Perut

Keracunan Makanan

01 Sep 2021 | Dedi IrawanDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Keracunan Makanan
Bakteri, virus, dan parasit pada makanan, bisa menyebabkan Anda mengalami keracunan makanan
Keracunan makanan adalah masuknya penyakit yang dibawa oleh makanan. Kondisi ini terjadi ketika seseorang mengonsumsi makanan yang terkontaminasi. Kontaminasi bisa berasal dari racun, bahan kimia, atau penyebab infeksi.Penyebab infeksi yang bisa terbawa makanan antara lain bisa berupa bakteri, virus, parasite, maupun prion. Kondisi ini bisa menimbulkan gejala yang merugikan kondisi tubuh bagian dalam.Gejala keracunan makanan yang paling umum adalah mual, muntah, dan diare. Gejala keracunan makanan muncul dalam beberapa jam setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi. Organ lain yang mungkin terlibat akibat keracunan makanan antara lain ginjal, otak, dan otot. 
Keracunan Makanan
Dokter spesialis Umum
GejalaKram perut, diare, muntah
Faktor risikoLansia, perempuan hamil, bayi dan anak-anak
Metode diagnosisTanya jawab, pemeriksaan fisik, tes darah
PengobatanPemberian cairan, obat-obatan
ObatAntibiotik
KomplikasiDehidrasi, infeksi Listeria, sindrom uremik hemolitik
Kapan harus ke dokter?mengalami gejala keracunan makanan
Gejala keracunan makanan bervariasi, tergantung pada sumber infeksi. Waktu kemunculan gejala tergantung pada sumber infeksi, biasanya berkisar dari 1 jam hingga 28 hari. Kasus keracunan makanan yang umum terjadi umumnya mencakup setidaknya tiga dari gejala berikut ini.
  • Kram perut
  • Diare
  • Muntah
  • Kehilangan selera makan
  • Demam 
  • Kelemahan
  • Mual
  • Sakit kepala
Gejala keracunan makanan yang berpotensi mengancam jiwa, di antaranya adalah:
  • Diare lebih dari tiga hari
  • Demam tinggi
  • Masalah penglihatan dan berbicara
  • Gejala dehidrasi seperti mulut kering, buang air kecil sedikit atau tidak dapat buang air kecil sama sekali
  • Darah dalam urine
 
Penyebab utama keracunan makanan, di antaranya adalah:
  • Bakteri

Bakteri, termasuk salmonella, merupakan penyebab yang paling sering ditemukan pada kasus keracunan makanan. Bakteri lain yang mengakibatkan keracunan makanan adalah campylobacter dan C. botulinum (botulism), yang berpotensi mematikan dan dapat masuk ke dalam makanan.
  • Parasit

Keracunan makanan yang disebabkan oleh parasit, berbeda dari keracunan makanan akibat bakteri. Toksoplasma merupakan parasit penyebab keracunan makanan, yang biasanya ditemukan di tempat kotoran kucing.Parasit dapat hidup di saluran pencernaan tanpa terdeteksi selama bertahun-tahun. Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah dan wanita hamil, berisiko tinggi mengalami efek samping serius, jika parasit menetap di usus mereka.
  • Virus

Keracunan makanan dapat disebabkan oleh virus, seperti norovirus, atau dikenal sebagai virus Norwalk. Namun kasus keracunan makanan akibat virus ini ini jarang terjadi.  

Faktor risiko keracunan makanan 

Beberapa faktor risiko kondisi ini meliputi:
  • Lansia

Orang tua lebih rentan mengalami sakit jika keracunan makanan. Hal ini wajar mengingat sistem kekebalan tubuh tidak seceketan saat masih muda ketika merespon organisme penyebab keracunan.
  • Perempuan hamil

Perempuan hamil berisiko mengalami keracunan makanan sebab mengalami perubahan metabolisme dan sirkulasi. Meski jarang, janin dalam kandungan bisa juga mengalami sakit akibat makanan yang dikonsumsi ibu telah terkontaminasi.
  • Bayi dan anak-anak

Bayi dan anak-anak juga berisiko sakit saat mengonsumsi makanan yang terkontaminasi. Sebab, pada usia mereka sistem kekebalannya berlum berkembang sempurna.
  • Penderita penyakit kronis

Mereka yang menderita penyakit kronis juga lebih rentan sakit saat mengonsumsi makanan terkontaminasi. Adapun penyakit kronis tersebut di antaranya adalah diabetes, penyakit liver, atau AIDS.Selain itu, kondisi ini juga rentan diderita orang dengan imun lemah karena menjalani kemoterapi atau terapi radiasi. 
Dokter akan mendiagnosis keracunan makanan berdasarkan riwayat kesehatan pasien. Termasuk jangka waktu sakit dan gejala yang dialami pasien. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik dan mencari tanda-tanda dehidrasi.Jika diperlukan, dokter akan melakukan pemeriksaan lain berupa tes darah, tes tinja, atau tes parasit untuk mengidentifikasi penyebab keracunan.  
Pengobatan keracunan makanan bisa dilakukan melalui rawat inap atau pemberian obat. Rawat inap dapat dilakukan jika pasien memiliki kondisi medis yang membuat ketidakstabilan cairan atau elektrolit dalam tubuh.Penanganan keracunan makanan melalui rawat inap bertujuan untuk menjaga tubuh agar tetap terhidrasi.Cara mengatasi keracunan makanan juga bisa dengan konsumsi obat. Obat-obatan dapat diresepkan oleh dokter untuk membantu meredakan mual dan muntah atau mengurangi frekuensi diare. Dokter juga dapat meresepkan antibiotik sebagai obat keracunan makanan untuk sebagian besar kasus. 

Komplikasi keracunan makanan

Komplikasi keracunan makanan yang paling serius adalah kehilangan cairan tubuh alias dehidrasi. Pada kelompok rentan di atas, kondisi ini mungkin membuat mereka harus menjalani rawat inap guna mendapatkan cairan melalui infus. Dehidrasi ekstrim bisa saja membuat penderita kehilangan nyawa.Risiko komplikasi serius bisa juga menerpa kelompok tertentu, di antaranya:
  • Infeksi Listeria

Komplikasi paling parah dari keracunan makanan karena Listeria bisa mendera janin dalam kandungan. Jika terjadi di awal masa kehamilan, infeksi ini berpotensi menyebabkan keguguran.Selain itu, infeksi Listeria juga bisa menyebabkan anak lahir mati, kelahiran prematur, atau infeksi fatal saat anak telah lahir. Bayi yang selamat dari infeksi ini berisiko menderita kerusakan neurologis jangka panjang dan tertunda perkembangannya.
  • Sindrom uremik hemolitik

Sindrom uremik hemolitik adalah komplikasi serius jika keracunan makanan disebabkan strain E. coli. Kerusakan lapisan pembuluh darah kecil di ginjal hingga gagal ginjal bisa terjadi akibat sindrom ini. Orang tua, anak-anak, dan pemilik imun rendah lebih rentan mengalami sindrom uremik. 
Cara terbaik untuk mencegah keracunan makanan adalah dengan memastikan keamanan makanan yang dikonsumsi, dan menghindari makanan yang tidak layak dikonsumsi.Beberapa makanan dapat menyebabkan keracunan makanan, karena proses produksinya. Daging sapi, unggas, telur, dan kerang, dapat menyebabkan infeksi. Jika makanan dikonsumsi dalam bentuk mentah, tidak dimasak dengan benar, atau tidak membersihkan tangan sebelum memasak, bisa mengakibatkan keracunan. Makanan yang cenderung menyebabkan keracunan makanan adalah:
  • Sushi dan produk ikan lainnya yang disajikan mentah, atau kurang matang
  • Daging yang disajikan tanpa dimasak atau dipanaskan dengan benar
  • Susu atau  keju yang tidak dipasteurisasi
  • Buah dan sayuran mentah yang belum dicuci
Selalu cuci tangan sebelum dan sesudah memasak atau makan. Pastikan makanan tertutup rapat dan disimpan di tempat yang benar. Masak daging dan telur hingga matang. Segala sesuatu yang berhubungan dengan produk mentah, harus disanitasi sebelum digunakan untuk menyiapkan makanan lain. Pastikan juga untuk selalu mencuci buah dan sayuran sebelum disajikan. 
Jika Anda mengalami salah satu dari gejala berikut ini, segera cari bantuan medis.
  • Muntah yang berulang-ulang
  • Diare lebih dari tiga hari
  • Nyeri hebat atau kram perut parah
  • Suhu tubuh tinggi, lebih dari 38°C
  • Mengalami gejala dehidrasi, seperti haus berlebihan, mulut kering, sedikit atau tidak buang air kecil, sangat lemah, dan pusing
  • Gejala neurologis seperti penglihatan kabur, kelemahan otot dan kesemutan di lengan
 
Sebelum melakukan kunjungan ke dokter, persiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buatlah daftar seputar gejala yang muncul.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang dialami oleh pasien. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang dikonsumsi oleh pasien.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan kepada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberi dukungan moral maupun membantu mengingat informasi yang disampaikan dokter.
 
Sebelum mendiagnosis keadaan Anda, dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan, seperti:
  • Adakah orang di keluarga atau orang terdekat dengan gejala yang sama? Jika demikian, apakah Anda mengonsumsi makanan yang sama?
  • Pernahkah Anda bepergian ke daerah dengan air atau makanan yang mungkin tidak bersih?
  • Apakah Anda melihat  adanya darah saat buang air besar?
  • Apakah Anda mengalami demam?
  • Pernahkah Anda minum antibiotik pada hari-hari atau minggu-minggu sebelum gejala muncul?
  • Kapan gejala keracunan makanan mulai muncul ?
  • Apakah gejala yang dirasakan terus-menerus, atau hilang dan timbul?
  • Makanan apa yang Anda konsumsi dalam beberapa hari terakhir?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis keracunan makanan agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/food-poisoning/diagnosis-treatment/drc-20356236
Diakses pada 1 September 2021
Medicinenet. https://www.medicinenet.com/food_poisoning/article.htm
Diakses pada 1 September 2021
Healthline. https://www.healthline.com/health/food-poisoning
Diakses pada 1 September 2021
Medline Plus. https://medlineplus.gov/ency/article/001652.htm
Diakses pada 1 September 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email