Kulit & Kelamin

Impotensi

19 Feb 2021 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Impotensi
Risiko terkena impotensi akan meningkat dengan bertambahnya umur.
Impotensi adalah jenis gangguan seksual yang membuat seorang pria secara teratur merasa kesulitan mendapatkan atau mempertahankan ereksi. Impotensi yang juga disebut sebagai disfungsi ereksi dapat terjadi pada pria di berbagai kalangan usia.Risiko terkena impotensi dapat meningkat seiring bertambahnya usia, meski begitu, hal ini bukanlah bagian normal dari proses penuaan. Penyebabnya sangat beragam, mulai dari penyakit kronis, efek samping obat-obatan, konsumsi alkohol berlebihan, kelelahan, hingga berbagai faktor psikologis.Disfungsi ereksi umumnya bukanlah kondisi yang mengancam jiwa, tetapi dapat berdampak serius pada kesehatan mental, keharmonisan hubungan, dan kualitas hidup seorang pria.Tak perlu malu untuk berkonsultasi dengan dokter apabila mengalami impotensi. Kondisi ini adalah masalah yang cukup umum terjadi dan dapat diobati. Diagnosis yang tepat untuk menentukan penyebabnya adalah langkah utama untuk mendapatkan pengobatan yang efektif.Perawatan impotensi atau disfungsi ereksi meliputi pemberian obat-obatan, terapi psikologis, penyesuaian gaya hidup, hingga operasi. 
Impotensi
Dokter spesialis Urologi
GejalaKesulitan mendapatkan ereksi, kesulitan mempertahankan ereksi, hasrat seksual yang berkurang
Faktor risikoDiabetes, perokok, obesitas
Metode diagnosisTes darah, tes urine, USG
PengobatanPerubahan gaya hidup, obat-obatan, operasi
ObatSildenafil, tadalafil, vardenafil 
KomplikasiStres, gangguan cemas, ketidakmampuan untuk membuat pasangan hamil
Kapan harus ke dokter?Memiliki gejala impotensi, memiliki riwayat diabetes dan penyakit jantung
Gejala yang ditimbulkan ketika seseorang mengalami impotensi, meliputi:
  • Penis sulit ereksi
  • Kesulitan mempertahankan ereksi
  • Penurunan seksual
Baca juga: Morning Wood, Penis Ereksi di Pagi Hari Normal Terjadi? 
Impotensi dapat terjadi karena gangguan pada setiap tahapan proses ereksi, baik secara fisik maupun psikologis. Ereksi merupakan suatu reaksi yang dihasilkan dari peningkatan aliran darah ke penis. Aliran darah tersebut biasanya dirangsang oleh gairah seksual atau kontak langsung dengan penis.Saat seorang pria terangsang secara seksual, otot-otot di penis mengendur. Hal ini memungkinkan peningkatan aliran darah melalui arteri penis, yang selanjutnya mengisi dua ruang di dalam penis. Saat bilik terisi darah, penis menjadi kaku dan proses ereksi akan terjadi.Sementara itu, gairah seksual pada pria adalah proses yang cukup kompleks. Hal ini melibatkan berbagai faktor dari otak, hormon, emosi, saraf, otot, dan pembuluh darah. Jadi, masalah pada salah satu sistem tubuh yang berhubungan dengan gairah seksual dan proses ereksi, dapat menimbulkan disfungsi ereksi.Berikut ini berbagai penyebab disfungsi ereksi berdasarkan faktor yang memengaruhinya:

Faktor fisik

  • Penyakit jantung dan penyempitan pembuluh darah
  • Aterosklerosis, yang membuat pembuluh darah tersumbat
  • Kolesterol tinggi
  • Kadar testosteron rendah atau ketidakseimbangan hormon lainnya
  • Tekanan darah tinggi
  • Diabetes
  • Kegemukan
  • Penyakit Parkinson
  • Multiple sclerosis
  • Penyakit Peyronie, yang menyebabkan jaringan parut berkembang di penis
  • Penyakit ginjal
  • Gangguan tidur

Faktor psikologis

Baca juga: Merasa Jenuh? Coba 7 Cara agar Hubungan Pasutri Membuat Rumah Tangga Harmonis 

Faktor risiko

Berbagai faktor berikut dikaitkan erat sebagai pemicu terjadinya impotensi, antara lain:

Efek samping obat-obatan

  • Obat tekanan darah
  • Antiandrogen yang digunakan untuk terapi kanker prostat
  • Antidepresan
  • Obat penenang
  • Obat penekan nafsu makan
  • Obat maag
  • Antihistamin, obat-obatan untuk alergi

Kondisi dan perilaku terkait masalah kesehatan

  • Kelelahan
  • Merokok
  • Mengonsumsi alkohol terlalu banyak
  • Menggunakan obat-obatan terlarang
  • Jarang berolahraga
  • Komplikasi dari operasi prostat atau kandung kemih
  • Komplikasi dari terapi pada testis
  • Komplikasi dari pembedahan yang memengaruhi area panggul atau sumsum tulang belakang
 
Dokter akan mendiagnosis impotensi dengan beberapa langkah pemeriksaan berikut ini.
  • Tanya jawab dan pemeriksaan fisik
Dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan atau meminta pasien mengisi kuesioner tentang gejala, riwayat kesehatan, dan riwayat seksual untuk memastikan penyebab impotensi.Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dengan memantau jantung dan paru-paru pasien. Selain itu, tekanan darah, testis dan penis pasien juga akan diperiksa. Dokter juga mungkin akan melakukan pemeriksaan rektal untuk melihat kondisi prostat pasien.
  • Ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan USG dilakukan untuk memeriksa pembuluh darah penis untuk mendeteksi masalah pada aliran darah penis.
  • Nocturnal penile tumescence (NPT)
Tes ini dilakukan menggunakan perangkat portabel bertenaga baterai yang dikenakan di paha pasien. Tujuannya adalah untuk mengevaluasi kualitas ereksi pasien saat tertidur. Dalam kondisi normal, seorang pria dapat ereksi 3-5 kali selama tidur di malam hari. Penurunan frekuensi ereksi menandakan masalah pada fungsi saraf atau sirkulasi darah penis.
  • Tes injeksi
Tes ini dilakukan untuk mengevaluasi kekencangan ereksi dan mengetahui jangka waktu ereksi berlangsung. Tes injeksi terdiri dari beberapa jenis, yakni Intracavernosal injection yang dilakukan dokter dengan menyuntikkan obat ke pangkal penis dan Intrauretral injection yang disuntikkan ke dalam uretra.
  • Tes urine
Tes urine dapat digunakan untuk memeriksa diabetes atau kondisi kesehatan lain yang mendasari impotensi seperti kelainan ginjal atau kurangnya hormon testosterone.
  • Tes darah
Tes darah digunakan untuk memeriksa penyebab dari penyakit seperti diabetes, penyakit jantung, masalah tiroid, dan tingkat testosteron yang rendah. 
Dokter akan merekomendasikan pengobatan atau perawatan yang tepat berdasarkan penyebabnya. Untuk mengobati impotensi, biasanya dokter akan merekomendasikan:

Obat-obatan

  • PDE5 inhibitors

    • Sildenafil
    • Tadalafil
    • Vardenafil
    • Avanafil
Keempat obat di atas bekerja dengan meningkatkan efek suatu bahan kimia di tubuh yang disebut oksida nitrat. Zat tersebut diproduksi secara alami oleh tubuh untuk melemaskan otot-otot di penis. Proses tersebut akan turut meningkatkan aliran darah ke penis dan memungkinkan seseorang mengalami ereksi sebagai respons terhadap rangsangan seksual.Mengonsumsi salah satu dari tablet tersebut, tidak akan secara otomatis menghasilkan ereksi. Stimulasi seksual tetap diperlukan agar oksida nitrat dapat dilepaskan oleh saraf penis. Penggunaan obat-obatan ini harus dengan resep dokter dan tidak boleh dikonsumsi oleh seseorang yang memiliki penyakit jantung.
  • Injeksi alprostadil

Obat ini digunakan dengan cara menyuntikan sendiri jarum halus yang berisi alprostadil ke pangkal atau samping penis. Umumnya, setiap dosis pada suntikan yang diberikan akan menciptakan ereksi yang berlangsung tidak lebih dari satu jam.Jarum yang digunakan pada obat ini sangat halus sehingga nyeri yang ditimbulkan dari proses penyuntikan biasanya terasa ringan.
  • Supositoria uretra alprostadil

Selain disuntikkan, alprostadil juga dapat diberikan dalam bentuk suppositoria yang ditempatkan di dalam uretra penis. Obat ini biasanya dilengkapi dengan aplikator khusus untuk memasukkan supositoria ke dalam uretra di dalam penis.Ereksi biasanya dimulai dalam 10 menit setelah obat ditempatkan dan, bila efektif, akan berlangsung antara 30 dan 60 menit.

Tindakan medis

  • Penis pumps (perangkat ereksi vakum)

Vakum penis, disebut juga dengan pompa penis adalah suatu alat khusus yang bekerja dengan cara menghisap udara melalui perangkat tabung tersebut agar darah dapat mengalir ke penis dan ereksi bisa terjadi.
  • Implan penis

Prosedur ini termasuk ke dalam operasi bedah yang bertujuan untuk menanamkan implan di kedua sisi penis. Implan penis terdiri dari batang yang dapat ditiup atau ditekuk sehingga memungkinkan penggunanya dapat mengontrol kapan dan berapa lama ereksi terjadi. Implan penis biasanya tidak disarankan sebelum mencoba metode lain.

Terapi psikologis

Terapi psikologis dibutuhkan bagi impotensi akibat faktor psikologis seperti stres, kecemasan, depresi atau masalah rumah tangga dengan pasangan. Seorang psikolog atau psikiater dapat melakukan terapi psikologis untuk membantu pasien mengidentifikasi tekanan emosional pemicu disfungsi ereksi.Jika disfungsi ereksi telah memengaruhi hubungan pasien dan pasangannya, dokter mungkin akan menyarankan untuk berkonsultasi lebih lanjut dengan konselor pernikahan.  Sesi terapi bersama dengan konselor pernikahan dapat membantu pasien dan pasangan terhubung kembali secara emosional.

Penyesuaian gaya hidup

  • Olahraga berupa:

    • Latihan kegel yang diyakini dapat memperbaiki proses ereksi. Olahraga ini terdiri dari berbagai gerakan yang ditujukan untuk memperkuat otot panggul.
    • Aerobik dapat meningkatkan aliran darah yang dibutuhkan saat proses ereksi. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa olahraga aerobik seperti senam atau berlari dapat mengurangi disfungsi ereksi opada orang-orang yang mengalami obesitas, hipertensi atau pun penyakit jantung. Selain itu, kadar testosterone juga dapat turut meningkat karena adanya pengurangan lemak tubuh.
    • Yoga dapat membantu menenangkan pikiran dan tubuh sehingga dapat ikut mengurangi stres atau kecemasan yang mungkin menyebabkan impotensi.
  • Mengatur pola makan yang berfokus pada:

    • Biji-bijian, sayuran dan buah-buahan
    • Batasi konsumsi daging merah, produk olahan susu berlemak dan gula olahan.
    • Batasi konsumsi alkohol
  • Pengobatan alternatif

    Pengobatan alternatif seperti akupuntur dapat memicu stimulasi saraf, yang kemudian berdampak pada pelepasan neurotransmitter. Akupuntur dan pijat dipercaya dapat berkontribusi pada menurunnya kejadian disfungsi ereksi akibat faktor psikologis. Meski begitu, belum ada bukti yang cukup memadai akan hal tersebut.
  • Memperbaiki gaya hidup dengan berhenti merokok dan menghindari konsumsi narkoba.
Baca jawaban dokter: Bolehkah meminum viagra tanpa resep dokter? 

Komplikasi

Komplikasi akibat impotensi dapat meliputi:
  • Kehidupan seks yang tidak memuaskan
  • Stres atau gangguan kecemasan
  • Merasa malu atau memiliki harga diri yang rendah
  • Bermasalah dalam hubungan dengan pasangan
  • Ketidakmampuan untuk membuat pasangan hamil
Baca juga: Alami Disfungsi Ereksi? Masih Ada Banyak Cara Memuaskan Istri di Ranjang 
Impotensi dapat dicegah dengan gaya hidup yang sehat dan mengelola kondisi kesehatan, seperti:
  • Berolahraga secara teratur
  • Melakukan langkah-langkah untuk mengurangi stres
  • Mengatasi gangguan kecemasan, depresi atau kesehatan mental lainnya dengan berkonsultasi dengan konselor
  • Menghentikan kebiasaan merokok, membatasi konsumsi alkohol, dan tidak menyalahgunakan obat-obatan terlarang
  • Menemui dokter untuk menjalani pemeriksaan rutin dan skrining medis
  • Berkonsultasi dengan dokter untuk mengobati diabetes, penyakit jantung, atau kondisi kesehatan kronis lain
 
Temui dokter jika mengalami masalah ereksi, seperti:
  • Memiliki gejala lain disertai dengan disfungsi ereksi
  • Memiliki diabetes, penyakit jantung, atau kondisi kesehatan lain yang terkait dengan disfungsi ereksi
  • Khawatir mengenai ereksi atau mengalami masalah seksual lain seperti ejakulasi dini atau ejakulasi yang tertunda
 
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter, seperti:
  • Apa penyebab dari masalah ereksi?
    • Apa pengobatan dan perawatan yang direkomendasikan?
    • Jenis tes apa yang harus dilakukan?
    • Apa saja efek samping dari obat yang disarankan?
    • Bagaimana cara untuk mengelola kondisi kesehatan lain yang disertai dengan disfungsi ereksi?
    • Apa pantangan yang harus dilakukan?
    • Apakah saya harus berkonsultasi dengan dokter spesialis?
    • Apakah Anda memiliki brosur atau media cetak lain yang direkomendasikan untuk Saya baca?
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang dialami?
  • Apakah Anda memiliki kondisi kesehatan kronis lain selain yang dialami?
  • Apakah Anda mengalami ereksi selama masturbasi, dengan pasangan, atau saat tidur?
  • Apakah pasangan memiliki masalah seksual?
  • Kapan mengalami gejala tersebut?
  • Apakah Anda minum alkohol? Seberapa sering dan seberapa banyak?
  • Apakah Anda menggunakan obat-obatan terlarang?
  • Obat apa yang Anda konsumsi?
  • Apakah Anda mengalami gelisah, tertekan, atau stres?
  • Apakah masalah ereksi ini terjadi sepanjang waktu atau hanya sesekali?
  • Apa yang membuat gejala membaik dan memburuk?
  • Apakah Anda pernah didiagnosis masalah kesehatan lain?
  • Apakah pernah mengalami perubahan hasrat seksual?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis impotensi agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Family Doctor. https://familydoctor.org/condition/erectile-dysfunction
Diakses pada 29 November 2018
Healthline. https://www.healthline.com/symptom/erectile-dysfunction
Diakses pada 15 Januari 2021
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/erectile-dysfunction/symptoms-causes/syc-20355776
Diakses pada 15 Januari 2021
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/erection-problems-erectile-dysfunction
Diakses pada 28 November 2018
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3731873/
Diakses pada 15 Januari 2021
BJUI International. https://bjui-journals.onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1111/j.1464-410X.2005.05690.x
Diakses pada 15 Januari 2021
Sexual Medicine Open Access. https://www.smoa.jsexmed.org/article/S2050-1161(18)30029-1/fulltext
Diakses pada 15 Januari 2021
NIDDK. https://www.niddk.nih.gov/health-information/urologic-diseases/erectile-dysfunction/symptoms-causes
Diakses pada 15 Januari 2021
NCBI.https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC403839/
Diakses pada 15 Januari 2021
 
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email