Inkontinensia tinja dapat disertai dengan masalah usus lain seperti diare dan sembelit
Kondisi Inkontinensia tinja dapat disertai dengan masalah usus lain seperti diare, sembelit, dan kembung.

Inkontinensia tinja adalah ketidakmampuan mengontrol buang air besar, sehingga membuat tinja keluar dengan tidak terduga dari rektum (usus bagian akhir). Gejala Inkontinensia tinja dapat bervariasi mulai dari keluarnya tinja sesekali bersamaan dengan angin sampai pada kondisi hilangnya kontrol buang air besar sepenuhnya.

Penyebab umum dari kondisi ini adalah diare, sembelit, dan kerusakan dari otot atau saraf. Kondisi ini mengganggu kehidupan sehari-hari dan dapat menyebabkan orang merasa malu, tetapi dapat membaik dengan pengobatan.

Gejala pada inkontinensia tinja pada umumnya berbeda, tergantung pada jenis yang dialami. Pada Urgency Incontinence (inkontinensia mendesak) yang ditandai dengan adanya dorongan tiba-tiba dan mendesak untuk buang air besar dan sulit untuk dikendalikan. Selain itu, terdapat juga Passive Incontinence (inkontinensia pasif) dimana keluarnya tinja tidak disadari atau tanpa adanya dorongan untuk buang air besar.

Inkontinensia tinja dapat bersifat sementara seperti ketika diare, ataupun bisa bersifat menahun/berulang.

Kondisi Inkontinensia tinja dapat disertai dengan masalah usus lain seperti diare, sembelit, dan kembung.

Terdapat beberapa penyebab dari inkontinensia tinja, seperti:

  • Konstipasi atau sembelit. Konstipasi menahun dapat menyebabkan tinja terjebak di dalam rektum karena tinja terlalu keras dan besar untuk dikeluarkan. Tinja yang terjebak tersebut dapat meregangkan dan melemahkan otot, sehingga menyebabkan ketidakmampuan otot untuk berfungsi dengan normal ketika buang air besar. Komplikasi dari inkontinensia tinja adalah kebocoran cairan kotoran melalui anus
  • Diare menyebabkan kotoran menjadi cair, sehingga dapat menyebabkan atau memperberat inkontinensia tinja yang mendesak.
  • Kerusakan kumpulan otot yang berbentuk seperti cincin yang bekerja untuk menutup atau membuka anus (sfingter anus) sehingga menyebabkan anus tidak dapat tertutup rapat, kerusakan ini dapat disebabkan oleh wasir, operasi, trauma, konstipasi, dan ketika dalam proses melahirkan normal, terutama jika dilakukan episiotomi (sayatan yang dibuat pada otot antara vagina dan anus saat melahirkan) atau menggunakan forceps untuk melahirkan.
  • Kerusakan saraf yang mengontrol gerakan sfingter ani, maka anus tidak dapat menutup dengan sempurna. Ketika ini terjadi, maka dorongan untuk buang air besar tidak terasa, , penyebab dari kerusakan ini adalah karena trauma dari melahirkan, sering sembelit, stroke, diabetes, dan sklerosis ganda (multiple sclerosis)
  • Pembengkakan vena pada wasir (hemorrhoid) dapat menyebabkan sfingter ani tidak dapat menutup dengan baik sehingga tinja yang cair dan lendir dapat keluar dengan sendirinya.
  • Kerusakan otot dan saraf pada dasar panggul karena melahirkan yang akan terlihat beberapa tahun setelahnya. Kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi seperti:
    • Kelemahan dari otot dasar panggul yang digunakan ketika buang air besar
    • Rectal prolapsed, ketika rektum (usus bagian akhir) menonjol keluar melalui anus
    • Rectocele , ketika rektum menonjol keluar melalui vagina

Faktor Risiko:

Inkontinensia tinja dapat terjadi pada siapa saja, tetapi orang–orang tertentu mempunyai risiko yang lebih tinggi terkena penyakit ini. Faktor risiko tersebut meliputi:

  • Usia >65 tahun
  • Berjenis kelamin wanita
  • Wanita yang sudah pernah melahirkan
  • Sering mengalami konstipasi / sembelit
  • Memiliki penyakit atau cedera yang dapat menyebabkan kerusakan saraf, seperti diabetes atau sklerosis ganda

Dokter biasanya akan menanyakan riwayat penyakit dan melakukan pemeriksaan fisik yang biasanya meliputi pemeriksaan visual pada anus. Selain itu, terdapat berbagai tes medis, seperti:

  • Proktografi yaitu gambar video X-ray pada saat melakukan buang air besar dalam toilet yang dirancang khusus. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengukur seberapa banyak tinja yang dapat ditampung oleh rektum (usus bagian akhir) dan mengevaluasi seberapa baik proses buang air besar.
  • Pemeriksaan dengan colok dubur untuk memeriksa kekuatan dari otot sfingter anus dan memeriksa kelainan pada anus. Saat pemeriksaan colok dubur, dokter akan menginstruksikan pasien untuk mengejan guna memeriksa rectal prolapse.
  • Kolonoskopi untuk memeriksa seluruh usus besar.
  • MRI yang dapat memberikan gambar jelas dari sfingter untuk melihat apakah otot-otot tersebut masih utuh dan memberikan gambar selama buang air besar.
  • Manometri anal yang berfungsi untuk mengukur kekencangan otot sfingter anus dan sensitivitas fungsi rektum.
  • Ultrasonografi anorectal. Instrumen ini menghasilkan gambar video yang memungkinkan untuk mengevaluasi struktur sfingter.
  • Barium enema yaitu pemeriksaan dengan menggunakan foto rontgen dan cairan barium untuk memeriksa saluran pencernaan bagian bawah, termasuk kolon dan rektum.

Pengobatan untuk mengobati inkontinensia tinja dengan cara:

  • Hindari makanan yang membuat Anda diare atau sembelit dan konsumsi makanan kaya serat serta banyak minum air dapat membantu untuk mempermudah buang air besar.
  • Obat-obatan antidiare seperti loperamide, kodein, atau difenoksilat dapat diberikan untuk mengentalkan tinja, atau sebaliknya suplemen serat dapat diberikan untuk meringankan sembelit.
  • Membersihkan usus dengan cara melatih gerakan usus menjadi normal, seperti melatih dengan jadwal buang air besar yang teratur, merangsang otot Sphincter dengan jari yang dilumasi, dan menggunakan supositoria untuk merangsang pergerakan usus.
  • Senam Kegel untuk memperkuat otot-otot dasar panggul dengan mengkontraksikan otot-otot tersebut secara rutin.
  • Biofeedback yaitu pengobatan alternatif yang menggunakan pikiran untuk mengendalikan fungsi tubuh dengan bantuan sensor. Dalam inkontinensia tinja, biofeedback akan membantu untuk mempelajari cara memperkuat dan mengontrol otot sfingter.
  • Operasi yang biasanya dilakukan pada inkontinensia fekal berat seperti sphincteroplasty, transplantasi otot Gracilis, sfingter buatan, dan kolostomi.
  • Solesta yaitu gel untuk untuk meningkatkan jaringan rektal agar membantu untuk membuat jaringan rektum yang menutup rapat dubur.

Terdapat beberapa cara untuk mencegah inkontinensia tinja, yaitu:

  • Mengurangi konstipasi dengan makan makanan berserat tinggi dan minum banyak air serta berolahraga dengan rutin.
  • Mengontrol diare dengan mengobati penyebab dari diare seperti infeksi usus.
  • Hindari mengejan ketika buang air besar karena dapat melemahkan otot sfingter ani atau kerusakan saraf.

Konsultasilah dengan dokter jika mengalami inkontinensia tinja yang sering atau berat. Semakin cepat berkonsultasi, maka semakin cepat penyembuhan gangguan ini.

Sebelum berkonsultasi, sebaiknya persiapkan terlebih dahulu daftar gejala, informasi pribadi, obat yang dikonsumsi, dan pertanyaan untuk ditanyakan, seperti:

  • Apa yang menyebabkan gejala saya?
  • Perawatan dan pengobatan apa yang cocok untuk menangani gejala saya?
  • Apa tindakan terbaik untuk menangani gejala saya?
  • Apakah saya memerlukan pemeriksaan lain untuk memastikan penyakit saya?
  • Apakah saya harus menemui dokter spesialis?
  • Apakah ada referensi mengenai gangguan ini untuk saya baca?
  • Jika saya memiliki kondisi penyakit lain, apa yang harus saya lakukan?

Biasanya saat berkonsultasi, dokter akan menanyakan beberapa pertanyaan, seperti:

  • Apa gejala yang Anda rasakan?
  • Sejak kapan gejala tersebut Anda rasakan?
  • Apakah Anda mengalami diare?
  • Apa yang tampak memperburuk dan memperbaiki kondisi Anda?
  • Seberapa parah gejala Anda?
  • Apakah Anda pernah menjalani radiasi di area panggul?
  • Apakah Anda pernah didiagnosis colitis ulseratif atau penyakit Crohn?

Healthline. https://www.healthline.com/symptom/fecal-incontinence
Diakses pada 14 November 2018

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/fecal-incontinence/symptoms-causes/syc-20351397
Diakses pada 14 November 2018

Artikel Terkait