Psikologi

Kecanduan Makanan

Diterbitkan: 04 Dec 2019 | dr. Adelina HaryonoDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Kecanduan Makanan
Kecanduan makanan adalah kelainan perilaku yang ditandai dengan makan secara kompulsif dan tidak terkendali. Biasanya, kondisi ini dipicu oleh emosi, seperti rasa marah, sedih, atau stress.Diagnosis kecanduan makanan memang masih kontroversial. Pasalnya,ada pakar yang setuju dengan konsep ini. Sementara sebagian pakar medis lain menganggap bahwa kecanduan makanan bukanlah kelainan tersendiri.Salah satu teori menyebutkan bahwa saat makan, zat kimia dalam otak (misalnya dopamin) akan dikeluarkan dan menimbulkan perasaan senang. Inilah yang menjadikan makanan memiliki efek kecanduan, sama seperti rokok atau alkohol. Namun tidak semua ahli setuju bahwa makanan dapat menyebabkan kecanduan.Mungkin Anda berpikir kalau orang yang kecanduan makanan pasti gemuk. Kecanduan ini memang dapat menjadi salah satu faktor penyebab obesitas. Tetapi tidak semua orang yang mengalaminya pasti gemuk. Ada juga penderitanya yang memiliki berat badan normal atau bahkan di bawah batas normal.
Kecanduan Makanan
Dokter spesialisPsikolog
Orang dengan kecanduan makanan dapat menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut:
  • Mengidam dan terobsesi dengan makanan tertentu.
  • Pikirannya dipenuhi dengan makan.
  • Makan secara kompulsif.
  • Tidak dapat mengendalikan kapan, berapa banyak, dan di mana harus makan.
  • Makanan dijadikan sebagai pelepas stres.
  • Memilih makan sendirian untuk menghindari perhatian orang lain.
  • Makan terlalu banyak hingga mengalami gangguan pencernaan.
  • Tidak dapat mengontrol jenis makanan yang dimakan sekalipun makanan yang tidak sehat. Tidak peduli akan bahaya dari akibat makanan tidak sehat tersebut.
  • Tetap ingin makan walaupun sudah kenyang.
Setelah makan dalam jumlah yang banyak, pecandu makanan sering tidak merasa senang. Mereka justru mengalami perasaan:
  • Bersalah
  • Malu
  • Tidak nyaman.
  • Tidak berharga.
Seperti kasus kecanduan lainnya, pengidap kecanduan makanan juga kerap kesulitan untuk menghentikan kecanduannya. Meskipun sudah berusaha untuk berhenti, usaha ini umumnya gagal.
Makanan yang mengandung pati, lemak, garam,atau gula lebih mungkin menyebabkan kecanduan jika dibandingkan makanan yang lebih sehat(seperti sayur atau buah). Beberapa jenis makanan yang sering memicu kecanduan meliputi:
Dokter akan mencoba menggali gejala kecanduan makanan yang Anda alami melalui tanya jawab. Para peneliti di Universitas Yale mengembangkan kuesioner untuk membantu dalam proses identifikasi kecanduan ini.Beberapa pertanyaan dalam kuesioner tersebut meliputi:
  • Apakah Anda terus makan walaupun sudah tidak lapar?
  • Apakah Anda makan lebih banyak dari yang direncanakan?
  • Apakah Anda makan sampai merasa sakit?
  • Jika ingin mengonsumsi makanan tertentu, apakah Anda akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkannya?
  • Apakah Anda merasa khawatir jika tidak mengonsumsi makanan tertentu?
Kecanduan makanan sering mengganggu hubungan sosial Anda. Karena itu, masalah hubungan dengan orang lain juga akan ditanyakan dalam kuesioner. Berikut contoh pertanyaannya:
  • Apakah Anda terlalu sering atau terlalu banyak makan, sehingga mengganggu waktu Anda bersama dengan keluarga atau beraktivitas?
  • Apakah Anda menghindari acara tertentu akibat khawatir akan makan berlebihan?
  • Apakah sekolah atau pekerjaan Anda terganggu akibat kebiasaan makan Anda?
Kuesioner ini juga berusaha untuk mengidentifikasi dampak kecanduan makan terhadap emosi Anda dengan memberikan pertanyaan di bawah ini:
  • Apakah makan menjadi penyebab Anda merasa depresi, cemas berlebih, bersalah, atau tidak suka pada diri sendiri?
  • Apakah Anda harus makan untuk merasa senang atau menghilangkan perasaan negatif?
  • Apakah aktivitas makan bisa tidak lagi menyenangkan atau mampu menghilangkan perasaan negatif meskipun porsinya yang sama?
Penanganan kecanduan makanan ditujukan untuk memutus kebiasaan makan terlalu banyak. Berikut terapi yang efektif dalam mengatasi kecanduan makanan:
  • Pengobatan

Obat tidak diberikan untuk menghentikan kecanduan, tetapi untuk mengatasi gejala depresi dan gangguan kecemasan yang timbul akibat kecanduan.
  • Cognitive behavioral therapy (CBT)

Terapi ini bertujuan mengenali pola pikir orang yang mengalami kecanduan, serta mengubahnya sehingga terbentuk cara baru dalam menghadapi pemicu kecanduan.
  • Solution-focused therapy

Terapi ini berfokus untuk menemukan solusi bagi semua masalah yang Anda alami. Dengan ini, Anda tidak lagi menganggap makan sebagai jalan keluar dari tiap masalah.
  • Trauma therapy

Jika dokter mendeteksi adanya trauma yang menjadi pemicu kecanduan, trauma therapy dilakukan untuk mengatasi trauma tersebut.
  • Konseling gizi dan perencanaan pola makan

Konseling gizi akan membantu penderita dalam memulai kebiasaan makan yang lebih sehat, serta membantu dalam memilih dan merencanakan pola makan.Terapi yang dilakukan juga harus didukung dengan perubahan pola hidup di bawah ini:
  • Menghindari kafein.
  • Mengganti makanan olahan dan mengandung pemanis dengan makanan yang lebih sehat dan bergizi.
  • Menerapkan pola makan yang seimbang.
  • Minum cukup cairan.
  • Membuat daftar belanja dan belanja sesuai daftar tersebut.
  • Memasak makanan sendiri di rumah.
  • Tidak makan sambil melakukan aktivitas lain.
  • Duduk di meja makan ketika makan, memusatkan perhatian pada makanan, dan mengunyah dengan perlahan.
  • Mencukupi durasi tidur.
  • Berolahraga secara teratur.
Banyak hal tentang kecanduan makanan yang belum diketahui oleh para ahli. Misalnya, kelompok orang mana yang lebih rentan untuk mengalaminya, atau apa yang menjadi penyebab pastinya. Karena itu,cara pencegahan kecanduan makanan yang efektif belum diketahui hingga sekarang.Meski begitu,Anda dapat berusaha membatasi asupan makanan yang diketahui sering membuat Anda ketagihan. Contohnya, makanan yang tinggi gula, garam, lemak, dan pati.Mengetahui akibat jangka panjang dari kondisi ini mungkin dapat membantu menghentikan kebiasaan kecanduan makanan, berikut akibat yang dapat terjadi:
Segera berkonsultasi dengan dokter jika Anda merasa:
  • Tidak dapat mengendalikan keinginan untuk makan.
  • Menjadikan makanan sebagai pelarian dari masalah.
  • Ingin memiliki berat badan yang ideal dan hidup lebih sehat.
  • Muncul gejala depresi atau gangguan kecemasan.
Jika menemukan keluarga, kerabat, atau teman yang menunjukkan gejala kecanduan makanan, Anda sebaiknya membujuknya untuk ke dokter. Ada kalanya, penderita kecanduan merasa tidak ada yang salah dengan dirinya dan membutuhkan dorongan serta dukungan dari orang lain untuk berobat.
Ada baiknya Anda mempersiapkan daftar pertanyaan sebelum berkonsultasi dengan dokter. Beberapa pertanyaan yang perlu Anda siapkan bisa meliputi:
  • Apakah kebiasaan makan saya yang termasuk sebagai kecanduan makanan?
  • Apa saja dampak kecanduan makanan bagi kesehatan?
  • Apa yang menjadi pemicu kecanduan makanan?
  • Pemeriksaan apa saja yang harus dijalani?
  • Pilihan terapi pengobatan apa saja yang tersedia?
  • Apakah ada support group untuk orang yang kecanduan makanan?
  • Apakah kecanduan makanan bisa kambuh?
Dokter akan berusaha menggali gejala kecanduan makanan yang Anda alami. Selain gejala fisik, dokter akan menanyakan lebih dalam mengenai hal-hal pribadi yang berhubungan dengan psikis atau emosi Anda.Alangkah baiknya jika Anda dapat berkomunikasi secara terbuka dengan dokter. Dengan ini, hal-hal yang menjadi pemicu kecanduan makanan dapat diketahui dan diatasi.Dokter juga akan menganalisis ada tidaknya gejala depresi atau gangguan kecemasan, terutama jika ada gejala depresi berat yang disertai pikiran atau keinginan bunuh diri. Dalam kondisi tersebut, dibutuhkan penanganan khusus atau bahkan perawatan di rumah sakit.
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/319670.php
Diakses pada 3 Desember 2019
WebMD. https://www.webmd.com/mental-health/eating-disorders/binge-eating-disorder/mental-health-food-addiction#1
Diakses pada 3 Desember 2019
Healthline. https://www.healthline.com/nutrition/how-to-overcome-food-addiction#professional-help
Diakses pada 3 Desember 2019
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Binaural Beats Dapat Redakan Stres Hingga Tingkatkan Percaya Diri, Benarkah?

Terapi menggunakan binaural beats adalah terobosan yang dapat digunakan untuk mengobati cemas berlebih, stres, dan macam-macam gangguan psikologis lainnya.
05 Nov 2020|Azelia Trifiana
Baca selengkapnya
Binaural beats dapat membuat pikiran rileks

Jenis Karakter Manusia: Sanguinis, Melankolis, Plegmatis, dan Koleris

Karakter manusia bisa dibagi menjadi empat jenis, sanguinis, melankolis, plegmatis, dan koleris. Seperti apa masing-masing karakter tersebut?
26 Aug 2020|Nina Hertiwi Putri
Baca selengkapnya
Karakteristik manusia: sanguis, melankolis, plegmatis, dan koleris

Mengenal Hipnoterapi dalam Perawatan Kesehatan Mental

Hipnosis atau hipnoterapi dapat digunakan sebagai bantuan untuk psikoterapi. Hipnosis memiliki dua metode, yaitu terapi sugesti dan analisis. Kedua metode tersebut dapat menghalangi kesadaran akan rasa sakit yang dialami penderita.
13 May 2019|Aby Rachman
Baca selengkapnya
Terapi sugesti merupakan salah satu cara hipnoterapi