Kejang timbul akibat aktivitas listrik otak yang tidak normal. Kejang parsial adalah kejang yang berdampak hanya pada satu area otak.

Kejang yang disebut juga sebagai kejang fokal ini sering terjadi pada orang dewasa dengan epilepsi. Bentuk kejang yang muncul bergantung pada bagian otak yang terkena. Gejala bisa berupa gerakan motorik atau terasa sebagai sensasi pada panca indra.

Kejang parsial biasanya berdampak pada bagian tubuh tertentu atau satu sisi tubuh saja. Tetapi kejang ini terkadang dapat berubah menjadi kejang yang menyeluruh.

Terdapat dua tipe kejang parsial, yaitu kejang parsial sederhana dan kompleks. Pada kejang parsial sederhana, tidak terjadi kehilangan kesadaran. Sedangkan pada kejang parsial kompleks, kejang disertai dengan hilangnya kesadaran. Pasalnya, aktivitas listrik yang tidak normal mengenai kedua sisi otak.

Gejala kejang parsial bergantung pada bagian otak yang terkena. Kejang ini dapat terjadi pada satu bagian tubuh atau satu sisi tubuh saja.

Gejala umum

Secara umum, gejala kejang parsial dapat berupa:

  • Mata bergerak ke satu sisi secara berulang-ulang, atau terus menatap ke satu arah.
  • Penglihatan mata berkurang sebelah.
  • Kesulitan berbicara.
  • Mulut berkedut.
  • Merasa ada sesuatu yang merayap di kulit.
  • Berkeringat dan merasa gelisah atau panik.
  • Penurunan atensi.
  • Satu sisi tubuh sulit digerakkan.

Gejala berdasarkan kategorinya

Kejang parsial dapat berdampak pada empat aspek, yaitu motorik, sensorik, psikis, dan autonomik. Simak penjelasannya di bawah ini:

  • Dampak motorik

Pada kejang parsial motorik, penderita kehilangan kendali atas gerak ototnya. Misalnya pada otot wajah, tangan, kaki, atau bagian tubuh lainnya.

  • Dampak sensorik

Kejang sensorik berdampak pada indera penglihatan, pendengaran, atau penciuman. Contohnya, penderita merasa mendengar suara atau mencium bau yang sebenarnya tidak ada .

Kejang sensorik juga dapat berupa munculnya kesemutan atau sensasi mati rasa pada kulit penderita.

  • Dampak autonomik

Dampak autonomik berpengaruh pada fungsi tubuh yang di luar kendali, seperti tekanan darah, denyut jantung, atau gerak usus.

  • Dampak psikis

Kejang tidak hanya ditandai dengan gejala gangguan pada gerak otot, tetapi juga dapat berupa perubahan perasaan. Misalnya, muncul ketakutan, panik, atau dejavu.

Kejang parsial umumnya berlangsung sekitar 1-2 menit. Setelahnya, penderita bisa merasa bingung atau sulit berpikir jernih.

Penyebab kejang parsial tidak selalu diketahui. Namun kondisi ini mungkin berhubungan hal-hal berikut ini:

  • Faktor genetik.
  • Cedera otak yang menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada otak, sehingga aktivitas listrik pada bagian tersebut terganggu dan menyebabkan kejang.
  • Gangguan aktivitas listrik otak, misalnya karena operasi, tumor, atau stroke.
  • Meski jarang, penderita diabetes dapat terjadi kejang parsial sederhana yang berkelanjutan.

Diagnosis kejang parsial umumnya dipastikan oleh dokter melalui tanya jawab, pemeriksaan fisik, dan juga pemeriksaan penunjang. Berikut penjelasannya:

Tanya jawab

Dokter akan mengajukan pertanyaan mengenai gejala apa saja yang dialami oleh pasien, dan riwayat penyakit atau cedera kepala sebelumnya.

Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik di luar episode kejang seringkali normal. Jika kejang disebabkan oleh penyakit yang lain, pemeriksaan fisik mungkin dapat menemukan kelainan sesuai dengan penyakit yang diderita.

Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan penunjang yang mungkin diperlukan untuk memastikan diagnosis kejang parsial meliputi:

  • Tes darah.
  • Evaluasi fungsi hati.
  • Tes fungsi kelenjar tiroid.
  • Elektroensefalogram (EEG) guna merekam aktivitas listrik otak.
  • CT scan atau MRI untuk menentukan lokasi otak yang mengalami kelainan
  • Pungsi lumbal, yakni pengambilan sampel cairan dari sumsum tulang untuk diperiksa di laboratorium. Langkah ini bertujuan mendeteksi ada tidaknya infeksi dalam sistem saraf pusat.

Perlu diingat bahwa semua hasil pemeriksaan dan tes medis dapat menunjukkan hasil yang normal. Namun penderita tetap mengalami kejang atau epilepsi.

Pengobatan kejang diberikan pada orang yang mengalami kejang parsial berulang. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi frekuensi kejang yang muncul. Beberapa langkah penganganan yang dianjurkan bisa meliputi:

Obat antikejang

Obat antikejang harus diminum secara teratur meski Anda tidak kejang. Pasalnya, dosis obat di dalam tubuh harus cukup untuk mencegah kejang. Itulah sebabnya kejang dapat kambuh jika konsumsi obat ini tiba-tiba dihentikan.

Beberapa contoh yang dapat dianjurkan meliputi fenitoin, asam valproat, karbamazepin, lamotrigin, serta okskarbazepin.

Penanganan gangguan medis yang memicu kejang

Selain obat antikejang, kondisi yang berpotensi menyebabkan kejang parsial juga perlu ditangani. Berikut contohnya:

Pilihan pengobatan lainnya

Jika obat antikejang tidak dapat mengatasi kejang parsial, dokter bisa menganjurkan terdapat langkah pengobatan berikut:

  • Stimulasi saraf vagus

Alat untuk menstimulasi saraf vagus ditanam di bawah kulit dada penderita. Alat ini kemudian dihubungkan dengan saraf vagus pada leher yang terhubung ke otak.

Aktivitas listrik dari alat stimulator akan mengubah aktivitas listrik pada otak yang menyebabkan kejang.

  • Pola makan

Anak-anak dengan kejang parsial sederhana dan tubuhnya tidak merespons terhadap obat antikejang, dapat menjalani terapi dengan diet ketogenik.

Pola diet ini menerapkan asupan tinggi lemak dan rendah karbohidrat. Diet ketogenik harus dilakukan di bawah supervisi dokter gizi klinis.

  • Operasi

Operasi merupakan pilihan pengobatan yang terakhir. Melalui prosedur ini, dokter akan mengangkat bagian otak yang menyebabkan kejang. Misalnya, mengangkat jaringan parut atau tumor dari otak.

Kejang parsial tidak selalu dapat dicegah. Namun kejang ini bisa dikendalikan dengan meminum obat antikejang secara teratur. Kekambuhan dapat terjadi saat pengobatan dihentikan secara tiba-tiba.

Menerapkan kebiasaan hidup sehat juga penting. Mulai dari konsumsi makanan dengan gizi seimbang, cukup tidur, berolahraga teratur, dan menangani stres.

Periksakan diri Anda ke dokter jika mengalami gejala kejang parsial, baik yang sederhana maupun kompleks. Apabila kejang berlangsung lebih dari lima menit, segera cari bantuan medis karena ini merupakan kondisi gawat darurat.

Saat akan berkonsultasi dengan dokter, ada baiknya Anda mengajak orang tua atau kerabat yang pernah menyaksikan langsung kejadian saat Anda mengalami kejang. Saat kejang, Anda tidak akan sadar apa yang sedang terjadi.

Informasi dari orang yang menyaksikan episode kejang Anda secara langsung sangatlah penting dalam membantu dokter untuk memastikan diagnosis.

Akan sangat membantu pula jika Anda mencatat kapan saja episode kejang terjadi, deskripsi gejala kejang, dan durasi kejang yang terjadi. Tuliskan juga mengenai apa saja yang kira-kira memicu kejang. Misalnya, tidak meminum obat, kurang tidur, stres, atau menstruasi (khusus wanita).

Siapkan juga pertanyaan-pertanyaan yang akan Anda ajukan. Berikut contohnya:

  • Apa yang menjadi penyebab kejang?
  • Apakah kejang yang Anda alami akan menetap?
  • Pemeriksaan apa yang harus Anda jalani, dan apa saja persiapannya?
  • Apa saja pilihan terapi yang tersedia?
  • Apa yang harus saya lakukan jika kejang terjadi lagi?
  • Apakah ada pantangan yang tidak boleh dilakukan?

Dokter mungkin akan menanyakan pertanyaan-pertanyaan berikut:

  • Gejala apa saja yang dialami?
  • Sejak kapan gejala muncul?
  • Sudah berapa kali gejala terjadi?
  • Berapa menit durasi kejang tersebut?
  • Apakah Anda dapat mengidentifikasi pencetus kejang?
  • Apakah ada hal-hal yang dirasa memperburuk kejang?
  • Apakah Anda pernah mengalami cedera kepala?

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis kejang parsial.

Medicine Net. https://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=32952
Diakses pada 9 Desember 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/320696.php
Diakses pada 9 Desember 2019

WebMD. https://www.webmd.com/epilepsy/complex-partial-seizure#1
Diakses pada 9 Desember 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/epilepsy/diagnosis-treatment/drc-20350098
Diakses pada 9 Desember 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/partial-focal-seizure
Diakses pada 9 Desember 2019

Artikel Terkait