Penyebab infeksi usus adalah mikroorganisme seperti virus, bakteri, dan parasit yang dapat dicegah dengan menjalani pola hidup sehat
Penyebab infeksi usus kebanyakan ditularkan melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi.

Infeksi usus adalah penyakit radang usus yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti virus, bakteri, dan parasit. Biasanya infeksi didapat dari memakan atau meminum makanan atau air yang terkontaminasi.

Gejala yang umum terjadi pada infeksi usus adalah:

Biasanya diare yang disebabkan oleh infeksi virus hanya berlangsung dalam waktu singkat dan sifatnya diare berair (buang air besar cair). Sementara itu, infeksi bakteri terkadang dapat menyebabkan diare berdarah atau disentri.

Terdapat tiga penyebab utama infeksi usus, yaitu:

  • Virus
    • Norovirus: kelompok virus ini menyebabkan penyakit gastroenteritis (radang lambung dan usus) dengan gejala utama sakit perut, mual, muntah, dan diare. CDC (Centers for Disease Control and Prevention), lembaga pengendalian dan pencegahan penyakit di Amerika Serikat, menyatakan bahwa seseorang  dapat terkena infeksi norovirus sekitar lima kali dalam kehidupannya.
    • Rotavirus: sering menginfeksi bayi dan anak-anak serta menyebabkan lebih dari setengah juta kematian balita per tahunnya. Penularannya sangat mudah yaitu melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi muntahan atau tinja penderita.
  • Beberapa spesies bakteri penyebab infeksi usus adalah:
    • Clostridium perfringens yang menyebabkan keracunan makanan. Gejala yang disebabkan oleh bakteri ini terjadi dengan cepat dan akan berkurang atau hilang dalam waktu 24 jam dan biasanya tidak terdapat demam.
    • Campylobacter jejuni: sering dikaitkan dengan memakan daging ayam dan susu yang terkontaminasi. Bakteri ini sering menginfeksi anak-anak terutama usia di bawah dua tahun, lansia, dan orang dengan malnutrisi. Gejalanya adalah diare (kadang berdarah), sakit perut, muntah, dan demam.
    • Salmonella: ditularkan melalui makanan terutama daging, telur ayam, seafood (hidangan laut), dan susu. Gejala yang disebabkan adalah diare, demam, dan sakit perut yang timbul antara 12 sampai 72 jam setelah makan makanan yang terkontaminasi Salmonella. Penyembuhan infeksi ini biasanya membutuhkan waktu empat sampai tujuh hari.
    • Shigella: paling sering didapatkan pada negara berkembang dan orang yang bepergian ke negara-negara tersebut. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini disebut disentri basiler. Gejala yang ditimbulkan adalah sakit perut, muntah, diare berdarah dan disertai lendir.
    • E. coli: merupakan penyebab terbesar traveller’s diarrhea (diare pada orang yang sedang bepergian) dan pada negara berkembang terutama anak-anak. Penularannya melalui makanan dan air yang terkontaminasi.
  • Parasit: yang paling banyak ditemukan sebagai penyebab infeksi usus adalah Giardia lamblia. Parasit ini paling sering ditemukan pada orang yang menderita diare yang lama saat bepergian. Diare dapat berlangsung satu hingga dua minggu atau bahkan lebih, dengan gejala lain yaitu tinja yang terlihat berminyak (karena lemak), sakit perut, mual, dan muntah.

Selain itu, Entamoeba histolytica juga merupakan parasit yang sering menyebabkan diare. Infeksi parasit ini disebut dengan penyakit amoebiasis.

Penegakkan diagnosis infeksi usus didasarkan pada gejala dan pemeriksaan seperti:

  • Pemeriksaan tinja, untuk mengetahui karakteristik tinja dan menemukan organisme penyebab.
  • Pemeriksaan darah
  • Kolonoskopi (untuk melihat keadaan saluran pencernaan). Prosedur ini biasanya dilakukan pada gejala yang berat untuk menyingkirkan kemungkinan adanya penyakit usus lain.

Secara umum, terapi untuk infeksi usus ditujukkan untuk mencegah dehidrasi dan mempertahankan nutrisi. Oleh karena itu, saat terserang infeksi usus penderita perlu mengonsumsi banyak air dan makan makanan yang lunak. Untuk konsumsi air, dapat ditambahkan dengan oralit (dapat dibuat di rumah dengan mencampurkan 1 sendok teh gula dan setengah sendok teh garam ke dalam satu liter air). Makanan yang perlu dihindari adalah yang mengandung susu, makanan berlemak, dan alkohol karena dapat memperparah diare.

Terapi spesifik untuk infeksi usus tergantung penyebabnya. Jika infeksi disebabkan oleh virus, biasanya tidak ada terapi spesifik yang diberikan.

Sementara itu, infeksi bakteri membutuhkan antibiotik dengan pilihan jenis antibiotik tergantung dengan jenis bakteri penyebab. Obat yang biasanya digunakan untuk infeksi usus adalah fluorokuinolon, metronidazole, azitromisin, dan trimethoprim-sulfamethoxazole.

Untuk infeksi parasit, biasanya akan diberikan obat antiparasit.

Karena penyebab infeksi usus kebanyakan ditularkan melalui makanan, maka perilaku hidup sehat diperlukan untuk mencegah infeksi usus, seperti:

  • Mencuci tangan, terutama sebelum makan
  • Disinfeksi benda-benda yang terkontaminasi (misalnya permukaan meja yang sebelumnya terkontaminasi dengan muntahan anak)
  • Mencuci bahan makanan yang akan dimasak hingga bersih
  • Memasak makanan hingga matang, terutama daging dan telur
  • Saat bepergian ke negara berkembang, selalu minum dari air mineral kemasan
  • Hindari kontak dekat dengan penderita infeksi usus
  • Infeksi rotavirus dapat dicegah dengan vaksin

Anda disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter jika mengalami gejala-gejala seperti di bawah ini: 

  • Gejala berat (diare >6 kali per hari, sakit perut berat)
  • Demam tinggi
  • Terdapat darah atau lendir pada tinja
  • Diare berkepanjangan (lebih dari dua hari)
  • Gejala dehidrasi (rasa haus berlebihan dan frekuensi buang air kecil berkurang atau jumlah urin berkurang)
  • Membuat janji dengan dokter.
  • Mencatat gejala yang timbul
  • Mencatat daftar pertanyaan yang ingin ditanyakan pada dokter seperti:
    • Apa penyebab gejala yang Anda rasakan?
    • Apakah ada pemeriksaan yang perlu dilakukan?
    • Apa saja terapi yang dibutuhkan?
    • Apakah Anda membutuhkan obat-obatan untuk mengatasinya?
    • Apa yang dapat Anda lakukan sendiri di rumah untuk mengatasi gejala?

Dokter akan bertanya lebih detail mengenai riwayat konsumsi makanan maupun riwayat bepergian, mengenai gejala yang timbul, dan melakukan beberapa pemeriksaan untuk menunjang diagnosis. Jika diagnosis belum dapat dipastikan maka dokter akan merujuk ke spesialis penyakit infeksi.

Beberapa hal yang dapat ditanyakan dokter antara lain:

  • Kapan gejala pertama kali timbul?
  • Apakah gejala dirasakan terus menerus atau hilang timbul?
  • Seberapa berat gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah ada hal-hal yang memperbaiki gejala?
  • Apakah ada hal-hal yang memperburuk gejala?
  • Apakah sebelumnya Anda melakukan kontak dengan orang dengan gejala yang mirip seperti gejala yang Anda rasakan?

Biomerieux. https://www.biomerieux-diagnostics.com/gastrointestinal-infections
diakses pada 26 Desember 2018.

Healthdirect. https://www.healthdirect.gov.au/infections-of-the-bowel
diakses pada 26 Desember 2018.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/viral-gastroenteritis/diagnosis-treatment/drc-20378852
diakses pada 26 Desember 2018.

UHN. https://universityhealthnews.com/daily/digestive-health/intestinal-infection-three-common-causes-two-treatment-options
diakses pada 26 Desember 2018.

Artikel Terkait