Infeksi

Kutu Kemaluan

21 Sep 2021 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Kutu Kemaluan
Kutu kemaluan hidup di rambut kemaluan manusia.
Kutu kemaluan adalah serangga parasit berukuran sangat kecil yang disebut Pthirus pubis yang hidup di batang rambut kasar pada tubuh manusia, seperti rambut di area kelamin. Kutu kemaluan dikenal juga sebagai kutu pubis atau kutu kelamin.Karakteristik kutu kelamin dewasa biasanya berwarna abu-abu coklat, panjangnya sekitar 1,1–1,8 mm. Beberapa orang mungkin dapat melihatnya dengan mata telanjang. Akan tetapi telur dan kutu yang belum dewasa berukuran lebih kecil, dan mungkin hanya dapat terlihat dengan kaca pembesar.­­­Kutu kemaluan biasanya berpindah saat seseorang berhubungan seks. Oleh sebab itu, banyak ahli kesehatan yang menganggap kondisi ini sebagai infeksi menular seksual (IMS).Tapi sebenarnya kutu kelamin bukanlah penyakit atau infeksi. Serangga ini tidak membawa atau menyebarkan penyakit. Namun, gigitan kutu dapat menyebabkan rasa tidak nyaman dan gatal yang hebat pada area kelaminSaking gatalnya, seseorang dengan kutu kemaluan mungkin akan menggaruk terus menerus hingga kulitnya menjadi rusak dan memicu masuknya bakteri.
Kutu Kemaluan
Dokter spesialis Kulit
GejalaGatal pada area terkena, bintik-bintik kecil di paha atau perut bagian bawah, bercak hitam di celana
Faktor risikoAktif secara seksual, memiliki lebih dari satu pasangan seks
Metode diagnosisPemeriksaan visual pada area yang terdampak dengan kaca pembesar
PengobatanMencuci rambut kemaluan, obat-obatan
ObatMalathion, ivermectine, lindane
KomplikasiPerubahan warna kulit, infeksi sekunder, iritasi mata
Kapan harus ke dokter?Jika memiliki gejala seperti kutu kemaluan
Ciri-ciri terkena kutu kemaluan dapat dilihat dari gejala yang ditampakkan penderitanya yaitu:
  • Rasa gatal yang intens di daerah kelamin. Rasa gatal ini juga bisa menyebar seiring kutu bergerak ke area rambut yang lain. Beberapa area yang juga sering terdampak adalah:
    • Kaki
    • Dada
    • Ketiak 
    • Janggut atau kumis
    • Bulu mata atau alis
  • Muncul benjolan merah kecil atau bintik-bintik pada kulit.
  • Terdapat bercak hitam atau coklat tua atau pada celana dalam, hal ini menandakan adanya kotoran kutu.
  • Peradangan atau iritasi yang disebabkan karena garukan.
  • Terdapat bintik-bintik biru di paha atau perut bagian bawah yang disebabkan oleh gigitan kutu.
Penyebab seseorang mendapatkan kutu kemaluan adalah karena adanya kontak fisik yang erat dengan orang yang memiliki kutu kemaluan.Kutu kemaluan umumnya berpindah melalui hubungan seks. Namun jika tidak ada penetrasi atau hubungan seksual pun, kutu kemaluan dapat menyebar selama terjadi kontak fisik erat yang memungkinkan paparan. Pasalnya, kutu ini dapat melompat dari rambut kemaluan seseorang ke orang lainnya begitu saja.Selain itu, seseorang juga bisa terkena kutu kelamin dari kontak dengan pakaian, seprai, selimut dan handuk orang yang terjangkit. Meski begitu, kutu kemaluan tidak akan tersebar melalui kontak biasa seperti jabat tangan atau pelukan.

Faktor risiko

Terdapat sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kutu kemaluan, antara lain:
  • Aktif secara seksual.
  • Memiliki lebih dari 1 pasangan seksual.
  • Melakukan hubungan seksual dengan seseorang yang memiliki kutu kemaluan.
  • Biasa berbagi barang pribadi seperti handuk, sprei, selimut, atau pakaian dengan orang lain.
Selain pada rambut kemaluan, kutu kemaluan atau kutu pubis juga dapat hidup di bulu mata dan alis.Menurut Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), kutu kemaluan yang berasal dari mata atau alis sering kali menandakan telah terjadinya pelecehan seksual, terutama pada anak-anak.
Kutu kemaluan dapat diperiksa secara mandiri. Kutu dan telur mudah dideteksi dengan mata telanjang atau dengan menggunakan kaca pembesar  pada area yang mengalami gejala. Kutu kemaluan biasanya berwarna abu pucat atau berwarna gelap dan menyerupai kepiting kecil yang bergerak-gerak di area kemaluan, khususnya pada rambut kemaluan karena di sanalah kutu bertelur.Segera hubungi dokter jika Anda mendeteksi adanya kutu pada kelamin. Dokter juga biasanya akan menyarankan Anda melakukan skrining untuk mendeteksi apakah ada infeksi menular seksual lain yang mungkin dialami.
Pengobatan kutu kemaluan dapat dilakukan dengan perawatan rambut, obat-obatan dan penyesuaian gaya hidup.Obat-obatan:
  • Malathion
    Malathion adalah obat yang digunakan untuk membasmi kutu. Obat ini dapat diberikan dalam bentuk salep, krim atau shampoo. Biasanya dokter akan meresepkan salep yang harus dioleskan pada area kemaluan yang terjangkit. Setelah diaplikasikan selama 8-12 jam, area tersebut perlu dicuci.
    Tergantung produk yang digunakan, obat ini mungkin mesti dioleskan ke seluruh tubuh mulai dari kepala, leher, telinga, dan wajah. Metode pengobatan ini juga mesti dilakukan kembali setelah 7 hari, untuk melawan kutu yang baru menetas dalam jangka waktu tersebut dan mencegah mereka tumbuh menjadi kutu dewasa.
  • Ivermectin
    Ivermectin adalah obat antiparasit yang diresepkan dokter. Obat ini biasanya diminum sebanyak dua tablet dalam dosis tunggal. Jika kutu tidak juga hilang dalam 10 hari, dokter akan meresepkan kembali obat ini.
  • Lindane
    Lindane merupakan sampo obat untuk memberantas kutu yang diresepkan oleh dokter. Obat ini tidak boleh sembarangan dipakai karena dapat menyebabkan efek samping yang serius. Pasalnya, lindane mungkin beracun bagi otak dan sistem saraf.
    Ibu hamil dan menyusui, anak-anak, serta lansia tidak boleh sama sekali memakai obat ini. Biasanya, obat ini diberikan sebagai pilihan terakhir jika pengobatan lain tidak memberikan efek.
  • Perawatan bulu mata dan alis
    Jika kutu kemaluan ditemukan di bulu mata dan alis, Anda dapat mengobatinya dengan mengoleskan petroleum jelly secara hati-hati dengan kapas di malam hari dan mencucinya di pagi hari. Perawatan ini mungkin perlu diulang selama beberapa minggu dan ada kemungkinan iritasi mata jika tidak diaplikasikan dengan benar.
Perawatan rambut
  • Periksa kutu di bulu ketiak dan bagian tubuh lainnya yang ditumbuhi rambut. Cuci dan keringkan dengan baik.
  • Oleskan sampo atau krim pada semua area yang mungkin terkena kutu kemaluan, seperti di rambut kemaluan, paha, ketiak, dan batang tubuh (perut bagian bawah dan bokong, termasuk di dekat dubur). Jangan menggunakannya di bulu mata.
  • Biarkan sampo atau krim meresap selama waktu yang disarankan oleh dokter atau kemasan sampo, lalu bilas.
  • Angkat telur kutu dari helai rambut menggunakan pinset, jari atau sisir bergigi halus. Jika Anda melihat benda-benda putih kecil mirip ketombe, itulah telur-telur kutu. Tetapi, jika Anda menemukannya setelah menjalani pengobatan, keberadaan telur kutu tersebut bisa menandakan cangkang telur yang kosong karena isinya sudah dibasmi dengan obat-obatan yang diberikan.
  • Kenakan pakaian dalam dan pakaian bersih setelah melakukan perawatan di atas.
  • Ulangi perawatan sebanyak 10 hari jika kutu tetap ada.

Penyesuaian gaya hidup

  • Cuci semua barang seperti pakaian, handuk, selimut atau seprai dengan air panas dan keringkan pada suhu yang tinggi atau tutup pakaian menggunakan karung plastik kedap udara selama 72 jam. Suhu panas dapat membunuh telur kutu.
  • Tempatkan barang-barang yang tidak bisa dicuci sendiri dalam kantong plastik tertutup selama dua minggu.
  • Vakum seluruh rumah dan bersihkan kamar mandi dengan larutan pemutih.
  • Jangan menyemprotkan insektisida pada pakaian atau benda lain di rumah.
  • Berhenti dulu untuk berhubungan seks sampai kutu kemaluan hilang, biasanya kutu akan menghilang sekitar dua minggu.

Komplikasi

Jika tak ditangani dengan tepat, kutu kemaluan dapat berujung pada komplikasi seperti:
  • Kulit yang berubah warna. Area kulit yang dijangkiti kutu kemaluan dapat berubah warna menjadi pucat kebiruan karena menjadi tempat makan kutu.
  • Infeksi di area yang biasa digaruk. Jika area tersebut digaruk hingga terluka, bakteri dapat masuk dan menyebabkan infeksi.
  • Iritasi mata, seperti konjungtivitis, terutama pada anak-anak yang bulu mata atau alisnya dijangkiti kutu kemaluan.
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah Anda terjangkiti kutu kemaluan, yaitu:
  • Membatasi jumlah pasangan seksual, dan menghindari hubungan seksual dengan seseorang yang memiliki banyak pasangan seksual.
  • Hindarilah berbagi pakaian, tempat tidur, atau handuk dengan seseorang yang memiliki kutu kemaluan.
  • Hindari kontak seksual dengan orang yang terkena kutu kemaluan.
  • Jika sedang berbelanja dan ingin mencoba pakaian, selalu gunakan pakaian dalam di bawahnya untuk menghindari kontak langsung dengan pakaian, terutama jenis pakaian dalam atau baju renang.
Berkonsultasilah dengan dokter untuk perawatan lebih lanjut jika Anda merasa terkena kutu kemaluan. Kutu kemaluan dapat didiagnosis sendiri dengan menggunakan kaca pembesar pada rambut kemaluan.
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter. 
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait kutu kelamin?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dengan memeriksa area genital, dan melihat tanda-tanda kutu hidup atau telur kutu. dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis kutu kelamin agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
CDC. https://www.cdc.gov/parasites/lice/pubic/biology.html
Diakses pada 16 September 2021

Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/4522-pubic-lice-crabs
Diakses pada 12 September 2021

Healthline. https://www.healthline.com/health/std/pubic-lice
Diakses pada 1 November 2018

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/pubic-lice-crabs/symptoms-causes/syc-20350300
Diakses pada 1 November 2018

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/173681
Diakses pada 16 September 2021
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/pubic-lice/
Diakses pada 16 September 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email