Infeksi

Kolera

Diterbitkan: 02 Nov 2018 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Kolera
Bakteri masuk ke dalam tubuh melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi
Kolera yang juga dikenal sebagai penyakit taun, adalah infeksi saluran pencernaan yang disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae. Bakteri tersebut masuk ke dalam tubuh melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi.

Kolera menyebabkan diare yang berat dan dehidrasi. Apabila tidak diobati, maka dalam beberapa jam, kolera bisa berakibat fatal.
Sistem pembuangan air limbah dan pengolahan air bersih yang baik di negara-negara maju, menjauhkan masyarakatnya dari penyakit kolera.Akan tetapi, kolera masih dapat dijumpai di Afrika, Asia Tenggara, dan kawasan lain dengan sanitasi yang buruk. Potensi penyakit kolera menjadi sebuah epidemi lebih tinggi ketika kemiskinan, perang atau bencana alam memaksa masyarakat untuk tinggal di tempat padat tanpa sistem sanitasi yang baik.  
Kolera
Dokter spesialis Penyakit Dalam
GejalaDiare menyerupai air cucian beras, muntah, dehidrasi
Faktor risikoLingkungan yang tidak bersih, tingkat asam lambung rendah, tinggal bersama pasien kolera
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, tes laboratorium
PengobatanRehidrasi, obat-obatan, suplemen
ObatAntibiotik
KomplikasiSyok, gagal ginjal, kematian
Kapan harus ke dokter?Jika mengalami gejala kolera, terutama dengan faktor risiko
Pasien kolera pada umumnya tidak mengalami gejala penyakit yang parah. Tanda dan gejala kolera yang paling khas adalah diare encer yang sering kali mengandung bercak-bercak putih. Bercak tersebut berasal lendir dan sel lapisan epitel saluran cerna yang terbawa di feses.Dari tampilannya, diare pada penderita kolera mirip seperti air cucian beras dengan bau yang amis. Volume diare akibat kolera bisa jauh lebih banyak dari jenis diare yang diakibatkan infeksi lain. Jumlahnya bisa mencapai 1 liter per jamnya.Pun begitu, hanya 1 dari 20 pasien kolera yang memiliki gejala khas tersebut. Beberapa pasien dapat menunjukkan gejala diare yang lebih serius karena disertai dengan muntah dan berisiko dehidrasi (tubuh kekurangan cairan). Tanda dan gejala tersebut biasanya mulai dirasakan beberapa hari setelah terinfeksi.Di samping itu, berikut ini adalah tanda dan gejala yang biasa ditunjukkan pasien kolera:
  • Muntah
  • Detak jantung cepat
  • Kulit kehilangan sifat elastisitas (saat dicubit atau ditekan, kulit membutuhkan waktu lama untuk kembali ke kondisi semula)
  • Membran mucus yang kering (dalam mulut, tenggorokan, hidung dan kelopak mata)
  • Tekanan darah rendah
  • Rasa haus
  • Kram otot
  • Gelisah, mudah tersinggung, atau rewel (terutama pada anak-anak)
  • Kantuk atau kelelahan yang tidak biasa
Sementara itu kasus kolera yang lebih parah ditunjukkan dengan gejala berupa:
  • Sakit perut (kram)
  • Nyeri anus
  • Demam
  • Muntah yang parah
  • Dehidrasi
  • Volume urine yang sedikit atau bahkan tidak buang air kecil dalam jangka waktu tertentu
  • Penurunan berat badan
  • Kejang
Apabila tidak segera ditangani, kolera dengan gejala di atas dapat menyebabkan syok dan kematian dalam beberapa jam. 
Penyebab kolera adalah bakteri Vibrio cholerae, dan biasanya ada di:
  • Saluran air bersih yang terkontaminasi
  • Es batu yang terkontaminasi
  • Makanan dan minuman yang dijual di tempat tidak higienis
  • Sayuran yang tumbuh di tanah dengan kondisi tercemar feses
  • Konsumsi ikan dan hidangan laut mentah atau kurang matang
Seseorang dapat terkena kolera karena kontak dengan sumber kontaminasi di atas. Mengonsumsi makanan atau minuman yang terinfeksi bakteri akan membuat bakteri mengeluarkan racun di dalam usus dan menyebabkan diare.Dalam suatu epidemi, sumber kontaminasi biasanya berasal dari kotoran manusia (feses) yang terinfeksi bakteri kolera lalu mencemari air atau makanan di sekitarnya. Penyakit ini dapat menyebar dengan cepat di daerah dengan pengolahan limbah dan air minum yang tidak memadai.Infeksi kolera tidak mungkin menyebar atau ditularkan secara langsung dari satu orang ke orang lainnya. Oleh karena itu, kontak sehari-hari yang biasa dilakukan dengan orang yang terinfeksi bukan merupakan faktor risiko untuk terjangkit penyakit ini.


Faktor risiko

Ada pun beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena kolera adalah:
  • Berada di lingkungan yang tidak bersih, seperti sanitasi yang buruk atau menggunakan air yang terkontaminasi
  • Memiliki tingkat asam lambung yang rendah (bakteri kolera tidak dapat hidup di lingkungan yang sangat asam)
  • Tinggal bersaman pasien kolera
  • Memiliki golongan darah O. Berdasarkan penelitian, dibandingkan pemilik golongan darah lainnya, orang- orang dengan golongan darah O lebih berisiko terkena kolera.
  • Mengonsumsi kerang mentah. Kerang dari perairan kotor tempat bakteri kolera hidup, kemungkinan besar telah terkontaminasi.
Baca jawaban dokter: Apa Perbedaan daerah sporadis dan endemis untuk penyakit diare? 
Dokter akan mulai dengan wawancara (anamnesis) serta pemeriksaan fisik dan dapat melengkapinya menggunakan pemeriksaan sampel feses untuk melihat keberadaan bakteri yang menyebabkan kolera.Memeriksa tanda dehidrasi seperti:
  • Mata cekung
  • Penurunan tingkat kelenturan (turgor) kulit
  • Tampak lemas
  • Tampak kehausan atau tidak mau minum sama sekali
     
Perawatan pasien kolera dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut ini.

1. Rehidrasi

Tujuan rehidrasi adalah untuk mengganti cairan dan elektrolit yang hilang akibat diare berlebihan. Rehidrasi dapat dilakukan dengan mengonsumsi banyak air atau cairan rehidrasi oral (pengganti elektrolit). Terapi rehidrasi dilakukan sesuai dengan tingkat dehidrasi.

2. Pemberian infus

Pada kasus kolera yang lebih parah, cairan infus dapat diberikan untuk mengganti hilangnya cairan dengan cepat.

3. Pemberian antibiotik

Beberapa antibiotik dapat menghambat pertumbuhan bakteri sehingga bisa mengurangi diare akibat kolera dan memperpendek jangka waktu diare pada kolera yang parah.

4. Konsumsi suplemen seng (zinc)

Zinc dapat untuk mengurangi dan mempersingkat durasi diare akibat kolera (terutama untuk anak-anak).Baca juga: 7 Makanan untuk Diare yang Aman untuk Anda Konsumsi 

Komplikasi

Kolera bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani. Dalam kasus yang parah, kehilangan cairan dan elektrolit dengan cepat dapat menyebabkan kematian hanya dalam 2-3 jam.Syok dan diare parah adalah komplikasi kolera yang paling serius. Namun, komplikasi lainnya yang juga bisa terjadi adalah:
  • Gula darah yang rendah
  • Kadar kaliumyang rendah
  • Gagal ginjal
 
Anda bisa mencegah kolera dengan:
  • Mencuci tangan dengan sabun secara rutin (terutama setelah dari toilet dan sebelum makan)
  • Hanya mengonsumsi air matang atau air minum dalam kemasan yang terjaga kebersihannya.
  • Mengonsumsi makanan yang telah matang dan terjaga kebersihannya (terutama daging merah dan makanan laut), serta menghindari jajanan dari tempat yang tidak bersih
  • Mengonsumsi buah dan sayuran yang dapat dikupas (seperti pisang, jeruk, dan alpukat) serta menghindari salad ataupun buah yang tidak dapat dikupas (misalnya stroberi)
  • Menggunakan air kemasan, air matang, atau air yang diolah secara kimiawi untuk mencuci piring, menyikat gigi, maupun membilas dan menyiapkan makanan atau membuat es batu.
  • Mendapatkan vaksin kolera sebelum bepergian ke daerah yang terjangkit kolera. Hubungi dokter untuk mendapatkan informasi mengenai pilihan vaksin yang tersedia.
Baca juga: Jagalah Kebersihan Toilet, Agar Terhindar dari Berbagai Penyakit Ini
Segera hubungi dokter apabila Anda mengalami diare berat (terutama setelah mengunjungi area yang tidak bersih dan tercemar).
Sebelum mengunjungi dokter, Anda dapat melakukan beberapa hal di bawah ini.1. Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
2. Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
3. Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
4. Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter, seperti:
  • Apakah penyebab dari gejala-gejala saya?
  • Apakah saya perlu dites?
  • Apa saja pengobatan yang akan saya peroleh?
  • Pengobatan apa yang direkomendasikan ke saya?
  • Apakah ada efek samping dari pengobatan yang dianjurkan?
  • Berapa lama waktu yang diperlukan untuk menyembuhkan penyakit saya?
  • Kapan saya bisa kembali beraktivitas seperti biasa?
  • Apakah saya memiliki risiko komplikasi jangka panjang?
  • Apakah penyakit ini menular? Bagaimana cara mengurangi risiko penularannya?
5. Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter. 
Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut ini.
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Ke mana Anda bepergian belakangan ini?
  • Kapan Anda mulai mengalami gejala-gejala kolera?
  • Apakah diare Anda cair tanpa ampas? Seberapa parah?
  • Apakah Anda muntah-muntah?
  • Apakah Anda merasakan gejala dehidrasi, haus yang berkelanjutan atau kram otot?
  • Apakah Anda pernah makan ikan atau daging mentah atau tidak matang belakangan ini?
  • Apakah Anda tengah mengonsumsi obat untuk penyakit lain?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan tes penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis kolera agar penanganan yang tepat bisa diberikan.  
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/cholera/symptoms-causes/syc-20355287
Diakses pada 12 Oktober 2018
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/cholera/
Diakses pada 12 Oktober 2018
WebMD. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/cholera-faq#1
Diakses pada 12 Oktober 2018
Medicine Net. https://www.medicinenet.com/cholera/article.htm
Diakses pada 28 Oktober 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health/cholera#complications
Diakses pada 28 Oktober 2020
CDC. https://www.cdc.gov/cholera/general/index.html
Diakses pada 28 Oktober 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

10 Gangguan Sistem Pencernaan yang Sering Dialami Orang Indonesia

Gangguan sistem pencernaan biasa ditandai dengan sakit perut, sehingga penyebabnya sulit diketahui. Kenali jenis penyakit pencernaan yang umum terjadi di Indonesia agar bisa diatasi dengan cepat.
18 Jul 2020|Annisa Trimirasti
Baca selengkapnya
Diare termasuk gangguan sistem pencernaan yang paling umum

Ribuan Babi Mati Akibat Virus Hog Cholera, Bisakah Manusia Tertular?

Kolera babi adalah salah satu virus paling berbahaya menyerang babi ternak dan babi hutan. Virus ini hanya menular pada hewan babi, tetapi tidak pada manusia.
12 Nov 2019|Fadli Adzani
Baca selengkapnya
Belum ada bukti kalau virus hog cholera dapat menyebar ke manusia.

Tak Perlu Khawatir, Diare Saat Hamil Tidak Berisiko Keguguran

Diare saat hamil kerap terjadi pada trimester ketiga kehamilan, ketika tubuh bersiap menuju tugas selanjutnya yaitu persalinan. Tidak sembarang obat bisa dikonsumsi karena bisa berpengaruh terhadap janin.
12 Dec 2019|Azelia Trifiana
Baca selengkapnya
Diare saat hamil biasanya mereda dengan sendirinya setelah beberapa waktu