Kandungan

Kehamilan Ektopik

Diterbitkan: 15 Aug 2019 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Kehamilan Ektopik
Kehamilan ektopik sering terjadi pada bagian tuba falopi
Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang terjadi di luar rahim (uterus). Kondisi ini dapat menyebabkan nyeri panggul, perdarahan hebat, dan keguguran, karena janin tidak akan bisa berkembang.Pada kehamilan normal, sel telur yang sudah dibuahi akan menempel pada dinding rahim. Namun pada kondisi hamil di luar kandungan, sel telur malah menempel di organ-organ lain.Kehamilan ektopik seringkali terjadi pada tuba falopi. Namun bagian tubuh lain juga bisa mengalaminya, seperti indung telur (ovarium), rongga perut, atau leher rahim (serviks).Kehamilan ektopik tidak dapat dipertahankan, karena telur yang telah dibuahi gagal bertahan hidup dan hanya akan menimbulkan komplikasi medis serius jika biarkan. Oleh karena itu, kehamilan ektopik umumnya harus diangkat melalui operasi maupun penggunaan obat-obatan.Perawatan yang tepat dapat mengurangi risiko komplikasi dan meningkatkan peluang di masa depan untuk memiliki kehamilan yang sehat.
Kehamilan Ektopik
Dokter spesialis Kandungan
GejalaNyeri panggul, perdarahan, tidak nyaman saat BAB
Faktor risikoRiwayat kehamilan ektopik, gangguan kesuburan, kebiasaan merokok
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, tes kehamilan, USG
PengobatanPenggunaan obat-obatan, operasi
ObatMethotrexate
KomplikasiPecahnya tuba falopi
Kapan harus ke dokter?Jika mengalami tanda-tanda kehamilan disertai nyeri panggul parah atau perdarahan yang banyak
Gejala kehamilan ektopik cenderung mirip dengan tanda kehamilan pada umumnya di minggu ke-4 sampai ke-12. Penderita akan mengalami haid yang terhenti, nyeri pada payudara saat disentuh, dan mual-mual.Apabila penderita melakukan tes kehamilan, hasilnya juga bisa positif. Karena itu, kondisi hamil di luar kandungan ini sulit terdeteksi.Meski begitu, Anda sebaiknya waspada apabila mengalami gejala umum maupun gejala darurat medis berikut ini, yang dapat menjadi gejala kehamilan ektopik.

1. Gejala umum

Nyeri panggul seringkali menjadi tanda pertama dari kehamilan ektopik. Keluhan ini dapat disertai dengan perdarahan ringan dari vagina.Apabila darah berasal dari tuba falopi, nyeri pada perut akan semakin parah. Penderita juga dapat merasakan dorongan untuk buang air besar (BAB) atau rasa tidak nyaman saat BAB dan buang air kecil.Apabila terjadi perdarahan berat, penderita kemungkinan bisa mengalami rasa sakit di bahu. Sebab, darah akan memenuhi rongga panggul dan perut.

2. Gejala darurat medis

Jika sel telur yang telah dibuahi terus berkembang dalam tuba falopi, maka tuba falopi dapat pecah. Dalam kondisi ini, perdarahan hebat dalam rongga perut pun akan terjadi. Pecahnya tuba falopi termasuk kondisi gawat darurat medis yang membutuhkan operasi secepatnya, untuk memperbaiki organ tersebut.Gejala pecahnya tuba falopi bisa berupa nyeri perut yang muncul mendadak, terasa tajam, dan intens, sangat pusing, pingsan, wajah yang sangat pucat, syok (penurunan tekanan darah yang mengganggu aliran darah tubuh).Baca juga: Bumil Wajib Tahu, Inilah 6 Tanda yang Membedakan Hamil Anggur dengan Hamil Normal 
Hingga sekarang, penyebab kehamilan ektopik belum diketahui dengan pasti. Namun ada beberapa kondisi yang kerap dikaitkan dengan kehamilan ektopik, yakni:
  • Tuba falopi yang rusak karena peradangan atau cacat akibat infeksi maupun pembedahan
  • Ketidakseimbangan hormon
  • Kelainan genetik
  • Cacat lahir
  • Kondisi medis yang memengaruhi bentuk maupun kondisi saluran tuba dan organ reproduksi lainnya
  • Faktor risiko
Semua wanita yang aktif secara seksual berisiko mengalami kehamilan ektopik. Namun, beberapa faktor berikut ini bisa meningkatkan risikonya.
  • Riwayat kehamilan ektopik
  • Pernah mengalami peradangan atau infeksi tertentu, misalnya penyakit menular seksual (seperti gonore atau klamidia). Kondisi ini dapat memicu inflamasi pada tuba falopi atau organ terdekat, sehingga meningkatkan risiko kehamilan di luar rahim.
  • Prosedur untuk meningkatkan kesuburan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa wanita yang menjalani program bayi tabung atau perawatan serupa, lebih rentan mengalami kehamilan ektopik.
  • Gangguan kesuburan (infertilitas)
  • Pernah menjalani operasi tuba falopi
  • Penggunaan alat kontrasepsi intrauterine device (IUD). Jika kehamilan terjadi saat KB spiral masih ada dalam rahim, Anda kemungkinan besar akan mengalami kehamilan ektopik.
  • Prosedur ligasi tuba (mengikat tuba). Metode kontrasepsi permanen ini juga bisa meningkatkan risiko kehamilan ektopik.
  • Kebiasaan merokok. Semakin sering merokok, risiko kehamilan ektopik pun akan semakin tinggi.
Baca juga: Tips Berhenti Merokok untuk Kehamilan yang Sehat 
Diagnosis kehamilan ektopik bisa dilakukan dengan beberapa langkah di bawah ini.

1. Pemeriksaan fisik

Dokter dapat mendeteksi area yang sakit melalui pemeriksaaan panggul.

2. Tes kehamilan

Pemeriksaan ini dilakukan dengan tes darah yang akan mendeteksi peningkatan hormon HCG. Dokter bisa menganjurkan tes kehamilan ulangan beberapa hari setelahnya, sampai hasil USG mampu memastikan atau menyingkirkan kemungkinan kehamilan di luar rahim.

3. Ultrasound (USG)

Pemerisaan ultrasound berupa USG transvaginal akan membantu dokter menentukan lokasi kehamilan secara tepat. Sementara itu, USG abdominal (perut) dapat digunakan untuk memastikan kehamilan atau memeriksa keberadaan perdarahan internal.

4. Tes darah

Tes darah, seperti hitung darah lengkap (complete blood count atau CBC), dibutuhkan untuk melihat gejala perdarahan maupun anemia. Dokter juga akan melakukan tes golongan darah pasien yang didiagnosis mengalami kehamilan ektopik untuk mempersiapkan kemungkinan diperlukannya transfusi darah. 
Janin pada kehamilan ektopik tidak bisa diselamatkan. Sebab, sel telur yang telah dibuahi tidak mampu berkembang normal di luar rahim.Cara mengobati kehamilan ektopik biasanya akan disesuaikan dengan gejala yang dialami, ukuran jani, dan kadar hormon HCG dalam darah pasien. Secara umum, dokter dapat merekomendasikan langkah-langkah berikut ini.

1. Penggunaan obat-obatan

Dokter dapat meresepkan methotrexate untuk pasien, untuk menghentikan pertumbuhan dan perkembangan janin. Pemberian methotrexate dianjurkan pada kehamilan ektopik yang telah terdeteksi sejak dini dan tanpa perdarahan tidak stabil. Dokter akan memberikannya dalam bentuk injeksi (disuntikkan).Sebelum Anda mengonsumsi metotreksat, dokter akan melakukan tes darah untuk mengukur kadar hCG dan fungsi organ tertentu. Biasanya dokter hanya memberikan satu dosis. Namun, jika kadar hCG belum berkurang signifikan setelah pemberian dosis pertama, dosis metotreksat selanjutnya dapat diberikan.Efek samping dari obat ini mirip dengan gejala keguguran yaitu, kram, serta perdarahan yang mengandung jaringan. Jika gejela-gejala tersebut telah terjadi, operasi lebih lanjut jarang diperlukan.

2. Operasi

Operasi dilakukan untuk mengangkat janin yang tumbuh di luar rahim, agar tidak semakin besar. Jenis operasi pengangkatan ini umumnya dilaksanakan dengan teknik laparoskopi, sehingga masa pemulihan akan lebih singkat.Sementara itu, operasi berupa tindakan laparatomi untuk kondisi darurat bisa dilakukan apabila kehamilan ektopik menyebabkan perdarahan hebat.Pada sebagian kasus, tuba falopi pasien dapat diperbaiki. Namun jika tidak memungkinkan, dokter akan mengangkat tuba yang pecah.


Komplikasi

Penanganan kondisi hamil di luar kandungan perlu dilakukan untuk mencegah komplikasi. Sebab, kehamilan ektopik dapat mengakibatkan tuba falopi yang pecah bila terus dibiarkan.Tanpa perawatan dan penanganan yang cepat, pecahnya tuba falopi bisa memicu komplikasi berupa perdarahan parah, yang mengancam nyawa penderitanya.Baca jawaban dokter: Cara agar cepat hamil setelah SC karena kehamilan ektopik?  
Karena penyebabnya belum diketahui dengan pasti, cara mencegah kehamilan ektopik juga belum ditemukan. Namun beberapa langkah di bawah ini dapat Anda lakukan untuk mengurangi risiko, yaitu dengan:
  • Mencegah penyakit menular seksual, setia pada pasangan, tidak berganti-ganti pasangan seks, atau senantiasa memakai kondom saat berhubungan intim
  • Tidak merokok. Jika memiliki kebiasaan merokok, berhentilah sebelum Anda menjalani program hamil (promil).
Kehamilan ektopik termasuk sulit dikenali karena gejalanya yang mirip dengan kehamilan normal. Oleh karena itu, pemeriksaan kehamilan secara rutin mesti dilakukan.Anda juga sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter apabila mengalami tanda-tanda kehamilan yang disertai nyeri panggul yang parah dan perdarahan dengan volume banyak dari vagina.
Sebelum memeriksakan diri ke dokter, Anda dapat melakukan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
Sementara untuk kehamilan ektopik yang membutuhkan penanganan darurat, tidak ada persiapan khusus yang bisa Anda lakukan.
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut ini.
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terhadap kehamilan ektopik?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis kehamilan ektopik agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/ectopic-pregnancy/
Diakses pada 14 Oktober 2018
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/ectopic-pregnancy/treatment/
Diakses pada 14 Oktober 2018
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/ectopic-pregnancy/symptoms-causes/syc-20372088
Diakses pada 22 Oktober 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health/pregnancy/ectopic-pregnancy
Diakses pada 22 Oktober 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Hipoksia Adalah Kondisi yang Berbahaya bagi Janin

Hipoksia adalah kondisi ketika jaringan tubuh tidak mendapatkan asupan oksigen yang memadai dan bisa dialami oleh janin. Kondisi ini bahkan mampu memicu gawat janin yang terjadi ketika pasokan oksigen janin dalam kandungan Anda kurang sehingga membuat janin mengalami kondisi serius.
05 Aug 2019|Dina Rahmawati
Baca selengkapnya
Hipoksia adalah kondisi yang memicu gawat janin

5 Perbedaan Unik antara Hamil Anak Pertama dan Kedua

Perbedaan antara hamil anak pertama dengan kedua yaitu perubahan kondisi payudara, lebih cepat buncit, bayi terasa bergerak lebih awal, persalinan yang lebih cepat.
02 Oct 2020|Asni Harismi
Baca selengkapnya
Hamil anak pertama dengan hamil anak kedua memiliki perbedaan

Irish Bella Diduga Alami Twin to Twin Transfusion Syndrome, Apa Penyebabnya?

Salah satu dugaan penyebab bayi meninggal di dalam kandungan adalah twin to twin transfusion syndrome (TTTS) yang dialami oleh janin. Apa penyebabnya dan bagaimana cara penanganannya?Baca selengkapnya
Twin to twin transfusion syndrome diduga sebagai penyebab meninggalnya janin kebar dari pasangan artis Irish Bella dan Ammar Zoni (Sumber Instagram @johandiyahya_)