Hipomagnesemia

Ditinjau dr. Widiastuti
Saat kadar magnesium di dalam tubuh terus menurun, biasanya akan muncul gejala-gejala seperti mati rasa, kejang, kelelahan, kram dan denyut jantung yang tidak normal.
Saat kadar magnesium di dalam tubuh terus menurun, biasanya akan muncul gejala-gejala seperti mati rasa, kejang, kelelahan, kram dan denyut jantung yang tidak normal.

Pengertian Hipomagnesemia

Magnesium merupakan salah satu mineral yang utamanya terdapat pada tulang dalam tubuh, serta dalam aliran darah dengan jumlah yang lebih sedikit. Magnesium banyak berperan penting dalam tubuh maupun otak. Magnesium berperan dalam:

  • Fungsi sel seperti distribusi, penyimpanan dan penggunaan energi
  • Metabolisme karbohidrat, protein dan lemak
  • Menjaga fungsi otak agar tetap sehat (menjaga konduksi sinyal antara otot dan saraf, serta menjaga transmisi sinyal dari saraf)
  • Membantu membentuk protein baru dalam tubuh
  • Membantu metabolisme tulang
  • Membantu pergerakan dan pembentukan otot
  • Membantu regulasi sistem saraf
  • Menjaga fungsi jantung serta mengurangi risiko terserang penyakit jantung
  • Membantu meningkatkan kualitas tidur
  • Membantu meningkatkan kontrol gula darah pada diabetes mellitus tipe 2 (menjaga metabolisme glukosa dan insulin)
  • Membantu mencegah migrain
  • Membantu menurunkan tekanan darah dalam tubuh
  • Membantu melawan depresi. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa magnesium merupakan obat antidepresi yang efektif

Hipomagnesemia terjadi apabila kadar magnesium dalam darah kurang dari normal, yaitu di bawah 1.8mg/dL (<0.70 mmol/L). Hipomagnesemia dapat berdampak pada penyakit-penyakit lain seperti gangguan pada sistem pencernaan serta fungsi ginjal. Hipomagnesemia berkaitan pula dengan penurunan kadar kalsium dan potasium (kalium) dalam tubuh. Sebab, magnesium berperan untuk mendistribusikan kalsium dan potasium ke seluruh tubuh. Sehingga, apabila kadar magnesium rendah, maka tubuh juga tidak akan menerima kadar kalsium dan potasium yang cukup.

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Dalam beberapa kasus, hipomagnesemia menjadi kurang terdeteksi karena tidak ada gejala yang muncul. Sehingga, penyakit bertambah berat. Pada dasarnya, gejala atau tanda-tanda yang sering ditemukan pada penderita hipomagnesemia dapat dipengaruhi oleh beragam faktor (multifaktorial). Akan tetapi, gerjala-gejala hipomagnesemia yang timbul seringkali berkaitan dengan sistem saraf maupun sistem peredaran darah.

Gejala awal hipomagnesemia antara lain adalah mual, muntah, rasa lemah, serta berkurangnya nafsu makan. Saat kadar magnesium dalam tubuh semakin menurun, gejala-gejala yang timbul dapat berupa baal atau mati rasa, kejang (terutama pada anak-anak), pergerakan mata yang tidak normal (nistagmus), kelelahan, kram dan kejang otot, bahkan denyut jantung yang tidak normal.

Apabila hipomagnesemia tidak tertangani dengan baik atau bahkan tidak terdeteksi, kadar magnesium dalam tubuh akan menurun semakin drastis. Beberapa komplikasi yang mungkin timbul antara lain kejang, denyut jantung yang tidak normal, pengencangan otot pada pembuluh nadi jantung secara tiba-tiba, hingga kematian secara mendadak.

Penyebab

Kekurangan kadar magnesium dalam tubuh yang dapat menyebabkan hipomagnesemia merupakan akibat dari kurangnya konsumsi magnesium, serta penurunan kinerja ginjal maupun sistem pencernaan. Dengan kata lain, rendahnya kadar magnesium dalam tubuh dapat terjadi karena rendahnya asupan magnesium maupun tingginya magnesium yang dikeluarkan lewat urine.

Keadaan tersebut dapat dipicu oleh kelaparan, kebiasaan mengonsumsi alkohol, serta diare dalam jangka waktu yang lama. Kondisi ini dapat menyebabkan tubuh kekurangan nutrisi dan gangguan elektrolit (dalam hal ini adalah kekurangan magnesium).

Selain itu, hipomagnesemia sangat umum ditemukan pada pasien-pasien yang sedang dirawat di rumah sakit. Hal tersebut dapat terjadi akibat penyakit yang mereka derita, tindakan-tindakan medis yang dilalui, bahkan karena konsumsi beberapa jenis obat-obatan. Obat-obatan untuk kemoterapi, obat-obatan dengan toksisitas terhadap ginjal (amfoterisin B, cisplatin, siklosporin, aminoglikosida) atau penggunaan diuretik seperti thiazide, dan loop diuretik dapat memicu terjadinya hipomagnesemia.

Kondisi tubuh yang dapat meningkatkan risiko terhadap hipomagnesemia antara lain adalah:

  • Penyakit sistem pencernaan

Salah satu penyakit pencernaan yang bisa memicu hipomagnesemia adalah diare kronis, atau diare dalam jangka waktu yang cukup lama. Kondisi ini menyebabkan tubuh kekurangan nutrisi, termasuk magnesium. Selain itu, gangguan pencernaan lainnya seperti crohn’s disease atau penyakit celiac juga bisa memicu hipomagnesemia.

  • Diabetes tipe 2

Diabetes tipe 2 adalah penyakit tingginya kadar gula darah akibat pola hidup yang buruk. Tingginya kadar gula dalam darah dapat menyebabkan ginjal memproduksi lebih banyak urine, sehingga banyak magnesium yang terbuang bersama urine.

  • Ketergantungan pada alkohol

Ketergantungan pada alkohol memiliki banyak dampak buruk untuk tubuh, seperti penyakit liver (hati), gagal ginjal, urine yang bertambah banyak dan kurangnya asupan magnesium yang membuat rendahnya kadar magnesium dalam tubuh, serta komplikasi-komplikasi lain yang dapat merusak tubuh.

  • Usia lanjut

Seiring dengan bertambahnya usia, usus manusia semakin mengalami kesulitan untuk menyerap magnesium dengan baik. Individu berusia lanjut seringkali mengonsumsi lebih sedikit makanan kaya magnesium atau mengonsumsi obat-obatan yang dapat memengaruhi kadar magnesium di dalam tubuh, seperti diuretik. Hal ini dapat menyebabkan kurangnya kadar magnesium dalam tubuh para lansia.

Diagnosis

Ada beberapa pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk mendiagnosis hipomagnesemia, berupa:

  • Pemeriksaan fisik terhadap gejala-gejala yang Anda alami, termasuk pemeriksaan riwayat kesehatan
  • Pemeriksaan darah, untuk melihat kadar magnesium yang terdapat dalam darah. Kadar magnesium normal dalam darah adalah 1.8- 2.2 miligram per desiliter (mg/dL). Apabila kadar magnesium dalam darah di bawah 1.8 mg/dL, maka Anda dikategorikan menderita hipomagnesemia. Sementara itu, apabila kadar magnesium dalam darah di bawah 1.25 mg/dL, maka Anda dikategorikan menderita hipomagnesemia berat. Selain itu, pemeriksaan darah juga dilakukan untuk melihat kadar kalsium dan potasium (kalium) dalam darah. Selain itu, hipomagnesemia umumnya disertai juga dengan kekurangan kalsium dan potasium.
  • Pemeriksaan urine, untuk melihat kadar magnesium dalam urine. Hal tersebut dilakukan karena kadar magnesium dalam tubuh sebagian besar dikontrol oleh ginjal yang juga mengatur produksi urine dalam tubuh.

Pengobatan

Penanganan hipomagnesemia biasanya dilakukan dengan pemberian suplemen magnesium atau konsumsi makanan kaya magnesium. Suplemen magnesium dapat berupa konsumsi magnesium secara oral maupun suntikan magnesium. Injeksi magnesium diberikan apabila Anda menderita hipomagnesemia yang parah ataupun timbul gejala kejang.

Selain pemberian suplemen magnesium, hal penting lain yang harus diperhatikan adalah pola makan yang baik dan memastikan tubuh menerima jumlah magnesium yang cukup. Caranya, dengan mengonsumsi makanan-makanan yang kaya akan magnesium seperti sayur-sayuran hijau (misalnya bayam), almond, kacang mede, kacang tanah, susu kacang kedelai, gandum, alpukat, pisang, serta salmon.

Berdasarkan rekomendasi The Institute of Medicine, orang dewasa harus mengkonsumsi 310-320mg magnesium per hari untuk wanita dan 400-420 mg magnesium per hari untuk pria.

Penanganan hipomagnesemia harus dilakukan dengan tepat. Sebab, penurunan kadar magnesium secara drastis dalam tubuh bisa berakibat fatal, yaitu menimbulkan kejang, detak jantung tidak teratur, bahkan henti jantung  yang bisa berujung pada kematian.

Pencegahan

Perhatikan pola makan, agar kadar magnesium dalam tubuh dapat terjaga dengan baik. Konsumsi air atau minuman elektrolit serta makanan yang mengandung magnesium seperti : alpukat, pisang, sayuran hijau, kacang-kacangan, serta susu dapat membantu memelihara kadar magnesium dalam tubuh Anda tetap normal.

Jika mempunyai penyakit gangguan pencernaan seperti Crohn’s disease, menderita diabetes, atau mengonsumsi obat-obatan seperti diuretik, maka berkonsultasilah dengan dokter untuk memastikan kadar magnesium Anda tetap stabil dan normal.

 

Informasi Dokter

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Segera lakukan konsultasi dengan dokter apabila Anda merasa memiliki gejala-gejala yang mengarah pada hipomagnesemia, untuk mencegah hal-hal tersebut bertambah buruk dan menyebabkan komplikasi pada anggota tubuh yang lain. Konsultasikan gejala-gejala yang Anda alami pada dokter yang tepat. Ketika Anda merasa bermasalah pada fungsi ginjal maupun urine Anda, silahkan lakukan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dengan fokus pada masalah ginjal, yang disebut sebagai nefrologis.

Sementara itu, apabila merasakan masalah pada jantung, silakan berkonsultasi dengan dokter spesialis jantung atau, yang disebut kardiologis. Sebab, pasien hipomagnesemia dengan penyakit jantung berisiko tinggi mengalami gangguan denyut jantung pada 24 jam pertama sejak gejala tersebut timbul.

Referensi

Healthline. https://www.healthline.com/nutrition/10-proven-magnesium-benefits#section3
Diakses pada 12 Desember 2018

Medline Plus. https://medlineplus.gov/ency/article/000315.htm
Diakses pada 12 Desember 2018

Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/2038394verview
Diakses pada 12 Desember 2018

MSD Manual. https://www.msdmanuals.com/professional/endocrine-and-metabolic-disorders/electrolyte-disorders/hypomagnesemia
Diakses pada 12 Desember 2018

National Institute of Health. https://ods.od.nih.gov/factsheets/Magnesium-HealthProfessional/
Diakses pada 12 Desember 2018

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4062555/
Diakses pada 12 Desember 2018

Back to Top