Infeksi Saluran Reproduksi

Ditulis oleh Nina Hertiwi Putri
Ditinjau dr. Reni Utari
Infeksi saluran reproduksi bisa menyerang organ genital wanita ataupun pria

Pengertian Infeksi Saluran Reproduksi

Sesuai namanya, infeksi saluran reproduksi merupakan suatu infeksi yang menyerang organ genital seseorang dan dapat dialami pria maupun wanita. Terdapat tiga jenis infeksi saluran reproduksi, yaitu:

  • Infeksi menular seksual, seperti chlamydia, gonore, dan HIV.
  • Infeksi endogenus, yang disebabkan oleh pertumbuhan berlebih dari organisme yang dalam kondisi normal terdapat di saluran reproduksi. Contoh dari kondisi ini adalah vaginosis bakteri dan kandidiasis vulvovaginal.
  • Infeksi iatrogenik, yang disebabkan oleh kesalahan pada prosedur medis, seperti aborsi yang tidak sesuai atau proses melahirkan yang tidak dilakukan dengan tepat.

Infeksi saluran reproduksi merupakan kondisi yang dapat dicegah. Selain itu, dengan diagnosis yang tepat, kondisi ini juga dapat diatasi dengan baik.

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Gejala yang muncul dapat berbeda, tergantung dari jenis infeksi yang dialami. Beberapa jenis penyakit di bawah ini adalah bagian dari infeksi saluran reproduksi yang umum dialami:

  1. Sipilis
    Kondisi ini ditandai dengan munculnya ulkus atau luka yang terlihat seperti sariawan di alat kelamin, anus, maupun rongga mulut. Namun luka tersebut tidak terasa nyeri. Gejala ini akan muncul pada 10 hingga 90 hari setelah terjadinya infeksi.
  2. Chancroid
    Kondisi ini kerap tidak menimbulkan gejala. Namun saat muncul, gejala umumnya baru timbul pada 3-10 hari setelah terjadinya infeksi. Kondisi ini dapat ditandai dengan munculnya luka seperti sariawan berwarna keabuan yang lembek di alat kelamin.
  3. Herpes genital
    Gejala yang dapat timbul pada herpes genital di antaranya adalah muncul benjolan-benjolan kecil pada alat kelamin. Benjolan tersebut dapat pecah dan menyebabkan terbentuknya luka, seperti cekungan, yang terasa nyeri. Munculnya tanda ini juga dapat disertai oleh demam dan nyeri saat buang air kecil.
  4. Gonore
    Gejala gonore akan muncul pada 1-14 hari setelah infeksi. Gejala gonore pada pria di antaranya nyeri saat buang air kecil, menjadi sering buang air kecil yang disertai keluarnya cairan berwarna putih atau kuning (nanah) bersamaan dengan keluarnya urine.

    Sedangkan gejala gonore pada wanita bisa berupa keputihan yang tidak normal, nyeri saat buang air kecil, dan munculnya bercak darah setelah melakukan hubungan seksual. Selain itu, nyeri pada perut bawah dan nyeri saat menstruasi juga bisa jadi merupakan gejala gonore pada wanita.

  5. Chlamidya
    Pada chlamidya, gejala baru akan muncul pada 7 hingga 21 hari setelah infeksi. Kondisi ini dapat ditandai dengan timbulnya cairan seperti keputihan yang lebih encer, timbul bercak-bercak darah setelah berhubungan seksual, serta nyeri saat buang air kecil.

  6. Trichomoniasis
    Gejala khas dari Trikomoniasis ini adalah munculnya keputihan berwarna hijau atau kuning dengan bau yang tidak sedap. Kondisi tersebut juga dapat disertai dengan rasa gatal, kemerahan, lebam, dan nyeri saat buang air kecil.

  7. HPV
    Infeksi HPV dapat terlihat seperti ruam-ruam yang berbeda warna dari warna kulit, dengan konsistensi yang kering dan tidak terasa nyeri. Tanda tersebut dapat muncul di penis, anus, area vulvovaginal, saluran kemih, hingga uretra.

  8. Candidiasis
    Pada beberapa orang, kondisi ini tidak menimbulkan gejala tertentu. Namun saat gejala muncul, penderitanya dapat merasakan gatal, iritasi, dan nyeri pada bagian luar alat kelamin.

  9. Vaginosis Bakteri
    Gejala paling khas dari kondisi ini adalah keluarnya cairan serupa keputihan dari vagina yang berbau sangat menyengat. Selain itu, muncul juga kemerahan serta rasa gatal pada vagina.

Penyebab

Penyebab infeksi saluran reproduksi dapat berbeda, tergantung dari jenis infeksi yang dialami. Berikut penyebab infeksi saluran reproduksi berdasarkan jenis penyakitnya:

  • Sipilis. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri triponema pallidum.
  • Chancroid. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Haemophilus ducreyi.
  • Herpes genital. Penyakit ini disebabkan oleh virus herpes simplex tipe 2.
  • Gonore. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri Neisseria gonorrhoeae.
  • Chlamidya. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Chlamidya trachomatis.
  • Trichomoniasis. Penyakit ini disebabkan oleh protozoa Trichomonas vaginalis.
  • HPV. Disebabkan oleh infeksi Human Papilloma Virus dan menjadi sebab paling umum dari timbulnya kutil kelamin.
  • Candidiasis. Kondisi ini disebabkan oleh infeksi jamur candida albicans.
  • Vaginosis bakteri. Disebabkan karena terjadinya gangguan pada bakteri yang memang terdapat pada vagina pada keadaan normal. Kondisi ini dapat ditandai dengan jumlah bakteri lactobacilli yang berkurang drastis.

Diagnosis

Untuk mendiagnosis kondisi ini, beberapa langkah perlu dilakukan. Pada awal pemeriksaan, dokter akan menanyakan mengenai gejala infeksi yang Anda rasakan. Karena beberapa gejala kondisi ini bisa tidak dirasakan oleh penderitanya, dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan menggunakan alat tertentu.

Dokter juga mungkin akan menyarankan Anda untuk melakukan pemeriksaan di laboratorium. Jenis pemeriksaan laboratorium yang dilakukan dapat berbeda tergantung dari jenis infeksi yang mungkin dialami. Contoh pemeriksaan yang mungkin dianjurkan meliputi:

  • Pemeriksaan serologis untuk mendeteksi sipilis
  • Pap smear untuk mendeteksi kanker serviks
  • Pemeriksaan dan konseling untuk mendeteksi HIV

Pengobatan

Pengobatan untuk infeksi saluran reproduksi akan disesuaikan dengan gejala yang muncul. Untuk mendapatkan perawatan yang tepat dan efektif sesuai kondisi, Anda perlu mengonsultasikannya dengan dokter.

Untuk mengatasi keputihan yang muncul akibat infeksi ini, dokter dapat memberikan obat metronidazole untuk kondisi yang disebabkan oleh bakteri dan miconazole bagi yang disebabkan oleh jamur. Sedangkan untuk infeksi yang terjadi sekitar area rahim, seperti gonore dan chlamydia, dokter mungkin akan meresepkan obat antibiotik seperti cefixime dan azithromycin.

Salah satu gejala yang kerap muncul pada penderita infeksi saluran reproduksi adalah munculnya ulkus. Untuk membantu mengatasinya, Anda dapat melakukan langkah-langkah di bawah ini:

  • Pengobatan penyakit yang mendasari munculnya ulkus.
  • Jaga kebersihan ulkus dan pastikan ulkus tetap kering.
  • Konsumsi obat yang diresepkan oleh dokter. Dokter mungkin akan memberikan obat-obatan, seperti penisilin, ciproflaxin, maupun acyclovir, bergantung dari kondisi yang Anda alami.

Infeksi saluran reproduksi merupakan gabungan dari berbagai penyakit dan jangkauannya sangatlah luas. Karena itu, Anda perlu memeriksakan diri ke dokter guna mengetahui pengobatan yang tepat dan sesuai untuk kondisi Anda.

Pencegahan

Cara terbaik untuk mencegah infeksi saluran reproduksi adalah dengan tidak melakukan hubungan seksual sama sekali. Namun apabila Anda termasuk orang yang aktif secara seksual, beberapa cara di bawah ini bisa Anda lakukan guna mengurangi risiko penularannya:

  • Tanyakan kepada pasangan Anda apakah dia memiliki riwayat pernah menderita atau sedang menderita infeksi saluran reproduksi. Tanyakan juga apakah pasangan Anda akhir-akhir ini merasakan gejala tertentu yang tidak jelas penyebabnya.
  • Jangan berhubungan seks apabila pasangan Anda mengalami tanda dan gejala, seperti ruam, luka, atau munculnya nanah pada area genital.
  • Pada kebanyakan kasus, kondisi ini bisa tidak menimbulkan gejala, namun tetap menular. Karena itu, Anda disarankan untuk tidak melakukan hubungan seksual dengan pasangan Anda apabila Anda mencurigainya menderita infeksi ini, meski tidak muncul tanda dan gejala tertentu.
  • Gunakan kondom dengan benar saat melakukan hubungan seksual secara anal, oral, maupun vaginal.
  • Lakukan pemeriksaan berkala untuk melihat apakah Anda maupun pasangan terinfeksi kondisi ini.

Informasi Dokter

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Anda disarankan untuk segera memeriksakan diri ke doker apabila Anda merasakan gejala-gejala infeksi saluran reproduksi seperti di atas. Selain itu, bila Anda mencurigai pasangan Anda menderita salah satu penyakit di atas atau khawatir karena telah melakukan hubungan seksual tanpa kondom, pemeriksaan ke dokter juga perlu dilakukan.

Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Berkonsultasi dengan Dokter?

Meski tidak semua infeksi saluran reproduksi disebabkan oleh infeksi secara seksual, sebagian besar merupakan penyakit yang ditularkan secara seksual. Karena itu, saat pemeriksaan, dokter mungkin akan menanyakan seputar riwayat seksual Anda.

Di samping itu, beberapa hal ini juga dapat Anda lakukan sebagai persiapan sebelum mengunjungi dokter:

  • Perhatikan apakah ada pantangan yang perlu dihindari. Saat membuat janji konsultasi dengan dokter, tanyakan apakah ada sesuatu yang harus Anda persiapkan sebelumnya.
  • Catat gejala apa saja yang Anda rasakan. Tidak hanya yang menurut Anda berkaitan dengan infeksi ini, Anda juga perlu mencatat kondisi lain meski sekiranya tidak berkaitan.
  • Catat obat-obatan yang sedang Anda konsumsi. Tidak hanya obat, vitamin serta suplemen yang sedang Anda konsumsi juga harus dicatat.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang akan Anda ajukan.

Apa yang Akan Dilakukan Dokter pada Saat Konsultasi?

Saat memeriksa, dokter mungkin akan mengajukan beberapa pertanyaan yang meliputi:

  • Gejala apa yang menjadi pemicu Anda memeriksakan diri ke dokter? Berapa lama Anda telah merasakan gejala tersebut?
  • Apakah Anda aktif secara seksual?
  • Apa yang telah Anda lakukan untuk melindungi diri dari infeksi ini?
  • Apakah Anda pernah didiagnosis menderita penyakit menular seksual?
  • Apakah Anda pernah mendapatkan perawatan untuk meredakan gejala infeksi ini?
  • Kapan terakhir kali Anda melakukan hubungan seksual?
Referensi

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3345627/
Diakses pada 23 April 2019

Health Education to Villages, WHO. http://hetv.org/resources/reproductive-health/rtis_gep/detecting.htm
Diakses pada 23 April 2019

Health Education to Villages, WHO. http://hetv.org/resources/reproductive-health/rtis_gep/management.htm
Diakses pada 23 April 2019

Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/reproductivehealth/productspubs/pdfs/epi_module_03a_tag508.pdf
Diakses pada 23 April 2019

Back to Top