Kolestasis merupakan penyakit pada hati yang disebabkan aliran empedu dari hati melambat atau tersumbat. Empedu merupakan cairan yang dihasilkan oleh hati, yang akan dialirkan dan disimpan di kantung empedu. Selanjutnya empedu akan dilepaskan ke usus halus jika diperlukan dalam pencernaan makanan.

Terdapat dua jenis kolestasis, yaitu kolestasis intrahepatik (dalam hati) dan kolestasis ekstrahepatik (di luar hati). Kolestasis ekstrahepatik disebabkan oleh sumbatan di luar hati, seperti batu empedu, kista, atau tumor dalam kantung atau saluran empedu, yang membatasi aliran empedu.

Sedangkan kolestasis intrahepatik disebabkan oleh penyakit atau gangguan hati, seperti infeksi, penggunaan obat tertentu, kelainan genetik, efek hormonal, dan kehamilan. Kolestasis intrahepatik pada kehamilan umumnya terjadi pada trimester akhir kehamilan.

Kondisi tersebut memicu rasa gatal di tangan dan kaki, serta bisa memengaruhi bagian tubuh lainnya. Kolestasis kehamilan dapat berpotensi komplikasi pada ibu hamil dan bayi sehingga biasanya bayi dapat lahir prematur atau bahkan mengalami keguguran.

Kolestasis ekstrahepatik dan intrahepatik memiliki gejala yang serupa, yaitu:

  • Gatal yang berlebihan
  • Kulit dan mata kuning
  • Urine gelap
  • Sakit perut
  • Kelelahan
  • Mual, muntah
  • Kehilangan selera makan
  • Feses berwarna putih atau seperti dempul.

Kolestasis dapat disebabkan karena faktor intrahepatik dan faktor ekstrahepatik. Berikut adalah hal-hal yang dapat menyebabkan kolestasis:

1. Kolestasis Intrahepatik

Penyebab kolestasis intrahepatik meliputi beberapa hal berikut:

  • Efek hormonal pada aliran empedu selama kehamilan
  • Hepatitis akut
  • Penyakit hati alkoholik
  • Kolangitis bilier primer dengan peradangan dan jaringan parut pada saluran empedu
  • Sirosis karena virus hepatitis B atau C
  • Obat-obatan tertentu (misalnya amoksisilin/klavulanat, klorpromazin, azatioprin, dan kontrasepsi oral)
  • Kanker yang telah menyebar ke hati
  • Pada kolestasis kehamilan, penyebab genetik dari riwayat keluarga kemungkinan berpengaruh dalam kejadian kolestasis. Ibu hamil yang memiliki riwayat kolestasis pada kehamilan sebelumnya, lebih berisiko untuk mengalami kolestasis kehamilan pada kehamilan berikutnya.

2. Kolestasis Ekstrahepatik

Penyebab kolestasis ekstrahepatik dapat disebabkan karena:

Dalam menentukan diagnosis untuk menentukan kolestasis, dokter melakukan pemeriksaan berupa:

  • Pemeriksaan fisik
  • Tes darah (mengukur enzim alkaline phosphatase, gamma-glutamyl transpeptidase, serta enzim hati lainnya)
  • USG, MRI, atau CT scan (jika hasil tes darah abnormal)
  • Biopsi hati jika diperlukan.

Pengobatan kolestasis dilakukan tergantung pada penyebabnya. Jika kolestasis terjadi karena penyumbatan saluran empedu, pengobatan dilakukan dengan operasi atau endoskopi.

Jika kolestasis diduga disebabkan karena penggunaan suatu obat, maka dokter akan menghentikan penggunaan obat tersebut. Orang dengan kolestasis disarankan untuk menghindari penggunaan zat tertentu yang berdampak pada hati, seperti alkohol dan obat-obatan lainnya.

Untuk mengobati rasa gatal, dokter akan memberikan obat yang dapat mengikat cairan empedu di usus sehingga tidak dapat diserap kembali untuk mengiritasi kulit.

Pada kolestasis kehamilan, tujuan pengobatan kolestasis jenis ini adalah untuk mengurangi rasa gatal dan mencegah komplikasi pada bayi, seperti kelahiran prematur, lahir mati, dan kelainan pada bayi.

Untuk mencegah kolestasis bagi yang berisiko, dapat dilakukan tindakan-tindakan pencegahan berikut:

  • Menjaga kebersihan makanan dan mencegah infeksi (virus hepatitis, Salmonella typhosa atau tifoid)
  • Meningkatkan kebersihan lingkungan dan sanitasi
  • Menurunkan kadar kolesterol dengan mengurangi konsumsi lemak
  • Meningkatkan konsumsi buah dan sayur
  • Minum air putih yang cukup setiap hari agar kadar air pada cairan empedu mencukupi
  • Segera mencari perawatan medis jika merasakan gejala dan tanda kolestasis, seperti sakit perut, urine yang berwarna lebih gelap, atau kotoran berwarna seperti dempul.

Hubungi tenaga medis atau dokter jika Anda mulai merasa gatal yang terus-menerus dan merasakan gejala-gejala yang menunjukkan kolestasis. Pengobatan lebih awal dapat menentukan perawatan yang tepat sehingga dapat menyelamatkan ibu dan bayi.

Sebelum bertemu dan berkonsultasi dengan dokter mengenai gejala kolestasis yang Anda rasakan, Anda sebaiknya mempersiapkan hal-hal berikut:

  • Buat janji dengan dokter Anda (dokter kandungan jika kolestasis kehamilan).
  • Tuliskan semua gejala yang Anda alami, seperti bagian tubuh yang gatal, warna urine, warna kulit, dan lain-lain.
  • Buatlah daftar obat-obatan, vitamin, dan suplemen lain yang Anda gunakan beserta dosis dan frekuensi penggunaan.
  • Mintalah anggota keluarga atau teman dekat untuk mendampingi.

Pada saat konsultasi, dokter akan menanyakan mengenai riwayat kolestasis pada keluarga, riwayat penggunaan obat, dan riwayat kesehatan lainnya.

Selanjutnya, dokter melakukan beberapa pemeriksaan fisik untuk menentukan diagnosis kolestasis. Pengambilan darah mungkin dilakukan untuk keperluan tes darah agar bisa menguji enzim di laboratorium.

Depkes RI. http://farmalkes.kemkes.go.id/?wpdmact=process&did=MTc4LmhvdGxpbms=
Diakses pada Maret 2019

Health Line. https://www.healthline.com/health/cholestasis
Diakses pada Maret 2019

Mayo Clinic. Cholestasis of Pregnancy. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/cholestasis-of-pregnancy/diagnosis-treatment/drc-20363258
Diakses pada Maret 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/cholestasis-of-pregnancy/symptoms-causes/syc-20363257
Diakses pada Maret 2019

Medline Plus. https://medlineplus.gov/ency/article/000215.htm
Diakses pada Maret 2019

MSD Manual Consumer Version. https://www.msdmanuals.com/home/liver-and-gallbladder-disorders/manifestations-of-liver-disease/cholestasis
Diakses pada Maret 2019