Perut

Inkontinensia Tinja

18 Aug 2021 | Popy Hervi PutriDitinjau oleh dr. Anandika Pawitri
image Inkontinensia Tinja
Kondisi Inkontinensia tinja dapat disertai dengan masalah usus lain seperti diare, sembelit, dan kembung
Inkontinensia alvi atau inkontinensia tinja adalah ketidakmampuan mengontrol buang air besar. Akibatnya, tinja keluar dengan tidak terduga dari rektum (usus bagian akhir).Gejala kondisi ini dapat bervariasi. Mulai dari keluarnya tinja sesekali bersamaan dengan buang angin hingga hilangnya kontrol buang air besar sepenuhnya.Penyebab umum dari kondisi ini adalah diare, sembelit, dan kerusakan dari otot atau saraf. Kerusakan otot atau saraf biasanya dipicu oleh faktor dengan penuaan atau dengan melahirkanKondisi ini mengganggu kehidupan sehari-hari dan dapat menyebabkan orang merasa malu. Namun, jangan khawatir karena kondisi ini bisa diobati. 
Inkontinensia Tinja
Dokter spesialis Penyakit Dalam
GejalaBAB yang sulit dikendalikan, BAB tanpa disadari
Faktor risikoUsia di atas 65 tahun, wanita, wanita yang sudah pernah melahirkan
Metode diagnosisProtografi, colok dubur, MRI
PengobatanObat-obatan, hindari makanan yang membuat sembelit atau diare, senam kegel
ObatLoperamide, kodein, difenoksilat
KomplikasiStres, iritasi kulit
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala inkontinensia tinja
Gejala pada inkontinensia tinja pada umumnya berbeda, tergantung pada jenis yang dialami.  Secara umum, tanda dan gejala inkontinensia tinja meliputi:
  • Pada urgency Incontinence (inkontinensia mendesak) yang ditandai dengan adanya dorongan tiba-tiba dan mendesak untuk buang air besar dan sulit untuk dikendalikan.
  • Passive Incontinence (inkontinensia pasif) ditandai dengan keluarnya tinja tidak disadari atau tanpa adanya dorongan untuk buang air besar.
Ciri atau gejala lain yang mungkin muncul akibat inkontinensia tinja adalah:
  • Diare
  • Sembelit
  • Kembung
 
Penyebab utama inkontinensia tinja adalah konstipasi atau sembelit.Konstipasi menahun dapat menyebabkan tinja terjebak di dalam rektum karena tinja terlalu keras dan besar untuk dikeluarkan. Tinja yang terjebak tersebut dapat meregangkan dan melemahkan otot, sehingga menyebabkan ketidakmampuan otot untuk berfungsi dengan normal ketika buang air besar. Komplikasi dari inkontinensia tinja adalah kebocoran cairan kotoran melalui anus.Selain itu, inkontinensia tinja bisa disebabkan oleh beberapa hal di bawah ini:
  • Diare menyebabkan kotoran menjadi cair, sehingga dapat menyebabkan atau memperberat inkontinensia tinja yang mendesak.
  • Kerusakan kumpulan otot yang berbentuk seperti cincin yang bekerja untuk menutup atau membuka anus (sfingter anus) sehingga menyebabkan anus tidak dapat tertutup rapat, kerusakan ini dapat terjadi dalam proses proses melahirkan normal
Terutama jika dilakukan episiotomi (sayatan yang dibuat pada otot antara vagina dan anus saat melahirkan) atau menggunakan forceps untuk melahirkan.
  • Kerusakan saraf yang mengontrol gerakan sfingter ani, maka anus tidak dapat menutup dengan sempurna. Ketika ini terjadi, maka dorongan untuk buang air besar tidak terasa, , penyebab dari kerusakan ini adalah karena trauma dari melahirkan, sering sembelit, stroke, diabetes, dan sklerosis ganda (multiple sclerosis)
  • Hemorrhoid atau wasir dapat menyebabkan sfingter ani tidak dapat menutup dengan baik sehingga tinja yang cair dan lendir dapat keluar dengan sendirinya.
  • Kerusakan otot dan saraf pada dasar panggul karena melahirkan yang akan terlihat beberapa tahun setelahnya.
 

Faktor risiko inkontinensia tinja

Beberapa faktor risiko kondisi ini meliputi:
  • Usia di atas 65 tahun
  • Berjenis kelamin wanita
  • Wanita yang sudah pernah melahirkan
  • Sering mengalami konstipasi kronis
  • Memiliki penyakit atau cedera yang dapat menyebabkan kerusakan saraf, seperti diabetes atau sklerosis ganda
 
Dokter biasanya akan menanyakan riwayat penyakit dan melakukan pemeriksaan fisik yang biasanya meliputi pemeriksaan visual pada anus. Selain itu, terdapat berbagai tes medis, seperti:
  • Proktografi

Proktografi adalah gambar video X-ray pada saat melakukan buang air besar dalam toilet yang dirancang khusus. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengukur seberapa banyak tinja yang dapat ditampung oleh rektum (usus bagian akhir) dan mengevaluasi seberapa baik proses buang air besar.
  • Pemeriksaan colok dubur

Pemeriksaan colok dubur bertujuan mengecek kekuatan dari otot sfingter anus dan memeriksa kelainan pada anus. Saat pemeriksaan colok dubur, dokter akan menginstruksikan pasien untuk mengejan guna memeriksa rectal prolapse.
  • Kolonoskopi

Kolonoskopi dilakukan untuk memeriksa seluruh usus besar.
  • MRI

MRI dapat memberikan gambar jelas dari sfingter untuk melihat apakah otot-otot tersebut masih utuh dan memberikan gambar selama buang air besar.
  • Manometri anal

Manometri anal berfungsi mengukur kekencangan otot sfingter anus dan sensitivitas fungsi rektum.
  • Ultrasonografi anorektal

Instrumen ini menghasilkan gambar video yang memungkinkan untuk mengevaluasi struktur sfingter.
  • Barium enema

Barium enema adalah pemeriksaan dengan menggunakan foto rontgen dan cairan barium untuk memeriksa saluran pencernaan bagian bawah, termasuk kolon dan rektum. 
Cara mengobati inkontinensia tinja umumnya akan tergantung dari tingkat keparahan penyakit dan seberapa lama pasien sudah mengalami kondisi tersebut. Beberapa pilihan cara mengobati inkontinensia tinja yang biasanya disarankan dokter, yaitu:
  • Hindari makanan yang membuat Anda diare atau sembelit dan konsumsi makanan kaya serat serta banyak minum air dapat membantu untuk mempermudah buang air besar.
  • Obat-obatan antidiare seperti loperamide, kodein, atau difenoksilat dapat diberikan untuk mengentalkan tinja, atau sebaliknya suplemen serat dapat diberikan untuk meringankan sembelit.
  • Membersihkan usus dengan cara melatih gerakan usus menjadi normal, seperti melatih dengan jadwal buang air besar yang teratur, merangsang otot Sphincter dengan jari yang dilumasi, dan menggunakan supositoria untuk merangsang pergerakan usus.
  • Senam kegel untuk memperkuat otot-otot dasar panggul dengan mengkontraksikan otot-otot tersebut secara rutin.
  • Biofeedback yaitu pengobatan alternatif yang menggunakan pikiran untuk mengendalikan fungsi tubuh dengan bantuan sensor. Dalam inkontinensia tinja, biofeedback akan membantu untuk mempelajari cara memperkuat dan mengontrol otot sfingter.
  • Operasi yang biasanya dilakukan pada inkontinensia fekal berat seperti sphincteroplasty, transplantasi otot Gracilis, sfingter buatan, dan kolostomi.
  • Solesta yaitu gel untuk untuk meningkatkan jaringan rektal agar membantu untuk membuat jaringan rektum yang menutup rapat dubur.
 

Komplikasi inkontinensia tinja

Jika tidak ditangani dengan benar, inkontinensia tinja bisa menyebabkan komplikasi berupa: 
 
Cara mencegah inkontinensia tinja yang bisa dilakukan meliputi:
  • Mengurangi konstipasi dengan makan makanan berserat tinggi dan minum banyak air serta berolahraga dengan rutin
  • Mengontrol diare dengan mengobati penyebab dari diare seperti infeksi usus
  • Hindari mengejan ketika buang air besar karena dapat melemahkan otot sfingter ani atau kerusakan saraf
 
Hubungi dokter bila Anda mengalami gejala yang mengarah pada XX. Demikian pula jika Anda memiliki tanda atau gejala lain yang tidak disebutkan maupun kekhawatiran serta pertanyaan lainnya. 
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait inkontinensia tinja?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis inkontinensia tinja agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/fecal-incontinence/symptoms-causes/syc-20351397
Diakses pada 16 Agustus 2021
Healthline. https://www.healthline.com/symptom/fecal-incontinence
Diakses pada Diakses pada 16 Agustus 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email