Hipoalbuminemia

Ditinjau dr. Widiastuti
Hipoalbuminemia membuat penderitanya memiliki kulit kering dan kasar, sesak napas, juga diare.
Mengonsumsi makanan berprotein tinggi seperti daging sapi, ikan dan kacang dapat membantu mengatasi hipoalbuminemi.

Pengertian Hipoalbuminemia

Hipoalbuminemia terjadi ketika kadar albumin dalam darah kurang dari jumlah normal (di bawah 3,5 g/dL). Keadaan ini sering dialami pasien rawat inap dan pasien dengan kondisi kritis. Kadar albumin darah yang rendah berpengaruh pada jumlah penderita dan angka kematian di rumah sakit.

Albumin sendiri merupakan protein yang diproduksi oleh hati dan merupakan protein yang paling dominan dalam darah. Kadar normal albumin dalam darah yaitu 3,5-5 g/dL. Kecepatan produksinya sekitar 15 g per hari, tapi dapat bersifat individual dan dipengaruhi beberapa faktor, seperti stres.

Kadar albumin darah ditentukan oleh kecepatan produksi, jumlah yang dikeluarkan dari hati, distribusi pada cairan tubuh, dan kecepatan degradasinya. Jika salah satu faktor di atas terganggu, maka kadar albumin darah dapat berubah menjadi hipoalbuminemia maupun hiperalbuminemia.

Albumin berfungsi untuk mempertahankan tekanan onkotik darah, sehingga cairan tetap dipertahankan di dalam pembuluh darah. Jika kadarnya berkurang, maka tekanan onkotik darah akan menurun. Akibatnya, cairan tidak dapat dipertahankan di dalam pembuluh darah, sehingga mengalir ke jaringan, dan menyebabkan bengkak pada tubuh.

Selain untuk menjaga tekanan onkotik darah, albumin juga berfungsi sebagai protein pengikat berbagai macam senyawa, seperti bilirubin, asam lemak, ion, hormon, dan obat-obatan. Jika albumin kurang, senyawa seperti hormon yang diperlukan tubuh tidak dapat diedarkan ke seluruh tubuh oleh darah. Sebab pembawanya, yaitu albumin, tidak mencukupi. Sementara itu, obat dan senyawa seperti bilirubin hanya sedikit yang diikat oleh albumin dalam keadaan hipoalbuminemia, sehingga menjadi bebas beredar dalam darah, dan mengakibatkan kadarnya dalam darah tinggi. Tingginya kadar obat bebas dalam darah dapat berbahaya, karena efeknya menjadi meningkat. Selain itu, metabolisme dalam hati juga menjadi cepat. Kadar bilirubin yang tinggi dapat menyebabkan berbagai kelainan.

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Gejala yang muncul, bergantung pada penyebab hipoalbuminemia. Jika disebabkan oleh malnutrisi (kurang nutrisi), gejala akan timbul perlahan-lahan. Apabila penyebabnya adalah penyakit serius seperti luka bakar berat, maka gejala akan langsung terlihat.

Gejala yang umum terjadi, di antaranya adalah:

  • Pembengkakan, akibat penumpukan cairan di tubuh. Pembengkakan dapat ditemukan di wajah, tangan, kaki, perut. Pada hipoalbuminemia berat, pembengkakan seluruh tubuh dapat terjadi.
  • Kulit menjadi kasar dan kering
  • Penipisan rambut
  • Jaundice atau kondisi kulit dan bagian putih mata yang menguning
  • Sesak napas
  • Mudah lelah dan lemah
  • Irama jantung tak beraturan
  • Penambahan berat badan yang abnormal
  • Penurunan nafsu makan
  • Diare
  • Mual dan muntah
  • Gangguan tumbuh kembang anak

Penyebab

Hipoalbuminemia dapat terjadi karena adanya penurunan dari produksi albumin, kerusakan hepatosit yang menyebabkan penurunan sintesis (produksi) albumin, asupan protein (asam amino) yang kurang, peningkatan hilangnya kadar albumin melalui proses pencernaan ataupun ginjal, dan yang paling umum adalah terjadinya inflamasi (peradangan) akut serta menahun (kronis).

Beberapa penyebab umumnya antara lain:

  • Luka bakar, yang menyebabkan celah pembuluh darah melebar sehingga albumin dapat keluar dari pembuluh darah. Selain itu, kulit sendiri merupakan tempat utama penyimpanan albumin. Jika terjadi kerusakan kulit, albumin akan hilang.
  • Kekurangan vitamin
  • Malnutrisi (terutama protein). Dalam keadaan ini, albumin dapat berkurang lebih dari sepertiga dari jumlah normal dalam 24 jam.
  • Penyakit saluran pencernaan, berupa gangguan penyerapan nutrisi atau pembuangan albumin yang berlebih. Normalnya, kurang dari 10 persen albumin yang terbuang bersama feses.
  • Mendapatkan cairan melalui suntikan atau infus ke pembuluh darah di rumah sakit pascaoperasi
  • Kondisi pascatrauma
  • Penyakit kritis, penurunan laju produksi albumin, peningkatan degradasi dan pembuangan albumin, serta pelebaran celah pembuluh darah
  • Diabetes
  • Hipertiroid
  • Gagal jantung
  • Lupus
  • Penyakit hati, berupa sirosis hati, kanker hati, hepatitis, penyakit hati alkoholik, maupun perlemakan hati. Fungsi hati terganggu, yang mengakibatkan produksi albumin berkurang.
  • Penyakit ginjal seperti sindroma nefrotik, gangguan fungsi penyaringan ginjal, yang membuat protein ikut terbuang bersama urine
  • Infeksi luas dan sepsis

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko hipoalbuminemia, antara lain:

  • Usia tua
  • Perawatan inap di rumah sakit
  • Kondisi penyakit yang kritis
  • Penggunaan alat bantu seperti ventilator dan mesin bypass, serta infeksi yang diakibatkan oleh alat tersebut
  • Menderita penyakit berat seperti gagal ginjal dan kanker
  • Malnutrisi, terutama pada anak-anak.

Diagnosis

Pemeriksaan berikut ini bisa dijalankan jika Anda mengalami gejala hypoalbuminemia seperti yang disebutkan di atas.

  • Pemeriksaan darah, untuk mengukur kadar albumin darah
  • Pemeriksaan urine, untuk mengukur kadar albumin yang terbuang bersama urine. Jika melebihi kadar tertentu, kemungkinan terdapat kerusakan pada ginjal
  • Pemeriksaan kadar CRP (C-reactive protein) darah, yang menandakan proses peradangan pada tubuh. Peradangan merupakan salah satu penyebab hipoalbuminemia.

Pengobatan

Penanganan terhadap hypoalbuminemia dapat dilakukan dengan menaikkan kadar albumin kembali ke angka normal, serta mengobati penyakit yang menyebabkannya. Penanganan tersebut bisa dilakukan melalui:

  • Konsumsi makanan berprotein tinggi seperti kacang, telur, susu, daging sapi, ikan, yogurt. Selain itu pemberian albumin juga bisa dilakukan melalui infus.
  • Penggunaan obat anti hipertensi untuk penyakit ginjal (untuk mengurangi terbuangnya albumin bersama urine) dan penyakit jantung
  • Penggunaan obat-obatan untuk mengatasi penyakit pencernaan, atau mengurangi peradangan di dalam tubuh.
  • Penggunaan antibiotik, jika ada infeksi ataupun luka bakar

Pemilihan obat dilakukan berdasarkan rekomendasi dokter yang melakukan pemeriksaan. Selain obat-obatan, beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menaikkan kadar albumin adalah:

  • Menjalani gaya hidup sehat (tidak mengonsumsi alkohol)
  • Menerapkan pola makan sehat, untuk mengurangi keparahan penyakit jantung maupun ginjal

Jika hipoalbuminemia disebabkan oleh kerusakan organ yang tidak dapat diperbaiki lagi, maka transplantasi organ dapat dijadikan pilihan penanganan. Sembari menunggu donor, pasien penyakit ginjal bisa menjalani terapi dialisis atau cuci darah.

Jika tidak diobati, komplikasi yang dapat terjadi adalah:

  • Pneumonia atau infeksi paru
  • Efusi pleura (penumpukan cairan di sekitar paru)
  • Pembengkakan perut
  • Otot mengecil dan lemah
  • Pada pasien kritis atau dengan penyakit berat, hipoalbuminemia dapat menyebabkan perburukan penyakit bahkan kematian, pada pasien kritis atau berpe
  • Penurunan efektivitas obat tertentu, karena obat tidak dapat didistribusikan ke seluruh tubuh tanpa berikatan dengan albumin sebagai protein pembawanya

Pencegahan

  • Pola makan dengan nutrisi memadai
  • Pemeriksaan level albumin secara berkala pada saat sakit
  • Jika menderita penyakit, terutama seperti yang disebutkan di atas, segera obati penyakit tersebut

Informasi Dokter

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Jika mengalami gejala-gejala di atas, Anda disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter.

Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Berkonsultasi dengan Dokter?

  • Mencatat semua gejala yang dirasakan
  • Membawa berkas berisi catatan kesehatan
  • Mencatat pertanyaan yang ingin diajukan kepada dokter

Apa yang Akan Dilakukan Dokter pada Saat Konsultasi?

Dokter akan menanyakan secara lebih detail mengenai gejala yang ada dan melanjutkan pemeriksaan untuk menentukan penyebab hipoalbuminemia.

Referensi

Chemocare. http://chemocare.com/chemotherapy/side-effects/hypoalbuminemia-low-albumin.aspx
Diakses pada 8 November 2018

Healthline. https://www.healthline.com/health/hypoalbuminemia#symptoms
Diakses pada 8 November 2018

Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/166724-overview
Diakses pada 8 November 2018

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK526080/
Diakses pada 8 November 2018

Back to Top