Perut

Irritable Bowel Syndrome (IBS)

24 Mar 2021 | dr. Levina FeliciaDitinjau oleh dr. Reni Utari
image Irritable Bowel Syndrome (IBS)
Kontraksi yang abnormal terjadi pada usus penderita IBS
Irritable bowel syndrome atau IBS adalah sekumpulan keluhan (khususnya kebiasaan buang air besar) yang muncul karena adanya iritasi pada saluran pencernaan. Gejalanya dapat berupa kram perut, kembung, diare dan sembelit.Pada beberapa kasus, kondisi dengan nama lain sindrom iritasi usus besar ini dapat menyebabkan kerusakan pada usus.IBS merupakan kondisi kronis yang perlu ditangani jangka panjang. Namun hanya sedikit penderitanya yang mengalami gejala berat.Sebagian penderita IBS dapat mengendalikan gejala dengan konsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang, menerapkan gaya hidup sehat, dan mengelola stres. Sementara gejala yang lebih berat dapat ditangani dengan obat-obatan serta konseling.Irritable bowel syndrome tidak menimbulkan perubahan pada jaringan usus besar ataupun meningkatkan risiko kanker usus besar. Kondisi ini juga lebih sering ditemukan pada wanita daripada pria. 
Irritable Bowel Syndrome (IBS)
Dokter spesialis Penyakit Dalam
GejalaSakit perut atau kram yang memburuk setelah makan dan mereda sehabis BAB, kembung, diare
Faktor risikoUsia muda, riwayat IBS dalam keluarga, gangguan kecemasan
Metode diagnosisWawancara dengan kriteria tertentu, sigmoidoskopi, kolonoskopi
PengobatanMengatasi gejala dengan menghindari stres, makanan pemicu keluhan, makanan tinggi serat
ObatObat antidiare, antikolinergik, antidepresan
KomplikasiKualitas hidup yang buruk, gangguan mood
Kapan harus ke dokter?Terus mengalami perubahan pada kebiasaan BAB atau mengalami gejala IBS lain
Gejala irritable bowel syndrome dapat berupa:

Gejala umum

  • Sakit perut atau kram, yang akan memburuk setelah makan dan mereda sehabis buang air besar (BAB)
  • Kembung
  • Diare atau konstipasi
  • Merasa tidak tuntas saat BAB

Gejala lain

  • Sering kentut
  • Terdapat lendir pada anus
  • Kelelahan dan kekurangan energi
  • Mual
  • Sakit punggung
  • Masalah buang air kecil, seperti sering buang air kecil
  • Inkontinensia tinja, yakni tidak mampu menahan BAB
 
Hingga kini, penyebab irritable bowel syndrome tidak diketahui secara pasti. Namun ada beberapa faktor yang diduga berperan dalam terjadinya kondisi ini.Faktor-faktor risiko irritable bowel syndrome tersebut meliputi:
  • Mengalami kontraksi otot abnormal pada usus

Dinding usus dilapisi oleh otot yang berkontraksi saat memindahkan makanan melalui saluran pencernaan.Kontraksi dinding usus yang kuat dan bertahan lebih lama akan menyebabkan perut kembung dan diare. Sedangkan kontraksi usus yang terlalu lemah dapat memperlambat perjalanan makanan serta menyebabkan tinja keras dan kering.
  • Memiliki kelainan sistem saraf

Kelainan pada saraf di sistem pencernaan dapat memicu ketidaknyamanan pada perut. Sinyal antara otak dan usus yang tidak terkoordinasi dengan baik akan menyebabkan tubuh bereaksi berlebihan terhadap perubahan yang biasanya terjadi pada proses cerna.
  • Mengalami peradangan di usus

Beberapa pengidap irritable bowel syndrome memiliki peningkatan jumlah sel sistem kekebalan di usus mereka. Respons sistem imun ini terkait dengan rasa sakit dan diare.
  • Mengidap infeksi berat

Sindrom iritasi usus besar dapat berkembang setelah serangan diare yang parah (gastroenteritis), yang disebabkan oleh bakteri atau virus. IBS juga dapat dikaitkan dengan adanya kelebihan bakteri dalam usus.
  • Mengalami perubahan bakteri di usus (mikroflora)

Mikroflora adalah bakteri baik yang berada di usus. Para pakar menemuakn bawha mikroflora pada penderita IBS berbeda dengan orang sehat.
  • Mengalami stres di usia muda

Orang dengan tingkat stres berat pada usia muda, terutama anak-anak, lebih rentan untuk mengalami gejala irritable bowel syndrome.
  • Mengonsumsi makanan atau minuman tertentu

Peran alergi makanan terhadap IBS belum diketahui secara pasti. Alergi makanan jarang menyebabkan IBS.Meski begitu, sebagian pengidap mengalami gejala irritable bowel syndrome yang lebih berat ketika mengonsumsi makanan atau minuman tertentu. Misalnya, gandum, produk susu, jeruk, kacang, kol, susu, dan minuman bersoda.
  • Berjenis kelamin perempuan

Irritable bowel syndrome lebih sering dialami oleh kaum perempuan. Terapi hormon estrogen sebelum dan sesudah menopause juga menjadi faktor risiko sindrom ini.
  • Memiliki riwayat keluarga dengan IBS

Faktor genetik dapat berperan dalam terjadinya IBS.
  • Mengalami gangguan cemas, depresi, atau gangguan kejiwaan lain

Riwayat kekerasan seksual, fisik, dan emosional juga dapat menjadi faktor risiko kondisi ini. 
Dokter akan memeriksa riwayat medis lengkap dan melakukan pemeriksaan fisik. Dokter juga dapat melakukan tes untuk mengesampingkan kondisi lain. Penderita IBS dengan diare kemungkinan akan dites terhadap intoleransi gluten.Setelah memastikan bahwa gejala bukan karena kondisi medis lain, dokter akan menggunakan salah satu kriteria diagnostik berikut ini untuk memastikan diagnosis IBS:
  • Kriteria Roma

Kriteria Roma termasuk sakit perut dan ketidaknyamanan yang berlangsung setidaknya satu hari dalam seminggu, dalam jangka waktu tiga bulan terakhir.
  • Kriteria pengerjaan

Kriteria ini berfokus pada rasa sakit yang hilang dengan buang air besar atau buang air besar yang tidak tuntas dan lendir di dalam tinja serta perubahan dalam konsistensi tinja.
  • Jenis IBS

IBS dapat dibagi menjadi tiga jenis berdasarkan gejalanya, yaitu konstipasi-dominan, diare-dominan atau campuran.Sementara pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan dokter meliputi:
  • Sigmoidoskopi

Sigmoidoskopi dilakukan dengan memasukkan sigmoidoscope guna memeriksa bagian bawah usus besar (sigmoid).
  • Kolonoskopi

Kolonoskopi bertujuan memeriksa kondisi dari seluruh bagian usus besar.
  • X-ray atau CT scan

X-ray atau CT scan akan menghasilkan gambar dari struktur perut dan panggul, yang memungkinkan dokter untuk menyingkirkan penyebab lain. 
Pengobatan irritable bowel syndrome bertujuan meredakan gejala. Dengan ini, pengidap dapat hidup senormal mungkin.IBS dengan tanda dan gejala ringan dapat diobati dengan pengelolaan stres dan mengubah gaya hidup serta pola makan agar menjadi lebih sehat. Beberapa hal yang dianjurkan oleh dokter meliputi:

Penanganan mandiri

  • Menghindari makanan yang dapat memicu gejala IBS
  • Mengonsumsi makanan tinggi serat
  • Banyak minum air putih
  • Berolahraga secara rutin
  • Tidur cukup
Dokter akan menyarankan pasien untuk menghindari makanan berikut ini:
  • Makanan dengan kandungan gas yang besar

Pasien dengan gejala perut kembung atau begah perlu menghindari minuman berkarbonasi dan alkohol juga makanan dengan kandungan gas yang besar.
  • Gluten

Berdasarkan penelitian, pasien yang menghindari makanan yang mengandung gluten seperti biji-bijian dan gandum mengalami perbaikan gejala.
  • Zat gula seperti fruktosa dan latosa

Makanan yang mengandung zat gula ini seperti gandum, sayur, buah, dan produk susu tertentu juga perlu dihindari.

Penanganan medis

Bila gejala pasien tergolong sedang hingga berat, dokter akan menyarankan konseling terutama bila depresi atau stres memperberat gejala pasien. Selain itu, obat-obatan juga dapat direkomendasikan oleh dokter seperti:
  • Suplemen serat

Mengonsumsi suplemen, seperti psylium, dengan air dapat membantu dalam mengatasi konstipasi.
  • Pencahar

Bila suplemen serat tidak dapat mengatasi konstipasi, dokter akan menyarankan obat pencahar. Contohnya, magnesium hydroxide atau polyethylene glycol.
  • Obat antidiare

Obat antidiare yang dijual bebas (seperti loperamid) dapat membantu dalam meredakan diare. Dokter juga bisa meresepkan obat jenis ­bile acid binder seperti cholestyramine.
  • Obat antikolinergik

Obat antikolinergik dapat membantu dalam meredakan kram usus. Obat ini biasanya diresepkan bagi pasien yang mengalami diare.Namun meski tergolong aman, obat antikolinergik dapat menimbulkan efek samping berupa konstipasi, mulut kering, dan pandangan buram.
  • Obat antidepresan trisiklik

Obat antidepresan trisiklik bisa meredakan depresi dan menghambat aktivitas saraf pada usus, guna mengurangi nyeri.
  • Obat antidepresan SSRI

SSRI (selective serotonin reuptake inhibitor) dapat membantu bila pasien mengalami depresi dan gejala sindrom iritasi usus besar. Contoh obat ini adlah fluoxetine.
  • Obat pereda nyeri

Obat pereda nyeri dapat meredakan nyeri atau kembung yang parah. Misalnya,  pregabalin atau gabapentin. 

Komplikasi irritable bowel syndrome

Bila tidak dikendalikan dengan baik, irritable bowel syndrome dapat menyebabkan komplikasi berupa:
  • Wasir (hemoroid)

Konstipasi atau diare kronis dapat menyebabkan wasir.
  • Kualitas hidup yang buruk

Kebanyakan pasien dengan gejala IBS sedang hingga berat dapat mengalami kualitas hidup yang buruk. Menurut penelitian, pasien dapat tidak masuk kerja tiga kali lebih sering daripada orang lain tanpa kondisi ini.
  • Gangguan suasana hati (mood)

Gejala IBS dapat memicu terjadinya depresi atau gangguan cemas. Sebaliknya, depresi dan gangguan cemas juga dapat membuat gejala IBS memburuk. 
Karena penyebabnya tidak diketahui, pencegahan sindrom iritasi usus besar pun belum tersedia.Namun mempraktikkan langkah untuk mengatasi stres dapat membantu sebagai cara mencegah IBS, atau atau mengurangi gejalanya. Pertimbangkanlah untuk mencoba:
  • Konseling

Konselor dapat membantu untuk belajar mengubah atau respons terhadap stres.
  • Biofeedback

Sensor listrik membantu Anda menerima informasi (umpan balik) fungsi tubuh.
  • Latihan relaksasi progresif

Latihan ini dapat membantu dalam mengendurkan otot-otot di tubuh.
  • Pelatihan mindfulness

Teknik pengurangan stres ini membantu dalam melepaskan kekhawatiran dan tekanan mental. 
Periksakan diri ke dokter jika Anda terus mengalami perubahan pada kebiasaan buang air besar atau gejala IBS yang berupa:
  • Penurunan berat badan
  • Diare di malam hari
  • Pendarahan pada anus
  • Anemia defisiensi besi
  • Muntah yang tidak dapat dijelaskan
  • Kesulitan menelan
  • Nyeri terus menerus yang tidak mereda setelah buang air besar atau buang angin
 
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat riwayat bepergian yang baru-baru ini Anda lakukan.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
Anda juga dapat meminta keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter. 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait irritable bowel syndrome?
  • Apakah ada anggota keluarga atau orang di sekitar Anda dengan gejala yang sama?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis irritable bowel syndrome. Dengan ini, penanganan bisa diberikan secara tepat. 
Medline Plus. https://medlineplus.gov/irritablebowelsyndrome.html
Diakses pada 4 Januari 2019
Healthline. https://www.healthline.com/health/irritable-bowel-syndrome
Diakses pada 4 Januari 2019
Medicinenet. https://www.medicinenet.com/irritable_bowel_syndrome_ibs_triggers_prevention/article.htm
Diakses pada 4 Januari 2019
WebMD. https://www.webmd.com/ibs/qa/what-is-irritable-bowel-syndrome
Diakses pada 4 Januari 2019
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/irritable-bowel-syndrome-ibs/
Diakses pada 4 Januari 2019
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/irritable-bowel-syndrome/symptoms-causes/syc-20360016
Diakses pada 4 Januari 2019
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email