Kanker Usus Halus

Kanker usus halus adalah jenis kanker yang menyerang usus halus, salah satu organ saluran pencernaan. Usus halus menyerupai pipa panjang yang menghubungkan lambung dan usus besar dan terdiri dari duodenum, jejunum, dan ileum.

Selain berperan dalam mencerna makanan dan menyerap nutrisi, usus halus juga menghasilkan zat-zat yang membantu pencernaan makanan sehingga gizinya mudah diserap. Usus ini juga bertugas melawan kuman yang ikut masuk ke tubuh melalui makanan.

Apabila diserang kanker, usus halus akan kehilangan fungsi-fungsi tersebut. Dengan ini, proses pencernaan, penyerapan nutrisi, dan perlawanan tubuh pun akan terganggu.

Kanker usus halus memiliki beberapa tipe di bawah ini:

  • Adenocarcinoma

Adenocarcinoma tumbuh di jaringan yang melapisi bagian dalam usus. Hampir separuh dari kasus kanker usus halus merupakan tipe ini.

Awalnya, adenocarcinoma hanya terlihat seperti benjolan tidak berbahaya dalam usus. Benjolan ini disebut polip. Namun benjolan tersebut lama-kelamaan bisa menjadi kanker.

  • Sarkoma

Sarkoma tumbuh di jaringan lunak di usus halus, khususnya di ileum. Salah satu contoh sarkoma yang paling umum adalah leiomyosarcoma yang menyerang otot di usus halus.

  • Tumor neuroendokrin

Sekitar 40 persen dari kanker usus halus adalah tumor neuroendokrin, yang berasal dari sel-sel yang menghasilkan hormon. Tumor karsinoid merupakan salah satu contohnya.

  • Limfoma

Limfoma berawal pada kelenjar getah bening yang ada di dalam usus halus. Umumnya, tipe ini menyerang orang dengan gangguan sistem kekebalan tubuh.

Gejala kanker usus halus umumnya tidak spesifik. Namun beberapa keluhan berikut biasanya dialami oleh penderita:

  • Sakit perut.
  • Penurunan berat badan.
  • Benjolan di dalam perut.
  • Diare atau sembelit.
  • Tinja berwarna hitam. Gejala ini muncul jika ada perdarahan di dalam usus halus.
  • Anemia akibat perdarahan di usus halus.

Sama seperti kanker pada umumnya, penyebab kanker usus halus adalah terjadinya mutasi pada DNA di sel-sel usus halus. Sel-sel yang mengalami mutasi akan membelah diri secara berlebihan. Akibatnya, jumlah sel-sel ini menjadi sangat banyak dan akhirnya membentuk tumor.

Hingga saat ini, penyebab di balik mutasi DNA tersebut belum diketahui dengan pasti. Namun sederet faktor di bawah ini dipercaya bisa meningkatkan risiko terjadinya mutasi yang mempengaruhi kondisi ini adalah:

  • Genetik

Mutasi gen bisa diturunkan dari orangtua kandung, dan dapat menyebabkan berbagai jenis penyakit, termasuk kanker usus halus.

  • Penyakit lain di usus halus

Ada beberapa penyakit dapat meningkatkan risiko kanker usus halus, seperti penyakit Crohn, inflammatory bowel disease, familial adenomatous polyposis (FAP), dan penyakit celiac.

  • Sistem kekebalan tubuh yang lemah

Kondisi sistem imun yang lemah juga bisa meningkatkan risiko kanker usus. Contohnya, mengidap penyakit HIV/AIDS, menjalani kemoterapi untuk pengobatan kanker, mengosumsi obat imunosupresan, serta pernah menjalani operasi transplantasi organ.

  • Umur

Seiring bertambahnya usia, risiko kanker usus halus juga akan turut meningkat.

  • Pola makan tinggi lemak

Mengonsumsi makanan yang kaya lemak bisa meningkatkan risiko berbagai gangguan medis, termasuk kanker usus halus.

  • Merokok

Merokok juga berpotensi meningkatkan risiko keruskan DNA pada sel-sel, sehingga mempertinggi risiko kanker usus halus.

Pada tahap awal diagnosis, dokter akan menanyakan semua gejala Anda serta riwayat medis Anda dan keluarga. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik seperti perabaan perut, tekanan darah, suhu tubuh, dan banyak lagi.

Sebagai penyakit yang sulit dideteksi, diperlukan berbagai pemeriksaan untuk dapat menentukan diagnosis kanker usus halus. Serangkaian tes ini umumnya berupa:

  • Tes darah

Sampel darah akan diambil dan diperiksa untuk mengetahui jumlah sel darah merah, tes fungsi hati, dan zat-zat tertentu yang ada dalam darah. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan ada tidaknya kondisi anemia (kekurangan sel darah merah) serta fungsi hati.

  • Barium X-ray

Anda akan diminta meminum cairan bairum yang aman untuk kesehatan. Anda kemudian akan menjalani X-ray atau rontgen. Penyebaran cairan barium dalam tubuh Anda dapat terlihat gambaran usus melalui hasil X-ray.

  • Endoskopi

Dengan endoskopi, dokter dapat melihat keadaan di dalam usus penderita.

  • USG

USG akan memberikan gambaran dari usus halus pasien.

  • CT scan

Pemeriksaan ini dapat menunjukkan keberadaan kanker maupun penyebarannya.

  • MRI

Pemeriksaan ini dapat memberikan foto organ internal dari berbagai sudut beserta memberikan jaringan lunaknya secara detail.

Pengobatan kanker usus halus tergantung dari tipe dan tingkat keparahannya. Beberapa pilihan penanganannya bisa meliputi:

  • Operasi

Dokter akan mengangkat bagian usus halus yang diserang oleh sel-sel kanker. Prosedur pengangkatan ini dapat dilakukan pada sebagian maupun seluruh usus halus.

Jika kanker telah menyebar ke seluruh bagian usus halus, dokter akan melakukan penangkatan usus halus secara total. Sementara pada kanker yang hanya menyerang sebagian usus halus, dokter akan memotong bagian tersebut kemudian kembali meyambungkannya dengan bagian usus halus yang sehat.

  • Kemoterapi

Kemoterapi dilakukan dengan penggunaan obat-obatan yang dapat membunuh sel kanker. Obat ini dapat diberikan melalui infus maupun oral (obat minum).

Tindakan kemoterapi umumnya disarankan setelah atau sebelum Anda menjalani operasi. Hal ini akan ditentukan oleh dokter berdasarkan tingkat keparahan kanker.

  • Targeted drug therapy

Sesuai namanya, targeted drug therapy bekerja dengan menyerang kelemahan sel-sel kanker secara spesifik. Terapi ini dapat digunakan untuk beberapa jenis kanker usus. Salah satunya limfoma.

  • Immunotherapy

Sel-sel kanker menghasilkan suatu protein, yang membuat sistem kekebalan tubuh tidak menyerang mereka. Untuk menghambat produksi protein tersebut, immunotherapy bisa dilakukan.

Immunotherapy akan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk membunuh sel-sel kanker. Terapi ini dapat diberikan pada kanker usus stadium lanjut.

Tindak pencegahan kanker usus halus dapat Anda lakukan dengan menghindari faktor-faktor risikonya. Misalnya, tidak merokok, tidak konsumsi alkohol, serta membatasi konsumsi makanan berlemak.

Anda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter jika mengalami gangguan pencernaan yang tidak kunjung membaik meski sudah diobati. Pasalnya, gejala kanker usus halus kerap sulit dibedakan dengan penyakit pencernaan lain.

Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:

  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.

Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:

  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait kanker usus halus?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis kanker usus halus.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/small-bowel-cancer/symptoms-causes/syc-20352497
Diakses pada 29 November 2019

Cancer Research UK. https://www.cancerresearchuk.org/about-cancer/small-bowel-cancer/about
Diakses pada 29 November 2019

WebMD. https://www.webmd.com/cancer/cancer-of-the-small-intestine#1
Diakses pada 29 November 2019

AGITG and GI Cancer Institute. https://gicancer.org.au/cancer/small-bowel-cancer/#cancer-causes
Diakses pada 29 November 2019

American Cancer Society. https://www.cancer.org/cancer/small-intestine-cancer/causes-risks-prevention/prevention.html
Diakses pada 29 November 2019

Artikel Terkait