Kulit & Kelamin

Klamidia

Diterbitkan: 18 Jul 2019 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Klamidia
Klamidia merupakan salah satu infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis
Klamidia adalah salah satu penyakit menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis. Infeksi bakteri ini dapat menyerang pria maupun wanita yang ditularkan melalui hubungan seksual yang tidak aman. Selain itu, penyakit ini juga dapat ditularkan pada bayi yang dilahirkan dari ibu yang mengidap klamidia.Klamidia dapat diobati, namun rata-rata orang yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala. Jika dibiarkan, klamidia dapat menimbulkan komplikasi yang serius. Oleh karena itu, penting untuk melakukan pemeriksaan rutin jika Anda dan pasangan memiliki faktor risiko terkait klamidia. 
Klamidia
Dokter spesialis Kulit
GejalaNyeri saat berhubungan seksual, rasa terbakar saat buang air, keputihan yang berbau
Faktor risikoAktif secara seksual, memiliki banyak pasangan seks, memiliki riwayat penyakit menular seksual
Metode diagnosisTes swab klamidia, tes urine
PengobatanObat-obatan
ObatAntibiotik azitromisin, doksisiklin, eritromisin
KomplikasiPenyakit radang panggul, infertilitas, epididimitis
Kapan harus ke dokter?Keluar cairan tidak normal dari penis atau vagina, nyeri saat buang air kecil,  memiliki pasangan seksual yang mengidap klamidia
Gejala klamidia pada wanita dan pria berbeda bentuknya, termasuk ke dalamnya adalah:Gejala pada wanita
  • Nyeri pada saat berhubungan seksual
  • Sensasi terbakar pada saat buang air kecil
  • Keputihan yang tidak normal, misalnya berbau
  • Sakit pada perut bagian bawah
  • Mual
  • Demam
  • Pembengakan pada serviks (cervicitis)
  • Perdarahan di luar waktu menstruasi
Gejala pada pria
  • Sensasi terbakar pada saat buang air kecil
  • Lubang penis yang terbakar atau gatal
  • Adanya cairan abnormal yang keluar dari penis
  • Nyeri dan bengkak pada satu atau kedua testis
  • Nyeri di perut bagian bawah
  • Jika infeksi terjadi di anus, anus akan terasa nyeri dan mengeluarkan cairan abnormal hingga perdarahan
 
Klamidia disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis. Bakteri ini biasanya menyebar melalui hubungan seksual vaginal, oral, maupun anal.Seorang ibu juga dapat menularkan klamidia pada bayi yang dilahirkan melalui proses persalinan. Penyakit ini bisa menyebabkan pneumonia atau infeksi mata yang serius pada bayi.Faktor risikoBeberapa faktor berikut dapat meningkatkan risiko terinfeksi klamidia, yakni:
  • Aktif secara seksual sebelum usia 25 tahun
  • Memiliki banyak pasangan seks
  • Tidak menggunakan kondom saat berhubungan seksual
  • Memiliki riwayat penyakit menular seksual
Baca juga: Bagaimana Cara Membedakan Penyakit Klamidia dengan Gonorea?
Dokter dapat mendiagnosis dengan melakukan beberapa hal di bawah ini:
  • Mengajukan pertanyaan mengenai gejala yang dialami.
  • Tes diagnostik berupa:
    • Tes swab klamidia untuk wanita dengan memeriksa cairan vagina
    • Tes urin untuk pria.
Jika Anda pernah mengalami klamidia sebelumnya, Anda harus menjalani tes ulang dalam jangka waktu sekitar tiga bulan berikutnya dari tes pertama Anda. 
Dokter biasanya akan meresepkan antibiotik untuk mengobati infeksi klamidia. Beritahukan dokter jika Anda memiliki alergi terhadap antibiotik jenis apapun.Jenis antibiotik yang paling sering diresepkan untuk klamidia adalah:
  • Azitromisin – diminum 2 atau 4 tablet sekaligus
  • Doksisiklin – diminum 2 kali sehari selama seminggu
Pengobatan klamidia pada ibu hamilJenis antibiotik yang direkomendasikan untuk pengobatan klamidia selama kehamilan adalah:
  • Azitromisin
  • Eritromisin
  • Amoksisilin
Hindari berhubungan seksual selama tujuh hari setelah menyelesaikan obat. Informasikan pada dokter bila Anda sedang hamil dan mengalami gejala seperti demam atau sakit perut saat minum obat.Pasangan Anda juga sebaiknya menjalani pemeriksaan dan terapi untuk mencegah penularan atau infeksi klamidia yang berulang.Komplikasi Klamidia yang terlambat untuk diobati dapat menimbulkan komplikasi yang berbeda bagi pria ataupun wanita.Komplikasi klamidia pada pria
  • Epididimitis, pembengkakan tabung yang menahan testis di tempatnya (epididymis_
  • Infeksi yang menyebar ke kelenjar prostat sehingga menyebabkan demam, nyeri dan rasa tidak nyaman di punggung bagian bawah saat berhubungan seksual
  • Urethritis klamidia
Komplikasi klamidia pada wanita
  • Pelvic inflammatory disease (PID), infeksi pada organ reproduksi wanita, seperti serviks, rahim, dan ovarium.
  • Infertilitas karena klamidia yang tidak diobati dapat meninggalkan bekas luka di saluran tuba
  • Bayi yang tertular dari ibu yang mengidap klamidia dapat mengalami komplikasi berupa infeksi mata dan pneumonia begitu dilahirkan
Baca juga: Benarkah Infeksi Klamidia dapat Menyerang Berbagai Organ?
Untuk mencegah klamidia, Anda dapat melakukan beberapa langkah berikut:
  • Berhubungan seksual dengan menggunakan kondom (termasuk untuk oral seks), kecuali Anda yakin bahwa pasangan Anda tidak memiliki klamidia.
  • Hindari berganti-ganti pasangan dan setialah pada pasangan Anda. 
  • Lakukan tes untuk pasangan baru guna mendeteksi penyakit menular seksual lainnya.
  • Hindari douching karena dapat mengurangi jumlah bakteri baik di dalam vagina sehingga dapat meningkatkan risiko infeksi.
 
Konsultasi dengan dokter jika terdapat sesuatu yang tidak normal keluar dari vagina, penis, atau rektum (organ terakhir dari usus besar), mengalami nyeri pada saat buang air kecil, atau ketika Anda pasangan seksual Anda berkemungkinan mengidap klamidia. Dokter akan memberikan antibiotik bahkan jika tidak ada tanda atau gejala apapun.Baca jawaban dokter: Keluar cairan putih pada penis, apakah penyakit clamidia ? 
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter, seperti:
    • Apakah saya harus menjalani tes penyakit menular seksual lainnya?
    • Bagaimana cara saya mencegah infeksi klamidia?
    • Apakah saya harus menghindari hubungan seksual selama perawatan? Bila iya, berapa lama saya harus melakukannya?
    • Apakah pasangan saya harus menjalani tes atau pengobatan klamidia?
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki luka atau keputihan yang abnormal?
  • Apakah Anda memiliki pasangan baru atau memiliki banyak pasangan?
  • Apakah Anda mengalami nyeri panggul?
  • Apakah Anda menggunakan kondom secara konsisten?
  • Apakah Anda merasa sakit pada saat buang air kecil?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait klamidia?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis klamidia agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Family Doctor. https://familydoctor.org/condition/chlamydia
Diakses pada 19 Desember 2018
Healthline. https://www.healthline.com/health/std/chlamydia
Diakses pada 19 Desember 2018
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/chlamydia/symptoms-causes/syc-20355349
Diakses pada 19 Desember 2018
Medline Plus. https://medlineplus.gov/chlamydiainfections.html
Diakses pada 19 Desember 2018
Healthline. https://www.healthline.com/health/pregnancy/infections-prevention-chlamydia#outlook
Diakses 17 Agustus 2020
CDC. https://www.cdc.gov/std/tg2015/chlamydia.htm                       
Diakses 17 Agustus 2020
 
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Mencukur Rambut Kemaluan, Latah karena Tren atau Memang Perlu?

Mungkin Anda bingung perlukah mencukur bulu kemaluan yang sudah panjang dan tebal? Memutuskan untuk mencukur rambut kemaluan atau tidak adalah 100% hak Anda.
14 Oct 2019|Azelia Trifiana
Baca selengkapnya
Entah alat cukur elektrik maupun manual, pastikan selalu kebersihan tangan dan alat yang digunakan, sebelum mencukur rambut kemaluan

Penyebab Kencing Sakit pada Pria yang Harus Dicermati Kaum Lelaki

Kencing sakit pada pria dapat dipicu oleh beragam penyakit, seperti infeksi saluran kemih, infeksi menular seksual, hingga batu ginjal. Penanganan dari dokter diperlukan untuk mengatasi penyakit yang menjadi biang kencing sakit pada pria.
31 Aug 2020|Arif Putra
Baca selengkapnya
Kencing sakit pada pria dapat disebabkan oleh beragam masalah medis

Inilah Dampak Seks Bebas bagi Kesehatan Fisik dan Mental

Dampak seks bebas dapat berpengaruh pada kesehatan fisik maupun mental pelakunya. Kebanyakan, dampak tersebut merugikan dan berakibat buruk pada akhirnya.
28 Jan 2020|Nurul Rafiqua
Baca selengkapnya
Dampak seks bebas salah satunya adalah terjangkit IMS