Penyakit Lainnya

Katapleksi

19 May 2021 | Popy Hervi PutriDitinjau oleh dr. Anandika Pawitri
image Katapleksi
Cataplexy atau katapleksi adalah suatu kondisi yang menyebabkan otot seseorang lemah secara tiba-tiba. Katapleksi biasanya terjadi ketika seseorang sedang merasakan emosi yang kuat. Misalnya menangis, tertawa, atau marah.Saat mengalami katapleksi Anda mungkin akan kehilangan kendali atas ekspresi wajah dan leher. Kondisi ini biasanya terjadi selama beberapa detik hingga 2 menit.Tingkat keparahan katapleksi bisa bervariasi. Katapleksi dengan tingkat keparahan rendah dapat menyebabkan seseorang kehilangan kontrol ototnya. Sedangkan katapleksi dengan tingkat keparahan tinggi dapat menyebabkan seseorang pingsan dan tidak dapat bergerak atau berbicara.Katapleksi berhubungan dengan narkolepsi. Narkolepsi merupakan gangguan saraf yang menyebabkan seseorang selalu merasa ngantuk. Narkolepsi memiliki dua tipe, tipe 1 dan tipe 2. Salah satu gejala narkolepsi tipe 1 adalah katapleksi. 
Katapleksi
Dokter spesialis Saraf
GejalaKesulitan berbicara, wajah berkedut
Faktor risikoNarkolepsi
Metode diagnosisPemeriksaan fisik
ObatSodium oxybate
KomplikasiKecelakaan, cedera
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala katapleksi
Secara umum, tanda dan gejala katapleksi meliputi beberapa hal di bawah ini:
  • Kelopak mata terkulai
  • Rahang jatuh
  • Kepala jatuh ke samping karena kelemahan otot leher
  • Tubuh jatuh ke tanah
  • Otot di sekitar tubuh Anda bergerak-gerak tanpa sebab yang jelas
  • Kesulitan berbicara
  • Wajah berkedut
 
     Saat ini penyebab katapleksi masih diteliti lebih dalam. Namun, penyebab utama katapleksi yang banyak diperkirakan adalah kurangnya hormon hipokretin (orexin) dalam otak. Hormon ini membantu Anda tetap sadar dan mengontrol siklus tidur rapid eye movement (REM).Kurangnya hormon ini diduga disebabkan oleh adanya perubahan sistem kekebalan yang menyerang sel-sel otak yang mengandung hipokretin.

Selain itu, bagian lain dari otak yang mengontrol siklus tidur Anda juga diduga berperan dalam menyebabkan narkolepsi dengan katapleksi.
Beberapa faktor risiko katapleksi meliputi:
  • Cedera kepala atau otak traumatis
  • Tumor atau pertumbuhan di dekat area otak yang mengontrol tidur
  • Infeksi, seperti flu babi (virus H1N1), serta disuntik dengan vaksin untuk virus H1N1
  • Menderita narkolepsi
 
Diagnosis katapleksi dilakukan dengan cara melakukan beberapa pemeriksaan fisik dan tes seperti di bawah ini.
  • Pemeriksaan fisik

Saat pemeriksaan fisik Anda harus jujur pada dokter dengan menjelaskan semua gejala yang dirasakan. Saat melakukan pemeriksaan fisik, dokter juga akan bertanya mengenai beberapa hal.Seperti seberapa sering Anda mengalami gejala katapleksi, berapa durasi gejala katapleksi yang dirakan, apa peristiwa yang memicu, dan otot mana yang terpengaruh.
  • Menanyakan riwayat tidur

Dokter akan memberikan serangkaian pertanyaan singkat untuk mengukur rasa kantuk Anda atau yang biasa disebut dengan skala kantuk epworth.Anda mungkin diminta untuk menyimpan catatan tidur mendetail selama satu atau dua minggu, dan memakai perangkat seperti jam tangan yang dikenal sebagai actigraph untuk mengukur periode aktivitas dan istirahat.
  • Tes polysonogram

Tes ini dilakukan dokter guna mencatat apa yang terjadi pada otot dan otak saat Anda tidur.
  • Multiple sleep latency test

Tes ini dilakukan mengevaluasi rasa kantuk yang berlebihan di siang hari dengan mengukur seberapa cepat Anda tertidur di siang hari.Meskipun begitu, tidak semua tes harus Anda jalani. Jika dari pemeriksaan fisik dokter sudah dapat mendiagnosis bahwa Anda mengalami katapeksi, maka Anda tidak perlu melakukan tes yang lain. Tes lain hanya perlu dilakukan jika dokter menduga bahwa Anda mengalami katapleksi dan narkolepsi.  
Cara mengobati katapleksi umumnya dilakukan bukan untuk menghilangkan kondisi tersebut sepenuhnya, melainkan untuk meredakan gejala yang dialami. Untuk mengurangi gejala katapleksi, Anda bisa mengonsumsi obat dan menerapkan gaya hidup sehat.

Konsumsi obat

Obat yang bisa Anda konsumsi untuk mengurangi gejala katapleksi tanpa adanya narkolepsi, yaitu:
  • Antidepresan trisiklik, seperti clomipramine (Anafranil)
  • Inhibitor serotonin serotonin selektif (SSRI), jenis antidepresan lain, seperti fluoxetine (Prozac) atau venlafaxine (Effexor XR)
  • Sodium oxybate (Xyrem), yang dapat membantu mengatasi katapleksi dan rasa kantuk di siang hari
Sedangkan jika Anda mengalami katapleksi dan narkolepsi, beberapa pilihan obat yang bisa Anda konsumsi adalah:
  • Modafinil (Provigil), untuk mengurangi rasa kantuk
  • Stimulan yang menyerupai amfetamin

Menerapkan gaya hidup sehat

Beberapa gaya hidup sehat yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi gejala katapleksi, yaitu:
  • Tidur 7-8 jam setiap hari
  • Tidur dengan jadwal yang sama setiap hari
  • Ciptakan kamar tidur yang nyaman
  • Tidak mengonsumsi kafein, alkohol, dan makanan berat sebelum tidur
  • Olahraga yang teratur
  • Konsumsi makanan bergizi
 

Komplikasi katapleksi

Beberapa komplikasi katapleksi yang mungkin bisa Anda alami, yaitu:
  • Kecelakaan saat beraktivitas
  • Bertambahnya berat badan atau obesitas yang disebabkan oleh rendahnya hormon hipokretin
  • Cedera muskuloskeletal
 
Cara mencegah katapleksi yang bisa dilakukan meliputi:
  • Tidur yang cukup
  • Olahraga secara rutin
  • Minta bantuan pada orang terdekat. Beri tahu orang-orang jika katapleksi Anda dipicu oleh emosi yang kuat atau situasi tertentu. Jika Anda merasakan serangan akan datang, minta orang terdekat untuk tidak memicu emosi Anda.
 
Jika Anda memiliki tanda atau gejala-gejala lain yang tidak disebutkan maupun kekhawatiran serta pertanyaan lainnya, konsultasikan dengan dokter. 
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait katapleksi?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis katapleksi agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK549782/
Diakses pada 19 Mei 2021
Narcoplepsy. https://www.narcolepsy.org.uk/resources/cataplexy
Diakses pada 19 Mei 2021
Sleep foundation. https://www.sleepfoundation.org/physical-health/cataplexy
Diakses pada 19 Mei 2021
Everyday health. https://www.everydayhealth.com/cataplexy/guide/
Diakses pada 19 Mei 2021
Healthline. https://www.healthline.com/health/cataplexy
Diakses pada 19 Mei 2021
Medical news today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/307668
Diakses pada 19 Mei 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email