Inkompatibilitas ABO adalah kondisi yang terjadi ketika pasien menerima transfusi darah dari orang lain dengan golongan darah yang berbeda dengan golongan darahnya. Perbedaan golongan darah pendonor dan penerima akan menimbulkan reaksi kekebalan tubuh yang berbahaya.

Darah dibagi menjadi 4 golongan, yaitu A, B, AB, dan O. Masing-masing golongan darah memiliki protein spesifik bernama antigen pada sel darah.

Apabila sel darah dengan golongan darah yang berbeda memasuki pembuluh darah, tubuh akan bereaksi dengan menghasilkan reaksi sistem kekebalan tubuh untuk menghancurkan sel darah tersebut. Pasalnya, sel-sel darah ini dianggap sebagai benda asing yang berbahaya bagi tubuh.

Reaksi inkompatibilitas ABO sangat jarang terjadi karena prosedur pemeriksaan darah saksama biasanya sudah dilakukan sebelum transfusi dilakukan.

Inkompatibilitas ABO juga dapat terjadi pada bayi baru lahir karena perbedaan golongan darah dengan ibu sewaktu masa kehamilan. Maka gejala pada bayi adalah menjadi ikterus atau kuning pada tubuh.

Gejala inkompatibilitas ABO biasanya muncul pada beberapa menit setelah transfusi. Gejala-gejala ini bisa berupa:

Sekitar 20% bayi mengalami inkompatibilitas ABO, dan 5% saja yang mengalami gejala klinis, yaitu ikterus atau kuning pada tubuh bayi dan mata dan demam.

Penyebab inkompatibilitas ABO adalah masuknya darah dengan golongan darah yang berbeda ke tubuh seseorang, seperti melalui transfusi darah. Kelalaian ini bisa terjadi karena ketidaktelitian petugas medis yang meliputi:

  • Salah memberi label pada kantong darah
  • Keliru ketika mengisi formulir transfusi
  • Tidak memeriksa darah sebelum melakukan prosedur transfusi.

Meski begitu, kejadian inkompatibilitas ABO kini sangat jarang terjadi. Pasalnya, golongan darah pendonor dan penerima transfusi akan diperiksa secara hati-hati sebelum prosedur dilakukan.

Selain transfusi darah, inkompatibilitas ABO juga dapat muncul pada orang yang menerima transplantasi organ dari orang dengan golongan darah yang berbeda.

Beberapa pemeriksaan berikut akan dilakukan oleh dokter untuk memastikan diagnosis inkompatibilitas ABO:

  • Tes darah

Pemeriksaan ini bertujuan memastikan ada tidaknya sel darah merah yang hancur. Pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan Coomb Test dan kadar bilirubin.

  • Tes urine

Tes urine dilakukan untuk mendeteksi keberadaan hemoglobin (komponen sel darah merah) dalam urine.

  • Uji kecocokan

Uji kecocokan biasanya telah dilakukan sebelum transfusi darah. Pemeriksaan ini akan kembali dilakukan untuk melihat ada tidaknya ketidakcocokan darah pendonor dan penerima.

Selama proses diagnosis, dokter juga akan memantau tekanan darah, detak jantung, pernapasan, dan suhu tubuh pasien.

Jika terdapat reaksi setelah transfusi darah dilakukan, transfusi akan segera dihentikan. Sementara penanganan lainnya yang dapat dilakukan meliputi:

  • Obat antihistamin untuk menangani reaksi alergi
  • Obat steroid guna mengatasi pembengkakan dan reaksi alergi 
  • Obat-obatan untuk meningkatkan tekanan darah bagi pasien dengan tekanan darah yang terlalu rendah
  • Pemberian imunoglobulin intravena
  • Fototerapi pada kondisi ikterus
  • Cairan infus

Penanganan yang tepat dan cepat harus dilakukan untuk mencegah komplikasi yang mengancam nyawa. Misalnya, pembekuan darah di seluruh tubuh dan kerusakan ginjal.

Pemeriksaan yang teliti dan menyeluruh akan golongan darah pendonor dan penerima sebelum prosedur transfusi atau transplantasi akan menjadi langkah utama dalam pencegahan inkompatibilitas ABO.

Segera hubungi dokter apabila Anda baru saja menerima transfusi darah atau transplantasi organ, dan mengalami gejala-gejala inkompatibilitas ABO.

Inkompatibilias ABO umumnya terjadi pada beberapa menit setelah Anda menjalani tranfusi darah. Ini berarti, tidak ada persiapan yang bisa Anda lakukan sebelum kondisi ini muncul.

Yang bisa Anda lakukan adalah menjelaskan gejala yang Anda alami secara rinci pada dokter. Dengan ini, dokter bisa menentukan pemeriksaan lanjutan yang dibutuhkan untuk menentukan diagnosis.

Anda juga dapat meminta keluarga atau teman untuk mendampingi Anda ketika menjalani transfusi darah. Dengan ini, mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter apabila terjadi kondisi-kondisi yang tak diinginkan dan diluar kendali Anda.

Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:

  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda menjalani proses pemeriksaan golongan darah dengan saksama?
  • Apakah Anda melakukan prosedur transfusi darah atau transplantasi organ sebelum gejala muncul?

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan dapat menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis inkompatibilitas ABO. Dengan ini, pengobatan bisa diberikan secara tepat.

Medline Plus. https://medlineplus.gov/ency/article/001306.htm
Diakses pada 14 Januari 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/abo-incompatibility
Diakses pada 14 Januari 2020

Artikel Terkait