Inkontinensia Urine

Ditinjau dr. Widiastuti
Inkontinensia urine bukanlah suatu penyakit, melainkan gejala. Kondisi ini dapat disebabkan oleh kebiasaan setiap harinya, kondisi medis tertentu, atau masalah fisik
Inkontinensia urine bukanlah suatu penyakit, melainkan gejala. Kondisi ini dapat disebabkan oleh kebiasaan setiap harinya, kondisi medis tertentu, atau masalah fisik

Pengertian Inkontinensia Urine

Inkontinensia urine adalah kondisi ketika seseorang tidak dapat mengontrol buang air kecil. Kondisi ini umum dialami dan dapat menjadi pengalaman yang memalukan. Beratnya kondisi ini dapat bervariasi. Inkontinensia urine bisa terjadi tanpa sengaja ketika batuk atau bersin, yang mendorong untuk buang air secara mendadak dan mendesak, sehingga bisa menyebabkan mengompol. Kondisi ini dapat terjadi hanya sementara atau menahun, tergantung dari penyebabnya. Inkontinensia urine banyak dialami oleh wanita dan orang yang berusia lanjut. Sebab, proses penuaan menyebabkan otot-otot dasar panggul melemah, sehingga menjadi kesulitan untuk menahan pipis. Selain itu, kondisi ini dapat pula disebabkan oleh banyak persoalan medis lainnya, seperti infeksi, pembesaran kelenjar prostat, batu ginjal, dan kanker.

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Terdapat beberapa gejala inkontinensia urine berdasarkan jenisnya, seperti:

  • Inkontinensia stres:
    Air seni keluar dari kandung kemih ketika terdapat tekanan seperti batuk, bersin, tertawa, berolahraga, dan mengangkat sesuatu yang berat.
  • Inkontinensia dorongan yaitu:
    Urine dengan mendesak keluar secara tiba-tiba.
  • Retensi urine kronis/inkontinensia yang meluap:
    Kandung kemih tidak dapat sepenuhnya dikosongkan, sehingga menyebabkan urine bocor.
  • Inkontinensia total:
    Kandung kemih tidak dapat menyimpan urine sama sekali, sehingga Anda akan merasa ingin terus menerus buang air kecil.

Penyebab

Inkontinensia urine bukanlah suatu penyakit, melainkan gejala. Kondisi ini dapat disebabkan oleh kebiasaan setiap harinya, kondisi medis tertentu, atau masalah fisik.

Inkontinensia urine dapat disebabkan oleh beberapa macam penyebab, seperti:

  • Inkontinensia stres (stress incontinence):
    Dapat terjadi saat tekanan di dalam kandung kemih ketika terisi urine menjadi lebih besar daripada kemampuan uretra untuk menahan urine supaya tidak keluar. Adanya tekanan tambahan mendadak pada kandung kemih seperti batuk, tertawa atau bersin, dapat menyebabkan urine keluar dari uretra. Kondisi ini disebabkan oleh kerusakan atau kelemahan pada otot yang digunakan untuk mencegah keluarnya urine seperti otot dasar panggul dan sfingter uretra.
  • Inkontinensia dorongan (urgency incontinence):
    Disebabkan oleh otot-otot detrusor yang terlalu aktif dalam berkontraksi, sehingga menyebabkan dorongan yang mendesak untuk buang air kecil. Penyebab dari otot detrusor yang terlalu aktif ini tidaklah diketahui, tetapi mungkin dapat disebabkan oleh terlalu banyak mengonsumsi alkohol atau kafeina, sembelit, infeksi saluran kemih, kondisi neurologis, maupun asupan cairan yang buruk.
  • Retensi urine kronis (menahun) atau inkontinensia yang meluap (overflow incontinence):
    Disebabkan oleh adanya sumbatan pada kandung kemih, sehingga kandung kemih tidak dapat kosong sepenuhnya. Pada saat yang bersamaan, tekanan dalam kandung kemih terus bertambah karena masih ada sisa urine yang tidak dapat keluar, sehingga menyebabkan kebocoran. Sumbatan ini dapat disebabkan oleh pembesaran kelenjar prostat pada pria, batu kandung kemih, atau konstipasi. Selain itu, otot detrusor yang tidak berkontraksi secara penuh sehingga kandung kemih tidak dapat kosong sepenuhnya ketika buang air kecil, juga bisa menjadi penyebabnya. Kondisi ini dapat juga diakibatkan oleh kerusakan pada saraf atau konsumsi obat-obatan tertentu.
  • Inkontinensia total (total incontinence):
    Disebabkan oleh masalah kandung kemih sejak lahir, cedera tulang belakang, atau fistula (terbentuknya saluran kecil) di kandung kemih. Kondisi ini terjadi ketika kandung kemih tidak dapat menyimpan urine sama sekali, sehingga menyebabkan buang air kecil dalam jumlah besar secara terus-menerus atau buang air kecil sesekali, yang diiringi dengan kebocoran.
  • Obat-obatan yang menyebabkan inkontinensia:
    Misalnya ACE Inhibitors, diuretik, beberapa antidepresan, terapi pengganti hormon, dan sedatif. Obat-obatan ini dapat mengganggu proses normal penyimpanan dan pembuangan urine, atau meningkatkan jumlah urine yang diproduksi.

Selain penyebab di atas, terdapat pula kondisi yang dapat meningkatkan risiko terhadap inkontinensia urine, seperti kehamilan, persalinan normal, berat badan berlebih (obesitas), keluarga dengan riwayat inkontinensia, dan bertambahnya usia

Diagnosis

Inkontinensia urine memiliki beberapa jenis yang berbeda. Oleh karena itu, dokter akan menentukan jenisnya melalui diagnosis. Untuk dapat mendiagnosis, dokter biasanya akan menanyakan tentang riwayat penyakit dan melakukan pemeriksaan fisik. Selain itu, Anda akan diminta untuk batuk, sebagai manuver sederhana untuk melihat adanya inkontinensia atau tidak. Dokter juga mungkin akan melakukan beberapa hal, seperti:

  • Urinalisis, dengan cara mengambil sampel urine untuk mengetahui tanda-tanda infeksi atau kelainan lainnya.
  • Mencatat banyaknya minum dalam sehari, jenis minuman yang diminum, jadwal buang air kecil (seberapa sering Anda buang air kecil), jumlah urine yang dihasilkan, dan dorongan untuk buang air kecil dan intensitasnya, serta jumlah episode inkontinensia yang dialami.
  • Pengukuran sisa urine, yaitu dengan meminta pasien buang air kecil ke dalam tempat yang telah diberikan. Jumlah urine yang dikeluarkan akan diukur. Setelah itu, dokter akan menghitung jumlah sisa urine dalam kandung kemih dengan kateter atau tes ultrasound. Jika ditemukan ada banyak jumlah sisa urine kandung kemih, berarti ada sumbatan di saluran kemih atau gangguan pada otot atau saraf kandung kemih.
  • Dipstick test, berupa pengambilan sampel yang kemudian diperiksa. Prosedur ini dilakukan pada kasus infeksi saluran kemih yang disebabkan oleh bakteri.

Tes lain yang biasanya dilakukan adalah USG panggul, pemeriksaan urodinamik (untuk memeriksa fungsi dari kandung kemih dan uretra), dan sistoskopi (untuk memeriksa bagian dalam kandung kemih dan saluran kemih). Pemeriksaan ini dilakukan jika penyebab dari inkontinensia urine tidaklah jelas. Pemeriksaan ini juga biasanya dilakukan jika pasien akan menjalani operasi.

Pengobatan

Penanganan inkontinensia urine tergantung dari tipe, penyebab dan beratnya penyakit. Kombinasi dari pengobatan mungkin diperlukan. Jika ada kondisi medis yang menyebabkan inkontinensia urine, maka hal tersebut akan ditangani terlebih dahulu. Ada dua jenis penanganan, yaitu penanganan nonbedah, dan prosedur pembedahan.

Penanganan nonbedah dilakukan dengan cara-cara berikut ini.

  • Latihan otot dasar panggul (senam kegel):
    Otot-otot dasar panggul digunakan untuk mengendalikan kandung kemih, sehingga latihan untuk melatih otot-otot dasar panggul sangat disarankan. Latihan ini dijalankan dengan cara melakukan kontraksi pada otot-otot yang biasa digunakan untuk menahan pipis. Tahan selama 5 detik, lalu beristirahat selama 5 detik. Jika terlalu sulit pada awalnya, maka Anda dapat mencobanya dengan menahan selama 2 detik, dan beristirahat selama 3 detik. Lakukan latihan ini sampai dapat menahan selama 10 detik. Lakukan paling tidak sebanyak 3 set, dan sebanyak 10 kali dalam setiap set.
  • Latihan untuk kandung kemih yang digunakan untuk belajar menunggu lebih lama sebelum buang air kecil.
  • Membuat jadwal rutin untuk buang air kecil. Misalnya dengan buang air kecil setiap 2 jam sekali, daripada menunggu sampai benar-benar mendesak ingin buang air kecil.
  • Perubahan gaya hidup dengan menurunkan berat badan, mengurangi kafein, alkohol, dan minum cukup air
  • Stimulasi elektrik untuk merangsang dan memperkuat otot-otot dasar panggul dengan cara memasukkan elektroda ke dalam rektum atau vagina.
  • Penggunaan obat-obatan seperti :
    • Alpha blocker pada laki-laki, untuk mengendurkan otot-otot leher kandung kemih dan kelenjar prostat, sehingga lebih mudah untuk mengosongkan kandung kemih.
    • Antikolinergik, untuk meredakan kandung kemih yang terlalu aktif.
    • Mirabegron, untuk mengobati inkontinensia luapan, dengan cara melemaskan otot-otot kandung kemih, meningkatkan jumlah urine yang ditahan pada kandung kemih, serta jumlah urine yang dapat dikeluarkan, sehingga membantu mengosongkan kandung kemih
    • Estrogen topikal dosis rendah untuk wanita. Obat ini berguna untuk meremajakan jaringan uretra dan area vagina. Namun, hormon estrogen dalam bentuk pil tidak disarankan karena dapat memperburuk gejala inkontinensia urine.
  • Penggunaan alat medis:
    Seperti urethral insert sebagai penyumbat untuk mencegah kebocoran. Alat ini memiliki bentuk seperti tampon yang dimasukkan ke dalam uretra sebelum aktivitas yang memicu inkontinensia terjadi. Alat ini juga dapat dipasang dan dibuang sebelum buang air kecil. Selain itu juga terdapat pessary yang digunakan untuk membantu menahan posisi kandung kemih, sehingga mencegah kebocoran urine. Alat ini berupa cincin kaku yang dipakai dengan cara dimasukkan ke dalam vagina dan digunakan sepanjang hari.
  • Terapi intervensi seperti botox :
    Untuk menghambat kandung kemih yang terlalu aktif. Namun, suntikan botox hanya dilakukan jika obat-obatan tidak berhasil. Selain itu, bahan pengisi berbahan sintetis yang digunakan untuk menutup uretra dan mengurangi kebocoran urine dapat disuntikkan pada jaringan sekitar uretra. Meski demikian, cara ini tidak terlalu efektif dibandingkan dengan penanganan invasif lainnya seperti pembedahan, dan prosedur ini biasanya harus diulang.
  • Stimulasi saraf:
    Dilakukan dengan memancarkan impuls listrik pada saraf yang mengontrol kandung kemih. Stimulasi pada saraf sacral dapat membantu mengontrol inkontinensia dorongan, jika terapi lainnya tidak bekerja.

Pengobatan dengan intervensi bedah

Jika penanganan nonbedah tidak sesuai atau tidak berhasil, maka dapat dilakukan intervensi bedah. Beberapa prosedur bedah yang dapat dilakukan untuk mengobati penyebab dari inkontinensia urine adalah:

  • Sling procedures:
    Sling adalah potongan dari jaringan tubuh sendiri, orang lain, hewan atau material sintetik yang digunakan panggul (pelvic sling) sekitar uretra dan leher kandung kemih. Sling berguna untuk membantu uretra tetap tertutup, terutama ketika batuk atau bersin, yang biasanya menyebabkan inkontinensia stress.
  • Bladder neck suspension (suspensi atau penyangga dari leher kandung kemih):
    Prosedur ini dirancang untuk menyokong uretra dan leher kandung kemih. Tindakan medis tersebut melibatkan sayatan pada perut, dan biasanya dilakukan dengan anestesi spinal atau umum.
  • Prolapsed surgery:
    Dilakukan pada wanita dengan jenis inkontinensia lebih dari satu dan mengalami prolapse (keluarnya dinding vagina disertai organ panggul lain).
  • Artificial-urineary sphincter (sfingter uretra buatan):
    Prosedur ini biasanya dilakukan pada laki-laki dengan inkontinensia stres dan jarang dilakukan pada wanita. 

Pencegahan

Inkontinensia urine biasanya tidak selalu dapat dicegah, tapi ada beberapa cara untuk mengurangi risikonya, dengan cara:

  • Menjaga berat badan yang sehat
  • Melakukan senam kegel (latihan untuk menguatkan otot dasar panggul)
  • Berhenti merokok
  • Mengonsumsi makanan berserat untuk mencegah sembelit, yang menyebabkan inkontinensia urine
  • Menghindari iritasi kandung kemih dengan mengurangi konsumsi kafein, alkohol, dan makanan asam

Informasi Dokter

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Jika merasa memiliki beberapa gejala inkontinensia urine, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter. Sebab, kondisi ini dapat menjadi lebih serius, membatasi aktivitas sosial, dan meningkatkan risiko terhadap masalah kesehatan tersebut di kemudian hari.

Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Berkonsultasi dengan Dokter?

Sebelum berkonsultasi dengan dokter sebaiknya tuliskan gejala yang Anda alami, daftar obat yang dikonsumsi, informasi pribadi, dan beberapa pertanyaan, seperti:

  • Apa penyebab gejala yang saya alami?
  • Apakah saya perlu menjalani pemeriksaan lain?
  • Apa saja perawatan dan pengobatan yang saya butuhkan?
  • Apa efek samping dari perawatan atau pengobatan yang dokter sarankan?
  • JIka saya memiliki kondisi medis lain, apa yang harus saya lakukan?

Apa yang Akan Dilakukan Dokter pada Saat Konsultasi?

Selama konsultasi, dokter biasanya akan mengajukan beberapa pertanyaan, seperti:

  • Apa gejala yang Anda alami? Kapan pertama kali mengalaminya?
  • Apakah Anda sulit untuk mengosongkan kandung kemih?
  • Apakah Anda merokok?
  • Apakah Anda sering buang air kecil?
  • Seberapa sering Anda minum alkohol atau kafeina?
  • Apa yang dapat memperbaiki dan memperburuk gejala Anda?
Referensi

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/urineary-incontinence/symptoms-causes/syc-20352808
Diakses pada 14 November 2018

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/urineary-incontinence/
Diakses pada 14 November 2018

Back to Top