Kista adalah sebuah ruang seperti kantung yang berisi cairan, udara, maupun zat-zat lain. Kista dapat tumbuh di berbagai bagian tubuh manusia. Kista memiliki beragam jenis. Akan tetapi, mayoritas kista termasuk dalam golongan jinak ataupun non-kanker.

Kista epididimis merupakan suatu kista jinak penuh cairan, yang terletak pada saluran panjang dan sempit, di atas dan belakang setiap testis atau buah zakar pria (epididimis). Saluran tersebut merupakan penghubung antara testis dan vas deferens pada organ kelamin pria. 

Kista tersebut berbentuk bulat kecil, mengandung cairan bening atau berwarna keputihan, berisi sel-sel sperma yang telah mati, serta biasanya tanpa gejala, dan tidak membutuhkan perawatan. Pengobatan dapat dipertimbangkan untuk kista epididimis yang membesar secara progresif atau menimbulkan rasa sakit. 

Meski terletak di dekat testis, kista epididimis (spermatocele) tidak mempengaruhi kesuburan penderitanya. 

Kista epididimis biasanya tidak menimbulkan gejala maupun rasa sakit. Namun, penyakit ini akan terasa nyeri jika benjolan membesar. Kista epididimis muncul berupa benjolan yang dapat teraba dengan batas benjolan yang jelas, lunak, serta memiliki permukaan yang halus. 

Penderita kista epididimis biasanya dapat merasakan pembengkakan atau benjolan di atas buah zakar pada salah satu sisi skrotum (kantung pembungkus buah zakar),  maupun merasakan pembesaran menyeluruh pada skrotum.

Berikut ini gejala yang bisa timbul pada penderita kista epididimis.

  • Rasa nyeri atau sakit
  • Pembengkakan pada dasar testikel
  • Kemerahan pada skrotum
  • Rasa tekanan pada dasar penis
  • Rasa berat pada  testis
  • Rasa penuh di belakang dan di atas testis

Kista epididimis merupakan jenis penyakit yang cukup umum ditemukan. Berdasarkan penelitian, kista epididimis dialami oleh 30% dari pria dewasa. Penyakit ini biasanya sering ditemukan pada pria yang berusia antara 20-50 tahun. 

Penyebab pasti kista epididimis belum diketahui. Akan tetapi, kerusakan pada saluran pembawa sperma dari kepala epididimis (duktus epididimis) yang menimbulkan hambatan pada aliran sperma sehingga sperma, terkumpul pada bagian atas epididimis. Akibatnya, kondisi ini dapat memicu terjadinya kista. 

Dalam beberapa kasus, kista epididimis dapat muncul begitu saja tanpa adanya kerusakan atau luka, infeksi, maupun pembengkakan. Selain itu, tidak diketahui dengan pasti mengenai faktor-faktor risiko terjadinya kista epididimis. Kista epididimis ini tidak menimbulkan dampak pada fertilitas atau kesuburan pria. Kondisi ini juga tidak mengganggu aktivitas buang air kecil.

Untuk memastikan diagnosis kista epididimis, dokter akan melakukan sejumlah metode pemeriksaan berikut ini.

  • Pemeriksaan skrotum merupakan cara yang paling umum dan mudah dalam pemeriksaan kista epididimis. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan meraba (palpasi) organ kelamin, karena kista epididimis muncul dalam bentuk benjolan.
  • Dokter menyinari bagian belakang testis (pemeriksaan transluminasi), untuk melihat benjolan yang terjadi. Kista epididimis merupakan benjolan yang berisi cairan, sehingga cahaya yang diletakkan di belakang testikel, dapat menembus benjolan tersebut. Pada pemeriksaan transluminasi tersebut, jika cahaya yang diberikan tidak dapat menembus benjolan, maka faktor penyebab lain yang dicurigai, misalnya kanker testis.
  • Pemeriksaan ultrasound merupakan metode pemeriksaan dengan menggunakan gelombang suara yang dipantulkan, untuk menghasilkan gambar organ atau struktur yang lain pada bagian-bagian tubuh. Pemeriksaan ultrasound pada organ kelamin pria (testicular and scrotal ultrasound) dapat dilakukan untuk memastikan keberadaan kista dan menyingkirkan tumor testis, dan penyebab lain dari pembengkakan tumor.
  • Pemeriksaan radiografi atau rontgen juga dapat dilakukan untuk melihat jumlah kista epididimis dalam tubuh penderita. Sebab, kista epididimis bisa berjumlah lebih dari satu.

Kista epididimis biasanya tidak berbahaya dan pengobatan hanya diberikan, apabila timbul rasa nyeri ataupun terganggunya aliran darah menuju penis, meskipun hal tersebut jarang terjadi. 

Pengobatan tidak diperlukan apabila ukuran kista epididimis tidak berubah atau mengecil seiring dengan tubuh menyerap cairan di dalamnya. Pemberian obat antinyeri seperti acetaminophen atau ibuprofen dapat membantu meredakan gejala. 

Pembedahan  

Apabila ukuran kista epididimis menjadi semakin besar maupun menimbulkan rasa tidak nyaman, pengobatan yang dapat dilakukan adalah pengambilan kista epididimis melalui pembedahan atau yang disebut dengan tindakan spermatoselektomi. Prosedur medis ini dilakukan dengan melakukan sayatan pada skrotum, dan memisahkan kista dari epididimis.

Akan tetapi, pembedahan tidak direkomendasikan tanpa indikasi medis. Sebab, prosedur pembedahan pada daerah testis dapat menimbulkan rasa nyeri dalam jangka waktu yang lama. Selain itu, pada beberapa kasus, kondisinya bisa lebih buruk, daripada sakit yang bisa terjadi akibat kista epididimis.

Pembedahan pada testis juga dapat menyebabkan timbulnya bekas luka pembedahan, atau scar pada saluran organ kelamin pria. Bekas luka ini dapat menghambat aliran sperma dan dalam hal ini, berpotensi menimbulkan gangguan pada fertilitas atau kesuburan pria. 

Selain itu, kemungkinan komplikasi yang dapat terjadi setelah menjalani pembedahan adalah kemunculan kista epididimis kembali di kemudian hari, meskipun hal tersebut jarang terjadi.

Aspirasi dengan atau tanpa skleroterapi

Pengobatan lain termasuk aspirasi dan skleroterapi bisa dilakukan, walaupun metode ini jarang dipilih. Skleroterapi biasanya direkomendasikan kepada pria yang tidak ingin mempunyai keturunan, karena berisiko mengalami epididimitis kimiawi dan kerusakan epididimis yang akan menyebabkan kemandulan. 

Karena mempunyai risiko kekambuhan yang tinggi, maka aspirasi dilakukan bersama dengan skleroterapi, yaitu dengan menyuntikkan bahan sklerosing. Sebagai dampaknya, kantong kista epididimis akan menjadi jaringan parut, menggantikan cairan pada kantung tersebut sehingga menurunkan terjadinya kista di kemudian hari. 

Karena prosedur pengobatan kista epididimis memengaruhi tingkat kesuburan pria, maka pengobatan biasanya ditunda sampai dengan pria tersebut tidak berencana lagi mempunyai keturunan. Jika ketidaknyamanan akibat kista ini sudah sangat mengganggu, sebaiknya bicarakan dahulu dengan dokter ahli, tentang risiko yang dapat terjadi di kemudian hari, setelah menjalani prosedur penanganan kista epididimis. 

Tidak terdapat metode pencegahan yang khusus atau spesifik pada penyakit kista epididimis. Akan tetapi, sangat penting untuk melakukan pemeriksaan sendiri pada skrotum  Anda setidaknya satu bulan sekali, untuk mendeteksi adanya perubahan, seperti munculnya benjolan pada skrotum Anda. 

Lakukan langkah-langkah berikut ini untuk melakukan pemeriksaan skrotum sendiri. 

  • Waktu yang baik untuk memeriksa testis adalah setelah mandi atau berendam air hangat, karena hawa panas dari air akan melemaskan skrotum, sehingga memudahkan pemeriksaan.
  • Berdirilah di depan cermin dan periksalah kemungkinan adanya pembengkakan pada kulit skrotum.
  • Periksa setiap testis menggunakan kedua tangan, dengan menempatkan jari telunjuk serta jari tengah pada bagian bawah testis, dan ibu jari pada bagian atas testis.
  • Secara perlahan, lakukan gerakan memutar pada testis. Yang perlu diingat adalah permukaan testikel umumnya halus, berbentuk lonjong atau oval, serta memiliki batas yang jelas, serta agak keras. Perbedaan ukuran testis satu sama lain juga merupakan kondisi normal.

Pemeriksaan secara rutin dengan langkah-langkah di atas, dapat membuat Anda lebih mengenal testis dan lebih mudah menyadari adanya perubahan pada testis dan skrotum. Apabila terdapat pembengkakan, sebaiknya Anda segera menghubungi atau berkonsultasi dengan dokter.

Setiap kemunculan benjolan baru pada skrotum membutuhkan tindak lanjut yang baik, untuk mencegah timbulnya komplikasi di kemudian hari. 

Sebaiknya Anda segera berkonsultasi pada dokter, apabila mulai merasakan pembengkakan, rasa nyeri, maupun rasa tidak nyaman pada sekitar area testis. Memeriksakan diri ke dokter jika skrotum mengalami benjolan,  untuk menyingkirkan kondisi yang serius, seperti kanker testis. Dokter yang biasa menangani masalah kista epididimis adalah dokter spesialis urologi.

Healthline. https://www.healthline.com/health/cyst
Diakses pada 30 April 2019

University of Wisconsin Hospitals and Clinics Authority. https://www.uwhealth.org/health/topic/special/spermatocele-epididymal-cyst/tv7861spec.html
Diakses pada 30 April 2019

C.S. Mott Children’s Hospital. https://www.mottchildren.org/health-library/tv7861spec
Diakses pada 30 April 2019

University Hospitals Birmingham. https://www.uhb.nhs.uk/Downloads/pdf/PiEpididymalCyst.pdf
Diakses pada 30 April 2019

Ann & Robert H. Lurie Children's Hospital of Chicago. https://www.luriechildrens.org/en/specialties-conditions/spermatocele-epididymal-cyst/
Diakses pada 30 April 2019

Radiopaedia. https://radiopaedia.org/articles/epididymal-cyst
Diakses pada 30 April 2019

Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/443432-overview
Diakses pada 30 April 2019

NorthShore University HealthSystem. https://www.northshore.org/healthresources/encyclopedia/encyclopedia.aspx?DocumentHwid=tv7861spec
Diakses pada 30 April 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/spermatocele/symptoms-causes/syc-20377829
Diakses pada 30 April 2019

Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17492-spermatocele
Diakses pada 30 April 2019

Artikel Terkait