Kandungan

Kista Ovarium

07 Apr 2021 | Lenny TanDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Kista Ovarium
Kista ovarium berupa kantong berisi cairan yang muncul di indung telur
Kista ovarium adalah kantong yang berisi cairan yang muncul di indung telur (ovarium). Indung telur merupakan organ reproduksi wanita dengan bentuk dan ukuran yang mirip kacang almond.Wanita memiliki dua buah ovarium dan terletak di bagian perut bawah, tepatnya di sisi kiri dan kanan rahim.Ovarium berfungsi menghasilkan sel telur (ovum), hormon estrogen, dan hormon progesteron. Ovum akan berkembang dan mengalami pematangan dalam indung telur, lalu dilepaskan tiap bulan sepanjang usia subur.Ada banyak wanita yang mengalami kista ovarium. Sebagian besar kista ini berukuran kecil, sehingga tidak mengganggu maupun berbahaya.Umumnya, kista indung telur bisa hilang sendiri tanpa pengobatan dalam beberapa bulan. Namun bila pecah, kista ini dapat memicu gejala yang serius.Untuk mencegah masalah kesehatan akibat kista ovarium, kaum hawa sangat dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan panggul rutin dan mengenali gejalanya dengan saksama. 
Kista Ovarium
Dokter spesialis Kandungan
GejalaSakit perut bagian bawah, nyeri haid, sakit saat berhubungan intim
Faktor risikoGangguan hormon, kehamilan, endometriosis
Metode diagnosisPemeriksaan panggul, USG, tes hormon
PengobatanObat-obatan, pemantauan berkala, operasi
ObatObat kontrasepsi hormonal
KomplikasiTorsio ovarium, kista ovarium pecah
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala kista ovarium
Kebanyakan kista pada indung telur berukuran kecil dan tidak menimbulkan gejala. Namun secara umum, gejala kista ovarium bisa berupa:

Gejala umum

  • Nyeri tajam atau tumpul yang hilang dan timbul pada perut bawah
  • Bengkak
  • Perut kembung
  • Sensasi tekanan di perut bagian bawah

Gejala yang lebih jarang

Kista ovarium yang pecah dapat menimbulkan nyeri berat yang dirasa mendadak. Sementara kista yang memicu terpuntirnya indung telur, bisa memicu sakit disertai dengan mual dan muntah. 
Penyebab kista ovarium bisa bervariasi dan tergantung jenisnya. Sebagian besar dari kista ini, yaitu jenis kista fungsional, disebabkan oleh siklus menstruasi. Sementara jenis lainnya lebih jarang ditemukan. 

Jenis-jenis kista ovarium

Kista ovarium terbagi dalam beberapa tipe di bawah ini:

1. Kista fungsional

Kista fungsional adalah jenis kista ovarium yang paling umum ditemukan. Pada keadaan normal, terdapat folikel (struktur yang menyerupai kista) di dalam ovarium yang tumbuh setiap bulannya.Folikel menghasilkan hormon estrogen dan progesteron, juga melepaskan sel telur pada masa ovulasi. Jika folikel tersebut terus tumbuh, hal ini dikenal sebagai kista fungsional.Kista fungsional terbagi lagi dalam dua jenis berikut:
  • Kista folikuler

Di pertengahan siklus menstruasi, sel ovum keluar dari folikel dan akan menuju tuba fallopi (saluran yang menghubungkan ovarium dengan rahim). Kista folikuler muncul bila folikel tersebut tidak pecah dan mengeluarkan sel telur, melainkan terus tumbuh membesar.
  • Kista korpus luteum

Ketika folikel melepaskan telur, folikel akan mulai memproduksi hormon estrogen dan progesteron untuk pembuahan. Folikel ini dikenal dengan sebutan korpus luteum. Seringkali, terjadi penumpukan cairan di dalam folikel yang menyebabkan terbentuknya kista korpus luteum.Kista fungsional biasanya tidak berbahaya, jarang menimbulkan nyeri, dan sering hilang dengan sendirinya setelah 2-3 siklus menstruasi.

2. Kista ovarium lain

Beberapa jenis kista ovarium lainnya yang tidak terkait dengan siklus menstruasi antara lain:
  • Kista dermoid

Kista yang seringkali dikenal dengan nama teratoma ini dapat mengandung jaringan seperti rambut, gigi, atau kulit, karena berasal dari sel embrionik tubuh. Kista dermoid jarang bersifat ganas.
  • Cystadenoma

Jenis kista ini muncul pada permukaan ovarium dan dapat terisi cairan atau lendir.
  • Endometrioma

Endometrioma disebabkan oleh sel endometrium (lapisan dalam rahim) tumbuh di luar rahim. Beberapa jaringan endometrioma dapat menempel pada ovarium dan menimbulkan kista.Kista dermoid dan cystadenoma dapat tumbuh besar dan menyebabkan ovarium berpindah dari posisi normalnya. Hal ini dapat menyebabkan terpuntirnya ovarium yang dikenal dengan torsio ovarium. Kondisi ini dapat menyebabkan berkurangnya atau terhentinya aliran darah ke ovarium.Pada beberapa wanita, ovarium dapat menghasilkan kista kecil-kecil. Kondisi ini dikenal dengan nama sindrom polikistik ovarium (PCOS). PCOS dapat menyebabkan gangguan pada ovarium dan mengganggu kesuburan pasien. 

Faktor risiko kista ovarium

Kista fungsional umum ditemukan pada pasien dengan siklus menstruasi yang teratur. Kebanyakan wanita mungkin tidak sadar akan kista ovarium yang dimilikinya hingga terdapat masalah yang menyebabkan kista bertambah besar atau kista bertambah banyak.Beberapa hal yang dapat menjadi faktor risiko kista ovarium antara lain:
  • Gangguan hormon

Sebagai contoh, gangguan hormon bisa muncul akibat mengonsumsi obat penyubur kandungan, yang dapat memicu ovulasi.
  • Kehamilan

Kista ovarium kerap terbentuk saat ovulasi dan menetap dalam indung telur selama kehamilan.
  • Endometriosis

Endometriosis adalah sel endometrium yang tumbuh di luar rahim. Jaringan ini dapat menempel pada ovarium dan tumbuh menjadi kista.
  • Infeksi panggul berat

Bila infeksi menjalar ke ovarium, hal ini dapat memicu terbentuknya kista.
  • Riwayat kista ovarium

Wanita yang pernah mengalami kista pada indung telur, memiliki risiko lebih tinggi untuk kembali terkena kondisi yang sama. 
Awalnya, dokter akan melakukan pemeriksaan panggul untuk memeriksa adanya benjolan yang dapat disebabkan oleh kista ovarium. Jika kista ditemukan dari pemeriksaan panggul, dokter melakukan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis.Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan dokter untuk menegakkan diagnosis kista ovarium meliputi:
  • Ultrasonografi (USG)

USG merupakan pemeriksaan pencitraan dengan gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk menghasilkan gambar organ dalam tubuh. Tes ini dapat membantu dokter dalam menentukan ukuran, lokasi, bentuk, dan isi kista (berisi cairan atau padat).
  • CT scan

CT scan akan menghasilkan gambar organ dalam tubuh yang lebih mendetail.
  • MRI

Prosedur MRI menggunakan teknologi medan magnet untuk menghasilkan gambar organ dalam tubuh yang lebih rinci.
  • Tes kehamilan

Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan bahwa pasien tidak sedang hamil.
  • Tes kadar hormon

Tes kadar hormon bertujuan mendeteksi ada tidaknya kelainan hormon pada pasien.
  • Tes darah

Tes darah dilakukan sebagai skrining kanker ovarium pada pasien yang sudah mengalami menopause. Pemeriksaan ini berupa tes kadar antigen kanker 125 (CA-125) dalam darah. Senyawa ini lebih tinggi pada pasien dengan kanker ovarium. 
Penanganan kista ovarium tergantung pada ukuran dan bentuk kista, gejala yang muncul, dan apakah pasien sudah mengalami menopause atau belum. Cara mengobati kista ovarium yang dianjurkan oleh dokter meliputi:
  • Pemantauan berkala

Pada kebanyakan kasus, kista indung telur bisa hilang dalam beberapa bulan. Dokter akan melakukan pemeriksaan USG secara rutin guna memastikan masih ada tidaknya kista dalam ovarium.Pasien yang sudah mengalami menopause memiliki risiko sedikit lebih besar untuk mengalami kanker ovarium. Oleh sebab itu, USG dan tes darah perlu dilakukan secara rutin setidaknya selama satu tahun guna memantau perkembangan kista.
  • Obat-obatan

Dokter dapat memberikan obat kontrasepsi hormonal seperti pil KB. Obat ini berfungsi mencegah kambuhnya kista ovarium.
  • Operasi

Pada kista yang berukuran besar atau ukurannya makin besar, jenisnya bukan kista fungsional, tetap ada setelah 2-3 siklus menstruasi, berpotensi menjadi kanker, dan menimbulkan nyeri, dokter bisa menyarankan operasi.Tindakan operasi bertujuan mengangkat kista. Beberapa kista dapat diangkat tanpa menggangu ovarium. 

Komplikasi kista ovarium

Kista ovarium umumnya bersifat jinak dan dapat hilang sendiri tanpa pengobatan. Tetapi dalam beberapa kasus, dokter dapat mendeteksi adanya massa ganas (kanker) dari kista ini. Karena itu, pemeriksaan panggul rutin penting untuk dijalani oleh pasien.Komplikasi kista ovarium juga jarang ditemukan. Namun tetap mungkin terjadi. Beberapa di antaranya meliputi:
  • Torsio ovarium

Torsio ovarium terjadi ketika kista membesar dan menyebabkan indung telur berputar atau berubah bentuk dari posisi aslinya. Suplai darah ke ovarium pun akan terhambatJika tidak segera diobati, kondisi ini dapat memicu kerusakan atau kematian jaringan ovarium. Gejala torsio ovarium meliputi nyeri berat mendadak di pinggul, mual, dan muntah.
  • Pecahnya kista ovarium

Kista yang pecah dapat menyebabkan nyeri berat dan perdarahan organ dalam. Semakin besar ukuran kista, semakin besar pula risiko ini.Aktivitas berat yang mempengaruhi pinggul seperti berhubungan seks, bisa meningkatkan risiko kista ovarium yang pecah. Kista yang pecah dapat mempertinggi kemungkinan infeksi hingga mengancam nyawa pasien bila dibiarkan. 
Tidak ada cara pencegahan kista ovarium yang spesifik, namun beberapa hal dapat dilakukan untuk mendeteksi kista ovarium sejak dini dan menghindari terjadinya komplikasi. Beberapa hal tersebut meliputi:
  • Melakukan pemeriksaan panggul secara rutin
  • Waspada terhadap perubahan dalam siklus menstruasi, termasuk gejala menstruasi yang tidak biasa, terutama yang terjadi lebih dari beberapa siklus
  • Segera berkonsultasi dengan dokter bila mengalami gejala yang mengkhawatirkan
 
Hubungi dokter apabila Anda atau orang di sekitar Anda mengalami gejala berikut:
  • Nyeri di daerah perut atau panggul
  • Sakit disertai dengan demam atau muntah
  • Perubahan dalam siklus haid
  • Nafsu makan yang menurun
  • Berat badan turun tanpa alasan jelas
  • Perut terasa kembung
Sedangkan wanita dengan gejala kulit yang dingin dan basah, napas cepat, kepala pusing, atau lemah perlu ke dokter secepatnya.  
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat riwayat bepergian yang baru-baru ini Anda lakukan.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Minta keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait kista ovarium?
  • Apakah ada anggota keluarga atau orang di sekitar Anda dengan gejala yang sama?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis kista ovarium. Dengan ini, penanganan bisa diberikan secara tepat. 
Healthline. https://www.healthline.com/health/ovarian-cysts#diagnosis
Diakses pada 20 Desember 2018
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/ovarian-cysts/symptoms-causes/syc-20353405
Diakses pada 20 Desember 2018
WebMD. https://www.webmd.com/women/guide/ovarian-cysts#1
Diakses pada 20 Desember 2018
U.S. Department of Health & Human Services. https://www.womenshealth.gov/a-z-topics/ovarian-cysts
Diakses pada 11 November 2020
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/ovarian-cyst/
Diakses pada 11 November 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email