Penyalahgunaan alkohol memiliki arti bahwa seseorang terlalu banyak dan terlalu sering mengonsumsi alkohol. Konsumsi alkohol diukur dalam satuan unit.

Satu unit alkohol terdiri dari 10 ml alkohol murni. Ukuran ini kira-kira sekitar:

  • 0,23 liter lager / beer / cider dengan kandungan alkohol hingga 3,6%.
  • 25 ml spirit, liquor atau minuman keras (alkohol yang telah mengalami proses distilasi, seperti whiskey, rum, tequila, vodka), dengan kandungan alkohol hingga 40%.
  • 125 ml (satu gelas kecil) minuman anggur yang beralkohol (wine), yang mengandung sekitar 1,5 unit alkohol.

Seseorang dikatakan mengalami kecanduan alkohol jika mengkonsumsi terlalu banyak alkohol pada satu waktu dan minum terlalu sering dalam waktu seminggu. Bila orang tersebut tidak dapat berhenti minum, akan membahayakan hubungan pribadi dan sosial, kinerja yang berkaitan dengan profesinya, rutinitasnya, serta area lainnya dalam kehidupan.

Kecanduan alkohol adalah masalah yang serius. Kecanduan ini dapat berlanjut pada kondisi ketergantungan secara fisik terhadap alkohol. Selain itu, terlalu banyak mengonsumsi alkohol dalam satu waktu dapat menyebabkan keracunan alkohol.

Kecanduan atau ketergantungan alkohol terkadang sulit untuk dikenali. Tidak seperti obat-obatan terlarang (kokain atau heroin), alkohol tersedia secara bebas di beberapa negara tertentu dan diterima dalam banyak budaya.

Alkohol juga seringkali hadir dalam situasi sosial dan berhubungan erat dengan perayaan maupun kesenangan. Ketika kondisi ini termasuk umum di masyarakat, akan sulit untuk membedakan antara orang yang suka minum alkohol pada acara tertentu, dengan orang yang benar-benar ketagihan konsumsi alkohol. 

Kecanduan alkohol merupakan suatu penyakit kronis dan berhubungan erat dengan kemunculan gejala putus zat (withdrawal syndrome), kehilangan kontrol, atau toleransi terhadap alkohol.

Beberapa gejala kecanduan alkohol bisa meliputi:

  • Bertambahnya jumlah atau frekuensi penggunaan alkohol.
  • Tidak ingin mengurangi jumlah alkohol yang dikonsumsi, atau gagal meski sudah berupaya melakukannya.
  • Memilliki toleransi tinggi terhadap alkohol dan tidak mengalami 'hangover’, sehingga membutuhkan lebih banyak alkohol untuk merasakan efeknya. 
  • Menghabiskan banyak waktu untuk minum-minum, mendapatkan alkohol, atau pulih dari pengaruh alkohol.
  • Minum alkohol meski waktu dan tempatnya tidak tepat dan tidak aman, misalnya pada pagi hari saat sarapan, di tempat kerja, di dalam tempat ibadah, ketika mengemudi, atau berenang.
  • Selalu mencari tempat yang menyediakan alkohol.
  • Mengalami perubahan pada kondisi pertemanan. Orang yang kecanduan alkohol biasanya mencari teman yang juga seorang pecandu alkohol.
  • Menghindari kontak dengan orang yang disayangi, misalnya pasangan, keluarga, atau teman.
  • Menyembunyikan alkohol, atau bersembunyi ketika minum-minum.
  • Mengalami ketergantungan pada alkohol dalam melakukan kegiatan sehari–hari.
  • Gagal dalam memenuhi kewajiban utama dalam bekerja, sekolah, atau rumah tangga, karena konsumsi berulang dari alkohol.
  • Berhenti, meninggalkan, atau mengurangi aktivitas sosial, pekerjaan, dan hobi.
  • Meningkatnya rasa lelah yang berat, depresi, dan gangguan emosional lainnya.
  • Merasakan gejala putus zat, seperti mual, berkeringat, cemas, insomnia (sulit tidur), depresi, halusinasi visual, dan tangan yang gemetar (tremor) ketika tidak minum. Akibatnya, penderita biasanya akan terus minum agar tidak merasakan gejala-gejala ini. 

Tingkat kecanduan alkohol cenderung memburuk seiring berjalannya waktu, sehingga sangat penting untuk mendeteksi gejalanya pada tahap awal kecanduan. Jika diidentifikasi dan diobati dengan tepat, pecandu alkohol dapat menghindari komplikasi yang tidak diinginkan.

Kecanduan alkohol pada umumnya tidak memiliki penyebab yang jelas. Pemicunya dapat berupa kombinasi dari sejumlah faktor. Mulai dari genetika atau keturunan, psikologis, dan lingkungan.

Para peneliti menemukan bahwa sekitar setengah dari risiko kecanduan alkohol dipengaruhi oleh faktor keturunan. Sementara sisanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan, misalnya lokasi dan pola hidup.

Kedua faktor di atas juga bertautan dalam cara yang kompleks. Berbeda dari penyakit lainnya, tidak ada satu gen tertentu yang menentukan apakah seseorang akan mempunyai masalah dengan alkohol atau tidak.

Meski demikian, terdapat banyak gen yang bisa saja mempengaruhi risiko seseorang untuk mengalami kecanduan alkohol. Lebih lanjut, faktor lingkungan dapat menyingkirkan atau menurunkan efek dari genetik tersebut. 

Selain itu, ada juga beberapa teori lain yang menyebutkan bahwa konsumsi alkohol mempunyai dampak yang berbeda dan lebih kuat pada orang-orang tertentu, yang bisa menyebabkan penyalahgunaan atau ketergantungan alkohol. 

Seiring berjalannya waktu, mengonsumsi terlalu banyak alkohol akan mengubah fungsi normal dari bagian otak yang berhubungan dengan kesenangan atau kenikmatan, serta penilaian dan kemampuan untuk mengontrol tingkah laku. Kondisi ini dapat menyebabkan orang untuk menginginkan alkohol guna kembali mengalami perasaan yang menyenangkan atau mengurangi perasaan yang tidak menyenangkan.

Faktor Risiko

Konsumsi alkohol dapat dimulai sejak remaja, tetapi penyalahgunaan alkohol paling sering ditemukan pada usia 20 dan 30an. Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kecanduan alkohol meliputi:

  • Mengonsumsi alkohol secara teratur dari waktu ke waktu. Minum terlalu banyak secara rutin untuk waktu lama atau pesta minum secara teratur dapat menyebabkan masalah yang berhubungan dengan alkohol.
  • Mulai minum alkohol pada usia dini. Orang yang mulai mengonsumsi minuman keras, terutama mengikuti pesta minum sejak usia dini, memiliki risiko yang tinggi untuk mengalami kecanduan alkohol.
  • Riwayat keluarga. Risiko kecanduan alkohol lebih tinggi pada orang yang memiliki orang tua atau kerabat dekat lainnya, yang juga mengalami masalah dengan alkohol. Kondisi ini juga mungkin dipengaruhi oleh faktor genetik.
  • Depresi dan gangguan kesehatan mental lainnya. Umum bagi orang dengan gangguan kesehatan mental, seperti cemas, depresi, skizofrenia, atau gangguan bipolar, untuk memiliki masalah dengan alkohol atau substansi lainnya.
  • Riwayat trauma. Orang dengan riwayat trauma emosional atau trauma lainnya memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami ketergantungan alkohol. 
  • Pernah menjalani operasi bariatrik, yaitu operasi lambung untuk mengatasi kondisi obesitas. Beberapa penelitian mengindikasikan bahwa operasi ini mungkin dapat meningkatkan risiko kecanduan alkohol atau risiko kambuh.

Faktor sosial dan budaya. Memiliki teman atau pasangan yang minum alkohol secara teratur, juga bisa menambah risiko kecanduan alkohol.

Banyak orang mengalami kecanduan alkohol dan memiliki masalah dalam kehidupan mereka. Umumnya, dokter percaya bahwa seseorang mengalami ketergantungan alkohol ketika:

  • Penggunaan alkohol berulang, yang mengganggu tanggung jawab di tempat kerja, rumah tangga, atau sekolah.
  • Penggunaan alkohol menyebabkan penderita ataupun orang di sekitarnya mengalami bahaya fisik. Misalnya, konsumsi alkohol saat mengemudi, mengoperasikan mesin, hamil, minum obat.
  • Penggunaan alkohol menyebabkan seseorang terlibat masalah hukum.
  • Penggunaan alkohol mengancam hubungan seseorang dengan orang lain. 

Selain itu, dokter dapat melakukan sederet pemeriksaan berikut:

  • Pemeriksaan fisik dan menanyakan kondisi kesehatan secara umum. Terdapat banyak tanda fisik yang bisa mengindikasikan adanya komplikasi dari penggunaan alkohol.
  • Pemeriksaan laboratorium dan pencitraan. Walaupun tidak ada pemeriksaan secara khusus untuk mendiagnosis kecanduan alkohol, pola abnormal tertentu dari hasil tes laboratorium dapat menandakan munculnya kondisi ini. Mungkin pula diperlukan pemeriksaan untuk mengenali gangguan kesehatan yang berhubungan dengan penyalahgunaan alkohol, seperti kerusakan pada organ tubuh tertentu. 
  • Evaluasi psikologis lengkap, yang termasuk pertanyaan mengenai gejala, pola pikir, perasaan, dan pola tingkah laku penderita. 

Menggunakan kriteria DSM-5. DSM (diagnostic and statistical manual of mental disorders) adalah kriteria yang kerap digunakan oleh psikiater untuk mendiagnosis gangguan kesehatan mental.

Mengobati kecanduan alkohol merupakan proses yang rumit dan dapat menjadi tantangan tersendiri. Penderita tidak dapat dipaksa untuk berhenti minum apabila belum siap.

Supaya pengobatan dapat berjalan dengan baik, penderita harus mempunyai keinginan dari dirinya sendiri untuk sembuh dari ketergantungannya. Oleh karena itu, tingkat kesuksesan penyembuhan sangat tergantung pada faktor ini. 

Proses pemulihan dari alkoholisme merupakan komitmen jangka panjang atau seumur hidup. Tidak ada jalan pintas dalam hal ini dan perlu perawatan sehari-hari. Untuk alasan inilah, banyak orang yang menyebut ketergantungan alkohol sebagai penyakit yang takkan pernah sembuh.

Pengobatan terhadap pecandu alkohol tergantung dari tingkat kecanduan dan keinginan pasien. Misalnya, apakah pasien hanya ingin mengurangi jumlah konsumsi atau berhenti total dari mengonsumsi alkohol. 

Penanganan kecanduan alkohol dapat dilakukan dengan cara-cara di bawah ini:

Psikoterapi

Penanganan ini biasanya dilakukan bila penderita khawatir akan kebiasaan minum alkoholnya, atau pernah menderita cedera maupun kecelakaan yang berkaitan dengan konsumsi alkoholnya.

Psikoterapi dengan psikolog atau psikiater, baik sendiri maupun berkelompok (misalnya kelompok swadaya atau support group khusus pecandu alkohol), akan membantu pasien dalam memahami masalah kecanduannya. Selama konseling, penderita akan:

  • Belajar mengenai risiko-risiko yang berhubungan dengan konsumsi alkohol.
  • Mendapatkan saran-saran tertentu, misalnya selalu mencatat jumlah alkohol yang dikonsumsi dalam satu minggu, atau mengganti alkohol dengan minuman bersoda maupun minuman ringan lainnya.

Dukungan dari pasangan, keluarga, dan teman dekat sangat diperlukan oleh penderita selama ia menjalani proses pemulihan. Keluarga juga bisa diminta untuk ikut menjalani terapi bersama penderita. Pasalnya, keluarga pun akan mengalami dampak tertetu dari ketergantungan alkohol tersebut. 

Menjalani terapi perilaku kognitif (cognitive behavioural therapy/CBT) juga bisa saja dianjurkan. CBT adalah terapi yang menggunakan pendekatan dengan pemecahan masalah pada ketergantungan alkohol

Mengurangi konsumsi alkohol secara bertahap atau berhenti total (pantang)

Jenis penanganan ini termasuk salah satu pilihan yang dapat dilakukan apabila penderita:

  • Rutin minum alkohol melebihi kadar harian alkohol dengan risiko rendah, yaitu lebih dari 14 unit dalam seminggu.
  • Memiliki masalah kesehatan yang disebabkan oleh alkohol secara langsung.
  • Tidak dapat berfungsi tanpa alkohol.

Berhenti total dari minum alkohol akan mempunyai keuntungan yang lebih baik bagi kesehatan. Namun mengurangi konsumsi alkohol secara bertahap merupakan cara yang lebih mudah dilakukan, atau setidaknya merupakan tahap pertama dari menghentikan konsumsi alkohol secara total. 

Meski demikian, pantang konsumsi alkohol sangat disarankan pada:

  • Penderita kerusakan hati, seperti penyakit hati atau sirosis.
  • Orang yang mengalami gangguan kesehatan lain, misalnya penyakit jantung, yang akan bertambah buruk dengan konsumsi alkohol.
  • Orang yang mengonsumi obat-obatan yang bereaksi negatif terhadap alkohol, seperti obat antipsikotik.
  • Wanita yang sedang hamil atau sedang merencanakan kehamilan
  • Gagal dalam usahanya untuk berhenti minum alkohol secara bertahap.

Apabila seseorang memilih menghentikan konsumsi alkohol secara bertahap, akan disarankan untuk menghadiri sesi konseling lebih lanjut. Langkah ini bertujuan menilai kemajuan penderita, serta pertimbangan agar dapat diberikan penanganan lebih lanjut.

Detoksifikasi dan gejala putus obat

Apabila seseorang mengalami ketergantungan alkohol, ia dianjurkan untuk mencari dokter yang ahli dalam menangani gejala putus zat. Gejala ini akan terasa berat dalam 48 jam pertama, tapi akan membaik setelah tubuh membuang kandungan alkohol secara perlahan-lahan dan beradaptasi tanpa alkohol.

Kondisi putus zat biasanya akan berlangsung antara tiga hingga tujuh hari dari hari terakhir penderita mengonsumsi alkohol. Kondisi ini juga akan menyebabkan gangguan tidur dan akan membaik dalam sebulan.

Cara dan lokasi detoksifikasi akan tergantung pada tingkat keparahan ketergantungan alkohol. Berikut penjelasannya:

  • Pada tingkat ringan, detoksifikasi dapat dilakukan di rumah tanpa penggunaan obat-obatan karena gejala putus zat yang dialami juga akan tergolong ringan. 
  • Bila konsumsi alkohol termasuk tinggi (lebih dari 20 unit dalam sehari) atau pernah mengalami gejala putus zat, detoksifikasi memang dapat dilakukan di rumah. Tapi langkah ini akan membutuhkan bantuan obat penenang klordiazepoksida untuk meringankan gejala putus zat.
  • Pada tingkat kecanduan yang berat, detoksifikasi sebaiknya dilakukan di rumah sakit atau klinik. Pasalnya, gejala putus zat yang dialami oleh penderita juga akan parah dan perlu bantuan dari tenaga medis profesional. 

Selama menjalani proses detoksifikasi, pastikan untuk minum banyak cairan seperti air mineral atau jus buah (sekitar 3 liter dalam sehari). Namun, hindari minum dalam jumlah banyak minuman berkafein, termasuk teh dan kopi. Minuman jenis ini akan memperburuk gangguan tidur dan menyebabkan kecemasan. 

Penderita juga tidak disarankan untuk mengemudi atau mengoperasikan mesin berat apabila mengonsumsi obat-obatan yang membantu meringankan gejala putus zat, karena obat–obatan tersebut dapat menyebabkan kantuk. 

Obat–obatan untuk ketergantungan alkohol

Terdapat beberapa obat yang direkomendasikan untuk menangani ketergantungan alkohol, seperti acamprosate, Disulfiram, naltrexone, atau nalmefene. Obat-obatan ini dipakai untuk membantu proses pemulihan dan pemakaiannya harus dipantau oleh dokter.

Komunikasi yang baik dan jelas dari orangtua mengenai efek negatif dari penggunaan alkohol serta penggunaan narkoba, dapat mengurangi penggunaan alkohol pada remaja. Pengawasan orangtua yang memadai juga dianggap sebagai langkah penanggulangan penyalahgunaan alkohol di bawah umur.

Orangtua juga dapat mendidik anak-anak remajanya mengenai strategi untuk mengatasi stres. Orangtua pun bisa memberikan bekal keyakinan dan pendidikan agama sebagai salah satu cara untuk mencegah penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang.

Jika khawatir seseorang akan kecanduan alkohol, Anda sebaiknya mendekati mereka secara perlahan-lahan. Hindari mempermalukan atau membuat mereka merasa bersalah. Hal ini dapat mendorong mereka untuk menjauh dan membuat mereka lebih sulit untuk menerima pertolongan yang ditawarkan.

Sebelum menjalani pemeriksaan dokter, penderita kecanduan alkohol atau orang yang menemaninya sebaiknya menyiapkan pertanyaan-pertanyaan berikut:

  • Apakah obat yang diresepkan untuk penyalahgunaan alkohol dapat bereaksi terhadap obat-obatan lainnya yang sedang dikonsumsi?
  • Apakah obat antidepresan bisa dikonsumsi bersamaan dengan obat-obatan untuk mengatasi kecanduan alkohol?
  • Apakah boleh mengonsumsi alkohol pada saat-saat tertentu apabila penderita mampu membatasi diri dan bisa berhenti setelah satu kali minum? 
  • Apa gejala dari putus zat?
  • Dapatkah penyalahgunaan alkohol dimulai ketika seseorang sudah berusia lanjut?

Dokter akan menanyakan informasi penderita dengan mendetail. Mulai dari gejala yang dirasakan, pola hidup, riwayat kesehatan pasien serta keluarga.

Berbagai pemeriksaan juga bisa direkomendasikan untuk mengetahui kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan, maupun tanda-tanda masalah fisik yang disebabkan oleh kecanduan alkohol.

Family Doctor. https://familydoctor.org/condition/alcohol-abuse/
Diakses pada 2 Januari 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/addiction/alcohol#complications
Diakses pada 2 Januari 2019

Medicinenet. https://www.medicinenet.com/alcohol_abuse_and_alcoholism/article.htm#alcohol_use_disorder_facts
Diakses pada 2 Januari 2019

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/alcohol-misuse/
Diakses pada 2 Januari 2019

National Institutes of Health. https://pubs.niaaa.nih.gov/publications/AA84/AA84.htm
Diakses pada 2 Januari 2019

Artikel Terkait