Kepala

Kejang Demam

Diterbitkan: 07 Apr 2021 | dr. Levina FeliciaDitinjau oleh dr. Reni Utari
image Kejang Demam
Terkadang anak yang mengalami kejang demam akan menjadi sangat kaku atau berkedut hanya dalam satu area tubuh.
Kejang demam adalah kejang pada anak yang disebabkan oleh suhu tubuh yang tinggi, sering akibat infeksi. Kondisi ini terjadi pada anak-anak dengan perkembangan normal tanpa riwayat gejala neurologis (penyakit saraf).Kejang akibat demam dapat terlihat menakutkan. Namun kondisi ini biasanya tidak berbahaya dan tidak menunjukkan masalah kesehatan yang serius.Kejang demam biasanya terjadi ketika anak mengalami demam di atas 380C. Kejang umumnya berlangsung selama beberapa menit dan berhenti dengan sendirinya. Demam bisa berlanjut selama beberapa waktu. Beberapa anak akan tampak mengantuk setelah episode kejang demam, sementara anak lainnya tidak mengalami efek apapun.Kondisi ini dialami oleh anak berusia 6 bulan hingga 5 tahun. Paling sering ditemukan pada balita berusia 12-18 bulan. Kejang demam bukanlah epilepsi, dan kejang demam hanya memiliki risiko kecil untuk berkembang menjadi epilepsi. 
Kejang Demam
Dokter spesialis Anak
GejalaDemam lebih dari 38°C, gemeter hebat atau menyentakkan tangan dan kaki, pingsan
Faktor risikoUsia anak 6 bulan-5 tahun, riwayat keluarga 
Metode diagnosisTes darah, tes pungsi lumbal, pemeriksaan EEG
PengobatanObat-obatan
ObatParacetamol, ibuprofen, obat antikejang
KomplikasiKejang demam berulang
Kapan harus ke dokter?Mengalami kejang demam pertama kali, kejang yang berlangsung lebih dari 5 menit, kaku leher
Gejala kejang demam paling sering terjadi dalam 24 jam sejak permulaan demam, dan dapat menjadi tanda  pertama bahwa anak mengalami sakit.Biasanya, seorang anak yang mengalami kejang demam akan mengalami gemetar hebat pada seluruh tubuh dan kehilangan kesadaran. Terkadang anak akan menjadi sangat kaku atau berkedut hanya dalam satu area tubuh.Gejala kejang demam antara lain:
  • Demam dengan suhu tubuh lebih dari 38°C
  • Kehilangan kesadaran atau pingsan selama 30 detik-5 menit
  • Kedutan seluruh otot dan kaku selama 15-20 detik
  • Gemetar hebat atau menyentakkan tangan dan kaki, biasanya berlangsung selama 1-2 menit
  • Menggigit pipi atau lidah
  • Gigi dan rahang yang menegang
  • Mata berputar hingga ke belakang kepala atau bergeser ke satu sisi
  • Mengompol atau buang air besar
  • Tidak bisa bernapas atau sulit bernapas selama kejang
  • Kulit tampak kebiruan
  • Setelah kejang, anak mengambil napas dalam
Perlu diingat bahwa gejaala pada setiap anak berbeda-beda. Seorang anak mungkin hanya mengalami beberapa gejala, sementara anak lainnya mengalami beberapa gejala di atas. 

Jenis-jenis kejang demam

Terdapat dua jenis kejang demam, yaitu kejang demam sederhana dan kejang demam kompleks. Berikut penjelasannya:
  • Kejang demam sederhana

Kejang demam sederhana adalah tipe kejang demam  yang paling umum terjadi dan berlangsung beberapa detik sampai 15 menit. Kejang demam sederhana tidak akan muncul kembali dalam kurun waktu 24 jam dan tidak spesifik terjadi pada satu bagian tubuh.
  • Kejang demam kompleks

Tipe ini berlangsung lebih dari 15 menit, dan terjadi lebih dari satu kali dalam 24 jam atau terjadi pada satu sisi tubuh anak. 
Penyebab kejang demam tidak diketahui, meskipun biasanya diawali dengan demam, dengan  suhu yang mencapai 38°C atau lebih. Risiko terhadap kejang demam meningkat, jika anak memiliki anggota keluarga dengan riwayat tersebut.Dalam banyak kasus, demam tinggi disebabkan oleh infeksi. Contohnya adalah cacar air, flu, infeksi telinga bagian tengah, dan tonsilitis.Dalam kasus yang langka, kejang demam dapat terjadi setelah anak mendapatkan vaksinasi. Penelitian menunjukkan bahwa 1 dari 3.000-4.000 anak mengalami kejang demam setelah mendapatkan vaksin MMR. Sementara itu, 1 dari 11.000-16.000 anak berpotensi mengalami kejang demam sesudah mendapatkan vaksin DtaP/IPV/Hib.Anak bisa mengalami demam setelah vaksin. Suhu rendah pun tetap berpotensi memicu kejang demam. 

Faktor risiko kejang demam

Faktor risiko kejang demam adalah sebagai berikut:
  • Usia muda

Kejang demam biasanya dialami oleh anak berusia 6 bulan hingga 5 tahun. Anak berusia 12-18 bulan memiliki risiko lebih tinggi.
  • Riwayat keluarga

Beberapa anak mewarisi kecenderungan untuk mengalami kejang demam. Sejumlah penelitian mengaitkan gen tertentu dengan kerentanan terhadap kejang demam. 
Kejang demam dapat timbul pada anak dengan pertumbuhan dan perkembangan yang normal. Riwayat penyakit dan riwayat tumbuh kembang anak diperlukan untuk melihat faktor risiko lain terhadap epilepsi. Pada anak dengan tumbuh kembang normal, mengidentifikasi penyebab dari kejang demam adalah tahap pertama dalam penanganan kejang demam.Diagnosis kejang demam ditegakkan berdasarkan jenisnya.

Kejang demam sederhana

Anak yang mengalami kejang demam pertama setelah vaksinasi tidak memerlukan pemeriksaan. Sebab, diagnosis dapat ditentukan dari riwayat medis. Pada anak dengan imunisasi terlambat atau sistem kekebalan tubuh yang lemah, diperlukan pemeriksaan untuk menemukan infeksi berat, dengan cara:
  • Tes darah
  • Tes urine
  • Tes pungsi lumbal, untuk mendeteksi infeksi sistem saraf pusat seperti meningitis

Kejang demam kompleks

Untuk menunjang diagnosis kejang demam kompleks, pasien akan disarankan untuk menjalani pemeriksaan electroencephalogram (EEG). Tujuannya, untuk memeriksa aktivitas otak,Dokter juga akan menyarankan untuk pemeriksaan lebih lanjut dengan MRI untuk memeriksa otak anak, terutama bila anak memiliki kondisi seperti:
  • Ukuran kepala yang besarnya tidak wajar
  • Adanya abnormalitas dalam penilaian neurologis
  • Mengalami tanda dan gejala adanya kenaikan tekanan di dalam tengkorak
  • Kejang demam yang berlangsung lama secara tidak wajar.
 
Kebanyakan kejang demam berhenti dengan sendirinya dalam beberapa menit. Jika anak mengalami  kejang demam, tetap tenang dan lakukan langkah berikut ini:
  • Tempatkan anak pada permukaan dimana dia tidak akan jatuh
  • Mulai menghitung waktu dari saat mulai kejang
  • Awasi dari dekat dan buat anak merasa nyaman
  • Singkirkan benda yang keras atau tajam di sekitar anak Anda
  • Longgarkan pakaian yang ketat
  • Jangan menahan atau membatasi pergerakan anak Anda
  • Jangan letakkan apapun dalam mulut anak
Jika anak mengalami kejang demam yang bertahan selama lebih dari 5 menit atau mengalami kejang yang berulang, segera cari pertolongan medis darurat.Pemberian obat mungkin diperlukan untuk menghentikan kejang demam yang berlangsung lebih dari 5 menit.  Obat yang praktis dan dapat diberikan oleh orang tua atau di rumah ketika anak kejang adalah diazepam rektal yang diberikan lewat dubur. Dosisnya adalah 5 mg untuk anak dengan berat badan kurang  dari 10 kg dan 10 mg untuk berat badan lebih dari 10 kg.Selain itu, pemberian obat juga perlu diberikan pada saat demam untuk mencegah kejang. Obat yang dapat diberikan antara lain obat pereda demam seperti parasetamol.Anak-anak mungkin akan dirawat inap untuk observasi jika mengalami kondisi seperti berikut ini:
  • Kejang yang berkepanjangan
  • Kejang yang disertai dengan infeksi yang serius
  • Sumber infeksi tidak dapat ditemukan
 

Komplikasi kejang demam

Kebanyakan kejang demam tidak menghasilkan efek yang berkelanjutan. Kejang demam sederhana tidak menyebabkan kerusakan pada otak, penurunan kecerdasan maupun kesulitan belajar. Kejang demam juga tidak mengindikasikan kondisi serius medis lainnya.Kejang demam adalah suatu kejang yang dipicu oleh demam, dan tidak menandakan anak menderita epilepsi. Epilepsi merupakan kejang berulang yang terjadi tanpa pemicu, melainkan karena adanya sinyal listrik yang abnormal dalam otak.Komplikasi kejang demam yang paling umum terjadi adalah kejang demam berulang, dan anak berisiko lebih tinggi mengalaminya apabila:
  • Kejang demam pertama terjadi pada demam suhu rendah.
  • Periode antara permulaan demam dan kejang demam pendek (kurang dari 1 jam jaraknya).
  • Ada anggota keluarga dekat yang menderita kejang demam atau mempunyai riwayat epilepsi.
  • Usia kurang dari 18 bulan ketika pertama kali mengalami kejang demam.
  • Anak pernah menderita kejang demam kompleks sebelumnya.
  • Anak dititipkan di day care, yang berisiko lebih tinggi terhadap penularan infeksi flu atau cacar.
 
Kebanyakan demam kejang muncul dalam beberapa jam pertama saat demam, ketika mulai terjadi selama kenaikan suhu tubuh.

Pemberian obat

Pemberian acetaminophen atau ibuprofen pada permulaan demam dapat membuat anak lebih nyaman. Namun, obat tersebut tidak dapat mencegah kejang. Perhatikan saat memberikan aspirin kepada anak atau remaja.Aspirin diperbolehkan penggunaannya bagi anak berusia lebih dari 3 tahun. Namun, anak dan remaja yang sembuh dari cacar air atau gejala seperti flu, tidak diperkenankan mengonsumsi aspirin. Sebab, aspirin berkaitan dengan sindrom reye, yaitu suatu sindrom yang jarang terjadi, tapi berisiko mengancam nyawa anak.

Obat yang diresepkan

Walaupun jarang, obat anti convulsant (antikejang) dapat diresepkan untuk mencegah kejang demam. Namun obat ini dapat mengakibatkan efek samping yang serius, lebih besar daripada manfaat yang didapatkan.Rectal diazepam (diazepam yang dimasukkan melalui anus) atau nasal midazolam (midazolam yang dimasukkan melalui hidung) mungkin diresepkan untuk digunakan sesuai kebutuhan anak yang cederung mengalami kejang demam yang lebih lama dari 5 menit, atau jika anak mengalami lebih dari satu kali kejang dalam 24 jam.Namun obat ini tidak dapat digunakan untuk mencegah kejang demam. 
Segera bawa anak ke dokter setelah mengalami kejang untuk pertama kalinya walau hanya berlangsung beberapa detik. Langsung bawa anak ke UGD jika kejang berlangsung lebih dari lima menit atau disertai dengan muntah, kaku kuduk, masalah pernapasan, dan kesulitan tidur. 
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Catat apapun yang Anda ingat terkait kejang, termasuk tanda atau gejala yang terjadi sebelum kejang termasuk demam.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang anak Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
Anda juga dapat meminta keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter. 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait kejang demam?
  • Apakah ada anggota keluarga atau orang di sekitar Anda dengan gejala yang sama?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis kejang demam. Dengan ini, penanganan bisa diberikan secara tepat. 
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/febrile-seizure/symptoms-causes/syc-20372522
Diakses pada 18 Oktober 2018
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/febrile-
seizures/
Diakses pada 18 Oktober 2018
Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/febrile.html
Diakses pada 7 April 2021
IDAI. https://www.idai.or.id/professional-resources/pedoman-konsensus/konsensus-penatalaksanaan-kejang-demam
Diakses pada 7 April 2021
Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/7001-febrile-seizures
Diakses pada 7 April 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email