Perut

Insufisiensi Adrenal

Diterbitkan: 29 Jan 2019 | Lenny TanDitinjau oleh dr. Miranda Rachellina
image Insufisiensi Adrenal
Penyakit Insufisiensi Adrenal tidak dapat dicegah, namun dapat diobati.
Insufisiensi adrenal adalah suatu kelainan endokrin atau hormonal, dimana kelenjar adrenal tidak memproduksi hormon kortisol (terkadang juga hormon aldosteron) dalam kadar yang cukup. Insufisiensi adrenal dapat primer, sekunder, atau tersier tergantung dari penyebabnya.Kelenjar adrenal terletak di atas ginjal dan memproduksi dua hormon utama yaitu hormon kortisol dan aldosteron.
  • Hormon kortisol
    Disebut juga hormon stres karena hormon ini membantu tubuh untuk menghadapi stres. Produksi hormon kortisol pertama-tama diawali dari hipotalamus (salah satu kelenjar yang berada di dasar otak) yang mengirim sinyal ke kelenjar pituitari. Kemudian, kelenjar pituitari akan memproduksi hormon ACTH (Adrenocorticotropic Hormone) yang akan merangsang kelenjar adrenal untuk memproduksi kortisol. Beberapa fungsi hormon kortisol adalah:
    • Mengatur kerja jantung sehingga memengaruhi tekanan darah
    • Mengatur respon sistem imun sehingga tidak berlebihan
    • Mengatur kerja hormon insulin yang memengaruhi kadar gula darah
    • Mengatur metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak
  • Hormon aldosteron
    Aldosteron berfungsi untuk mengatur keseimbangan mineral seperti natrium dan kalium dalam darah atau dengan kata lain mengatur keseimbangan air dan garam pada tubuh sehingga tekanan darah tetap stabil. Kedua mineral tersebut berfungsi juga untuk kesehatan sistem saraf dan otot. Selain itu, kalium juga penting untuk menjaga irama jantung tetap stabil.
Insufisiensi adrenal tergolong kelainan yang jarang dan menjangkit 1 dari 100.000 orang pada semua kelompok usia dan jenis kelamin. Insufisiensi adrenal sekunder lebih banyak ditemui, yaitu pada 100-140 orang dari setiap 1 juta orang.
Insufisiensi Adrenal
Dokter spesialis Endokrin
Gejala yang biasanya terjadi adalah:
  • Penurunan nafsu makan
  • Penurunan berat badan
  • Kelemahan otot
  • Kelelahan
  • Rasa ingin makan makanan asin
  • Mual, muntah, diare
  • Sakit perut
  • Tekanan darah rendah (hipotensi), terutama saat berdiri sehingga terasa seperti akan pingsan
  • Kulit yang menghitam terutama pada bekas luka, lipatan kulit, siku, lutut, buku jari, jari kaki, dan bibir
  • Rambut rontok
  • Nyeri sendi
  • Depresi
  • Siklus haid tidak teratur pada wanita
  • Disfungsi seksual pada wanita
  • Kadar gula darah rendah (hipoglikemia)
Karena perkembangannya lambat, biasanya gejala tersebut tidak disadari sampai pada saat dimana penderita mengalami peristiwa stres fisik seperti sakit atau kecelakaan, baru gejala akan memburuk. Hal ini disebut krisis Addison, yang ditandai dengan gejala seperti:
  • Nyeri pada punggung bagian bawah dan perut
  • Diare dan muntah berat
  • Dehidrasi
  • Tekanan darah sangat rendah
  • Kehilangan kesadaran
Kegagalan kelenjar adrenal memproduksi hormon kortisol yang cukup dapat disebabkan oleh berbagai hal, yaitu:
  • Kelainan pada kelenjar adrenal: disebut insufisiensi adrenal primer. Istilah Penyakit Addison biasanya ditujukkan untuk insufisiensi adrenal primer.
Beberapa penyakit yang dapat menyebabkan kerusakan kelenjar adrenal adalah:
  • Autoimun: respon imun abnormal dimana sel-sel imun menyerang kelenjar adrenal sehingga menyebabkan kerusakan kelenjar. Sekitar 70% dari insufisiensi adrenal disebabkan oleh proses autoimun
  • Infeksi berkepanjangan: infeksi jamur, HIV, tuberkulosis
  • Penyebaran kanker ke kelenjar adrenal
  • Perdarahan kelenjar adrenal
  • Amiloidosis (penumpukan protein abnormal dalam organ tubuh)
  • Operasi pengangkatan kelenjar adrenal
  • Kelainan pada kelenjar pituitari: disebut insufisiensi adrenal sekunder, dimana kelenjar tersebut gagal untuk memproduksi hormon ACTH yang cukup untuk merangsang kelenjar adrenal menghasilkan hormon kortisol. Hal ini dapat disebabkan oleh:
    • Konsumsi obat yang mengandung hormon glukokortikoid (hormon kortisol termasuk kelompok hormon glukokortikoid) seperti prednison, dalam jangka panjang dan tiba-tiba konsumsi obat dihentikan. Obat jenis ini menghambat hipotalamus maupun kelenjar pituitari untuk memproduksi hormon yang merangsang kelenjar adrenal.
    • Tumor atau infeksi pituitari
    • Operasi pengangkatan pituitari
  • Kelainan pada hipotalamus: disebut insufisiensi adrenal tersier.
Risiko menderita insufisiensi adrenal meningkat pada:
  • Wanita
  • Usia 30-50 tahun
  • Orang dengan kelainan kelenjar pituitari atau hipotalamus
  • Konsumsi obat glukokortikoid seperti prednison jangka panjang lalu tiba-tiba berhenti
  • Menderita penyakit autoimun lain 
Pada tahap awal, adanya insufisiensi adrenal sulit terdeteksi. Diagnosis ditegakkan jika ada gejala seperti di atas ditambah dengan area kulit yang menghitam. Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mengonfirmasi adalah:
  • Pemeriksaan darah untuk mengecek kadar natrium, kalium, kortisol, dan ACTH dalam darah. Juga dapat ditemukan antibodi jika penyebabnya adalah penyakit autoimun
  • Uji ACTH: mengukur kadar kortisol darah 30-60 menit setelah penyuntikkan ACTH. Jika didapatkan kadar kortisol ≥18μg/dl berarti respon kelenjar adrenal normal. Uji ini dapat mendiagnosis insufisiensi adrenal sekunder yang disebabkan oleh kurangnya kadar ACTH tubuh sehingga menyebabkan pengecilan kelenjar adrenal dan penurunan responnya.
  • Pemeriksaan hipoglikemia terinduksi insulin: dilakukan jika terdapat kemungkinan insufisiensi adrenal sekunder karena kelainan pituitari. Kadar gula darah dan kortisol diukur setelah penyuntikan insulin. Normalnya, setelah insulin masuk, kadar glukosa darah akan turun dan kortisol akan naik.
  • Pemeriksaan radiologi seperti rontgen, CT Scan, MRI untuk menemukan penyebab insufisiensi adrenal dengan melihat gambaran kelenjar adrenal maupun pituitari.
Insufisiensi adrenal diatasi dengan menyuplai kebutuhan hormon kortisol yang kurang dengan mengonsumsi tablet yang mengandung glukokortikoid sintetik.Jika penurunan hormon aldosteron juga terjadi, konsumsi obat fludrokortison asetat dan menaikkan konsumsi garam.Dengan pengobatan yang tepat, kebanyakan orang dengan insufisiensi adrenal dapat hidup dengan normal.
Penyakit Addison tidak dapat dicegah, namun Anda dapat mencegah terjadinya krisis Addison dengan cara:
  • Berkonsultasi dengan dokter jika Anda merasakan gejala-gejala insufisiensi adrenal yang memburuk
  • Bertanya dengan dokter tentang apa yang harus dilakukan jika mengalami krisis Addison, seperti berapa dosis obat tambahan yang harus diminum.
  • Saat Anda merasa sangat sakit seperti sangat lemas, ingin pingsan, muntah berat, dan tidak mampu minum obat, segera pergi ke unit gawat darurat terdekat.
Anda perlu berkonsultasi dengan dokter jika mengalami gejala-gejala insufisiensi adrenal.
  • Membuat janji dengan dokter. Dokter yang menangani masalah insufisiensi adrenal adalah dokter penyakit dalam.
  • Mencatat gejala yang dirasakan termasuk gejala yang Anda anggap berhubungan dengan alasan Anda datang ke dokter.
  • Mencatat daftar obat-obatan termasuk vitamin dan suplemen yang sedang Anda konsumsi.
  • Usahakan Anda ditemani keluarga atau teman saat berkonsultasi agar mereka mengerti pertolongan pertama yang dapat dilakukan saat Anda mengalami krisis Addison.
Dokter akan menanyakan beberapa hal sehingga Anda perlu menyiapkan diri untuk menjawab pertanyaan seperti di bawah ini:
  • Kapan gejala pertama kali dirasakan?
  • Apakah gejala dirasakan terus menerus atau hilang timbul?
  • Seberapa parah gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah ada hal-hal yang meringankan gejala Anda?
  • Apakah ada hal-hal yang memperburuk gejala Anda?
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/addisons-disease/symptoms-causes/syc-20350293
Diakses pada 26 Desember 2018.
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2928659
Diakses pada 26 Desember 2018.
NIH. https://www.niddk.nih.gov/health-information/endocrine-diseases/adrenal-insufficiency-addisons-disease/definition-facts
Diakses pada 26 Desember 2018.
Pituitary. https://pituitary.org/knowledge-base/disorders/adrenal-insuffieciency-addison-s-disease
Diakses pada 26 Desember 2018.
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Mengenal Endorfin, Salah Satu Senyawa Kebahagiaan

Hormon endorfin mungkin menjadi salah satu hormon yang populer. Tak salah, endorfin memang berkaitan dengan kebahagiaan. Adakah cara untuk meningkatkan produksinya?
17 Jan 2020|Arif Putra
Baca selengkapnya
Hormon endorfin berperan dalam mengendalikan rasa sakit dan mengurangi stres

Kenali Lebih Jauh Penyakit Autoimun dan Pengobatannya

Sempat ramai dibicarakan, penyakit autoimun belum banyak diketahui masyarakat Indonesia. Penyebab penyakit autoimun pun belum jelas, tapi ada beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan potensi terjadinya penyakit ini. Selain itu, ada banyak jenis penyakit autoimun yang bisa menyerang.
29 Jan 2020|Dina Rahmawati
Baca selengkapnya
Penyebab penyakit autoimun masih belum diketahui tapi ada faktor risikonya

9 Penyebab Badan Lemas dan Gejala Lain yang Harus Diwaspadai

Rasa lemas bisa terjadi di bagian tubuh tertentu atau seluruh anggota tubuh. Penyebab badan lemas sebagai berikut: penyakit addison, anemia, gangguan tidur,gangguan saraf, dsb.
11 Sep 2019|Armita Rahardini
Baca selengkapnya
Anemia merupakan salah satu penyebab badan lemas.