Kanker Usus Besar

Ditinjau dr. Widiastuti
Kanker usus besar bermula dengan terbentuknya gumpalan-gumpalan kecil non-kanker yang disebut adenomatous polyps (polip adenoma).
Kanker usus besar bermula dengan terbentuknya gumpalan-gumpalan kecil non-kanker yang disebut adenomatous polyps (polip adenoma).

Pengertian Kanker Usus Besar

Kanker usus besar atau kanker kolon adalah jenis kanker yang menyerang usus besar, yaitu bagian usus yang berada pada bagian akhir dari saluran pencernaan. Biasanya kanker usus besar bermula dengan terbentuknya gumpalan-gumpalan kecil non-kanker yang disebut adenomatous polyps (polip adenoma). Dengan perlahan, beberapa polip dapat berkembang menjadi kanker usus besar.

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Ada beberapa gejala dan tanda yang mungkin ditimbulkan oleh kanker usus besar yaitu:

  • Perubahan terhadap pola buang air kecil maupun besar seperti diare atau konstipasi, dan perubahan dalam konsistensi tinja yang berlangsung lebih dari 4 minggu. Dapat pula terjadi perubahan warna pada tinja
  • Terdapat darah pada tinja (feses), atau bahkan perdarahan pada anus
  • Perut terasa tidak nyaman seperti kram atau kembung
  • Mudah merasa lelah
  • Berat badan menurun tanpa sebab
  • Mual atau muntah

Penyebab

Penyebab yang memicu terjadinya mutasi DNA pada kanker belum jelas sampai dengan saat ini. Pada kanker usus besar, terjadi mutasi DNA pada sel-sel yang sehat di usus besar, sehingga menyebabkan sel tersebut tumbuh secara berlebihan dan tidak terkontrol. Sel-sel tersebut kemudian akan berakumulasi membentuk tumor. Seiring berjalannya waktu, sel-sel tersebut terus tumbuh, menghancurkan sel-sel sehat di sekelilingnya. Bahkan, penyebaran dapat menjangkau bagian tubuh lainnya untuk membentuk sel-sel kanker pada bagian tubuh tersebut. Faktor lain juga dapat meningkatkan risiko terhadap kanker usus besar, yaitu:

  • Berusia lanjut. Biasanya kanker kolon ditemukan pada orang dengan usia di atas 50 tahun.
  • Memiliki riwayat kanker seperti kanker kolorektal atau polip
  • Memiliki riwayat penyakit gangguan pencernaan seperti kolitis ulseratif dan Crohn’s disease.
  • Memiliki sindrom yang diturunkan, dan berisiko terhadap kanker kolon, seperti familial adenomatous polyposis atau hereditary nonpolyposis colorectal cancer (Lynch Syndrome)
  • Memiliki riwayat keluarga dengan kanker usus besar
  • Kurangnya asupan serat, tetapi banyak makan makanan tinggi lemak dan karbohidrat
  • Tidak berolahraga secara teratur dan memiliki gaya hidup yang pasif
  • Menderita diabetes
  • Kelebihan berat badan
  • Merokok
  • Mengonsumsi terlalu banyak alkohol
  • Pernah menjalani terapi radiasi untuk kanker

Diagnosis

Ada beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menentukan ada atau tidaknya kanker usus besar pada pasien:

Skrining

Skrining adalah langkah awal untuk mengurangi risiko kematian akibat kanker usus besar. Mendeteksi kanker usus pada tahap awal dapat memperkecil risiko untuk terkena kanker usus besar dan memberikan peluang besar untuk sembuh. Individu dengan risiko rata-rata terkena kanker kolon, disarankan untuk melakukan skrining ketika berusia 50 tahun. Sementara itu, individu dengan risiko tinggi terhadap kanker kolon, seperti mempunyai riwayat keluarga dengan kanker kolon, disarankan untuk sebaiknya menjalani skrining lebih awal.

Pemeriksaan dengan kolonoskopi

Dokter menggunakan selang panjang dan fleksibel berkamera untuk menggambarkan kondisi usus besar dan rektum. Jika menemukan sel maupun jaringan yang mencurigakan, dokter akan mengambil sampelnya untuk diuji di laboratorium khusus. Tujuannya, untuk mengetahui keberadaan sel kanker.

Tes darah
Tidak ada tes darah yang dapat membuktikan kanker kolon pasien. Namun, tes darah bisa menunjukkan kondisi kesehatan pasien, termasuk fungsi ginjal dan hati. Selain itu, dokter akan melakukan pengujian terhadap darah pasien untuk melihat adanya Carcinoembryonic Antigen (CEA), yaitu zat yang diproduksi kanker usus besar. Seiring berjalannya waktu, kadar CEA di dalam darah dapat membantu dokter menentukan prognosis dan melihat respons kanker yang terhadap pengobatan. 

Pengobatan

Pengobatan untuk kanker usus besar diberikan berdasarkan stadium (tingkat  penyebaran) dan kondisi kesehatan umum pasien. Beberapa pengobatan untuk kanker usus besar yang dapat dilakukan adalah:

Operasi

Untuk kanker kolorektal tahap awal, ahli bedah dapat mengangkat polip kanker melalui operasi dengan kondisi polip belum menempel pada dinding usus. Namun, apabila kanker telah menyebar ke dinding usus, ahli bedah akan mengangkat  sebagian dari usus besar, rektum, dan  kelenjar getah bening terdekat. Jika usus besar Anda masih memiliki jaringan atau bagian yang sehat setelah pengangkatan, dokter bedah mungkin dapat menempelkan kolon ke rektum (bagian terakhir dari usus besar yang menempel pada anus, tempat menyimpan tinja sebelum dikeluarkan). Jika tidak, maka dokter akan membuat saluran pada dinding perut (kolostomi) untuk membuang kotoran. Kolostomi dapat bersifat sementara maupun permanen.

Kemoterapi

Kemoterapi menggunakan obat-obatan untuk membunuh sel-sel kanker. Pada kanker usus besar, kemoterapi umum dijalankan setelah operasi dilakukan untuk membunuh sel-sel kanker yang tersisa. Langkah ini bertujuan membantu mengontrol pertumbuhan tumor. Namun, kemoterapi mempunyai efek samping yang membutuhkan pengobatan khusus.

Terapi radiasi

Terapi ini menggunakan sinar bertenaga tinggi yaitu sinar-X, untuk membunuh sel-sel kanker, mengecilkan tumor yang berukuran besar. Terapi ini bertujuan agar sel-sel kanker mudah diangkat saat operasi, atau untuk meringankan gejala dari kanker kolon atau kanker rektal. Selama terapi, pasien berbaring dan mendapat paparan radiasi dari mesin yang bergerak di sekitarnya. Radiasi diarahkan ke bagian yang terjangkit sel kanker.

Pencegahan

Ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk mengurangi risiko terhadap kanker usus besar yaitu:

  • Mengonsumsi lebih banyak makanan sehat seperti buah, sayur, serta gandum
  • Mengurangi atau menghindari minuman beralkohol
  • Berhenti merokok
  • Berolahraga secara teratur
  • Menjaga berat badan tetap ideal

Informasi Dokter

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Jika terdapat darah pada tinja atau muncul gejala yang mengarah pada kanker usus besar, segera berkonsultasi dengan dokter.

Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Berkonsultasi dengan Dokter?

Buatlah janji dengan dokter jika Anda memiliki gejala yang mengkhawatirkan. Jika dokter menduga adanya kanker usus besar, Anda dapat dirujuk ke dokter spesialis kanker. Mempersiapkan daftar pertanyaan yang dapat membuat kunjungan Anda lebih efektif. Untuk kasus kanker usus besar, berikut ini daftar pertanyaan dasar untuk diajukan kepada dokter:

  • Apa penyebab utama dari gejala yang saya alami?
  • Jenis kanker apa yang saya miliki?
  • Kanker saya telah masuk ke stadium berapa?
  • Sejauh mana kanker usus besar saya menyebar?
  • Pemeriksaan apa saja yang saya perlukan?
  • Apa saja pilihan pengobatan untuk saya?

Apa yang Akan Dilakukan Dokter pada Saat Konsultasi?

Dokter mungkin akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada Anda. Sebaiknya Anda memberikan informasi yang jelas, agar dokter dapat mendiagnosis dengan baik. Berikut ini pertanyaan yang mungkin diajukan dokter:

  • Sejak kapan Anda mengalami gejala seperti ini?
  • Apakah gejala terjadi secara terus menerus atau sesekali?
  • Seberapa berat gejala yang terjadi?
  • Hal apa yang memperbaiki kondisi Anda?
  • Hal apa yang memperburuk kondisi Anda?
Referensi

Healthline. https://www.healthline.com/health/colon-cancer#symptoms

Diakses pada 22 November 2018

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/colon-
cancer/symptoms-causes/syc-20353669

Diakses pada 22 November 2018

Medline Plus. https://medlineplus.gov/colorectalcancer.html

Diakses pada 22 November 2018

Back to Top