Jantung

Hipertensi Sekunder

11 Aug 2021 | Popy Hervi PutriDitinjau oleh dr. Anandika Pawitri
image Hipertensi Sekunder
Sekitar 5-10% dari penderita hipertensi merupakan penderita hipertensi sekunder
Hipertensi sekunder adalah tekanan darah tinggi yang disebabkan oleh kondisi medis lain. Seperti kondisi yang memengaruhi ginjal, arteri, jantung atau sistem endokrin. Kondisi ini juga dapat terjadi selama kehamilan.Hipertensi sekunder berbeda dari jenis tekanan darah tinggi biasa (hipertensi primer atau hipertensi esensial), yang sering disebut sebagai tekanan darah tinggi saja. Namun, umumnya seseorang lebih sering menderita hipertensi primer.Pengobatan hipertensi sekunder biasanya dilakukan untuk mengontrol kondisi yang mendasari dan hal yang menyebabkan tekanan darah tinggi. Hal ini juga bermanfaat untuk yang mengurangi risiko komplikasi serius. 
Hipertensi Sekunder
Dokter spesialis Jantung
GejalaKeringat berlebih, detak jantung meningkat, sakit kepala
Faktor risikoSakit ginjal, gangguan arteri atau jantung
Metode diagnosisTes darah, pemeriksaan urine, USG ginjal
PengobatanObat-obatan, membatasi konsumsi garam, menjaga berat badan agar tetap ideal
ObatObat diuretik, obat antihipertensi
KomplikasiKerusakan pada arteri, aneurisma aorta, gagal jantung
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala hipertensi sekunder
Secara umum, gejala hipertensi sekunder meliputi:
  • Keringat berlebih
  • Detak jantung meningkat
  • Sakit kepala
  • Cemas
  • Penambahan berat badan
  • Tubuh lemah
  • Pertumbuhan rambut tubuh yang tidak normal
  • Tidak menstruasi (pada wanita)
  • Muncul guratan-guratan ungu (garis) pada kulit perut
  • Intoleransi terhadap panas atau dingin
  • Mengantuk di siang hari
  • Mendengkur
  • Berhenti bernapas saat tidur
Pada penderita hipertensi, beberapa kondisi yang dapat menunjukkan hipertensi sekunder meliputi:
  • Hipertensi yang tidak membaik dengan mengonsumsi tiga obat antihipertensi dosis optimal, termasuk obat diuretik (obat untuk membuang kelebihan cairan tubuh)
  • Tekanan darah yang biasanya stabil terkontrol tiba-tiba naik secara cepat
  • Tekanan darah yang sangat tinggi (180/120 mmHg)
  • Hipertensi yang muncul mendadak pertama kali pada umur <30 tahun atau >55 tahun
  • Tidak ada riwayat keluarga dengan hipertensi
  • Tidak obesitas
 
Penyebab utama hipertensi sekunder adalah gangguan kesehatan lain. Seperti kondisi kesehatan, di bawah ini:
  • Diabetes
  • Penyakit ginjal. Seperti penyakit ginjal polikistik, tumor ginjal, penyakit pada glomerulus ginjal, gagal ginjal, dan penyempitan pembuluh darah ginjal
  • Pemakaian obat, seperti kortikosteroid, obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), obat flu seperti pseudoefedrin, obat migrain, obat penurun berat badan, dan pil KB yang dikonsumsi jangka panjang
  • Tumor atau kelainan kelenjar adrenal, contohnya sindrom Cushing dan pheochromocytoma
  • Gangguan pernapasan saat tidur (sleep apnea)
  • Kehamilan
  • Koarktasio aorta, cacat lahir di mana aorta menyempit
  • Penyakit kelenjar tiroid
  • Hiperparatiroidisme
  • Mengalami gangguan arteri atau jantung
https://www.sehatq.com/tindakan-medis/elektrokardiografi
Diagnosis hipertensi sekunder dilakukan dengan melakukan beberapa pemeriksaan berikut ini:
  • Tes darah untuk mengetahui kadar elektrolit (natrium, kalium), kreatinin, glukosa darah, kolesterol, dan trigliserida.
  • Tes urine untuk mengetahui fungsi ginjal.
  • USG ginjal karena banyak penyakit ginjal yang berhubungan dengan hipertensi sekunder
  • Elektrokardiogram atau EKG untuk mengetahui fungsi jantung jika terdapat masalah pada jantung yang dapat menyebabkan terjadinya hipertensi sekunder.
  • CT scan atau MRI untuk memeriksa kelenjar adrenal, atau arteriogram guna melacak aliran darah ke ginjal
 
Cara mengobati hipertensi sekunder umumnya akan tergantung dari tingkat keparahan penyakit dan seberapa lama pasien sudah mengalami kondisi tersebut. Beberapa langkah penanganan dari doter melputi:

Obat-obatan

Beberapa obat yang dapat digunakan adalah:
  • Obat diuretik, seperti thiazide untuk mengeluarkan kelebihan cairan tubuh dan merupakan obat pilihan pertama.
  • Obat antihipertensi, seperti beta bloker, ACE-inhibitors, Angiotensin II receptor blockers, calcium channel blockers, dan direct renin inhibitors.
  • Obat lain disesuaikan dengan penyebab penyakit lainnya.

Terapi selain obat

Selain obat-obatan, hipertensi sekunder dapat diatasi dengan terapi non obat, seperti:
  • Pola makan yang dianjurkan untuk orang dengan hipertensi adalah berdasarkan DASH (dietary approaches to stop hypertension), yaitu dengan memperbanyak konsumsi buah, sayur, biji-bijian, makanan rendah lemak, makanan kaya kalium (kentang, bayam, pisang), serta hindari konsumsi makanan yang mengandung lemak jenuh.
  • Mengurangi konsumsi garam dengan membatasi konsumsi garam sebanyak 2300 gram atau kurang dalam sehari. Namun, konsumsi garam sebanyak 1500 mg atau kurang dalam sehari biasanya ideal pada orang dewasa.
  • Menjaga berat badan dalam batas normal. 
  • Olahraga dapat berkontribusi untuk menurunkan berat badan sehingga dapat juga menurunkan tekanan darah. Waktu yang dianjurkan adalah 30 menit setiap hari.
  • Membatasi konsumsi alkohol.
  • Menghindari rokok. Rokok dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah yang merupakan risiko hipertensi.
  • Mengurangi stres dengan tidur yang cukup dan mempelajari teknik relaksasi seperti meditasi.
 

Komplikasi hipertensi sekunder

Jika tidak ditangani dengan benar, hipertensi sekunder bisa menyebabkan komplikasi berupa: 
  • Kerusakan pada arteri.
  • Aneurisma aorta.
  • Pembuluh darah yang melemah dan menyempit di ginjal.
  • Pembuluh darah di mata yang menebal, menyempit, atau robek. Hal ini dapat mengakibatkan kehilangan penglihatan.
  • Gagal jantung.
  • Sindrom metabolik.
 
Cara mencegah hipertensi sekunder yang bisa dilakukan adalah menjalankan pola hidup sehat. 
Hubungi dokter bila Anda mengalami gejala yang mengarah pada hipertensi sekunder. Demikian pula jika Anda memiliki tanda atau gejala lain yang tidak disebutkan maupun kekhawatiran serta pertanyaan lainnya. 
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait hipertensi sekunder?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis hipertensi sekunder agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
AAFP. https://www.aafp.org/afp/2010/1215/p1471.html
Diakses pada 8 November 2018
Mdedge. https://www.mdedge.com/jfponline/article/60601/diagnosis-essential-and-secondary-hypertension-adults
Diakses pada 8 November 2018.\
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4876411/
Diakses pada 8 November 2018
Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/21128-secondary-hypertension
Diakses pada 11 Agustus 2021
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/secondary-hypertension/symptoms-causes/syc-20350679
Diakses pada 11 Agustus 2021
WebMD. https://www.webmd.com/hypertension-high-blood-pressure/secondary-hypertension
Diakses pada 11 Agustus 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email