Infeksi Virus West Nile

Infeksi virus West Nile adalah penyakit yang disebarkan oleh gigitan nyamuk Culex yang sudah terinfeksi. Nyamuk ini menggigit burung dengan virus West Nile dan menjadi pembawa virus. Apabila nyamuk menggigit manusia, infeksi virus West Nile dapat terjadi pada manusia.

Sebagian besar penderita hanya mengalami gejala ringan atau bahkan bisa tanpa gejala. Tetapi pada kasus yang berat, infeksi virus ini dapat menyebabkan peradangan pada otak atau saraf tulang belakang yang mengancam jiwa.

Infeksi virus yang berat dapat dialami oleh orang yang berusia lebih dari 60 tahun atau memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah. Apabila didiagnosis dan ditangani secara cepat, penderita bisa sembuh dan kembali beraktivitas seperti biasa.

Sebagian besar orang yang terinfeksi virus West Nile tidak memiliki gejala. Namun sebagian lainnya bisa mengalami gejala ringan maupun berat.

Gejala ringan

Sekitar 20% persen dari penderita yang mengalami gejala ringan. Gejala-gejalanya meliputi:

Gejala-gejala yang ringan tersebut biasanya hanya berlangsung selama beberapa hari.

Gejala berat

Hanya ada sekitar 1 persen kasus infeksi virus West Nile yang menimbulkan gejala serius. Misalnya, peradangan otak (ensefalitis) dan peradangan lapisan pembungkus otak dan saraf tulang belakang (meningitis). Gejala-gejalanya meliputi:

  • Demam tinggi
  • Nyeri kepala hebat
  • Kekakuan pada leher
  • Kebingungan atau disorientasi
  • Penurunan kesadaran atau koma
  • Tremor
  • Kejang
  • Kelumpuhan sebelah badan atau kelemahan otot

Gejala infeksi berat dapat bertahan hingga beberapa minggu hingga beberapa bulan. Sementara gejala seperti kelemahan otot bisa menjadi permanen.

Penyebab infeksi virus West Nile adalah gigitan nyamuk yang sudah terinfeksi oleh virus ini. Awalnya, nyamuk menggigit burung yang terinfeksi lalu menularkannya pada manusia lewat gigitannya.

Meskipun sangat jarang, penyakit ini juga dapat ditularkan lewat transfusi darah dan transplantasi organ. Selain itu, ibu juga dapat menularkan virus West Nile pada anak yang sedang dikandung atau melalui proses menyusui.

Selain melakukan tanya jawab dan pemeriksaan fisik, dokter akan menganjurkan serangkaian pemeriksaan penunjang untuk memastikan keberadaan dan diagnosis virus West Nile. Demikian pula dengan penyakit pada sistem saraf yang terkait dengan virus ini, seperti ensefalitis atau meningitis.

Beberapa pemeriksaan penunjang tersebut meliputi:

  • Tes darah

Kadar antibodi terhadap virus dapat diperiksa melalui darah penderita untuk memastikan ada tidaknya infeksi. Pada penderita yang sudah terinfeksi, kadar antibodi terhadap virus West Nile akan meningkat.

  • Pungsi lumbal

Cairan di sekitar lapisan pelindung saraf tulang belakang akan diambil untuk diperiksa lebih lanjut. Pemeriksaan ini bertujuan menentukan diagnosis meningitis.

  • Elektroensefalografi (EEG)

Pada beberapa kasus, dokter mungkin melakukan pemeriksaan EEG untuk menilai aktivitas otak pasien.

  • MRI otak

MRI juga dapat dilakukan untuk mendeteksi ada tidaknya peradangan pada otak.

Kebanyakan penderita tidak memerlukan pengobatan infeksi virus West Nile secara khusus. Virus umumnya bisa menghilang dengan sendirinya dari tubuh penderita. Namun bila dibutuhkan, doter bisa menyarankan langkah-langkah berikut:

  • Pada kasus ringan, obat pereda rasa sakit dapat diresepkan guna meredakan sakit kepala dan nyeri otot.
  • Pada pasien dengan gejala berat, rawat inap di rumah sakit biasanya diperlukan. Pasien akan diberi terapi suportif, seperti pemberian cairan infus dan obat-obatan.

Hingga saat ini, vaksin untuk mencegah infeksi virus West Nile belum ditemukan. Oleh karena itu, upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan menghindarkan diri dari gigitan nyamuk. Bagaimanakah caranya?

  • Ketika beraktivitas di luar, gunakan baju berlengan panjang, celana panjang, dan kaus kaki. 
  • Menggunakan losion antinyamuk.
  • Membersihkan tempat penampungan air.
  • Membuang barang-barang bekas yang bisa menjadi tampungan air.
  • Memasang kawat nyamuk pada jendela dan pintu rumah untuk mencegah nyamuk masuk ke rumah Anda.
  • Memakai kelambu di tempat tidur.

Selain itu, Anda juga dapat melaporkan pada dinas kesehatan terkait apabila terdapat kasus kematian burung di sekitar lingkungan Anda.

Gejala ringan yang disebabkan oleh infeksi virus West Nile biasanya akan membaik dengan sendirinya. Akan tetapi, penderita dengan gejala berat perlu segera dibawa ke dokter, seperti mengalami nyeri kepala hebat, kaku pada leher, bingung, atau mengalami disorientasi.

Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:

  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.

Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:

  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala mulai terasa?
  • Apakah gejala berlangsung terus-menerus atau hilang dan timbul?
  • Apakah gejala membuat Anda kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari?
  • Apakah ada hal tertentu yang dapat memperingan atau memperparah gejala?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan dapat menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis infeksi virus West Nile. Dengan ini, pengobatan bisa diberikan secara tepat.

Medline Plus. https://medlineplus.gov/westnilevirus.html
Diakses pada 11 Januari 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/west-nile-virus
Diakses pada 11 Januari 2020

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/west-nile-virus/symptoms-causes/syc-20350320
Diakses pada 11 Januari 2020

John Hopskins Medicine. https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/west-nile-virus
Diakses pada 11 Januari 2020

Artikel Terkait