Katarak sekunder lebih sering terjadi pada pasien yang berusia muda atau yang menderita diabetes.
Katarak sekunder adalah katarak yang kembali muncul setelah operasi.

Katarak sekunder merupakan katarak yang dapat muncul kembali setelah dilakukannya operasi katarak. Hal tersebut membuat kebanyakan orang seringkali merasa khawatir katarak yang mereka derita akan muncul kembali setelah menjalani operasi. Pada kenyataannya, katarak tidak dapat muncul kembali setelah dilakukan operasi. Pada katarak sekunder, yang terjadi adalah adanya partikel kecil atau sel-sel yang tertinggal selama operasi katarak sehingga menyebabkan penglihatan kabur atau buram. Berdasarkan penelitian, kurang lebih sekitar 20% orang menderita katarak sekunder setelah menjalani operasi katarak sebelumnya.

Katarak sekunder hanya dapat terjadi setelah Anda melakukan operasi katarak sebelumnya. Hal tersebut ditandai dengan pandangan yang buram, kabur, serta silau saat melihat cahaya setelah Anda melakukan operasi katarak. Tingkat pandangan yang buram dan kabur pada penyakit ini umumnya terjadi secara bertahap, sama seperti katarak pada umumnya. Selain itu, beberapa gejala yang juga dapat ditemukan pada penderita katarak sekunder antara lain:

  • Ketajaman penglihatan yang kurang, baik untuk melihat jauh maupun dekat serta dapat mengenai satu mata hingga kedua mata sekaligus.
  • Kesulitan dalam menentukan persepsi warna.
  • Penglihatan kabur.
  • Adanya distorsi atau penglihatan ganda (double vision).
  • Rasa silau, terutama saat melihat cahaya pada malam hari.

Katarak sekunder merupakan sebuah kekeruhan pada mata, pada bagian kapsul posterior (belakang) lensa mata, yang terjadi beberapa minggu atau bahkan bulan maupun tahun (1-5 tahun) setelah Anda menjalani operasi katarak. Hal ini menghalangi cahaya masuk ke mata melalui retina serta dapat berujung pada kehilangan penglihatan.

Dalam melakukan operasi katarak, dokter akan mengeluarkan katarak dari mata yang terkena secara hati-hati dan kemudian menggantinya dengan sebuah lensa buatan (artificial intraocular lens). Lensa tersebut ditempatkan dalam sebuah “kantong” yang sangat tipis yang dikenal sebagai kapsul. Bagian depan dari kapsul tersebut harus dibuka untuk melepas serta memasukkan lensa. Sedangkan bagian belakang (posterior) dari kapsul tersebut dibiarkan tertutup untuk menopang lensa yang baru. Selanjutnya, sebagian kecil dari pasien yang menjalani operasi katarak (menurut penelitian sekitar 10%) mengalami kejadian dimana sel-sel dari lensa lama (lens epithelial cells atau LECs) yang terkena katarak masih berada dan tumbuh di dalam kapsul. Hal inilah yang menyebabkan pandangan tetap menjadi kabur atau buram setelah menjalani operasi katarak. Hingga saat ini, tidak diketahui secara pasti kriteria pasien yang bagaimana yang akan mengalami katarak sekunder setelah menjalani operasi katarak, maupun berapa lama jangka waktu yang dibutuhkan dari operasi katarak hingga munculnya gejala-gejala yang mengarah pada katarak sekunder. Akan tetapi, terdapat beberapa faktor yang diyakini dapat meningkatkan risiko timbulnya katarak sekunder pasca operasi katarak, antara lain sebagai berikut.

  • Usia penderita yang masih dikategorikan dalam usia muda.
  • Pasien yang menderita penyakit kencing manis (diabetes).
  • Retinitis pigmentosa yang merupakan kerusakan dan kehilangan sel-sel pada retina yang ditandai dengan kesulitan melihat pada malam hari.
  • Munculnya uveitis yang ditandai dengan radang, kemerahan, dan rasa gatal pada bagian tengah mata yang disebut uvea.
  • Apabila katarak yang diderita sebelumnya terjadi akibat adanya trauma pada kepala maupun mata, orang tersebut berpotensi lebih tinggi dalam menderita katarak sekunder.

Dalam menegakkan diagnosis katarak sekunder, dokter spesialis mata akan melakukan pemeriksaan mata secara keseluruhan untuk melihat apakah ada gejala atau tanda-tanda yang tampak dan membahayakan penglihatan. Selain itu, dokter juga akan memeriksa riwayat kesehatan pasien. Selanjutnya, pemeriksaan ketajaman penglihatan pasien juga dapat dilakukan dengan cara memeriksa gerakan mata dan respon dari pupil mata, mengukur tekanan dalam mata, serta memeriksa bagian depan maupun belakang mata yang sebelumnya telah diberikan obat tetes mata untuk melebarkan pupil mata.

Pengobatan yang dapat dilakukan pada penderita katarak sekunder adalah dengan melakukan sebuah prosedur yang dikenal dengan sebutan YAG (Yttrium Aluminum Garnet) laser capsulotomy. Prosedur ini membutuhkan tingkat fokus yang tinggi dari dokter mata yang melakukan namun dikategorikan prosedur pengobatan yang tidak rumit karena merupakan prosedur yang cepat, aman, tidak menimbulkan rasa sakit, serta efektif. Prosedur ini dilakukan untuk menghilangkan penglihatan yang buram dan mengembalikan penglihatan menjadi normal.

Pada metode YAG laser capsulotomy, pertama-tama dokter akan menilai apakah Anda membutuhkan pengobatan ini berdasarkan kemunduran pada penglihatan Anda serta riwayat kesehatan yang Anda miliki untuk menghindari resiko-resiko yang dapat muncul, seperti:

  • Kerusakan pada lensa mata.
  • Kerusakan pada retina mata yang ditandai dengan kemunculan bintik-bintik yang tampak mengambang (floaters) secara tiba-tiba pada penglihatan Anda, merasakan kilatan cahaya secara tiba-tiba pada satu maupun kedua mata, serta munculnya bayangan yang seperti tirai pada penglihatan Anda. Sebaiknya segera lakukan konsultasi pada dokter spesialis mata apabila Anda merasakan gejala-gejala tersebut.
  • Dislokasi sebagian pada lensa mata.
  • Pembengkakan pada kornea mata.
  • Meningkatkan tekanan dalam mata (intraocular pressure).
  • Pendarahan pada bagian iris mata.
  • Peradangan pada bagian dalam mata.

Selanjutnya, dokter akan menggunakan obat tetes mata untuk melebarkan bagian pupil mata serta menimbulkan rasa kebal atau baal pada mata. Kemudian dokter akan membuka bagian belakang (posterior) kapsul lensa mata menggunakan laser yang akan secara cepat akan mengembalikan ketajaman penglihatan Anda dalam waktu beberapa jam setelah dilakukan pengobatan. Setelah melakukan prosedur ini, dokter akan meresepkan obat tetes mata yang harus Anda gunakan dalam jangka waktu kurang lebih satu minggu. Prosedur ini hanya membutuhkan waktu beberapa menit dan seringkali tidak hanya dilakukan sekali saja (membutuhkan pengulangan).

Meskipun mencegah kekeruhan yang terjadi pada bagian belakang (posterior) kapsul lensa mata merupakan hal yang cukup rumit, namun terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya katarak sekunder setelah dilakukannya operasi katarak; seperti melakukan polishing/pemolesan pada akhir operasi.

Apabila Anda mengalami gangguan penglihatan setelah menjalani operasi katarak, sebaiknya Anda segera berkonsultasi dengan dokter spesialis mata (ophthalmologist) untuk melakukan pemeriksaan mata dan mencegah keparahan yang dapat terjadi di kemudian hari.

Eye Institute. https://www.eyeinstitute.co.nz/about-eyes/a-to-z-of-eyes/conditions/posterior-capsule-opacity
Diakses pada 27 Maret 2019.

Ophthalmology Center Barcelona. https://icrcat.com/en/eye-conditions/secondary-cataract/
Diakses pada 27 Maret 2019.

All About Vision. https://www.allaboutvision.com/conditions/faq-cataract-secondary.htm
Diakses pada 27 Maret 2019.

Barraquer Ophthalmology Center. https://www.barraquer.com/en/eye-conditions/secondary-cataracts/
Diakses pada 27 Maret 2019.

NVision. https://www.nvisioncenters.com/cataracts/secondary/
Diakses pada 27 Maret 2019.

MedicineNet. https://www.medicinenet.com/cataracts/article.htm#what_is_the_treatment_for_cataracts
Diakses pada 27 Maret 2019.

American Academy of Ophthalmology. https://www.aao.org/eye-health/treatments/what-is-posterior-capsulotomy
Diakses pada 27 Maret 2019.

Micro Chirurgia Oculare. https://www.microchirurgiaoculare.com/en/cataract/secondary-cataract/
Diakses pada 27 Maret 2019.

Pacific Cataract and Laser Institute. http://odpcli.com/media/file/Secondary_Cataracts.pdf
Diakses pada 27 Maret 2019.

Southwestern Eye Center. https://www.sweye.com/blog/cataracts/can-you-get-a-cataract-after-cataract-surgery/
Diakses pada 27 Maret 2019.

Artikel Terkait