Jantung

Hipertensi

Diterbitkan: 01 Nov 2018 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Hipertensi
Hipertensi atau darah tinggi bisa mengindikasikan serangan jantung dan stroke.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu kondisi yang terjadi ketika seseorang mempunyai tekanan darah yang terukur pada nilai 130/80 mmHg atau lebih tinggi.Tekanan darah ditentukan oleh berapa banyak volume darah yang dipompa oleh jantung dan resistensi aliran darah di pembuluh darah/arteri. Jadi, tekanan darah akan terukur lebih tinggi apabila jantung memompa darah lebih cepat dan/atau arteri lebih sempit. Tekanan darah yang tinggi dapat mengindikasikan masalah kesehatan yang lebih serius seperti serangan jantung dan kondisi stroke. Walaupun tidak ada gejala yang timbul dan biasanya pengidap baru menyadari setelah terjadi komplikasi, tekanan darah tinggi dapat dideteksi dengan mudah melalui pemeriksaan tekanan darah.Baca juga: Bagaimana Kaitan Antara Hipertensi dan Stroke? 
Hipertensi
Dokter spesialis Penyakit Dalam
GejalaSakit kepala, sesak napas, mimisan
Faktor risikoRiwayat keluarga, lansia, merokok
Metode diagnosisMengukur tekanan darah dengan alat tensimeter
PengobatanObat, perubahan gaya hidup
ObatDiuretik, Angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor
KomplikasiSerangan jantung, stroke, aneurisma
Kapan harus ke dokter?Tekanan darah sangat tinggi, kelelahan, mual
Kebanyakan orang dengan tekanan darah tinggi tidak memiliki tanda atau gejala tertentu. Bahkan beberapa orang tidak merasakan adanya masalah hingga tekanan darah mencapai tingkat yang sangat tinggi.

Gejala hipertensi parah

Pada sebagian orang dengan kondisi hipertensi yang parah, gejala yang ditunjukkan meliputi:
  • Sakit kepala
  • Sesak napas
  • Mimisan
  • Kulit memerah (terutama pada wajah dan leher)
  • Pusing
  • Nyeri dada
  • Gangguan penglihatan
  • Terdapat darah dalam urin
Gejala paling jelas dari hipertensi adalah tekanan darah yang terukur tinggi. Tekanan darah diukur dengan dua macam tekanan yaitu tekanan darah atas (sistolik) dan tekanan darah bawah (diastolik).Angka sistolik menunjukkan tekanan di pembuluh darah pada saat jantung memompa darah maupun berdetak. Sementara itu, angka diastolik mengukur besarnya tekanan pada pembuluh darah di antara detakan jantung.

4 kategori tekanan darah

Berdasarkan sebuah riset yang dipublikasikan di 2020 International Society of Hypertension Global Hypertension Practice Guidelines, tekanan darah dibagi menjadi empat kategori, sebagai berikut ini:
  • Tekanan darah normal. Angka tekanan darah normal adalah 130/85 mmHg
  • Tekanan darah normal tinggi. Seseorang termasuk dalam kategori ini apabila tekanan sistolik dalam rentang 130 sampai 139 mmHg, dan/atau tekanan diastolik dibawah 85-89 mmHg.
  • Hipertensi tingkat 1. Apabila tekanan sistolik antara 140-159 mmHg dan/atau tekanan diastolik 90-99 mmHg
  • Hipertensi tingkat 2. Apabila tekanan sistolik 160 mmHg ke atas dan/atau tekanan diastolik 100 mmHg ke atas.
Ada dua jenis hipertensi. Keduanya memiliki penyebab yang berbeda, sebagai berikut ini:

Hipertensi primer

Hipertensi primer juga disebut hipertensi esensial. Jenis hipertensi ini berkembang dari waktu ke waktu tanpa penyebab yang dapat diidentifikasi. Kebanyakan pasien tekanan darah tinggi memiliki jenis hipertensi ini.Masih belum jelas mekanisme yang dapat menyebabkan tekanan darah meningkat secara perlahan. Namun, kombinasi dari faktor-faktor berikut ini dapat menjadi alasannya:
  • Beberapa orang secara genetik cenderung mengalami hipertensi. Hal tersebut dapat disebabkan karena adanya mutasi gen atau kelainan genetik yang diwarisi dari orangtua.
  • Perubahan fisik. Misalnya, Anda mengalami perubahan fungsi ginjal karena penuaan, sehingga keseimbangan garam dan cairan alami tubuh terganggu dan akhirnya menyebabkan tekanan darah tubuh yang ikut meningkat.
  • Seiring waktu, pilihan gaya hidup yang tidak sehat seperti kurangnya aktivitas fisik dan pola makan yang buruk dapat berdampak buruk pada tubuh Anda, seperti menyebabkan kelebihan berat badan (obesitas) yang dapat meningkatkan risiko hipertensi.

Hipertensi sekunder

Jenis hipertensi ini sering terjadi dengan cepat dan bisa menjadi semakin parah daripada hipertensi primer. Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan hipertensi sekunder meliputi:
  • Penyakit ginjal
  • Obstructive sleep apnea
  • Cacat jantung bawaan
  • Masalah tiroid
  • Efek samping dari obat
  • Penggunaan obat-obatan terlarang
  • Penyalahgunaan alkohol
  • Masalah kelenjar adrenal
  • Tumor endokrin tertentu
Baca jawaban dokter: Bolehkah penderita hipertensi makan kambing? 

Faktor risiko hipertensi

Adapun risiko yang dapat meningkatkan terjadinya hipertensi secara umum adalah:
  • Jika Anda berusia lebih dari 65 tahun
  • Berasal dari ras kulit hitam
  • Mengalami obesitas atau kelebihan berat badan
  • Memiliki keluarga yang mengidap tekanan darah tinggi
  • Mengkonsumsi terlalu banyak garam dan kekurangan buah maupun sayuran
  • Tidak melakukan olahraga teratur
  • Mengkonsumsi banyak alkohol atau kopi (atau minuman kafeina lain) 
  • Merokok
  • Kurang tidur atau mengalami kesulitan tidur
  • Mengalami stres
Dokter akan melakukan beberapa tes, seperti tes darah dan urine dan mengajukan beberapa pertanyaan tentang kondisi kesehatan pasien untuk mengidentifikasi risiko terjadi masalah lainnya.
Pengobatan hipertensi akan ditentukan oleh dokter berdasarkan usia dan kondisi pasien, serta tingkat keparahan hipertensi. Berikut contohnya:
  • Jika tekanan darah pasien secara konsisten di atas 140/90 mmHg, tetapi risiko lain rendah, pasien akan disarankan untuk membuat beberapa perubahan pada gaya hidup.
  • Jika tekanan darah pasien secara konsisten di atas 140/90 mmHg dan risiko komplikasi tergolong tinggi, pasien akan dianjurkan untuk mengubah gaya hidup dan mengonsumsi obat penurun tekanan darah.
  • Jika tekanan darah pasien secara konsisten di atas 160/100 mmHg, pasien akan disarankan untuk mengubah gaya hidup dan mengonsumsi obat untuk menurunkan tekanan darah.

Perubahan gaya hidup

Pengobatan terbaik untuk pengidap tekanan darah tinggi adalah dengan menerapkan pola hidup sehat dan seimbang. Berikut contohnya:
  • Mengurangi asupan garam

Penderita disarankan untuk diet sehat jantung dengan mengurangi asupan garam. WHO merekomendasikan pengurangan konsumsi garam hingga di bawah 5 gram per hari untuk membantu dalam mengurangi risiko hipertensi.
  • Melakukan latihan fisik secara teratur

Anda dianjurkan untuk berolahraga setidaknya 150 menit setiap minggu, namun jangan langsung melakukannya sekaligus. Anda bisa membaginya menjadi 30 menit per hari agar tubuh bisa beradaptasi.Jenis olahraganya pun tidak perlu rumit. Contohnya, berjalan, jogging, bersepeda, dan berenang.
  • Menghindari stres

Menghindari atau belajar mengelola stres dapat membantu seseorang untuk mengendalikan tekanan darah.  Anda bisa melakukan meditasi, yoga, hobi yang Anda gemari, atau memanjakan diri di spa.
  • Tidak merokok

Merokok tak hanya dapat meningkatkan tekanan darah, tapi juga menjadi faktor risiko dari berbagai gangguan kesehatan lain.
  • Tidak mengonsumsi alkohol

Konsumsi alkohol yang berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah, jadi penderita hipertensi dihimbau untuk menghindari kebiasaan satu ini.
  • Menerapkan pola makan yang seimbang

Penderita perlu mengubah pola makannya agar nutrisi yang masuk ke tubuh menjadi lebih seimbang. Misalnya, dengan mengonsumsi lebih banyak buah, sayur, ikan, gandum utuh, dan kacang-kacangan, serta mengurangi makanan berminyak dan berlemak.
  • Menjaga berat badan

Kelebihan berat badan berkontribusi terhadap hipertensi. Pasalnya, jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Karena itu, penderita hipertensi perlu menurunkan berat badannya jika berlebihan.

Jenis obat hipertensi

Apabila perubahan gaya hidup saja tidak cukup untuk mengatasi hipertensi, dokter dapat merekomendasikan obat-obatan untuk mengendalikan tekanan darah Anda. Jenis obat akan ditentukan berdasarkan umur, kondisi kesehatan, dan tekanan darah Anda.Beberapa jenis obat darah tinggi yang dianjurkan oleh dokter umumnya meliputi:
  • Diuretik

Diuretik bekerja dengan membantu ginjal mengeluarkan air dan sodium, sehingga volume darah berkurang. Contoh obat diuretik adalah hydrochlorothiazide.
  • Angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor

Jenis obat ini bekerja dengan mencegah formasi suatu zat kimia yang mempersempit pembuluh darah, sehingga pembuluh darah lebih lebar dan aliran darah menjadi lebih lancar. Contoh obat dalam kategori ini adalah lisinopril dan captopril.
  • Angiotensin II receptor blockers (ARBs)

Kegunaan obat ini sama dengan ACE inhibitor, yaitu memperlebar pembuluh darah. Hanya saja cara kerjanya berbeda.ARB akan menangkal efek dari zat kimia yang mempersempit pembuluh darah. Beberapa contoh obat ARB meliputi candesartan dan losartan.
  • Calcium channel blocker atau antagonis kalsium

Obat jenis ini mengendurkan otot pembuluh darah, dan juga dapat menurunkan detak jantung. Beberapa jenis obat ini termasuk amlodipine dan diltiazem.
  • Beta blockers atau penghambat beta
Beta blocker bekerja dengan cara membuat jantung Anda berdetak lebih lambat dan dengan kekuatan yang lebih sedikit sehingga tekanan darah dapat menurun.Obat ini awalnya adalah pengobatan populer untuk tekanan darah tinggi. Namun kini, beta blockers dianggap kurang efektif dibandingkan obat hipertensi lainnya dan hanya digunakan ketika perawatan lain tidak berhasil.Contoh umum beta blockers adalah atenolol dan bisoprolol. Kemungkinan efek samping termasuk pusing, sakit kepala, kelelahan, tangan dan kaki dingin.Dalam menggunakan obat, panduan dokter sangat penting karena beberapa obat memiliki efek samping maupun interaksi dengan makanan yang perlu diperhatikan.Baca juga: Mengenal 11 Golongan Obat Hipertensi, Mana yang Paling Efektif? 
Berikut ini beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi risiko terkena tekanan darah tinggi dan menurunkan tekanan darah:
  • Mengurangi konsumsi garam dan menjalani diet sehat
  • Mengurangi konsumsi alkohol dan kafein
  • Mengurangi berat badan jika diperlukan
  • Berolahraga secara teratur
  • Beristirahat dengan cukup
Penyakit tekanan darah tinggi seringkali tidak menimbulkan gejala apapun. Karena itu sangat penting untuk melakukan pemeriksaan fisik secara rutin untuk mencegah hipertensi yang lebih parah. Namun ada beberapa situasi mendesak yang mengharuskan anda untuk mengunjungi dokter, diantaranya adalah:
  • Jika Anda sudah mengikuti anjuran dokter tapi tekanan darah masih tinggi
  • Jika Anda memiliki keluhan tertentu, seperti kelelahan, mual, sesak nafas, sakit kepala, keringat berlebih, detak jantung tidak teratur, bermasalah dengan penglihatan, atau mengalami disorientasi (linglung). Apabila mengalami keluhan tersebut, sebaiknya kunjungi dokter atau rumah sakit terdekat. Sebab, keluhan tersebut dapat terjadi akibat tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol maupun efek samping obat yang telahAanda konsumsi
Ada beberapa hal yang perlu anda persiapkan sebelum berkonsultasi dengan dokter, diantaranya adalah,
  1. Buatlah janji dengan dokter yang tepat: Jika anda mengalami atau mendampingi seseorang yang menderita tekanan darah tinggi, buatlah janji dengan dokter spesialis penyakit dalam atau jantung pembuluh darah
  2. Bawalah hasil tes yang mendukung pemeriksaan: Jika anda telah melakukan pemeriksaan laboratorium sebelumnya, anda dapat membawa hasil pemeriksaan guna mempermudah dokter untuk mendiagnosis keadaan anda
  3. Jika diperlukan mintalah orang lain untuk mendampingi: Memiliki pendamping ketika mengunjungi dokter dapat sangat membantu anda secara emosional dan dalam berdiskusi dengan dokter
Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait hupertensi?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis hipertensi agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/high-blood-pressure/diagnosis-treatment/drc-20373417
diakses pada 7 Juli 2020
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/high-blood-pressure-hypertension/treatment/
diakses pada 7 Juli 2020
WHO. http://www.who.int/gho/ncd/risk_factors/blood_pressure_prevalence/en/
diakses pada 21 September 2018
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/150109.php#management-and-treatment
diakses pada 16 Januari 2020
HEALTHLINE. https://www.healthline.com/health/high-blood-pressure-hypertension#bloodpressure-medication
diakses pada 7 Juli 2020
AHA. https://www.ahajournals.org/doi/10.1161/HYPERTENSIONAHA.120.15026
diakses pada 7 Juli 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Mengenal Gejala Stroke Ringan agar Tak Jadi Berbahaya

Stroke ringan adalah kondisi ketika aliran darah ke otak dan sumsum tulang belakang mengalami interupsi sesaat. Gejala stoke ringan biasanya terjadi dengan cepat.
04 May 2019|Azelia Trifiana
Baca selengkapnya
Gejala stroke ringan salah satunya adalah mati rasa di satu sisi tubuh

10 Buah Penurun Darah Tinggi yang Patut Dicoba

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah salah satu musuh yang perlu diwaspadai oleh kaum lansia. Untungnya, darah tinggi bisa dicegah dengan mengonsumsi makanan yang tepat. Salah satunya adalah dengan mengonsumsi buah penurun darah tinggi, seperti jeruk, alpukat, dan kiwi.
14 Jan 2020|Anita Djie
Baca selengkapnya
Mengonsumsi buah penurun darah tinggi seperti stroberi dan kiwi dapat membantu menstabilkan tekanan darah

Macam-macam Sayuran Penurun Darah Tinggi, Apa Saja?

Hipertensi atau tekanan darah tinggi dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius, seperti penyakit jantung dan stroke. Namun, terdapat sayuran penurun darah tinggi yang bisa membantu Anda mengontrol tekanan darah.
23 Jul 2020|Dina Rahmawati
Baca selengkapnya
Kale dan bayam merupakan sayuran penurun darah tinggi yang cocok dikonsumsi penderita hipertensi