Hipospadia membuat penderitanya mengalami kesulitan buang air kecil dan memiliki penis dengan bentuk yang tidak normal.
Adanya bukaan uretra pada penderita hipospadia.

Hipospadia merupakan sebuah keadaan yang diderita sejak lahir (cacat lahir) dimana pembukaan uretra (saluran tempat urin mengalir dari kandung kemih menuju ke luar tubuh) berada pada bagian bawah penis. Hal tersebut merupakan hal yang tidak normal, karena seharusnya pembukaan uretra berada pada ujung penis. Pada penderita hipospadia, uretra akan mulai terlihat tidak normal sejak minggu ke 8 hingga minggu ke 14 saat masih berada di dalam kandungan. Hipospadia dapat dikategorikan sebagai kelainan yang sering terjadi.

Menurut beberapa penelitian, hipospadia dapat ditemukan pada satu di antara 250 hingga 300 bayi laki-laki yang baru lahir. Oleh karena itu, hipospadia dibagi dalam beberapa kategori, yaitu:

  • Distal atau granular
    Tipe ini merupakan yang paling umum dari hipospadia, dimana pembukaan uretra terdapat di dekat kepala penis.
  • Midshaft
    Pada tipe ini, pembukaan uretra terletak pada bagian tengah atau bawah batang penis.
  • Penoscrotal
    Pada tipe ini, pembukaan uretra terletak pada bagian di antara penis dan kantung pelir (skrotum).
  • Perineal
    Pada tipe ini, pembukaan uretra terletak di belakang kantung pelir (skrotum). Tipe ini merupakan tipe hipospadia yang paling parah dan jarang ditemukan.

Gejala khas pada hipospadia adalah pembukaan uretra yang terletak pada bagian bawah penis, bukan di ujung penis. Akan tetapi, dalam beberapa kasus juga ditemukan pembukaan uretra yang berada di dalam kepala penis, tengah penis, pangkal penis maupun di dalam atau di bawah skrotum; meskipun hal tersebut jarang ditemukan. Beberapa gejala lain yang dapat ditemukan pada penderita hipospadia adalah:

  • Chordee atau kurva penis mengarah ke bawah sehingga menimbulkan kesulitan saat buang air kecil. Hal tersebut seringkali harus membuat penderita buang air kecil dengan cara duduk.
  • Pengeluaran urine yang tidak normal saat buang air kecil.
  • Bentuk atau penampilan penis yang tidak normal.

Penyebab dari hipospadia belum diketahui secara pasti. Akan tetapi, beberapa hal yang dapat menjadi kemungkinan penyebab kelainan ini antara lain:

  • Faktor genetik, apabila ayah atau saudara kandung laki-laki dari bayi laki-laki yang sedang dalam kandungan menderita hipospadia, hal ini dapat meningkatkan resiko bayi tersebut lahir dengan hipospadia.
  • Perawatan kesuburan seperti terapi hormon maupun obat-obatan yang membantu ibu dalam kehamilan.
  • Paparan terhadap suatu zat seperti rokok maupun pestisida.
  • Usia ibu di atas 35 tahun dengan berat badan berlebih (overweight) juga dapat memperbesar risiko bayi yang dikandung nantinya akan menderita hipospadia.
  • Kelahiran prematur.

Hipospadia umumnya dapat di diagnosis melalui pemeriksaan fisik, termasuk pemeriksaan penis, yang dilakukan oleh dokter saat bayi laki-laki tersebut lahir. Tingkat keparahan kelainan ini ditentukan dari tempat pembukaan uretra yang ada pada penderita. Semakin dekat pembukaan uretra pada pangkal penis, maka semakin tinggi tingkat keparahan pada kelainan ini.

Pengobatan untuk hipospadia bergantung pada tipe atau jenis kelainan yang terjadi pada penderita. Umumnya, pengobatan penyakit ini adalah melalui prosedur bedah untuk memperbaiki kelainan yang terjadi. Prosedur tersebut dikenal dengan sebutan urethroplasty atau meatoplasty, atau glanuloplasty. Prosedur bedah tersebut dilakukan pada saat usia bayi penderita hipospadia mencapai 3 sampai 18 bulan. Dalam beberapa kasus, prosedur bedah untuk hipospadia dilakukan secara bertahap. Hal tersebut dilakukan karena penderita membutuhkan beberapa perbaikan seperti mengembalikan pembukaan uretra pada tempat yang normal, mengoreksi bentuk penis, serta memperbaiki kulit di sekitar pembukaan uretra. Tujuan dari prosedur bedah pada hipospadia antara lain:

  • Membuat lubang pembukaan uretra di dekat ujung penis sehingga penderita bisa buang air kecil dengan cara berdiri.
  • Membentuk penis menjadi lurus
  • Membentuk penampilan penis agar terlihat normal.

Setelah melakukan prosedur bedah untuk hipospadia, seperti pada prosedur bedah lainnya, pendarahan dan infeksi mungkin dapat muncul setelah prosedur bedah dilakukan. Akan tetapi, terdapat beberapa komplikasi lain yang kemungkinan juga dapat ditemukan pasca prosedur bedah pada penderita hipospadia, antara lain:

  • Fistula
    Ditandai dengan kerusakan yang mengakibatkan adanya hubungan antara uretra dan kulit yang menyebabkan kebocoran urine.
  • Stenosis atau stricture
    Ditandai dengan uretra yang semakin menyempit atau terdapat bekas luka pada uretra yang menyebabkan penderita kesulitan saat buang air kecil.
  • Kulit yang berlebih
    Ditandai dengan penampilan penis yang terlihat tidak normal.
  • Persistent chordee
    Terjadi akibat koreksi yang tidak tuntas pada saat prosedur bedah.

Akan tetapi, mayoritas penderita hipospadia yang telah menjalani prosedur ini tidak mengalami komplikasi-komplikasi tersebut. Hasil dari prosedur bedah ini dapat bertahan seumur hidup dan penis akan terlihat serta berfungsi dengan baik. Meskipun demikian, dibutuhkan follow up atau kunjungan kembali pada dokter pasca melakukan operasi hingga penderita benar-benar sembuh.

Hipospadia merupakan kelainan bawaan yang diderita sejak lahir. Akan tetapi, tidak terdapat metode pencegahan yang spesifik terhadap penyakit ini. Oleh karena itu, cara-cara berikut dapat dilakukan oleh ibu hamil untuk mengurangi resiko bayinya terkena hipospadia, mengingat hipospadia merupakan cacat bawaan, antara lain:

  • Tidak merokok maupun mengonsumsi alkohol.
  • Melakukan kunjungan atau kontrol rutin ke dokter selama masa kehamilan.
  • Menjaga berat badan agar tetap sehat.
  • Mengkonsumsi 400 hingga 800 mikrogram (μg) asam folat setiap harinya.

Dokter yang biasanya menangani masalah ini adalah dokter spesialis anak di bagian urologi atau yang dikenal dengan sebutan pediatric urologist. Segera lakukan konsultasi pada dokter apabila Anda menemukan gejala-gejala yang mengarah menuju hipospadia pada bayi laki-laki Anda. Hal tersebut dilakukan karena apabila tidak tertangani dengan baik, kelainan ini nantinya akan dapat menimbulkan masalah yang lebih rumit pada kehidupan penderita seperti harus buang air dengan cara duduk ataupun kesulitan saat berhubungan seksual. Selain itu, segera lakukan konsultasi pada dokter terkait dengan hipospadia apabila anak atau bayi laki-laki anda mengalami:

  • Kesulitan saat buang air kecil.
  • Mengalami rasa nyeri saat buang air atau bladder spasms yang tidak dapat dikontrol dengan pemberian obat-obatan.
  • Muntah-muntah dan tidak dapat menahan urine.
  • Mengalami demam 38°C atau lebih satu minggu setelah melakukan prosedur bedah hipospadia.
  • Jahitan pasca prosedur bedah pada anak atau bayi Anda terlepas.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hypospadias/symptoms-causes/syc-20355148
Diakses pada 30 Maret 2019.

WebMD. https://www.webmd.com/parenting/baby/what-is-hypospadias#1
Diakses pada 30 Maret 2019.

CDC. https://www.cdc.gov/ncbddd/birthdefects/hypospadias.html
Diakses pada 30 Maret 2019.

Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15060-hypospadias
Diakses pada 30 Maret 2019.

Monash Children Hospital. http://www.monashchildrenshospital.org/wp-content/uploads/2016/10/hypospadias.pdf
Diakses pada 30 Maret 2019.

Cincinnati Children's Hospital. https://www.cincinnatichildrens.org/health/h/hypospadias
Diakses pada 30 Maret 2019.

Artikel Terkait