Perut

Konstipasi (Sembelit)

Diterbitkan: 12 May 2021 | Popy Hervi PutriDitinjau oleh dr. Anandika Pawitri
image Konstipasi (Sembelit)
Konstipasi atau sembelit adalah kondisi dimana penderitanya susah buang air besar.
Sembelit atau konstipasi adalah suatu kondisi ketika seseorang buang air besar kurang dari tiga kali seminggu. Sedangkan jika seseorang buang air besar kurang dari satu kali seminggu, maka hal ini tergolong konstipasi kronis.Konstipasi merupakan kondisi yang umum terjadi dan bisa dialami oleh siapa saja, baik orang tua maupun anak-anak. Meskipun begitu, konstipasi yang bersifat kronis juga bisa menganggu aktivitas sehari-hari, serta menyebabkan seseorang tegang untuk buang air besar.Umumnya, sembelit kronis bisa diatasi tergantung pada penyebabnya. Namun, pada beberapa kasus penyebab konstipasi kronis juga tidak ditemukan secara tepat. 
Konstipasi (Sembelit)
Dokter spesialis Penyakit Dalam
GejalaBAB kurang dari tiga kali seminggu, tinja keras dan kering, mengejan lebih keras saat BAB
Faktor risikoLansia, wanita, anak-anak
Metode diagnosisTes darah, rontgen perut
PengobatanPerubahan gaya hidup, obat-obatan, operasi
ObatLubiprostone, linaclotide
KomplikasiWasir, Divertikulitis
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala konstipasi 
Gejala konstipasi bisa berupa:
  • Frekuensi buang air besar (BAB) kurang dari tiga kali dalam seminggu
  • Tinja menjadi berbentuk gumpalan keras seperti kacang atau sosis dengan tekstur kasar
  • Mengejan lebih keras saat BAB
  • Merasa seolah-olah ada penyumbatan di sistem pencernaan
  • BAB yang terasa tidak tuntas
  • Membutuhkan bantuan dalam proses buang air besar, seperti harus menekan perut atau menggunakan tangan untuk menghilangkan feses dari dubur
  • Perasaan begah setelah BAB
  • Lecet atau perdarahan di dubur karena feses yang keras
Bila sembelit berlangsung lama (kronis), pencerita juga dapat mengalami:
  • Perforasi kolon atau luka pada dinding usus besar
  • Stres secara psikologis dan/atau obsesi dengan buang air besar
Konstipasi dikatakan kronis apabila berlangsung selama 2-3 bulan. 
Penyebab utama konstipasi adalah lambatnya pergerakan tinja melalui saluran pencernaan. Akibatnya, tinja tidak dapat dikeluarkan secara efektif dan menjadi keras serta kering.Faktor-faktor risiko konstipasi meliputi:
  • Tidak makan cukup serat, seperti buah, sayuran dan sereal
  • Tidak minum cukup cairan
  • Tidak berolahraga dan kurang aktif
  • Menunda atau menahan keinginan untuk buang air besar
  • Mengubah pola diet sehari-hari atau ketika bepergian
  • Stres, kegelisahan atau depresi
  • Efek samping obat, seperti antasida tinggi kalsium, obat pereda nyeri, suplemen zat besi, diuretik, antikejang, antidepresan, antikolinergi, antispasmodic, calcium channel blocker, obat pereda nyeri yang mengandung narkotik
  • Konstipasi selama kehamilan dan 6 minggu setelah melahirkan.
  • Penyakit tertentu, seperti penyakit Parkinsondan diabetes
  • Gangguan pencernaan fungsional, seperti sindrom iritasi usus besar
  • Penyalahgunaan laksatif atau pencahar
  • Gangguan hormonal, termasuk didalamnya hipotiroid
  • Colonic inertia dimana otot atau syaraf pada kolon (usus besar) bergerak terlalu lambat
  • Pelvic floor dysfunction yaitu kondisi dimana terjadi gangguan pada otot–otot dasar panggul sehingga menyebabkan konstipasi
  • Berusia 65 tahun atau lebih
 
Diagnosis konstipasi dilakukan dengan cara melakukan beberapa hal berikut ini:
  • Tanya jawab

Dokter akan menanyakan Riwayat Kesehatan pasien. Selain itu, dokter juga akan menanyakan beberapa pertanyaan spesifik mengenai konstipasi, seperti ukuran tinja konsistensi buang air besar, frekuensi buang air besar, dan berapa lama Anda sudah mengalami keluhan tersebut.
  • Pemeriksaan fisik

Ketika melakukan pemeriksaan fisik, dokter akan mengukur berat badan Anda dan adanya perubahan warna kulit.
  • Tes darah 

Tes darah diperlukan untuk mengevaluasi kondisi pasien. Tes darah yang dapat dilakukan, seperti pemeriksaan darah untuk mengetahui kadar hormon tiroid dan untuk kadar kalsium dalam darah.
  • Rontgen perut

Rontgen bermanfaat untuk membantu dokter menentukan apakah usus tersumbat dan apakah ada tinja di seluruh usus besar.Selain itu, untuk mendiagnosis konstipasi dokter juga akan melakukan beberapa pemeriksaan penunjang seperti:
  • Barium enema 

Barium enema adalah pemeriksaan rontgen di mana barium cair akan dimasukkan melalui anus untuk mengisi rektum dan usus besar. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi tumor dan penyempitan (striktur) pada usus.
  • Defekografi 

Defekografi adalah modifikasi dari pemeriksaan barium enema. Prosedur ini melibatkan pasta tebal barium yang dimasukkan ke dalam rektum pasien melalui anus.Setelah itu dokter akan melakukan X ray saat pasien buang air besar barium. Defekografi menilai proses dari defekasi dan memberikan informasi tentang abnormalitas pada anatomi rektum dan otot–otot dasar panggul selama defekasi berlangsung.
  • Studi motilitas anorektal (anorectal manometry)

Pemeriksaan ini bertujuan memberikan penilaian fungsi otot dan saraf dari anus dan rektum.
  • Kolonoskopi

Kolonoskopi berfungsi mengecek bagian dalam dari saluran pencernaan.
  • Colonic transit study

Pemeriksaan ini digunakan untuk menentukan waktu yang diperlukan oleh makanan untuk bergerak melalui usus.  
Cara mengobati konstipasi umumnya akan tergantung dari tingkat keparahan. Konstipasi harus dibedakan antara konstipasi akut dan kronis. Pengobatan juga harus dimulai sedini mungkin. Tujuan dari pengobatan konstipasi adalah untuk melancarkan proses buang air besar.Beberapa cara mengobati konstipasi (sembelit) yang bisa Anda lakukan, yaitu:

Perubahan pola makan dan gaya hidup

Perubahan pola makan dan gaya hidup akan disarankan oleh dokter untuk mengobati konstipasi, seperti:
  • Meningkatkan konsumsi serat.
  • Berolahraga secara teratur.
  • Jangan menunda keinginan untuk buang air besar.

Penggunaan laksatif (pencahar)

Terdapat beberapa jenis laksatif dengan cara kerja yang berbeda, diantaranya:
  • Suplemen serat seperti psyllium, calcium polycarbophil, serat metilselulosa.
  • Stimulant seperti bisacodyl.
  • Osmotik membantu cairan bergerak melalui kolon, seperti oral magnesium hidroksida, magnesiumsitrat, laktulosa, polietilen glikol.
  • Lubrikan (pelumas) dapat membantu feses keluar lebih mudah.
  • Pelunakan feses dengan menyerap cairan dari usus halus.
  • Enema dan suppositoria seperti sodium fosfat dapat digunakan untuk melunakkan feses dan merangsang rasa ingin buang air besar.

Obat-obatan lainnya

Jika obat yang dijual bebas untuk konstipasi tidak membantu, maka dokter akan memberikan obat resep, terutama jika menderita irritable bowel syndrome, seperti:
  • Obat-obatan untuk menyerap cairan dari usus halus terutama untuk konstipasi kronis seperti lubiprostone dan linaclotide.
  • Obat-obatan lainnya seperti misoprostol, colchicines/probenesid dan onabotulinumtoxina.

Melatih otot-otot dasar panggul

Terapis akan mengajarkan bagaimana cara untuk melemaskan dan mengencangkan otot-otot dasar panggul. Melemaskan otot-otot dasar panggul sewaktu defekasi (buang air besar) akan membantu mempermudah buang air besar.

Operasi

Operasi dapat menjadi pilihan jika telah mencoba pengobatan lainnya dan tidak berhasil serta konstipasi kronis disebabkan oleh sumbatan, rectocele, anal fissure dan striktur.Pada orang yang telah mencoba pengobatan lain dan gagal serta mempunyai gerakan lambat yang tidak normal dari feses melalui kolon, maka pengangkatan sebagian dari kolon mungkin diperlukan. 

Komplikasi konstipasi (sembelit)

Komplikasi konstipasi (sembelit) yang mungkin bisa terjadi, yaitu:
  • Wasir, suatu kondisi ketika pembuluh darah bengkak dan meradang di rektum
  • Divertikulitis, infeksi pada kantong yang terbentuk dari dinding usus besar dari tinja yang terperangkap
  • Impaksi feses, kondisi ketika terjadi penumpukan terlalu banyak tinja di rektum dan anus
  • Kerusakan otot dasar panggul karena mengejan saat buang air besar. Otot-otot ini membantu mengontrol kandung kemih. Terlalu banyak mengejan dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan kebocoran urin dari kandung kemih (inkontinensia urin stres)
 
Cara mencegah konstipasi yang bisa dilakukan, meliputi:
  • Mengonsumsi banyak makanan berserat tinggi, seperti kacang-kacangan, sayuran, buah-buahan, sereal gandum dan lain-lain.
  • Menanyakan kepada dokter apakah ada obat-obatan yang dapat menyebabkan sembelit
  • Batasi makanan yang mengandung sedikit serat, seperti makanan olahan dan produk susu dan daging
  • Minum banyak cairan
  • Berolahraga secara teratur
  • Atasi stres
  • Jangan tunda keinginan untuk buang air besar
  • Cobalah untuk membuat jadwal rutin untuk buang air besar, terutama setelah makan
  • Pastikan anak-anak makan makanan banyak serat
 
Hubungi dokter bila Anda mengalami perubahan kebiasaan buang air besar dan gejala konstipasi dalam jangka waktu yang lama. 
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Menanyakan apakah ada sesuatu yang perlu Anda lakukan sebelumnya, seperti membatasi diet atau makan makanan berserat tinggi untuk mempersiapkan tes diagnosis
  • Menuliskan segala gejala yang Anda alami
  • Menuliskan informasi pribadi utama, seperti stres dan perubahan kehidupan baru-baru ini
  • Membuat daftar obat-obatan, vitamin, suplemen dan herbal yang dikonsumsi termasuk dosisnya
  • Mengajak anggota keluarga atau teman Anda untuk ikut dalam konsultasi. Hal ini memudahkan Anda untuk mengingat segala informasi yang dokter berikan
  • Menuliskan pertanyaan yang ingin Anda ajukan kepada dokter
 
Sebelum mendiagnosis keadaan Anda, dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan seperti:
  • Kapan Anda mulai mengalami gejala konstipasi?
  • Apakah gejala Anda terus menerus atau sesekali?
  • Seberapa berat gejala Anda?
  • Jika ada, apa yang tampaknya meningkatkan gejala Anda?
  • Jika ada, apa yang tampaknya memperburuk gejala Anda?
  • Apakah gejala Anda termasuk sakit perut?
  • Apakah gejala Anda termasuk muntah?
  • Apakah Anda baru saja kehilangan berat badan tanpa secara tiba-tiba?
  • Berapa banyak makanan yang Anda makan sehari?
  • Berapa banyak cairan, termasuk air, yang Anda minum sehari?
  • Apakah Anda melihat darah di feses Anda?
  • Apakah Anda mengejan ketika buang air besar?
  • Apakah Anda memiliki riwayat keluarga dengan masalah pencernaan atau kanker usus besar?
  • Pernahkah Anda didiagnosis dengan kondisi medis lainnya?
  • Sudahkah Anda memulai pengobatan baru atau baru-baru ini mengubah dosis obat Anda saat ini?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis konstipasi agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Healthline. https://www.healthline.com/symptom/constipation
Diakses pada 2 Januari 2019
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/constipation/symptoms-causes/syc-20354253
Diakses pada 2 Januari 2019
Medline Plus. https://medlineplus.gov/constipation.html
Diakses pada 2 Januari 2019
Medicinenet. https://www.medicinenet.com/constipation/article.htm
Diakses pada 2 Januari 2019
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/constipation/
Diakses pada 2 Januari 2019.
American family physician. https://www.aafp.org/afp/2002/0601/p2283.html
Diakses pada 12 Mei 2021
National Institute of Diabetes and Digestive and Kindney Disease. https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/constipation/symptoms-causes
Diakses pada 12 Mei 2021
Cleveland clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/4059-constipation#prevention
Diakses pada 12 Mei 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email