Infeksi

HIV dan AIDS

Diterbitkan: 14 Oct 2020 | dr. Levina FeliciaDitinjau oleh dr. Reni Utari
image HIV dan AIDS
Penderita HIV dan AIDS akan mengalami kerusakan pada sistem imun
HIV dan AIDS adalah penyakit yang merusak sistem kekebalan tubuh. Akibatnya, penderita akan lebih rentan terkena beragam gangguan medis lain. Meski begitu, kedua penyakit ini sebenarnya memiliki perbedaan.Human immunodeficiency virus (HIV) adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh dan sel CD4. Semakin kuat virus dalam menghancurkan sel CD4, penderita akan berisiko lebih tinggi untuk terkena berbagai jenis infeksi maupun kanker.Sedangkan acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) adalah kondisi infeksi HIV pada stadium akhir. Penderita akan mengalami berbagai infeksi oportunistik akibat penurunan daya tahan tubuh akibat HIV.Sampai saat ini, belum ada obat untuk menyembuhkan HIV maupun AIDS. Karena itu, penyakit ini masih menjadi perhatian para pakar kesehatan.Secara gloal, Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan terdapat sekitar 38 juta orang yang mengidap HIV pada akhir tahun 2019. Sedangkan angka kematian akibat penyakit ini mencapai 690 ribu jiwa, dan angka penderita baru berjumlah 1,7 juta orang pada tahun yang sama.HIV ditularkan melalui hubungan seks tanpa kondom, baik seks oral, vaginal, atau anal. Penyebaran virus juga bisa terjadi lewat transfusi darah atau saling meminjamkan jarum suntik dengan penderita HIV.Tak hanya itu, penularan HIV pun dapat terjadi dari ibu pada bayi selama kehamilan, persalinan, hingga menyusui. Namun virus ini tidak akan menular lewat kontak biasa (seperti berpelukan dan bersalaman), udara, maupun air. 
HIV dan AIDS
Dokter spesialis Penyakit Dalam
GejalaDemam, diare kronis, sariawan
Faktor risikoHubungan seks tanpa kondom, berbagi jarum suntik, penyakit menular seksual
Metode diagnosisTes antigen/antibodi, tes kadar CD4, tes viral load
PengobatanTerapi antiretroviral (ARV)
ObatNNRTI, NRTI, protease inhibitor
KomplikasiPCP, kandidiasis, meningitis
Kapan harus ke dokter?Muncul gejala infeksi HIV, memiliki risiko tinggi
Gejala HIV dan AIDS akan berbeda-beda dan tergantung pada fase infeksi. Berikut penjelasannya:

Tahap 1 - Infeksi primer (HIV akut)

Pada infeksi primer, gejala yang timbul biasanya berupa keluhan yang mirip flu. Contohnya, demam, sakit kepala, sakit tenggorokan, serta nyeri otot dan sendi. Namun ruam kulit, diare, penurunan berat badan, keringat malam, maupun pembengkakan kelenjar getah bening di leher juga bisa terjadi.Gejala kerap ringan sehingga infeksi tidak disadari oleh penderita. Tapi jumlah virus dalam aliran darah (viral load) cukup tinggi.Sebagai akibatnya, infeksi akan lebih mudah menyebar selama infeksi primer berlangsung daripada tahap HIV berikutnya. Tahap ini umumnya berlangsung pada 2-4 minggu setelah seseorang terinfeksi HIV.

Tahap 2 - Infeksi klinis laten

Tahap infeksi klinis laten juga disebut HIV kronis dan HIV inaktif atau dorman. Tahap ini dapat berlangsung selama bertahun-tahun, terutama jika penderita tidak mengonsumsi obat terapi antiretroviral (ARV).Penderita bahkan bisa sama sekali tidak mengalami gejala, sehingga tahap ini terkadang dinamakan infeksi HIV asimtomatis.

Tahap 3 - Infeksi HIV bergejala

Tahap infeksi HIV dengan gejala muncul ketika virus terus berkembang dan menghancurkan sel-sel kekebalan tubuh penderita. Gejala di tahap ini meliputi:

Tahap 4 - AIDS

HIV dapat berkembang menjadi AIDS ketika virus sudah melemahkan atau menghancurkan sel T. Sel ini bagian dari sistem imun tubuh yang berperan melawan berbagai penyakit.Pada tahap ini, penderita dapat mengalami berbagai infeksi yang kambuh berulang kali, bahkan mengalami infeksi oportunistik. Tanda AIDS lainnya bisa berupa:
 
Penyebab HIV dan AIDS adalah infeksi human immunodeficiency virus. Penularannya dapat terjadi melalui:
  • Darah

HIV bisa ditularkan melalui cairan darah. Mulai dari pemakaian jarum suntik bersama-sama (baik narkotika, hormon, atau obat lainnya), pembuatan tato dengan jarum yang sudah terkontaminasi, hingga transfusi darah.
  • Kontak seksual

HIV juga dapat menular melalui kontak seksual berupa air mani, cairan vagina, dan cairan dari anus, terutama jika hubungan intim dilakukan tanpa menggunakan kondom.
  • Kehamilan, persalinan, dan menyusui

Ibu hamil dapat menularkan HIV pada anak selama hamil atau persalinan. Virus ini juga bisa masuk ke dalam air susu ibu (ASI) dan menyebar lewat proses menyusui.HIV tidak menular melalui kontak kulit, jabat tangan, keringat, maupun ludah. Namun waspadalah jika ada sariawan atau luka pada bibir karena ini dapat menjadi media penularan virus. 

Faktor risiko HIV dan AIDS

Terdapat berbagai faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami HIV dan AIDS. Beberapa di antaranya meliputi:
  • Berganti-ganti pasangan
  • Tidak menggunakan pengaman saat berhubungan seks
  • Mengidap penyakit menular seksual, misalnya herpes, sifilis, klamidia, gonore, serta vaginosis bakteri
  • Saling meminjamkan jarum suntik, khususnya pada pengguna narkoba suntik
  • Memiliki risiko tertusuk jarum suntik yang sudah tercemar virus, misalnya para petugas kesehatan
  • Melakukan tato atau tindikan di tempat dengan reputasi yang tidak terjamin
  • Menjalani transfusi darah atau prosedur medis tertentu, seperti operasi transplantasi
 

Faktor yang memengaruhi perkembangan HIV menuju AIDS

Risiko berkembangnya HIV menjadi AIDS bervariasi tiap penderita. Kondisi ini tergantung pada berbagai faktor di bawah ini:
  • Usia
  • Sistem kekebalan tubuh
  • Akses untuk pusat layanan kesehatan
  • Ada tidaknya infeksi penyerta
  • Faktor genetik, yaitu ada tidaknya kekebalan terhadap jenis virus HIV tertentu
  • Virus HIV yang kebal terhadap obat-obatan
Baca juga: Cara Memakai Kondom yang Benar Agar Tidak Hamil dan Tertular Penyakit Kelamin 
Untuk memastikan diagnosis HIV dan AIDS, dokter biasanya akan menggunakan serangkaian pemeriksaan di bawah ini:
  • Tes antigen/antibodi

Pemeriksaan antigen/antibodi dilakukan melalui tes darah. Tes ini dapat mendeteksi ada tidaknya antibodi atau antigen HIV dalam tubuh penderita.Hasil tes yang positif akan menandakan keberadaan antibodi terhadap HIV. Ini berarti, pasien sudah terjadi infeksi HIV.Sedangkan hasil tes negatif menandakan bahwa tidak ada infeksi HIV yang terjadi. Namun antibodi HIV umumnya baru akan muncul setelah 12 minggu setelah seseorang mengalami infeksi.Jadi meski hasil pemeriksaan HIV ini negatif, pasien tetap perlu mengulangi tes untuk memastikan diagnosis (biasanya tiga bulan sesudah tes pertama).
  • Uji asam nukleat (NAT)

Uji asam nukleat (NAT) dilakukan pada seseorang yang memiliki gejala awal HIV untuk mendeteksi keberadaan virus (viral load). Jika ada kemungkinan pasien terpapar HIV dalam beberapa minggu terakhir, dokter bisa merekomendasikan pemeriksaan ini.
  • Tes sel CD4

Sesuai namanya, tes ini akan mendeteksi kadar sel CD4 dalam tubuh pasien. CD4 adalah salah satu sel darah putih yang penting untuk daya tahan tubuh.Pada kondisi normal, jumlah CD4 adalah 500-1.400 sel per milimeter kubik darah. Namun pada pengidap HIV, penurunan CD4 akan terjadi dengan angka kurang dari 200.
  • Tes viral load 

Tes viral load (HIV RNA) atau beban virus dilakukan dengan menghitung jumlah virus dalam darah. Pemeriksaan ini akan menunjukkan perkembangan virus.Jika jumlah viral load di bawah 10.000, berarti perkembangan virus tidak terlalu cepat. Namun bila jumlahnya di atas 100.000, proses perkembangan virus tergolong sangat aktif. Contohnya, pada kondisi HIV yang tidak ditangani dengan benar.
  • Tes resistensi obat

Tes resistensi obat dilakukan untuk membantu dokter dalam menentukan pengobatan yang akan diberikan pada pasien. 
Hingga sekarang, belum ada obat yang bisa menyembuhkan HIV dan AIDS. Namun ada dokter dapat memberikan beberapa jenis obat untuk mengurangi atau menghambat perkembangbiakan virus ini dalam tubuh pasien.Cara mengobati HIV dan AIDS tersebut dilakukan dengan terapi antiretroviral (ARV). Terapi ini pemberian obat yang meliputi:
  • Non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTI), seperti efavirenz dan nevirapine.
  • Nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NRTI), seperti zidovudine, lamivudine, serta abacavir.
  • Protease inhibitor (PI), seperti nelfinavir.
  • Fusion inhibitor untuk mencegah HIV masuk dalam sel pada sistem kekebalan tubuh. Contoh obatnya adalah enfuvirtide.
  • Integrase Inhibitor untuk melumpuhkan protein HIV agar tidak memasukkan materi genetiknya pada sel kekebalan tubuh. Raltegravir termasuk contoh obat ini.
Dokter umumnya memberikan terapi antiretroviral dengan menggabungkan beberapa jenis obat. Obat-obatan ini harus diminum setiap hari untuk menekan perkembangan virus.Meski begitu, terapi ARV tetap dapat memicu efek samping. Beberapa di antaranya adalah mulut kering, diare, mual, muntah, sakit kepala, tubuh yang lemah, sulit tidur, dan tulang rapuh.Di samping terapi ARV, orang dengan HIV/AIDS (ODHA) juga akan membutuhkan penanganan tertentu guna mengatasi infeksi lain yang dialaminya.Dokter juga akan terus memantau jumlah virus (viral load) dan sel CD4 dalam tubuh pasien. Pemeriksaan ini akan dilakukan tiap 3-6 bulan. 

Komplikasi HIV dan AIDS

Bila terus dibiarkan tanpa penanganan, HIV dan AIDS bisa menyebabkan komplikasi berupa:
  • Pneumocystis pneumonia (PCP)

PCP disebabkan oleh infeksi jamur, dan merupakan infeksi oportunistik paling umum dari HIV.
  • Tuberkulosis (TBC)

TBC merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak pada ODHA.
  • Kandidiasis

Kandidiasis adalah infeksi jamur Candida di dalam mulut, lidah, kerongkongan, hingga vagina.
  • Cytomegalovirus (CMV)

Cytomegalovirus merupakan virus herpes yang bisa memicu komplikasi berupa kerusakan mata, paru-paru, dan saluran cerna bila dialami oleh orang dengan sistem imun lemah seperti penderita HIV.
  • Cryptococcal meningitis

Cryptococcal meningitis adalah infeksi jamur pada sistem saraf. Infeksi ini berkaitan dengan HIV.
  • Toksoplasmosis

Toksoplasmosis adalah infeksi parasit Toxoplasma gondii yang bisa memicu penyakit jantung dan kejang-kejang.Baca juga: Waspadai Infeksi Oportunistik dan Komplikasi HIV yang Berbahaya Ini 
Vaksin untuk mencegah HIV atau AIDS memang belum tersedia. Namun Anda bisa menghindari infeksi ini melalui cara-cara berikut:
  • Setialah pada pasangan
  • Tidak berganti-ganti pasangan seks
  • Melakukan hubungan seks dengan kondom
  • Menjalani tes HIV untuk untuk orang yang berisiko tinggi tertular HIV, misalnya pekerja seks, pengguna narkoba, dan tenaga medis
  • Melakukan tes penyakit menular seksual karena penyakit ini dapat meningkatkan risiko HIV
  • Jangan berbagi jarum suntik dengan orang lain
  • Jika memungkinkan, mengonsumsi obat post-exposure prophylaxis (PEP) ketika curiga telah terpapar HIV setelah melakukan aktivitas berisiko tinggi, seperti hubungan seksual tidak aman
  • Bila perlu, mengonsumsi obat pre-exposure prophylaxis (PrEP) secara konsisten untuk orang yang berisiko tinggi tertular HIV
 

Tips hidup sehat bagi penderita HIV

Penderita HIV dihimbau untuk menerapkan beragam langkah hidup sehat untuk menjaga agar kondisinya tetap prima. Apa sajakah yang bisa dilakukan?
  • Menjaga pola makan

Pola makan sehat sangat penting bagi penderita HIV. Mereka dapat mengonsumsi berbagai bahan pangan yang mengandung nutrisi pendukung untuk mempertahankan daya tahan tubuh akan suplemen agar tetap kuat.Untuk lebih amannya, penderita dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis gizi klinis. Dokter bisa membantu dalam merencanakan pola makan yang sehat dengan gizi seimbang sekaligus sesuai dengan kegemaran pasien.
  • Menjaga berat badan

Menjaga berat badan agar tetap pada batas ideal juga krusial dalam melawan virus. Pasalnya, berat badan berlebih atau kurang dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh.
  • Rutin berolahraga

Banyak penderita HIV yang perlahan-lahan akan kehilangan kekuatan dan massa ototnya. Untuk mengatasi kondisi ini, olahraga bisa menjadi pilihan terbaik.Olahraga akan kembali membangun massa dan menguatkan otot. Latihan fisik ini juga mampu meningkatkan mood, stamina, kelenturan tubuh, sekaligus menjaga berat badan penderita.Pasien tidak perlu repot-repot ke gym. Jenis olahraga biasa juga sudah cukup (seperti berjalan kaki dan berenang), asal dilakukan sesuai dengan saran dokter.
  • Mengonsumsi obat-obatan secara teratur

Walau tidak bisa menyembuhkan HIV, obat-obatan yang tersedia dapat menjaga agar jumlah virus tetap terkendali dan membantu dalam mempertahankan daya tahan tubuh. Jadi pasien perlu mengonsumsinya secara teratur dan sesuai anjuran dokter.
  • Melakukan check-up secara teratur ke dokter

ODHA perlu melakukan pemeriksaan rutin ke dokter, setidaknya dua bulan sekali. Pasien juga perlu segera memeriksakan diri apabila merasa kurang sehat.
  • Bergabung dalam komunitas yang solid dan mendukung

Dukungan emosional sangat penting untuk menjaga kesehatan tubuh maupun pikiran. ODHA dapat memilih dan bergabung dalam komunitas yang cocok untuknya.Dalam komunitas tersebut, penderita HIV bisa saling berbagi cerita dan mendukung supaya tetap semangat dalam menjalani kehidupannya. 
Jika mencurigai Anda sudah terinfeksi HIV atau memiliki risiko tinggi untuk tertular, segera periksakan diri ke dokter. Dengan ini, pemeriksaan dan penanganan bisa dilakukan secepat mungkin. 
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat semua hal dan aktivitas yang mungkin meningkatkan risiko penularan HIV pada diri Anda.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Sejak kapan gejala muncul?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait HIV dan AIDS?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis HIV agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
CDC. https://wwwn.cdc.gov/hivrisk/what_is/stages_hiv_infection.html
Diakses pada 7 November 2018
Healthline. https://www.healthline.com/health/hiv-aids
Diakses pada 7 November 2018
ICHRC. http://www.ichrc.org/821-obat-antiretroviral
Diakses pada 7 November 2018
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hiv-aids/symptoms-causes/syc-20373524
Diakses pada 7 November 2018
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/hiv-and-aids
Diakses pada 7 November 2018
SIHA Depkes. http://siha.depkes.go.id/portal/files_upload/BUKU_3_PENGENDALIAN_HIV_COLOR_A5_15x21_cm.pdf
Diakses pada 7 November 2018
International AIDS Society. http://www.ias-2005.org/health/hiv/living-a-healthy-lifestyle-with-hiv
Diakses pada 14 Oktober 2020
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/17131
Diakses pada 14 Oktober 2020
WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hiv-aids
Diakses pada 14 Oktober 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Pencegahan HIV/AIDS Tak Boleh Disepelekan, Ini Langkahnya

Pencegahan HIV AIDS penting dilakukan sejak dini. Langkah tersebut termasuk dengan memahami risiko diri hingga mengonsumsi obat PreP. Dokter mungkin akan memberikan obat antiretroviral tenofovir dan emtricitabine.
02 Jun 2020|Arif Putra
Baca selengkapnya
Pencegahan HIV AIDS dengan tes HIV

Cara Mencegah Penularan HIV ke Anak dari Ibu Hamil

Tidak hanya orang dewasa, HIV juga bisa menular ke anak. Oleh karena itu, orang tua perlu tahu cara mencegah penularan HIV pada anak agar bisa diantisipasi sejak dini. Gejala dari HIV juga perlu diwaspadai jika anak terlahir dari orang tua yang terinfeksi HIV dan tidak mendapatkan pengobatan.
12 Mar 2020|Dessy Diniyanti
Baca selengkapnya
Pencegahan penularan HIV ke anak dari ibu hamil dapat dilakukan dengan pemberian obat ARV

Coba 14 Jenis Obat Herpes Alami Ini Untuk Atasi Herpes Simplex Tipe 2

Gejala herpes simplex tipe 2 adanya muncul rasa gatal, kesemutan, dan panas di kulit. Herpes simplex tipe 2 bisa diredakan oleh obat alami. 13 macam obat alami ini dapat meredakan herpes simplex tipe 2.
11 Jul 2019|Nina Hertiwi Putri
Baca selengkapnya
Obat herpes alami bisa digunakan untuk merawat herpes simplex tipe 2