Penyakit Lainnya

Kejang Parsial

09 Jun 2021 | Dedi IrawanDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Kejang Parsial
Kejang parsial ditandai dengan sulit bicara, mulut kedutan, serta gerakan mata ke satu sisi secara berulang
Kejang timbul akibat aktivitas listrik otak yang tidak normal. Kejang parsial adalah kejang yang berdampak hanya pada satu area otak.Kejang yang disebut juga sebagai kejang fokal ini sering terjadi pada orang dewasa dengan epilepsi. Bentuk kejang yang muncul bergantung pada bagian otak yang terkena. Gejala bisa berupa gerakan motorik atau terasa sebagai sensasi pada panca indra.Kejang parsial biasanya berdampak pada bagian tubuh tertentu atau satu sisi tubuh saja. Tetapi kejang ini terkadang dapat berubah menjadi kejang yang menyeluruh.Terdapat dua tipe kejang parsial, yaitu kejang parsial sederhana dan kompleks. Pada kejang parsial sederhana, tidak terjadi kehilangan kesadaran. Sedangkan pada kejang parsial kompleks, kejang disertai dengan hilangnya kesadaran. Pasalnya, aktivitas listrik yang tidak normal mengenai kedua sisi otak. 
Kejang Parsial
Dokter spesialis Anak, Saraf
GejalaPenglihatan mata berkurang sebelah, sulit berbicara, sensasi merayap di kulit
Faktor risikoUsia, riwayat keluarga, cedera kepala
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, tes darah, pencitraan
PengobatanMenangani penyakit yang mendasari, menyesuaikan pola makan, operasi
ObatObat antikejang
KomplikasiJatuh, kecelakaan, tenggelam
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala kejang parsial
Gejala kejang parsial bergantung pada bagian otak yang terkena. Kejang ini dapat terjadi pada satu bagian tubuh atau satu sisi tubuh saja.

Gejala umum kejang parsial

  • Mata bergerak ke satu sisi secara berulang-ulang, atau terus menatap ke satu arah.
  • Penglihatan mata berkurang sebelah.
  • Kesulitan berbicara.
  • Mulut berkedut.
  • Merasa ada sesuatu yang merayap di kulit.
  • Berkeringat dan merasa gelisah atau panik.
  • Penurunan atensi.
  • Satu sisi tubuh sulit digerakkan.

Gejala kejang parsial berdasarkan kategorinya

Kejang parsial dapat berdampak pada empat aspek, yaitu motorik, sensorik, psikis, dan autonomik. Simak penjelasannya di bawah ini:
  • Dampak motorik

Pada kejang parsial motorik, penderita kehilangan kendali atas gerak ototnya. Misalnya pada otot wajah, tangan, kaki, atau bagian tubuh lainnya.
  • Dampak sensorik

Kejang sensorik berdampak pada indera penglihatan, pendengaran, atau penciuman. Contohnya, penderita merasa mendengar suara atau mencium bau yang sebenarnya tidak ada .Kejang sensorik juga dapat berupa munculnya kesemutan atau sensasi mati rasa pada kulit penderita.
  • Dampak autonomik

Dampak autonomik berpengaruh pada fungsi tubuh yang di luar kendali, seperti tekanan darah, denyut jantung, atau gerak usus.
  • Dampak psikis

Kejang tidak hanya ditandai dengan gejala gangguan pada gerak otot, tetapi juga dapat berupa perubahan perasaan. Misalnya, muncul ketakutan, panik, atau dejavu.Kejang parsial umumnya berlangsung sekitar 1-2 menit. Setelahnya, penderita bisa merasa bingung atau sulit berpikir jernih. 
Hingga sekarang, penyebab kejang parsial tidak selalu diketahui. Namun para ahli kesehatan berpendapat bahwa ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan kemungkinannya.Faktor-faktor risiko kejang parsial tersebut meliputi:
  • Faktor keturunan
  • Cedera otak yang menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada otak, sehingga aktivitas listrik pada bagian tersebut terganggu dan menyebabkan kejang
  • Gangguan aktivitas listrik otak, misalnya karena operasi, tumor, atau stroke
  • Meski jarang, penderita diabetes dapat terjadi kejang parsial sederhana yang berkelanjutan
 
Diagnosis kejang parsial umumnya dipastikan oleh dokter melalui tanya jawab, pemeriksaan fisik, dan juga pemeriksaan penunjang. Berikut penjelasannya:

Tanya jawab

Dokter akan mengajukan pertanyaan mengenai gejala apa saja yang dialami oleh pasien, dan riwayat penyakit atau cedera kepala sebelumnya.

Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik di luar episode kejang seringkali normal. Jika kejang disebabkan oleh penyakit yang lain, pemeriksaan fisik mungkin dapat menemukan kelainan sesuai dengan penyakit yang diderita.

Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan penunjang yang mungkin diperlukan untuk memastikan diagnosis kejang parsial meliputi:
  • Tes darah
  • Evaluasi fungsi hati
  • Tes fungsi kelenjar tiroid
  • Elektroensefalogram (EEG) guna merekam aktivitas listrik otak
  • CT scan atau MRI untuk menentukan lokasi otak yang mengalami kelainan
  • Lumbal pungsi, yakni pengambilan sampel cairan dari sumsum tulang untuk mendeteksi ada tidaknya infeksi dalam sistem saraf pusat
Perlu diingat bahwa semua hasil pemeriksaan dan tes medis dapat menunjukkan hasil yang normal. Namun penderita tetap mengalami kejang atau epilepsi.
Pengobatan kejang diberikan pada orang yang mengalami kejang parsial berulang. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi frekuensi kejang yang muncul. Beberapa langkah penganganan yang dianjurkan bisa meliputi:

Obat antikejang

Obat antikejang harus diminum secara teratur meski Anda tidak kejang. Pasalnya, dosis obat di dalam tubuh harus cukup untuk mencegah kejang. Itulah sebabnya kejang dapat kambuh jika konsumsi obat ini tiba-tiba dihentikan.Beberapa contoh yang dapat dianjurkan meliputi fenitoin, asam valproat, karbamazepin, lamotrigin, serta okskarbazepin.

Penanganan gangguan medis yang memicu kejang

Selain obat antikejang, kondisi yang berpotensi menyebabkan kejang parsial juga perlu ditangani. Berikut contohnya:

Pilihan pengobatan lainnya

Jika obat antikejang tidak dapat mengatasi kejang parsial, dokter bisa menganjurkan terdapat langkah pengobatan berikut:
  • Stimulasi saraf vagus

Alat untuk menstimulasi saraf vagus ditanam di bawah kulit dada penderita. Alat ini kemudian dihubungkan dengan saraf vagus pada leher yang terhubung ke otak.Aktivitas listrik dari alat stimulator akan mengubah aktivitas listrik pada otak yang menyebabkan kejang.
  • Pola makan

Anak-anak dengan kejang parsial sederhana dan tubuhnya tidak merespons terhadap obat antikejang, dapat menjalani terapi dengan diet ketogenik.Pola diet ini menerapkan asupan tinggi lemak dan rendah karbohidrat. Diet ketogenik harus dilakukan di bawah supervisi dokter gizi klinis.
  • Operasi

Operasi merupakan pilihan pengobatan yang terakhir. Melalui prosedur ini, dokter akan mengangkat bagian otak yang menyebabkan kejang. Misalnya, mengangkat jaringan parut atau tumor dari otak. Komplikasi kejang parsial bisa berbahaya, baik bagi pasien maupun orang di sekitarnya. Beberapa di antaranya meliputi:
  • Jatuh

Mengalami kejang bisa membuat seseorang terjatuh. Hal ini tentu bisa berakibat fatal sebab mungkin saja menimbulkan luka pada kepala atau berakibat patah tulang.
  • Tenggelam

Mereka yang mengalami kejang berisiko tenggelam saat berenang atau mandi.
  • Kecelakaan lalu lintas

Kejang saat mengendarai kendaraan bermotor atau mengoperasikan alat berat bisa berakibat fatal. Kecelakaan yang terjadi bukan saja membahayakan diri namun juga orang di sekitarnya.
  • Komplikasi kehamilan

Ketika sedang hamil lalu mengalami serangan kejang, bisa berakibat buruk bagi ibu dan janinnya. Selain itu, mengoncumsi obat antikejang bisa juga meningkatkan risiko bayi lahir cacat.
  • Kesehatan emosi bermasalah

Mereka yang memiliki masalah kejang mungkin akan lebih tertutup atau bermasalah secara psikis. Beberapa kondisi seperti depresi, kecemasan, dan keinginan bunuh diri lebih mungkin dimiliki oleh penderita.Komplikasi di bawah ini jarang terjadi. Namun, kehadirannya bisa mengancam jiwa penderita:
  • Status epileptikus

Kerusakan otak permanen bisa terjadi jika kejang yang dialami terkait dengan epilepsi. Kondisi ini bisa terjadi ketika kejang terjadi terus-menerus selama lebih dari 5 menit atau sering kejang berulang tanpa sadar.
  • Kematian mendadak

Kematian mendadak akibat kejang atau epilepsy juga mungkin terjadi, meski risikonya minim. Penyebab utamanya belum diketahui, namun diduga hal itu terkait dengan kondisi jantung atau pernapasan. 
Kejang parsial tidak selalu dapat dicegah. Namun kejang ini bisa dikendalikan dengan meminum obat antikejang secara teratur. Kekambuhan dapat terjadi saat pengobatan dihentikan secara tiba-tiba.Menerapkan kebiasaan hidup sehat juga penting. Mulai dari konsumsi makanan dengan gizi seimbang, cukup tidur, berolahraga teratur, dan menangani stres. 
Periksakan diri Anda ke dokter jika mengalami gejala kejang parsial, baik yang sederhana maupun kompleks. Apabila kejang berlangsung lebih dari lima menit, segera cari bantuan medis karena ini merupakan kondisi gawat darurat. 
Sebelum melakukan kunjungan ke dokter, persiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buatlah daftar seputar gejala yang muncul.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang dialami oleh pasien. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang dikonsumsi oleh pasien.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan kepada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberi dukungan moral maupun membantu mengingat informasi yang disampaikan dokter.
 
Dokter kemungkinan akan mengajukan pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang dialami oleh pasien?
  • Sejak kapan gejala muncul?
  • Berapa lama kejang parsial berlangsung?
  • Apakah pasien memiliki faktor risiko terkait kejang parsial?
  • Apakah pasien rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah pasien pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah dicoba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis kejang parsial agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Medicine Net. https://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=32952
Diakses pada 9 Desember 2019
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/320696.php
Diakses pada 9 Desember 2019
WebMD. https://www.webmd.com/epilepsy/complex-partial-seizure#1
Diakses pada 9 Juni 2021
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/epilepsy/diagnosis-treatment/drc-20350098
Diakses pada 9 Juni 2021
Healthline. https://www.healthline.com/health/partial-focal-seizure
Diakses pada 9 Juni 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email