Keracunan Makanan

Ditulis oleh Maria Yuniar
Ditinjau dr. Reni Utari
Bakteri Salmonella merupakan salah satu bakteri yang sering ditemukan pada penderita keracunan makanan.
Bakteri, virus, dan parasit pada makanan, bisa menyebabkan Anda mengalami keracunan makanan.

Pengertian Keracunan Makanan

Keracunan makanan disebabkan oleh konsumsi makanan yang terkontaminasi, rusak, atau beracun. Organisme infeksi termasuk bakteri, virus dan parasit adalah penyebab paling umum keracunan makanan. Gejala keracunan makanan yang paling umum adalah mual, muntah, dan diare. Gejala keracunan makanan munculdalam beberapa jam setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi.

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Gejala keracunan makanan bervariasi, tergantung pada sumber infeksi. Waktu kemunculan gejala tergantung pada sumber infeksi, biasanya berkisar dari 1 jam hingga 28 hari. Kasus keracunan makanan yang umum terjadi umumnya mencakup setidaknya tiga dari gejala berikut ini.

  • Kram perut
  • Diare
  • Muntah
  • Kehilangan selera makan
  • Demam 
  • Kelemahan
  • Mual
  • Sakit kepala

Gejala keracunan makanan yang berpotensi mengancam jiwa, di antaranya adalah:

  • Diare lebih dari tiga hari
  • Demam tinggi
  • Masalah penglihatan dan berbicara
  • Gejala dehidrasi seperti mulut kering, buang air kecil sedikit atau tidak dapat buang air kecil sama sekali
  • Darah dalam urine

Penyebab

Penyebab utama keracunan makanan, di antaranya adalah:

  • Bakteri. Bakteri, termasuk salmonella, merupakan penyebab yang paling sering ditemukan pada kasus keracunan makanan. Bakteri lain yang mengakibatkan keracunan makanan adalah campylobacter dan C. botulinum (botulism), yang berpotensi mematikan dan dapat masuk ke dalam makanan.
  • Parasit. Keracunan makanan yang disebabkan oleh parasit, berbeda dari keracunan makanan akibat bakteri. Toksoplasma merupakan parasit penyebab keracunan makanan, yang biasanya ditemukan di tempat kotoran kucing. Parasit dapat hidup di saluran pencernaan tanpa terdeteksi selama bertahun-tahun. Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah dan wanita hamil, berisiko tinggi mengalami efek samping serius, jika parasit menetap di usus mereka.

  • Virus. Keracunan makanan dapat disebabkan oleh virus, seperti norovirus, atau dikenal sebagai virus Norwalk. Namun kasus keracunan makanan akibat virus ini ini jarang terjadi. 

Diagnosis

Dokter akan mendiagnosis keracunan makanan berdasarkan riwayat kesehatan pasien. Termasuk jangka waktu sakit dan gejala yang dialami pasien. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik dan mencari tanda-tanda dehidrasi.

Jika diperlukan, dokter akan melakukan pemeriksaan lain berupa tes darah, tes tinja, atau tes parasit untuk mengidentifikasi penyebab keracunan. 

Pengobatan

Rawat inap dapat dilakukan jika pasien memiliki kondisi medis yang membuat ketidakstabilan cairan atau elektrolit dalam tubuh. Rawat inap bertujuan untuk menjaga tubuh agar tetap terhidrasi.

Obat-obatan dapat diresepkan oleh dokter untuk membantu meredakan mual dan muntah, atau mengurangi frekuensi diare. Dokter juga dapat meresepkan antibiotik dalam pengobatan untuk sebagian besar kasus keracunan makanan.

Pencegahan

Cara terbaik untuk mencegah keracunan makanan adalah dengan memastikan keamanan makanan yang dikonsumsi, dan menghindari makanan yang tidak layak dikonsumsi.

Beberapa makanan dapat menyebabkan keracunan makanan, karena proses produksinya. Daging sapi, unggas, telur, dan kerang, dapat menyebabkan infeksi. Jika makanan dikonsumsi dalam bentuk mentah, tidak dimasak dengan benar, atau tidak membersihkan tangan sebelum memasak, bisa mengakibatkan keracunan. 

Makanan yang cenderung menyebabkan keracunan makanan adalah:

  • Sushi dan produk ikan lainnya yang disajikan mentah, atau kurang matang
  • Daging yang disajikan tanpa dimasak atau dipanaskan dengan benar
  • Susu atau  keju yang tidak dipasteurisasi
  • Buah dan sayuran mentah yang belum dicuci

Selalu cuci tangan sebelum dan sesudah memasak atau makan. Pastikan makanan tertutup rapat dan disimpan di tempat yang benar. Masak daging dan telur hingga matang. Segala sesuatu yang berhubungan dengan produk mentah, harus disanitasi sebelum digunakan untuk menyiapkan makanan lain. Pastikan juga untuk selalu mencuci buah dan sayuran sebelum disajikan.

Informasi Dokter

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Jika Anda mengalami salah satu dari gejala berikut ini, segera cari bantuan medis.

  • Muntah yang berulang-ulang
  • Diare lebih dari tiga hari
  • Nyeri hebat atau kram perut parah
  • Suhu tubuh tinggi, lebih dari 38°C
  • Mengalami gejala dehidrasi, seperti haus berlebihan, mulut kering, sedikit atau tidak buang air kecil, sangat lemah, dan pusing
  • Gejala neurologis seperti penglihatan kabur, kelemahan otot dan kesemutan di lengan

Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Berkonsultasi dengan Dokter?

Sebelum berkonsultasi dengan dokter, ada baiknya Anda mempersiapkan beberapa pertanyaan yang dapat diajukan kepada dokter, seperti berikut ini.

  • Apa kemungkinan penyebab gejala keracunan makanan yang saya alami? Apakah ada kemungkinan penyebab lain?
  • Apakah saya harus menjalani tes tertentu?
  • Apa perawatan terbaik untuk kondisi yang saya alami? Apakah ada perawatan alternatif ?
  • Obat-obatan apa yang saya diperlukan? Jika iya, apakah ada alternatif umum untuk obat yang diresepkan?
  • Bagaimana cara meredakan gejala yang saya alami?

Apa yang Akan Dilakukan Dokter pada Saat Konsultasi?

Sebelum mendiagnosis keadaan Anda, dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan, seperti:

  • Adakah orang di keluarga atau orang terdekat dengan gejala yang sama? Jika demikian, apakah Anda mengonsumsi makanan yang sama?
  • Pernahkah Anda bepergian ke daerah dengan air atau makanan yang mungkin tidak bersih?
  • Apakah Anda melihat  adanya darah saat buang air besar?
  • Apakah Anda mengalami demam?
  • Pernahkah Anda minum antibiotik pada hari-hari atau minggu-minggu sebelum gejala muncul?
  • Kapan gejala keracunan makanan mulai muncul ?
  • Apakah gejala yang dirasakan terus-menerus, atau hilang dan timbul?
  • Makanan apa yang Anda konsumsi dalam beberapa hari terakhir?
Referensi

Mayo Clinic. (n.d.). Food poisoning. Retrieved 01 04, 2019, from Mayo Clinic: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/food-poisoning/diagnosis-treatment/drc-20356236

Medicinenet. (n.d.). Food Poisoning Symptoms, Remedies, Treatment, and Cure. Retrieved 01 04, 2019, from Medicinenet: https://www.medicinenet.com/food_poisoning/article.htm

Healthline. (n.d.). Food Poisoning. Retrieved 01 04, 2019, from Healthline: https://www.healthline.com/health/food-poisoning

Medline Plus. (n.d.). Food poisoning. Retrieved 01 04, 2019, from MedlinePlus: https://medlineplus.gov/ency/article/001652.htm

Back to Top