Risiko katarak akibat radiasi dapat meningkat seiring dengan semakin seringnya Anda terpapar radiasi.
Risiko katarak akibat radiasi dapat meningkat seiring dengan semakin seringnya Anda terpapar radiasi.

Katarak adalah kondisi di mana lensa mata berubah menjadi keruh. Pada dasarnya, lensa mata manusia terbuat dari air dan protein.

Seiring dengan berjalannya waktu tersebut, protein dapat menumpuk dan menghalangi penyebaran cahaya melalui lensa mata, sehingga perlahan penglihatan penderita mulai kabur atau buram.

Kondisi tersebut tidak dapat diobati atau diperbaiki hanya dengan penggunaan kacamata sebagai alat bantu penglihatan. Sebagian besar dari kasus katarak berhubungan dengan proses penuaan pada penderita.

Namun pada sebagian kasus, anak-anak juga bisa dilahirkan dengan kondisi ini. Selain itu, katarak yang muncul sebagai akibat dari cedera, peradangan, maupun penyakit pada mata juga dapat terjadi.

Sementara radiasi merupakan salah satu potensi jangka panjang penyebab terjadinya katarak. Hal ini terjadi karena lensa mata sangatlah sensitif terhadap radiasi.

Risiko katarak akibat radiasi dapat meningkat seiring dengan semakin seringnya Anda terpapar radiasi. Katarak radiasi menyebabkan terjadinya partial opacity atau kekeruhan pada lensa mata. Kondisi ini terjadi akibat sel-sel mata yang rusak menutupi bagian belakang dari lensa mata.

Gejala-gejala yang mengarah pada katarak radiasi dapat muncul kurang lebih satu atau dua tahun setelah mata terpapar radiasi dosis tinggi. Bila paparan tergolong rendah, gejala bisa timbul dalam hitungan beberapa tahun setelahnya. Sederet gejala yang sering ditemukan meliputi:

  • Penglihatan yang buram atau kabur.
  • Warna-warna tampak pudar.
  • Penglihatan yang buruk pada malam hari.
  • Penglihatan ganda (double vision).
  • Silau atau merasa lampu-lampu di sekitarnya terlalu terang.

Dalam beberapa penelitian disebutkan bahwa komplikasi gangguan penglihatan yang parah akibat katarak radiasi masih belum jelas.

Secara umum, katarak merupakan penyebab paling umum dari kebutaan. Terdapat beberapa faktor risiko yang bisa meningkatkan potensi penyakit ini. Mulai dari paparan sinar matahari, ion radiasi, konsumsi alkohol dan nikotin, diabetes, serta penggunaan obat kortikosteroid.

Sesuai namanya, katarak radiasi sering disebabkan oleh akumulasi dari paparan radiasi yang mengenai lensa mata penderita. Pada tahap awal, penyakit ini kerap dikenal dengan sebutan posterior subcapsular cataracts. Pasalnya, katarak akibat radiasi akan menimbulkan kekeruhan sebagian (partial opacity atau cloudiness) pada lensa mata.

Komisi Internasional Perlindungan Radiologis (International Commission on Radiological Protection atau ICRP) mendefinisikan bahwa keparahan katarak radiasi akan meningkat seiring dengan dosis radiasi yang terpapar pada mata penderita.

Dalam memastikan diagnosis terkait penyakit katarak, terdapat beberapa metode pemeriksaan yang bisa dilakukan:

  • Pemeriksaan riwayat kesehatan dan gejala yang dialami.
  • Pemeriksaan visual acuity menggunakan sebuah chart khusus untuk mengukur kemampuan Anda dalam membaca sekumpulan huruf. Anda akan diminta untuk menutup salah satu mata dan membaca huruf yang tertera. Kemudian dengan menggunakan chart maupun alat bantu, Anda akan diminta untuk melihat huruf yang semakin kecil. Dokter lalu akan menentukan apakah Anda memiliki gangguan penglihatan atau tidak.
  • Slit-lamp examination. Pemeriksaan ini dilakukan agar dokter dapat melihat struktur bagian depan mata Anda secara lebih jelas dengan alat khusus.
  • Pemeriksaan retina (retinal exam). Dokter akan memberikan obat tetes mata untuk melebarkan pupil mata Anda agar dokter lebih mudah memeriksa bagian belakang mata (retina). Dokter kemudian menggunakan slit lamp atau ophthalmoscope guna memeriksa apakah lensa mata Anda memiliki tanda-tanda terjadinya katarak.

Tonometry. Pemeriksaan ini dilakukan dengan meneteskan cairan yang membuat mata menjadi baal atau mati rasa. Dokter lalu memakai alat untuk mengukur tekanan di dalam mata.

Pengobatan yang efektif untuk penyakit katarak, termasuk katarak radiasi, adalah dengan melalui prosedur pembedahan. Namun konsultasi dengan dokter selalu diperlukan sebelum Anda menjalani prosedur ini.

Dokter biasanya akan merekomendasikan prosedur pembedahan bila katarak sudah mulai mengganggu kualitas hidup maupun aktivitas sehari-hari. Misalnya, membaca ataupun mengemudi pada malam hari.

Sebelum memutuskan untuk melakukan prosedur pembedahan katarak, ada beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk mengatasi gejalanya:

  • Pastikan kacamata ataupun lensa kontak Anda sudah akurat dan sesuai dengan kondisi mata Anda.
  • Tingkatkan pencahayaan di rumah, misalnya mengganti lampu-lampu agar lebih terang.
  • Jika dirasa perlu, gunakan kaca pembesar saat Anda membaca.
  • Kurangi frekuensi mengemudi pada malam hari.
  • Apabila Anda beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, gunakan kacamata hitam untuk mengurangi silau dari sinar matahari.

Langkah-langkah tersebut memang hanya dapat membantu Anda untuk sementara. Pasalnya, kondisi katarak akan terus berkembang dan membutuhkan pertimbangkan pembedahan apabila sudah semakin mengganggu aktivitas Anda.

Katarak radiasi dapat timbul akibat akumulasi radiasi yang terpapar pada mata Anda. Oleh karena itu, cara paling jitu untuk mencegahnya adalah dengan melindungi mata Anda. Misalnya, menggunakan kacamata hitam atau sunglasses.

Kacamata jenis ini dapat melindungi mata Anda dari paparan sinar ultraviolet (UV). Ketika memilih kacamata hitam, Anda sebaiknya memerhatikan tips berikut:

  • Dapat menghalangi 99 hingga 100% sinar ultraviolet A (UVA) maupun ultraviolet B (UVB).
  • Sesuai dengan bentuk wajah Anda agar frame kacamata bisa lebih dekat dengan mata sehingga lebih melindungi.

Memiliki lensa berwarna abu-abu (gray tint), yang sangat membantu saat Anda sedang mengemudi.

Segera lakukan konsultasi dengan dokter apabila Anda mulai menyadari adanya perubahan pada penglihatan Anda. Dokter yang tepat untuk menangani masalah ini adalah dokter spesialis mata.

Radiation Safety. https://radiationsafety.ca/radiation-induced-cataracts/
Diakses pada 16 Maret 2019

Radiation Effects Research Foundation. https://www.rerf.or.jp/en/programs/roadmap_e/health_effects-en/early-en/cataract_en
Diakses pada 16 Maret 2019

Eye World. https://www.eyeworld.org/article-radiation-cataract
Diakses pada 16 Maret 2019

International Atomic Energy Agency. https://www.iaea.org/resources/rpop/health-professionals/radiology/cataract
Diakses pada 16 Maret 2019

BioOne. https://bioone.org/journals/Radiation-Research/volume-174/issue-4/RR2207.1/Radiation-Cataract-Risk-in-Interventional-Cardiology-Personnel/10.1667/RR2207.1.short
Diakses pada 16 Maret 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/cataracts/diagnosis-treatment/drc-20353795
Diakses pada 16 Maret 2019

National Eye Institute. https://nei.nih.gov/health/cataract/cataract_facts
Diakses pada 16 Maret 2019

WebMD. https://www.webmd.com/eye-health/cataracts/how-can-i-prevent-cataracts#2
Diakses pada 16 Maret 2019

Artikel Terkait