Kejang Demam

Ditinjau dr. Fridawati
seorang anak yang mengalami kejang demam akan mengalami gemetar hebat pada seluruh tubuh dan kehilangan kesadaran.
Terkadang anak yang mengalami kejang demam akan menjadi sangat kaku atau berkedut hanya dalam satu area tubuh.

Pengertian Kejang Demam

Kejang demam adalah kejang pada anak yang disebabkan oleh lonjakan suhu tubuh, seringkali dikarenakan infeksi. Hal ini terjadi pada anak kecil dengan perkembangan normal tanpa riwayat gejala neurologis. Kondisi dapat terlihat menakutkan, ketika anak sedang kejang demam. Namun, kondisi ini biasanya tidak berbahaya dan tidak menunjukkan tanda-tanda masalah kesehatan yang serius.

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Biasanya, seorang anak yang mengalami kejang demam akan mengalami gemetar hebat pada seluruh tubuh dan kehilangan kesadaran. Terkadang anak akan menjadi sangat kaku atau berkedut hanya dalam satu area tubuh.

Anak yang menderita kejang demam akan mengalami hal-hal seperti:

  • Demam dengan suhu tubuh lebih dari 38°C.
  • Kehilangan kesadaran.
  • Gemetar hebat atau menyentakkan tangan dan kaki.

Ada dua kategori kejang demam, yaitu kejang demam sederhana dan kejang demam kompleks:

  • Kejang demam sederhana:
    Ini adalah tipe kejang demam  yang paling umum terjadi dan berlangsung beberapa detik sampai 15 menit. Kejang demam sederhana tidak akan muncul kembali dalam kurun waktu 24 jam dan tidak spesifik terjadi pada satu bagian tubuh.
  • kejang demam kompleks:
    Tipe ini berlangsung lebih dari 15 menit, dan terjadi lebih dari satu kali dalam 24 jam atau terjadi pada satu sisi tubuh anak.

Kejang demam paling sering terjadi dalam 24 jam sejak permulaan demam, dan dapat menjadi tanda  pertama bahwa anak mengalami sakit. Segera bawa anak ke dokter setelah mengalami kejang untuk pertama kalinya, walaupun hanya berlangsung beberapa detik. Segera bawa anak ke rumah sakit jika kejang berlangsung lebih lama dari 5 menit atau disertai dengan muntah, kaku kuduk, masalah pernapasan, dan kesulitan untuk tidur.

Komplikasi

Kebanyakan kejang demam tidak menghasilkan efek yang berkelanjutan. Kejang demam sederhana tidak menyebabkan kerusakan pada otak, penurunan kecerdasan maupun kesulitan belajar. Kejang demam juga tidak mengindikasikan kondisi serius medis lainnya.

Kejang demam adalah suatu kejang yang dipicu, dan tidak menandakan anak menderita epilepsi. Epilepsi merupakan kejang berulang yang terjadi tanpa dipicu, melainkan karena adanya sinyal listrik yang abnormal dalam otak.

Komplikasi yang paling umum terjadi adalah kejang demam berulang, dan anak berisiko lebih tinggi mengalaminya apabila:

  • Kejang demam pertama terjadi pada demam suhu rendah.
  • Periode antara permulaan demam dan kejang demam pendek (kurang dari 1 jam jaraknya).
  • Ada anggota keluarga dekat yang menderita kejang demam atau mempunyai riwayat epilepsi.
  • Usia kurang dari 18 bulan ketika pertama kali mengalami kejang demam.
  • Anak pernah menderita kejang demam kompleks sebelumnya.
  • Anak dititipkan di day care, yang berisiko lebih tinggi terhadap penularan infeksi flu atau cacar.

Penyebab

Penyebab kejang demam tidak diketahui, meskipun biasanya diawali dengan demam, dengan  suhu yang mencapai 38°C atau lebih. Risiko terhadap kejang demam meningkat, jika anak memiliki anggota keluarga dengan riwayat tersebut. Dalam banyak kasus, demam tinggi disebabkan oleh infeksi. Contohnya adalah cacar air, flu, infeksi telinga bagian tengah, dan tonsilitis. Dalam kasus yang langka, kejang demam dapat terjadi setelah anak mendapatkan vaksinasi. Penelitian menunjukkan bahwa 1 dari 3.000-4.000 anak mengalami kejang demam setelah mendapatkan vaksin MMR. Sementara itu, 1 dari 11.000-16.000 anak berpotensi mengalami kejang demam sesudah mendapatkan vaksin DtaP/IPV/Hib. Anak bisa mengalami demam setelah vaksin. Suhu rendah pun tetap berpotensi memicu kejang demam.

Faktor yang meningkatkan risiko terhadap kejang demam adalah sebagai berikut:

  • Usia muda:
    Kejang demam biasanya dialami oleh anak berusia 6 bulan hingga 5 tahun. Anak berusia 12-18 bulan memiliki risiko lebih tinggi.
  • Riwayat keluarga:
    Beberapa anak mewarisi kecenderungan untuk mengalami kejang demam. Sejumlah penelitian mengaitkan gen tertentu dengan kerentanan terhadap kejang demam.

Diagnosis

Kejang demam dapat timbul pada anak dengan pertumbuhan dan perkembangan yang normal. Riwayat penyakit dan riwayat tumbuh kembang anak diperlukan untuk melihat faktor risiko lain terhadap epilepsi.

Pada anak dengan tumbuh kembang normal, mengidentifikasi penyebab dari kejang demam adalah tahap pertama dalam penanganan kejang demam.

Kejang Demam Sederhana

Anak yang mengalami kejang demam pertama setelah vaksinasi tidak memerlukan pemeriksaan. Sebab, diagnosis dapat ditentukan dari riwayat medis.

Pada anak dengan imunisasi terlambat atau sistem kekebalan tubuh yang lemah, diperlukan pemeriksaan untuk menemukan infeksi berat, dengan cara:

  • Tes darah
  • Tes urine
  • Tes pungsi lumbal, untuk mendeteksi infeksi sistem saraf pusat seperti meningitis

Kejang Demam Kompleks

Untuk menunjang diagnosis kejang demam kompleks, pasien akan disarankan untuk menjalani pemeriksaan electroencephalogram (EEG). Tujuannya, untuk memeriksa aktivitas otak,

Dokter juga akan menyarankan untuk pemeriksaan lebih lanjut dengan MRI untuk memeriksa otak anak, terutama bila anak memiliki kondisi seperti:

  • Ukuran kepala yang besarnya tidak wajar
  • Adanya abnormalitas dalam penilaian neurologis
  • Mengalami tanda dan gejala adanya kenaikan tekanan di dalam tengkorak
  • Kejang demam yang berlangsung lama secara tidak wajar.

Pengobatan

Kebanyakan kejang demam berhenti dengan sendirinya dalam beberapa menit. Jika anak mengalami  kejang demam, tetap tenang dan lakukan langkah berikut ini:

  • Tempatkan anak pada permukaan dimana dia tidak akan jatuh
  • Mulai menghitung waktu dari saat mulai kejang
  • Awasi dari dekat dan buat anak merasa nyaman
  • Singkirkan benda yang keras atau tajam di sekitar anak Anda
  • Longgarkan pakaian yang ketat
  • Jangan menahan atau membatasi pergerakan anak Anda
  • Jangan letakkan apapun dalam mulut anak

Jika anak mengalami kejang demam yang bertahan selama lebih dari 5 menit atau mengalami kejang yang berulang, segera cari pertolongan medis darurat. 

Pemberian obat mungkin diperlukan untuk menghentikan kejang demam yang berlangsung lebih dari 5 menit.

Anak-anak mungkin akan dirawat inap untuk observasi jika mengalami kondisi seperti berikut ini:

  • Kejang yang berkepanjangan
  • Kejang yang disertai dengan infeksi yang serius
  • Sumber infeksi tidak dapat ditemukan

Pencegahan

Kebanyakan demam kejang muncul dalam beberapa jam pertama saat demam, ketika mulai terjadi selama kenaikan suhu tubuh.

Pemberian Obat

Pemberian acetaminophen atau ibuprofen pada permulaan demam dapat membuat anak lebih nyaman. Namun, obat tersebut tidak dapat mencegah kejang. Perhatikan saat memberikan aspirin kepada anak atau remaja. Aspirin diperbolehkan penggunaannya bagi anak berusia lebih dari 3 tahun. Namun, anak dan remaja yang sembuh dari cacar air atau gejala seperti flu, tidak diperkenankan mengonsumsi aspirin. Sebab, aspirin berkaitan dengan sindrom reye, yaitu suatu sindrom yang jarang terjadi, tapi berisiko mengancam nyawa anak.

Obat yang Diresepkan

Walaupun jarang, obat anti convulsant (antikejang) dapat diresepkan untuk mencegah kejang demam. Namun obat ini dapat mengakibatkan efek samping yang serius, lebih besar daripada manfaat yang didapatkan. Rectal diazepam (diazepam yang dimasukkan melalui anus) atau nasal midazolam (midazolam yang dimasukkan melalui hidung) mungkin diresepkan untuk digunakan sesuai kebutuhan anak yang cederung mengalami kejang demam yang lebih lama dari 5 menit, atau jika anak mengalami lebih dari satu kali kejang dalam 24 jam. Namun, obat ini tidak dapat digunakan untuk mencegah demam kejang.

Referensi

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/febrile-seizure/diagnosis-treatment/drc-
20372527
diakses pada 18 Oktober 2018.

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/febrile-
seizures/
diakses pada 18 Oktober 2018.

Back to Top