Hipoksia

Ditulis oleh Olivia
Ditinjau dr. Widiastuti
Ada 4 tipe utama hipoksia, yaitu hipoksia hipoksis, hipoksia anemik, hipoksia stagnan, dan hipoksia histotoksik
Ada 4 tipe utama hipoksia, yaitu hipoksia hipoksis, hipoksia anemik, hipoksia stagnan, dan hipoksia histotoksik

Pengertian Hipoksia

Hipoksia atau kekurangan oksigen dalam jaringan tubuh merupakan suatu keadaan yang berbahaya. Tanpa oksigen yang cukup, organ-organ seperti otak dan hati dapat mengalami kerusakan dalam waktu singkat.

Hipoksemia adalah suatu kondisi ketika kadar oksigen rendah di dalam darah. Akibatnya, hipoksia terjadi, karena jaringan tubuh membutuhkan oksigen yang cukup. Oleh karena itu, hipoksia dan hipoksemia terkadang dianggap sama. Ada 4 tipe utama hipoksia, yaitu hipoksia hipoksis, hipoksia anemik, hipoksia stagnan, serta hipoksia histotoksik.

  1. Hipoksia hipoksik:
    Kondisi ini terjadi saat darah pada arteri tubuh kekurangan oksigen, karena adanya penurunan sirkulasi udara di paru-paru. Tekanan oksigen pun menjadi lebih rendah di paru-paru dan darah arteri. Akibatnya, kadar hemoglobin yang terikat dengan oksigen, lebih rendah dibanding kondisi normal.
  2. Hipoksia anemik:
    Pada hipoksia anemik, tekanan oksigen dalam darah arteri memang normal. Namun, ada kekurangan hemoglobin. Akibatnya, oksigen yang diangkut dalam darah dan dibawa ke jaringan tubuh menjadi berkurang.
  3. Hipoksia stagnan:
    Pada tipe hipoksia ini, jumlah oksigen dalam darah dan tekanannya normal. Hipoksia terjadi karena jumlah oksigen yang sampai ke jaringan tidak sebanding. Hipoksia stagnan disebabkan oleh penurunan laju peredaran darah yang mengakibatkan distribusi darah menjadi tersendat dan lebih lambat. Kadar oksigen yang hilang menjadi lebih besar dan terjadi akumulasi karbon dioksida dalam jaringan tubuh.
  4. Hipoksia histotoksik:
    Pada hipoksia histotoksik, sel jaringan mengalami keracunan. Meskipun kadar oksigen dalam darah normal, sel yang keracunan tersebut tidak dapat menggunakan oksigen sehingga terjadilah hipoksia.

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Terdapat empat tahapan hipoksia. Jumlah waktu yang dihabiskan antara tahapan tersebut bersifat individual. Berikut ini penjelasan mengenai keempat tahapan tersebut.

  1. Asimtomatik atau tanpa gejala:
    Pada umumnya, efek hipoksia pada tahap ini tidak disadari. Gejala utamanya adalah penurunan penglihatan pada malam hari dan kehilangan penglihatan terhadap warna. Kadar oksigen arteri biasanya berkisar antara 90-95%.
  2. Kompensatorik:
    Pada tahap ini, gejala hipoksia masih dapat dikompensasi oleh tubuh, melalui peningkatan laju dan kedalaman napas, serta detak jantung. Dalam kondisi ini, kadar oksigen di arteri berkisar 80-90 persen.
  3. Pemburukan:
    Kondisi ini berlangsung ketika tubuh tidak mampu mengatasi kekurangan oksigen. Akibatnya, penderita hipoksia pada tahapan ini berisiko mengalami:
    • Sesak
    • Sianosis (perubahan warna kulit menjadi biru)
    • Mengantuk
    • Sakit kepala
    • Euforia
    • Agresi
    • Kesulitan dalam menilai dan mengambil keputusan
    • Penurunan koordinasi
    • Kesulitan melakukan tugas sederhana
    • Penurunan kemampuan penglihatan
    • Rasa kebas atau mati rasa
    • Rasa panas maupun dingin secara tiba-tiba

Pada tahap ini, kadar oksigen dalam arteri biasanya berkisar 70-80 persen.

  1. Kritis:
    Penderita hipoksia dalam tahapan ini rentan terhadap kematian. Seseorang dalam kondisi ini biasanya tidak berdaya secara fisik dan mental. Berikut ini gejala yang muncul pada tahap kritis.
    • Kehilangan kesadaran
    • Kejang
    • Tidak bernapas

Dalam kondisi ini, kadar oksigen dalam darah arteri kurang dari 70%.

Penyebab

  1. Hipoksia hipoksik
  • Daerah yang tinggi menyebabkan penurunan tekanan oksigen yang tersedia, sehingga oksigen yang masuk ke paru-paru berkurang.
  • Keadaan yang menghambat sirkulasi udara di paru-paru juga dapat menyebabkan hipoksia hipoksik (penyakit paru seperti pneumonia, edema paru, asma, dan tenggelam)
  1. Hipoksia anemik
  • Anemia akibat kehilangan darah secara akut maupun kronis
  • Keracunan karbon monoksida
  • Obat-obatan seperti aspirin, sulfonamida, nitrit
  • Penyakit anemia sel sabit
  • Methemoglobinemia
  1. Hipoksia stagnan
  • Gagal jantung
  • Volume darah yang berkurang
  • Vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah)
  • Ventilasi tekanan positif yang terus menerus
  1. Hipoksia histotoksik
  • Keracunan sianida
  • Konsumsi alkohol
  • Narkotika

Faktor yang meningkatkan resiko hipoksia:

Beberapa faktor yang dapat memengaruhi terjadinya hipoksia yaitu:

  • Merokok
  • Konsumsi alkohol
  • Kebiasaan mengonsumsi kopi (efek kafeina)
  • Anemia
  • Obat-obatan seperti aspirin
  • Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)
  • Pola makan
  • Kebugaran tubuh
  • Keadaan emosional
  • Demam atau penurunan suhu tubuh

Diagnosis

Hipoksia menyebabkan hipoksemia (kadar oksigen darah di bawah normal). Hipoksemia dapat didiagnosis melalui pengukuran analisis gas darah (mengukur kadar oksigen dari darah yang diambil) dan menggunakan pulse oksimeter, suatu alat yang dijepitkan pada jari. Kadar oksigen dalam arteri yang normal adalah 94-99%. Oksigen tambahan diberikan ketika kadar oksigen dibawah 92%. Pemeriksaan fungsi paru pun dapat dilakukan untuk mencari penyebab hipoksia.

Pengobatan

Berikut ini tindakan medis termasuk pengobatan untuk menangani hipoksia.

  1. Pemberian oksigen tambahan secepat mungkin (terutama jika ada dugaan hipoksia otak), melalui:
    • Kanula hidung
    • Masker oksigen
    • Terapi oksigen hiperbarik untuk kasus keracunan karbon monoksida pemberian oksigen dengan tekanan lebih tinggi
    • Ventilasi mekanik (intubasi dilakukan dan oksigen diberikan melalui mesin ventilator)
  2. Pengobatan:
    Ada sejumlah obat-obatan untuk mengobati hipoksia, yaitu:
    • Bronkodilator, untuk pasien dengan penyakit paru-paru. Bronkodilator dapat membuat otot-otot pernapasan rileks. Sehingga, jalan napas menjadi terbuka.
    • Glukokortikoid untuk reaksi peradangan. Glukokortikoid dapat mengurangi reaksi peradangan, sehingga jalan napas yang awalnya sempit menjadi terbuka.
    • Mukolitik serta hidrasi yang cukup pada pasien dengan sekret atau dahak. Mukolitik membuat dahak menjadi lebih encer sehingga lebih gampang dikeluarkan.

Pencegahan

Hipoksia dapat dicegah dengan cara:

  • Menghindari keadaan yang dapat menurunkan konsentrasi oksigen di lingkungan sekitar
  • Menggunakan kanula hidung atau masker oksigen sebelum terjadinya hipoksia
  • Berhenti merokok
  • Menjalani pola makan yang sehat dan minum banyak air
  • Melakukan olahraga dengan intensitas sedang seperti yoga

Apabila tidak ditangani segera, hipoksia dapat menyebabkan komplikasi berupa:

  • Kerusakan otak dan paralisis (lumpuh):
    Kadar oksigen yang rendah dapat memicu kerusakan pada sel saraf, sehingga terjadi perubahan fungsi otak. Komplikasi utama dari hipoksia adalah kerusakan otak dan kelumpuhan.
  • Mati otak dan keadaan vegetatif:
    Pada keadaan vegetatif, fungsi organ yang dasar seperti bernapas dan membuka bola mata masih berjalan dengan baik. Namun, penderita tidak dapat memberikan respons terhadap rangsangan dari lingkungan sekitar. Selama keadaan vegetatif, malnutrisi dan luka dekubitus (luka akibat berbaring terlalu lama) sering terjadi.
  • Nekrosis atau kematian jaringan tubuh.
  • Inflamasi atau peradangan:
    Kekurangan oksigen pada jaringan dalam jangka waktu lama akan menyebabkan terjadinya peradangan pada jaringan tubuh. Peradangan tersebut dapat mengakibatkan pembuluh darah menjadi kaku, sehingga penderitanya menjadi lebih rentan terhadap serangan jantung dan stroke.
  • Hipertensi paru:
    Hipoksia dapat menyebabkan peradangan pembuluh darah paru-paru. Peradangan ini akan meningkatkan tekanan darah di paru-paru. Jantung pun harus bekerja lebih keras untuk mengatasi peningkatan tekanan darah ini. Jika kondisi tersebut berlanjut terus, akan terjadi kerusakan pada jantung yang menyebabkannya semakin lemah.
  • Infeksi paru:
    Infeksi paru seperti pneumonia juga mungkin terjadi sebagai komplikasi dari hipoksia.

Prognosis

Prognosis atau perkiraan perkembangan penyakit di masa mendatang bergantung pada tingkat kerusakan otak yang terjadi. Tingkat kerusakannya dipengaruhi oleh lamanya otak tidak mendapat oksigen dan nutrisi. Jika kekurangan oksigen terjadi singkat, maka individu yang koma mungkin dapat kembali sadar dan fungsi tubuhnya dapat kembali, baik secara penuh maupun parsial. Pada beberapa individu, kembalinya fungsi tubuh disertai dengan gerakan tubuh yang abnormal seperti gerakan kedutan atau sentakan, dan kejang. Semakin lama otak kekurangan oksigen, semakin lama individu tersebut tidak sadarkan diri dan semakin tinggi risikonya terhadap kematian atau mati otak.

Informasi Dokter

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Segera kunjungi dokter jika terjadi kondisi berikut ini.

  • Sesak napas setelah aktivitas ringan atau saat istirahat
  • Sesak napas yang bertambah parah ketika berolahraga
  • Terbangun secara tiba-tiba dengan sesak napas atau perasaan tercekik

Cari bantuan medis ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) jika menemui adanya:

  • Rasa sesak napas hebat yang muncul tiba-tiba, dan keadaan ini memengaruhi kemampuan beraktivitas
  • Rasa sesak napas hebat disertai batuk, dan detak jantung yang cepat pada tempat yang tinggi

Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Berkonsultasi dengan Dokter?

Hipoksia merupakan keadaan yang berbahaya. Jika terdapat gejala seperti yang disebutkan di artikel, segera buat janji untuk berkonsultasi dengan dokter.

Apa yang Akan Dilakukan Dokter pada Saat Konsultasi?

Dokter akan melakukan beberapa langkah berikut ini.

  • Mendengarkan suara detak jantung dan suara paru-paru pasien
  • Melihat perubahan warna pada kulit dan bibir pasien
  • Melakukan pengecekan kadar oksigen pasien
Referensi

Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17727-hypoxemia/diagnosis-and-tests
Diakses pada 8 November 2018

Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17727-hypoxemia/prevention
Diakses pada 8 November 2018

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/symptoms/hypoxemia/basics/when-to-see-doctor/sym-20050930
Diakses pada 8 November 2018

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/322803.php
Diakses pada 8 November 2018

Medicinenet. https://www.medicinenet.com/hypoxia_and_hypoxemia/article.htm
Diakses pada 8 November 2018

Medline plus. https://medlineplus.gov/ency/article/001435.htm
Diakses pada 8 November 2018

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2067517/
Diakses pada 8 November 2018

WebMD. https://www.webmd.com/asthma/guide/hypoxia-hypoxemia#1
Diakses pada 8 November 2018

Back to Top