Kehamilan Anembrionik

Ditinjau dr. Miranda Rachellina
Pada kehamilan anembrionik, sel telur yang sudah dibuahi tidak berkembang menjadi embrio.
Kehamilan anembrionik dapat berakhir pada keguguran.

Pengertian Kehamilan Anembrionik

Kehamilan anembrionik terjadi ketika sel telur yang sudah dibuahi dan menempel pada dinding rahim tidak berkembang menjadi embrio. Hal ini dapat menyebabkan keguguran pada awal kehamilan, bahkan sampai calon ibu tidak menyadari bahwa mereka hamil. Kehamilan anembrionik menyebabkan 1 dari 2 kasus keguguran pada 3 bulan (trimester) pertama kehamilan.

Ketika wanita hamil, sel telur yang sudah dibuahi akan menempel pada dinding rahim. Pada waktu 5-6 minggu kehamilan, embrio sudah terbentuk. Dalam periode ini, kantung kehamilan dimana janin berkembang sudah berukuran 18 mm. Dengan kehamilan anembrionik, embrio tidak berkembang meskipun kantung kehamilan terbentuk dan tumbuh.

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Kehamilan embrionik memiliki tanda dan gejala yang dialami oleh calon ibu. Gejala awalnya sama dengan saat pertama kali menyadari adanya kehamilan, yaitu tanda positif pada alat tes kehamilan atau tidak menstruasi. Namun kemudian diikuti dengan tanda-tanda keguguran, seperti

  • Kram pada daerah perut (abdomen)
  • Bercak darah (flek atau spotting) dan pendarahan pada vagina
  • Menstruasi yang lebih berat dibandingkan biasanya

Tidak semua pendarahan pada 3 bulan pertama berujung pada keguguran. Pastikan untuk konsultasi kedokter secepatnya jika mengalami gejala tersebut.

Penyebab

Kondisi ini tidak disebabkan oleh hal-hal yang dilakukan ataupun yang tidak dilakukan saat atau sebelum kehamilan. Penyebab utama dari kehamilan anembrionik tidak diketahui. Hal ini dapat terjadi karena kelainan kromosom yang terjadi ketika telur dibuahi. Hal ini dapat terjadi karena genetik atau kualitas telur dan sperma yang buruk. Kehamilan anembrionik dapat terhubung kepada ketidaknormalan kromosom 9. Jika mengalami kehamilan anembrionik berulang, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan dokter mengenai analisis kromosom dari embrio. Seseorang memiliki risiko tinggi mengalami kehamilan anembrionik jika pasangannya secara biologis saling terkait.

Kehamilan anembrionik dapat terjadi diawal kehamilan sehingga tidak terdeteksi. Namun, banyak orang yang mengalami kondisi ini dapat menjalani kehamilan sehat berikutnya. Tidak diketahui apakah kehamilan anembrionik terjadi pada kehamilan pertama atau terkadang terjadi lebih dari sekali. Banyak wanita yang mengalami kehamilan anembrionik dapat memiliki kehamilan yang sukses dan bayi yang sehat.

Diagnosis

Banyak wanita dengan kehamilan anembrionik berpikir bahwa mereka memiliki kehamilan yang normal karena hormon Human Chorionic Gonadotropin (HCG) mereka meningkat seperti pada kehamilan normal. Plasenta memproduksi hormon ini setelah implantasi (penanaman) embrio pada dinding rahim. Pada kehamilan anembrionik, kadar HCG terus meningkat karena plasenta dapat tumbuh dalam waktu yang singkat, meskipun embrio tidak ada. Oleh karena itu, diperlukan ultrasonografi (USG) untuk mendiagnosis kehamilan anembrionik.

Pengobatan

Diskusikan dengan dokter mengenai hal yang harus dilakukan selanjutnya setelah didiagnosis kehamilan anembrionik. Prosedur medis yang dapat direkomendasikan adalah dilasi dan kuretase. Prosedur operasi ini melibatkan pelebaran mulut rahim dan menghilangkan isi rongga rahim. Penggunaan obat-obatan dapat menjadi pilihan. Namun, membutuhkan beberapa hari untuk tubuh mengeluarkan keseluruhan jaringan. Obat ini dapat menyebabkan pendarahan dan efek samping. Kedua pilihan pengobatan tersebut dapat menyebabkan penderita merasakan sakit atau kram saat perawatan.

Referensi

Healthline. https://www.healthline.com/health/pregnancy/blighted-ovum#causes
Diakses pada 28 Desember 2018 

Mayoclinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/pregnancy-loss-miscarriage/expert-answers/blighted-ovum/faq-20057783
Diakses pada 28 Desember 2018 

WebMD. https://www.webmd.com/baby/blighted-ovum#2
Diakses pada 2 November 2018

 

Back to Top