Perut

Inkontinensia Urine

Diterbitkan: 29 Jan 2019 | dr. Joni Indah SariDitinjau oleh dr. Anandika Pawitri
image Inkontinensia Urine
Inkontinensia urine bukan penyakit, tapi gejala dari kondisi tertentu
Inkontinensia urine adalah kondisi ketika seseorang tidak dapat mengontrol buang air kecil. Kondisi ini sebenarnya umum, namun bisa menjadi pengalaman yang memalukan. Tingkat keparahannya juga dapat bervariasi.Terdapat banyak jenis inkontinensia urine. Penyebab yang paling umum adalah stress incontinence yang terjadi saat seseorang batuk atau bersin.Seseorang juga bisa mengalami dorongan untuk buang air kecil secara mendadak dan di luar kendali, sehingga menyebabkan penderita mengompol.Inkontinensia urine dapat berlangsung untuk waktu singkat maupun bertahun-tahun. Durasi ini tergantung pada penyebabnya.Walau umumnya tidak berbahaya, inkontinensia urine juga dapat menandakan gangguan medis yang serius. Contohnya, infeksi, pembesaran kelenjar prostat, batu ginjal, dan kanker. 
Inkontinensia Urine
Dokter spesialis Urologi, Bedah
GejalaSulit menahan buang air kecil, buang air kecil terasa tidak tuntas, urine yang menetes
Faktor risikoKegemukan, merokok, faktor keturunan
Metode diagnosisUSG panggul, sistogram, sistoskopi
PengobatanObat, operasi
ObatMirabegro, tamsulosin, oxybutynin
KomplikasiGangguan kulit, infeksi saluran kemih kambuhan, masalah sosial
Kapan harus ke dokter?Gejala inkontinensia urine yang mengganggu rutinitas dan meningkatkan risiko jatuh pada lansia
Gejala inkontinensia urine bisa berbeda-beda dan tergantung pada jenisnya. Berikut penjelasannya:
  • Stress incontinence

Stress incontinence disebabkan oleh kandung kemih yang mengalami tekanan ekstra. Misalnya, saat seseorang batuk keras, bersin, tertawa, mengangkat barang berat, dan berolahraga berat.Jumlah urine yang keluar pada stress incontinence biasanya sedikit. Namun bila isi kandung kemih penuh, air seni yang keluar bisa saja banyak.
  • Urge incontinence

Urge incontinence terjadi ketika seseorang merasakan dorongan buang air kecil yang kuat dan tiba-tiba, tapi tidak bisa menahannya sebelum sampai ke toilet.Dorongan buang air kecil tersebut dapat dipicu oleh perubahan posisi tubuh, mendengar suara aliran air, atau mengalami orgasme dalam hubungan seks.Jenis inkontinensia urine ini termasuk dalam kumpulan gejala yang disebut overactive bladder symptoms. Pada kondisi ini, otot kandung kemih menjadi lebih aktif.Salah satu gejala overactive bladder symptoms adalah keinginan buang air kecil yang sering, termasuk beberapa kali saat tidur malam.
  • Mixed incontinence

Kondisi ini muncul saat seseorang mengalami gejala inkontinensia urine, baik jenis stress incontinence maupun urge incontinence.
  • Overflow incontinence

Inkontinensia urine ini juga disebut retensi urine kronis. Air seni yang tertampung dalam kandung kemih tidak dapat dikosongkan secara total ketika seseorang buang air kecil, sehingga memicu pembengkakan kandung kemih.Gejala overflow incontinence meliputi aliran urine kecil seperti menetes dan buang air kecil yang terasa tidak tuntas.
  • Total incontinence

Inkontinensia urine ini merupakan jenis yang berat dan berlangsung terus-menerus. Gejalanya berupa sering buang air kecil dalam jumlah sangat banyak (bahkan saat tidur malam).Penderita juga bisa buang air kecil hanya sesekali dalam jumlah sangat banyak dan diselingi sedikit mengompol di antara frekuensi ini.Mungkin saja ada tanda dan gejala inkontinensia urine yang tidak disebutkan. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter.Baca jawaban dokter: Kenapa pipis terus? 
Inkontinensia urine bukanlah penyakit, melainkan gejala dari keadaan yang harus dicari pemicunya. Kondisi ini dapat disebabkan oleh kebiasaan, kondisi medis tertentu, atau masalah fisik.Oleh karena itu, penyebab inkontinensia urine akan tergantung pada jenis-jenisnya di bawah ini:
  • Stress incontinence

Jenis inkontinensia urine yang paling umum ini dialami oleh kebanyakan orang, terutama pada wanita yang pernah melahirkan atau sudah menopause.Beberapa hal yang bisa menyebabkan stress incontinence meliputi batuk, bersin, tertawa, mengangkat barang berat, dan berolahraga dengan intensitas tinggi.
  • Urge incontinence

Urge incontinence disebabkan oleh kontraksi otot dinding kandung kemih yang tidak dapat dikendalikan. Akibatnya, keinginan pipis tidak bisa ditahan.Penyebab inkontinensia urine meliputi perubahan posisi tubuh yang tiba-tiba, mendengar bunyi air mengalir, dan orgasme.
  • Overflow incontinence

Jenis inkontinensia urine ini lebih sering dialami oleh pria dengan gangguan prostat, kerusakan kandung kemih, atau sumbatan pada uretra. Penyebab utamanya adalah pembesaran prostat.
  • Functional incontinence

Pada functional incontinence, penderita mengetahui dirinya mengalami keinginan berkemih, tapi tidak bisa ke toilet. Sebagai akibatnya, ia mengompol.Penyebab jenis inkontinensia urine ini adalah gangguan pergerakan tubuh, kondisi linglung, dementia, masalah penglihatan, gangguan keseimbangan dan koordinasi, serta gangguan mental.
  • Total incontinence

Jjenis inkontinensia urine ini disebabkan oleh kelainan bawaan serta cedera pada saraf pada sumsum tulang belakang.Selain penyebab di balik tiap  inkontinensia urine tersebut, obat-obatan di bawah ini juga bisa menjadi pemicu:
Obat-obatan tersebut bisa mengganggu proses penyimpanan dan pembuangan urine, atau meningkatkan jumlah urine yang diproduksi oleh tubuh. 

Faktor risiko inkontinensia urine

Ada sejumlah faktor yang bisa meningkatkan risiko inkontinensia urine. Faktor-faktor ini meliputi:
  • Jenis kelamin

Kaum wanita lebih berisiko mengalami stress incontinence daripada pria. Kehamilan, proses persalinan, menopause, dan struktur sistem reproduksi wanita turut andil meningkatkan risiko kondisi ini.Sementara kaum pria yang mengalami masalah prostat lebih berisiko untuk terkena urge dan overflow incontinence.
  • Obesitas

Kondisi kegemukan atau obesitas dapat meningkatkan tekanan pada kandung kemih dan otot di sekelilingnya, sehingga risiko stress incontinence akan berambah.
  • Merokok

Merokok juga diyakini bisa meningkatkan risiko inkontinensia urine.
  • Faktor keturunan

Orang yang memiliki anggota keluarga kandung dengan inkontinensia urine juga berisiko lebih tinggi untuk mengalami kondisi yang sama.
  • Penyakit lain

Ada beberapa penyakit lain yang turut berperan dalam meningkatkan risiko inkontinensia urine. Misalnya, penyakit saraf atau diabetes.Baca Juga: Benarkah Konsumsi Vitamin Minyak Ikan untuk Pria Dewasa Bisa Picu Kanker Prostat?
 
Diagnosis inkontinensia urine dapat dipastikan berdasarkan langkah-langkah di bawah ini:
  • Tanya jawab

Dokter akan menanyakan gejala, riwayat medis, serta faktor risiko inkontinensia urine pada pasien.
  • Pemeriksaan fisik

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mencari tanda inkontinensia urine. Contohnya, pemeriksaan vagina dan evaluasi kekuatan otot dasar panggul.Dokter juga bisa melakukan pemeriksaan colok dubur untuk menentukan ada tidaknya pembesaran prostat pada pasien pria.
  • Stress test

Dokter akan meminta Anda untuk meningkatkan tekanan terhadap kandung kemih  misalnya dengan batuk, sebagai manuver sederhana untuk melihat adanya inkontinensia atau tidak.
  • Bladder diary

Dokter bisa meminta pasien untuk mencatat frekuensi minum dalam sehari, jenis minuman, frekuensi buang air kecil, jumlah urine, keinginan dan intensitas buang air kecil, serta jumlah episode inkontinensia yang dialami oleh pasien.
  • Post-void residual (PVR) measurement

PVR measurement adalah pengukuran sisa urine. Pasien akan diminta untuk buang air kecil dalam khusus dan jumlah urine ini akan diukur.Setelah itu, dokter akan menghitung jumlah sisa urine dalam kandung kemih pasien dengan kateter atau USG. Jika banyak sisa urine yang ditemukan dalam kandung kemih, berarti ada sumbatan pada uretra atau gangguan otot maupun saraf kandung kemih.
  • Tes darah

Tes darah dilakukan untuk mengevaluasi fungsi ginjal.
  • Tes urine

Tes urine atau urinalisis bertujuan mengetahui tanda-tanda infeksi atau kelainan lain.
  • Dipstick test

Dipstick test dilakukan pada kasus infeksi saluran kemih akibat bakteri.
  • USG panggul

Prosedur ini akan mendeteksi ada tidaknya kondisi abnormal pada organ di dalam rongga panggul.
  • Tes urodinamik

Pemerksaan ini dapat menentukan tingkat tekanan yang bisa ditahan oleh kandung kemih dan otot sfingter saluran kemih pasien.
  • Sistogram

Sistogram adalah pemeriksaan dengan sinar X untuk mengevaluasi kondisi kandung kemih.
  • Sistoskopi

Sistoskopi merupakan pemeriksaan untuk menentukan ada tidaknya kondisi abnormal pada saluran kemih. Pada tes ini, dokter akan memasukkan selang tipis dengan kamera dan lampu di ujung, ke dalam uretra. 
Cara mengobati inkontinensia urine akan tergantung dari jenis, penyebab, dan tingkat keparahannya. Kombinasi dari beberapa langkah pengobatan mungkin diperlukan. Jika ada penyakit tertentu yang menyebabkan inkontinensia urine, kondisi ini harus ditangani lebih dulu.Ada dua jenis penanganan inkontinensia urine yang bisa menjadi pilihan, yaitu tanpa operasi dan dengan operasi. Berikut penjelasannya:

1. Penanganan tanpa operasi

Metode penanganan inkontinensia urine tanpa pembedahan adalah sebagai berikut:
  • Senam Kegel

Senam Kegel adalah latihan otot dasar panggul seperti menahan buang air kecil. Sebagai langkah awal, lakukan gerakan ini dan tahan selama lima detik. Lalu biarkan otot rileks selama lima detik.Setelah itu, ulangi gerakan senam Kegel setidaknya tiga set tiap hari, dan 10 kali gerakan dalam tiap set.Biasakan diri untuk melakukan latihan otot dasar panggul ini setiap hari hingga pasien terbiasa menahannya selama 10 detik.
  • Bladder training

Bladder training adalah latihan untuk kandung kemih agar pasien terlatih menunggu lebih lama sebelum buang air kecil.
  • Menyusun jadwal buang air kecil

Membuat jadwal rutin untuk buang air kecil supaya lebih teratur. Misalnya dengan pipis tiap dua jam sekali daripada menunggu desakan buang air kecil.
  • Perubahan gaya hidup

Langkah ini bisa dilakukan dengan menurunkan berat badan, mengurangi konsumsi kafein dan alkohol, serta minum air dalam jumlah cukup.
  • Stimulasi elektrik

Stimulasi elektrik bertujuan merangsang dan memperkuat otot-otot dasar panggul. Dokter akan memasukkan elektroda ke dalam rektum atau vagina pasien, yang menghantarkan sinyal listrik tegangan rendah.
  • Obat-obatan

Pilihan obat yang biasa diberikan untuk mengatasi inkontinensia urine meliputi:- Alpha blockerAlpha blocker biasa diberikan pada pasien pria. Obat ini bisa mengendurkan otot-otot leher kandung kemih dan kelenjar prostat, sehingga mengurangi penyumbatan saluran kemih dan mempermudah pengosongan kandung kemih.Contoh obat golongan ini meliputi tamsulosin, alfuzosin, silodosin, doxasozin, dan terazosin.- Obat antikolinergikObat ini akan mengurangi gerakan otot kandung kemih yang terlalu aktif. Contohnya, oxybutynin, tolterodine, darifenacin, fesoterodine, solifenacin, dan trospium.- MirabegronMirabegron diberikan untuk mengatasi gejala overflow incontinence. Obat ini akan melemaskan otot kandung kemih, meningkatkan jumlah urine yang tertahan dalam kandung kemih dan dapat dikeluarkan. Dengan ini, pengosongan kandung kemih dengan lebih efektif.- Estrogen Estrogen oles dosis rendah bisa diberikan untuk pasien wanita. Obat ini akan meremajakan jaringan uretra dan area vaginaNamun hormon estrogen dalam bentuk pil tidak disarankan. Pasalnya, obat ini dapat memperburuk gejala inkontinensia urine.
  • Penggunaan alat medis

Salah satu alat medis yang bisa digunakan adalah urethral insert. Alat ini berfungsi sebagai penyumbat untuk mencegah kebocoran.Urethral insert berbentuk seperti tampon yang dimasukkan ke dalam uretra sebelum muncul aktivitas yang memicu inkontinensia urine. Alat ini juga dapat dipasang dan dibuang sebelum pasien pipis.Alat lainnya adalah pessary untuk membantu dalam menahan posisi kandung kemih. Dengan ini, kebocoran urine dapat dicegah.Pessary berupa cincin kaku yang dipakai dengan memasukkannya ke dalam vagina agar bisa digunakan sepanjang hari.
  • Terapi intervensi

Suntuk botox termasuk terapi interenti yang bisa digunakan untuk menghambat kandung kemih yang terlalu aktif. Namun suntikan ini hanya dilakukan jika obat-obatan lain terbukti tidak efektif dalam menangani inkontinensia urine.Bahan pengisi berbahan sintetis juga bisa dipakai untuk menutup uretra dan mengurangi kebocoran urine. Bahan ini dapat disuntikkan pada jaringan sekitar uretra.Meski demikian, terapi intervensi umumnya kurang efektif jika dibandingkan dengan penanganan berupa operasi. Prosedur ini juga biasanya harus diulang.
  • Stimulasi saraf

Dokter dapat memancarkan impuls listrik pada saraf yang mengendalikan kandung kemih.

2. Operasi

Jika penanganan nonbedah tidak dapat efektif atau pasien tidak bisa menjalaninya, dokter bisa menganjurkan operasi. Beberapa jenis operasi ini meliputi:
  • Sling procedure

Sling adalah potongan yang bisa berasal dari jaringan tubuh pasien sendiri, orang lain, hewan, atau materi sintetik. Alat ini berguna untuk membantu agar uretra tetap tertutup, terutama ketika batuk atau bersin yang biasa memisu stress incontinence.
  • Bladder neck suspension

Bladder neck suspension dilakukan untuk menyokong uretra dan leher kandung kemih.
  • Prolapsed surgery

Prolapsed surgery dilakukan pada wanita yang mengalami lebih dari satu jenis inkontinensia urine lebih bersamaan dengan kondisi keluarnya organ panggul dari vagina (prolapse).
  • Artificial-urineary sphincter (sfingter uretra buatan)

Prosedur ini biasanya dilakukan pada pasien laki-laki dengan stress incontinence dan jarang dilakukan pada pasien wanita.  

Komplikasi inkontinensia urine

Jika tidak diatasi dengan benar, inkontinensia urine dapat menyebabkan komplikasi berupa:
  • Masalah kulit, seperti ruam, infeksi, dan luka di kulit akibat sering basah terkena air seni
  • Infeksi saluran kemih yang sering kambuh
  • Pengaruh negatif pada kehidupan sosial maupun pekerjaan pasien

 

Cara mencegah inkontinensia urine yang dapat dilakukan adalah mengurangi faktor risikonya dengan langkah-langah berikut:
  • Menjaga berat badan dalam batas ideal
  • Melakukan senam Kegel
  • Tidak merokok
  • Mengonsumsi makanan berserat untuk mencegah sembelit, yang juga bisa menyebabkan inkontinensia urine
  • Menghindari iritasi kandung kemih dengan mengurangi konsumsi kafein, alkohol, dan makanan asam
 
Segera periksakan diri ke dokter apabila Anda mengalami gejala inkontinensia urine yang:
  • Terus-menerus
  • Mengganggu rutinitas
  • Mungkin menandakan penyakit lain yang serius
  • Meningkatkan risiko jatuh pada lansia (lanjut usia), misalnya karena tergesa-gesa ke toilet karena sulit menahan pipis
 
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait inkontinensia urine?
  • Apakah Anda atau orang terdekat Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik atau pemeriksaan lainnya. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis inkontinensia urine agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/urineary-incontinence/symptoms-causes/syc-20352808
Diakses pada 14 November 2018
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/urineary-incontinence/
Diakses pada 14 November 2018
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/165408
Diakses pada 28 Oktober 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

10 Tips Penting untuk Meningkatkan Kualitas Hidup pada Lansia

Salah satu bentuk peningkatan kualitas hidup adalah kesehatan, baik secara fisik ataupun mental, yang terjaga. Mengingat semakin tua seseorang, maka semakin rentan mereka terhadap penyakit-penyakit tertentu.
02 May 2019|Aby Rachman
Baca selengkapnya
Menjaga kesehatan lansia dapat dilakukan dengan tetap aktif dan makan sehat

3 Bahaya Menahan Buang Air Kecil Saat Perjalanan Mudik

Kemacetan saat mudik membuat seseorang menahan buang air kecil untuk waktu yang lama. Padahal, terdapat bahaya menahan buang air kecil saat mudik yaitu dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi kandung kemih.Baca selengkapnya
Menahan buang air kecil dapat menimbulkan batu di kandung kemih

Senolytics: Obat Potensial yang Tengah Diuji untuk Melawan Penuaan

Penuaan merupakan proses yang tidak bisa dihindari. Namun, bagaimana jika penuaan dapat dihambat dan organ-organ tubuh tetap optimal meski sudah berusia senja? Obat ini mungkin bisa jadi jawabannya.
23 Sep 2020|Aby Rachman
Baca selengkapnya
Senolytics dipercaya bisa menghambat penuaan