Penyakit Lainnya

Latah

Diterbitkan: 31 Mar 2021 | Dedi IrawanDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Latah
Latah adalah istilah Melayu yang merujuk pada kondisi perilaku yang aneh. Kemudian, latah didefinisikan sebagai reaksi mengejutkan yang tak terkendali.Secara klinis, fenomena ini dianggap sebagai sindrom kultur spesifik, yang terdiri dari perilaku kompleks pasien asal Melayu atau Indonesia.Latah sering digolongkan sebagai sindrom syok neuropsikiatri. Namun sampai batas tertentu, Kondisi ini bisa digolongkan sebagai perilaku dan bagian dari budaya Melayu maupun Indonesia.Kondisi ini bukan hanya menimpa masyarakat di kedua wilayah tersebut. Beberapa wilayah di Afrika dan Arab juga memiliki penduduk yang mengalami latah.Latah sendiri merupakan perilaku meniru yang menonjol. Umumnya, kondisi ini dipicu dan dieksploitasi oleh orang lain.Terdapat beberapa kondisi yang dianggap serupa di belahan dunia lainnya. Misalnya, sindrom Jumping Frenchmen dari Maine dan Myriachit dari Siberia.Jumping Frenchmen of Maine merupakan kondisi yang ditandai dengan respons mengejutkan yang ekstrem. Kondisi ini tergolong sangat langka dan reaksi yang muncul biasanya normal, serta muncul tidak sengaja terhadap rangsangan yang tiba-tiba atau tidak terduga.Sementara itu, hiperekplexia adalah kelainan neurologis herediter langka. Kondisi ini dapat muncul sejak lahir, tapi bisa juga terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa.Hiperekplexia merupakan reaksi kaget yang berlebihan terhadap suara, gerakan, atau sentuhan yang tiba-tiba atau tidak terduga.Secara klinis, gejala latah ini ditandai oleh respons terkejut atau kaget yang berlebihan dan vokalisasi yang tidak disengaja, ekolalia, dan ekopraksia. 

Jenis-jenis latah

Dengan mengukur refleks kejut, latah kemudian digolongkan menjadi tiga kelompok sindrom kejut berikut:
  • Hiperekplexia
  • Gangguan akibat terkejut
  • Sindrom terkejut neuropsikiatri
 
Latah
Dokter spesialis Saraf
Gejala latah biasanya berupa respons terkejut yang dipicu oleh orang lain dan stimulus visual, akustik, atau sentuhan. Stimulus juga umum bersifat sensitif terkait individu dan budaya tertentu.Gejala latah yang paling umum meliputi:
  • Meniru stimulus, terutama berupa kata-kata
  • Echolalia, yaitu mengulangi kata atau frasa layaknya burung beo atau echolalia.
  • Echopraxia alias tanpa sengaja meniru gerakan atau gerak tubuh
  • Coprolalia, yakni mengeluarkan sumpah serapah atau kata-kata tak senonoh
  • Reaksi kejut yang tidak normal dan berlebihan, seperti melompat, berteriak, mengayunkan lengan, memukul, atau melempar benda
Beberapa pengidap latah juga menunjukkan kepatuhan otomatis atau ‘terpaksa’ setelah respons terkejut. Misalnya, otomatis merespons perintah sederhana seperti melompat, berlari, atau memukul. 
Hingga saat ini, penyebab latah belum diketahui secara pasti. Para pakar menduga bahwa kondisi ini berhubungan dengan faktor-faktor tertentu.Faktor-faktor risiko latah tersebut meliputi:
  • Sindrom syok neuropsikiatrik
  • Budaya tertentu, seperti Melayu atau Indonesia
  • Faktor genetik gen GLRA1, SLC6A5, GLRB, GPHN, dan ARHGEF9 (X-linked)
  • Berjenis kelamin perempuan
 
Diagnosis latah bisa dilakukan oleh dokter dengan metode pemeriksaan di bawah ini:
  • Menanyakan riwayat medis pasien maupun keluarganya secara rinci
  • Elektromiografi untuk memeriksa kondisi otot dan sel-sel saraf yang mengendalikannya
  • Elektroensefalografi (EEG) guna mendeteksi ada tidaknya kelainan gelombang otak atau aktivitas elektrik abnormal dalam otak
  • Uji genetik molekuler
 
Latah umumnya tidak membahayakan, sehingga tidak membutuhkan pengobatan secara medis. Namun bila dirasa mengganggu aktivitas dan kenyamanan, dokter bisa menganjurkan cara mengobati latah yang meliputi:
  • Menghimbau orang-orang di sekitar pasien untuk berhenti menggoda dan menstimulasi respons latah
  • Mengendalikan stres dan kecemasan karena bisa meningkatkan kemunculan gejala
  • Memberikan obat anticemas dan antikejang, contohnya clonazepam, karbamazepin, fenobarbital, fenitoin, diazepam, 5-hydroxytryptophan, piracetam, serta sodium valproate.
 

Komplikasi latah

Bila terus dibiarkan tanpa penanganan yang memadai, latah bisa saja memicu komplikasi berupa:
  • Penurunan rasa percaya diri
  • Cedera atau kecelakaan akibat reaksi terkejut dan respons latah yang berlebihan
 
Jika membutuhkan nasihat medis, Anda sebaiknya mencari bantuan medis dari dokter yang berpengalaman dengan penyakit ini. 
Sebelum melakukan kunjungan ke dokter, persiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buatlah daftar seputar gejala yang muncul.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang dialami oleh pasien. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang dikonsumsi oleh pasien.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan kepada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberi dukungan moral maupun membantu mengingat informasi yang disampaikan dokter.
 
Dokter kemungkinan akan mengajukan pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang dirasakan pasien?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait latah?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis latah dan penyebabnya agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Science Direct. https://www.sciencedirect.com/topics/medicine-and-dentistry/latah
Diakses pada 31 Maret 2021
NIH. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/23283702/
Diakses pada 31 Maret 2021
Rare Disease Info. https://rarediseases.info.nih.gov/diseases/6803/jumping-frenchmen-of-maine
Diakses pada 31 Maret 2021
NORD. https://rarediseases.org/rare-diseases/hyperekplexia/
Diakses pada 31 Maret 2021
Rare Disease. https://rarediseases.org/rare-diseases/jumping-frenchmen-of-maine/
Diakses pada 31 Maret 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email