Hipokalemia

Ditulis oleh Maria Yuniar
Ditinjau dr. Miranda Rachellina
Konsumsi makanan tinggi potasium seperti pisang dapat membantu penderita hipokalemia.
Hipokalemia terjadi karena rendahnya kadar potasium di dalam tubuh

Pengertian Hipokalemia

Hipokalemia merupakan rendahnya kadar potasium dalam tubuh yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan metabolisme tubuh. Potasium (kalium) adalah sebuah mineral (elektrolit) yang diperlukan tubuh untuk dapat berfungsi dengan normal; seperti membantu otot-otot tubuh untuk bergerak, membantu sel-sel tubuh untuk mendapatkan nutrisi, serta membantu kerja saraf-saraf tubuh. Selain itu, potasium juga sangat penting untuk sel-sel dalam jantung serta membantu mencegah tekanan darah menjadi terlalu tinggi.

Kadar potasium normal dalam tubuh adalah 3.6-5.2 milimol per liter (mmol/L). Seseorang dikatakan menderita hipokalemia apabila kadar potasium dalam tubuhnya kurang dari 3.5 mmol/L. Sedangkan apabila kadar potasium berada dibawah 2.5 mmol/L maka keadaan tersebut dapat mengancam nyawa. Konsentrasi normal kadar potasium dalam tubuh dikendalikan oleh ginjal dan potasium yang berlebih akan dikeluarkan melalui urine (air seni) dan keringat.

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Hipokalemia dapat terjadi baik pada pria maupun wanita. Akan tetapi, keadaan ini lebih sering ditemukan pada wanita. Hipokalemia ringan seringkali tidak menimbulkan gejala apapun. Beberapa gejala hipokalemia antara lain adalah sebagai berikut:

  • Pingsan.
  • Sulit buang air besar (konstipasi).
  • Nyeri pada otot-otot tubuh.
  • Kelemahan otot merupakan ciri atau gejala khas yang terjadi pada penderita hipokalemia. Apabila tidak segera ditangani dan keadaan menjadi bertambah buruk, kelemahan otot dapat berujung menjadi kelumpuhan (paralisis) ataupun kemungkinan gagalan napas akibat kelumpuhan otot pernapasan.
  • Pusing.
  • Denyut jantung tidak beraturan (aritmia jantung) merupakan hal yang paling ditakutkan apabila seseorang menderita hipokalemia (biasanya hal tersebut terjadi apabila kadar potasium dalam tubuh berkurang secara drastis atau dalam jumlah besar), terlebih pada penderita yang juga memiliki penyakit jantung. Kondisi ini harus segera ditangani medis karena dapat mengancam nyawa.
  • Kram otot atau berkedut (twitching).

Penyebab

Hipokalemia dapat terjadi akibat beragam faktor (multifaktorial). Banyak faktor yang dapat menyebabkan tubuh menjadi kekurangan potasium, antara lain seperti:

  • Muntah-muntah.
  • Diare yang kronis atau terjadi dalam jangka waktu yang cukup lama.
  • Ginjal atau kelenjar adrenal tidak berfungsi dengan baik.
  • Konsumsi obat-obatan yang membuat sering buang air kecil (misalnya obat-obatan diuretik atau jenis obat-obatan yang dapat mempercepat pembentukan urine). Hal ini menjadi penyebab paling umum dalam terjadinya hipokalemia.
  • Penyakit lain seperti Sindrom Cushing ataupun penyakit ginjal.
  • Terlalu banyak berkeringat.

Hal-hal tersebut dapat menyebabkan hipokalemia karena terlalu banyak kadar potasium yang keluar atau hilang dari dalam tubuh. Akan tetapi, hipokalemia juga dapat disebabkan oleh konsumsi potasium yang kurang dalam pola makan. Hal ini dapat disebabkan oleh:

  • Konsumsi alkohol yang terlalu banyak.
  • Konsumsi beberapa jenis obat-obatan antibiotik (jenis penisilin dengan dosis tinggi).
  • Konsumsi obat-obat asma.
  • Kurangnya konsumsi asam folat.

Penyebab hipokalemia yang paling sering terjadi adalah akibat kehilangan kadar potasium yang berlebihan dari ginjal ataupun saluran pencernaan dalam tubuh.

Diagnosis

Untuk memastikan diagnosis mengenai hipokalemia, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan, seperti:

  • Pemeriksaan darah lengkap dan melihat kadar mineral dalam tubuh, termasuk kadar potasium.
  • Pemeriksaan urine untuk melihat apakah Anda kehilangan potasium terlalu banyak saat Anda buang air kecil.
  • Elektrokardiogram (EKG) juga dapat dilakukan untuk melihat denyut serta irama, mengingat hipokalemia yang parah dapat berakibat aritmia (irama jantung tidak normal).

Pengobatan

Apabila seseorang menderita hipokalemia dan menunjukkan beberapa gejalanya, maka sebaiknya penderita mendapat perawatan di rumah sakit guna memantau keadaan jantung mereka, karena hipokalemia dapat menimbulkan dampak buruk terhadap denyut jantung.

Perawatan atau pengobatan hipokalemia biasanya berfokus pada mengatasi penyebab terjadinya hipokalemia, penggantian kadar potasium yang hilang, serta pencegahan untuk terjadinya hipokalemia di kemudian hari. Perawatan hipokalemia dilakukan dengan pendekatan secara bertahap dan dapat dilakukan dalam 2 cara.

Menghilangkan penyebab hipokalemia, misalnya dengan cara:

  • Memberikan obat diare atau anti-muntah apabila penyebab hipokalemia adalah diare ataupun terlalu sering muntah.
  • Mengganti obat-obatan dengan obat-obatan sejenis yang tidak menyebabkan hipokalemia

Mengembalikan kadar potasium dalam tubuh melalui mengonsumsi makanan yang kaya akan potasium ataupun suplemen potasium. Makanan-makanan yang kaya akan potasium antara lain sebagai berikut:

  • Buah-buahan segar; seperti pisang, jeruk, tomat, stroberi, alpukat, aprikot, kiwi, dan blewah.
  • Sayur-sayuran segar; seperti sayur-sayuran hijau, jamur, kacang-kacangan, dan buah bit.
  • Macam-macam daging; seperti daging sapi tanpa lemak, ikan (terutama ikan salmon), serta daging kalkun.
  • Macam-macam jus; seperti jus jeruk, jus aprikot, jus jeruk bali, dan jus buah plum.
  • Yogurt dan susu

Pada penderita hipokalemia ringan, umumnya mengonsumsi makanan-makanan yang kaya akan potasium maupun konsumsi suplemen potasium dapat menggantikan kadar potasium yang hilang dari dalam tubuh. Apabila kadar potasium terlalu rendah, maka dapat dilakukan injeksi potasium ke dalam tubuh. Akan tetapi, konsumsi suplemen potasium ini sebaiknya dilakukan dibawah pengawasan dokter, karena apabila kadar potasium dalam tubuh terlalu berlebih juga dapat menyebabkan komplikasi yang serius.

Pencegahan

Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan guna mencegah hipokalemia, antara lain sebagai berikut:

  • Mengontrol kadar potasium dalam tubuh Anda melalui pola makan dan suplemen.
  • Segera konsultasi pada dokter apabila Anda mengalami muntah atau diare lebih dari 24-48 jam (satu hingga dua hari) karena diare dan terlalu banyak muntah dapat mengakibatkan hipokalemia.

Informasi Dokter

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Segera lakukan konsultasi dengan dokter apabila Anda merasakan gejala-gejala yang mengarah pada hipokalemia; terutama apabila Anda merasakan gejala-gejala seperti Anda tidak dapat menggerakkan lengan atau kaki Anda, mengalami denyut jantung yang lebih cepat atau tidak beraturan, serta Anda merasa terlalu lelah atau lemah untuk bangun maupun berdiri. Pengobatan hipokalemia sejak dini dapat menghindarkan Anda dari komplikasi seperti kelumpuhan (paralisis), kegagalan sistem pernapasan, serta komplikasi pada jantung.

Apa yang Akan Dilakukan Dokter pada Saat Konsultasi?

Saat berkonsultasi, dokter akan menanyakan mengenai gejala-gejala yang Anda alami. Oleh karena itu sebaiknya Anda menjelaskan hal-hal tersebut secara terperinci untuk membantu agar dokter mampu menentukan langkah yang tepat dalam menangani gejala Anda. Selain itu, ceritakan pada dokter apabila Anda sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu mengingat beberapa jenis obat-obatan seperti antibiotik jenis tertentu dan obat-obatan diuretik dapat menjadi penyebab terjadinya hipokalemia.

Referensi

Ausmed. https://www.ausmed.com/articles/what-is-hypokalemia
Diakses pada 28 Desember 2018

Drugs. https://www.drugs.com/cg/hypokalemia.html
Diakses pada 28 Desember 2018

Healthline. https://www.healthline.com/health/hypokalemia#treatment
Diakses pada 28 Desember 2018

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/symptoms/low-potassium/basics/definition/sym-20050632
Diakses pada 28 Desember 2018

MedicineNet. https://www.medicinenet.com/low_potassium_hypokalemia/article.htm
Diakses pada 28 Desember 2018

MedlinePlus. https://medlineplus.gov/ency/article/000479.htm
Diakses pada 28 Desember 2018

NORD. https://rarediseases.org/rare-diseases/hypokalemia
Diakses pada 28 Desember 2018

ScienceDirect. https://www.sciencedirect.com/topics/pharmacology-toxicology-and-pharmaceutical-science/hypokalemia
Diakses pada 28 Desember 2018

WebMD. https://www.webmd.com/digestive-disorders/hypokalemia#1
Diakses pada 28 Desember 2018

Back to Top