pucat, lemah yang disebabkan oleh anemia.
  • Perdarahan dalam bentuk bintik-bintik merah pada kulit, mimisan, dan memar. Hal ini disebabkan oleh leukopenia.
  • Pembesaran hati dan/atau limpa yang disebabkan oleh penyebaran sel kanker ke daerah tersebut.
  • Sakit kepala, gangguan penglihatan yang disebabkan oleh keterlibatan otak.

Terdapat pula sejumlah gejala yang spesifik pada tiap jenis leukemia akut. Beberapa di antaranya adalah:

Gejala spesifik LLA

  • Pembesaran kelenjar getah bening yang tidak sakit.
  • Nyeri tulang.
  • Sesak napas, napas berbunyi akibat sumbatan jalan napas oleh penyebaran leukemia di daerah dada.
  • Meningitis leukemik (penyebaran leukemia ke selaput pembungkus otak atau meninges) yang ditandai dengan sakit kepala, kaku leher/kaku kuduk, dan penurunan kesadaran.
  • Pembesaran testis/buah zakar (jarang).

Gejala spesifik LMA

  • Leukemia kulit atau myeloid sarcoma yang ditandai dengan tumbuhnya bintil berwarna ungu atau abu kebiruan pada kulit.
  • Pembengkakan gusi.

Penyebab leukemia akut berbeda sesuai dengan jenisnya. Berikut penjelasannya:

  • LLA: penyebabnya belum diketahui secara pasti, namun diduga berhubungan dengan infeksi virus Human T-lymphotropic virus (HTL) dan mutasi genetik.
  • LMA: dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Mulai dari faktor lingkungan (seperti paparan benzene, radiasi, rokok, dan obat-obatan kemoterapi) maupun pengaruh kelainan genetik dan kelainan sumsum tulang lainnya.

Diagnosis pasti didapatkan dari biopsi sumsum tulang, di mana sampel diambil dari sumsum tulang menggunakan jarum. Pemeriksaan darah, seperti hitung darah lengkap, juga dapat mendukung diagnosis tersebut. Sementara untuk mengetahui penyebaran tumor, dapat dilakukan pemeriksaan radiologi, seperti rontgen dada dan USG perut.

Terapi leukemia akut dapat meliputi kemoterapi agresif dosis tinggi pada tahap awal. Kemudian dilanjutkan dengan dosis rendah untuk pemeliharaan.

Selain itu, dapat pula dilakukan transplantasi sel punca (stem cell) pada leukemia yang berisiko tinggi atau pasien tidak merespons terhadap kemoterapi. Terapi radiasi juga bisa dipertimbangkan, tapi bergantung pada tipe dan stadium penyakit.

Harap diingat bahwa terapi leukemia dapat menyebabkan komplikasi berat, seperti sindrom lisis tumor. Komplikasi ini terjadi akibat kerusakan sel tumor yang cepat dan banyak karena terapi menyebabkan komponen di dalam sel tumor tersebut keluar dari sel.

Sebagai akibatnya, kerusakan hingga gagal ginjal bisa muncul dan mengancam nyawa penderita. Gejala dari sindrom lisis tumor meliputi:

  • Mual, muntah, diare.
  • Lesu
  • Urine disertai darah.
  • Detak jantung tidak beraturan.
  • Kaku atau kram otot.
  • Gangguan sensasi pada kulit.

Karena sebagian besar penyebabnya adalah kelainan genetik, leukemia akut tergolong sebagai penyakit yang tidak dapat dicegah. Langkah yang dapat dilakukan biasanya berfokus pada pencegahan infeksi, mengingat penderita leukemia memiliki sistem imun yang rendah. Berikut adalah sejumlah cara mencegah infeksi yang bisa dipertimbangkan:

  • Meningkatkan kebersihan
  • Sebisa mungkin, berada di lingkungan yang bersih.
  • Menghindari prosedur invasif (memasukkan sesuatu ke dalam tubuh), seperti kateter dan jarum suntik.
  • Penggunaan antibiotik jika diperlukan, namun harus sesuai anjuran dokter.

Selain terhadap infeksi, pencegahan juga diperlukan terhadap keterlibatan otak untuk mencegah meningitis leukemik. Hal ini dilakukan dengan memasukkan obat kemoterapi ke dalam cairan serebrospinal melalui tulang belakang.

Jika mengalami gejala-gejala di atas, Anda sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter. Bila Anda menderita leukemia dan mengalami gejala seperti indikasi sindrom lisis tumor, segera pergi ke fasilitas kesehatan terdekat.

  • Memperhatikan prosedur pre-konsultasi, seperti jika ada ketentuan untuk puasa.
  • Mencatat gejala yang Anda rasakan.
  • Mencatat informasi pribadi Anda.
  • Mencatat daftar obat-obatan yang Anda konsumsi.
  • Pertimbangkan untuk datang berkonsultasi bersama dengan keluarga atau teman.
  • Mencatat daftar pertanyaan yang ingin diajukan pada dokter.

Dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan berikut ini:

  • Kapan Anda pertama kali merasakan gejala?
  • Apakah gejala berlangsung terus-menerus atau pada waktu tertentu?
  • Seberapa parah gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah ada hal-hal tertentu yang dapat mengurangi atau memperburuk gejala Anda?
  • Apakah Anda pernah melakukan pemeriksaan darah dengan hasil abnormal?

Amboss. https://www.amboss.com/us/knowledge/Acute_leukemia
Diakses pada 6 April 2019

Cancer Center. https://www.cancercenter.com/cancer-types/leukemia/types
Diakses pada 6 April 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/chronic-vs-acute-leukemia
Diakses pada 6 April 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/leukemia/diagnosis-treatment/drc-20374378
Diakses pada 6 April 2019

Artikel Terkait