Hipertensi Sekunder

Ditulis oleh Olivia
Ditinjau dr. Reni Utari
Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkan oleh penyakit yang penyakit jantung, ginjal dan lainnya
Sekitar 5-10% dari penderita hipertensi merupakan penderita hipertensi sekunder.

Pengertian Hipertensi Sekunder

Seseorang dinyatakan hipertensi jika pada tiga kali pengukuran pada saat yang berbeda, tekanan darahnya 140/90 mmHg. Hipertensi sendiri dibagi menjadi dua jenis yaitu hipertensi primer/esensial dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer tidak diketahui penyebabnya secara pasti, namun sering dikaitkan dengan keturunan, gaya hidup yang tidak sehat (jarang berolahraga, pola makan tidak sehat), dan obesitas. Sementara itu, hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkan oleh adanya penyakit lain seperti penyakit jantung, pembuluh darah, ginjal, paru-paru, sistem endokrin (yang mengeluarkan hormon), dan kehamilan. Sebanyak 5-10% dari penderita hipertensi merupakan penderita hipertensi sekunder.

Penanganan yang tepat dari hipertensi sekunder seringkali dapat mengontrol kondisi yang mendasari dan tekanan darah tinggi, sehingga dapat mengurangi risiko serius dari komplikasi seperti penyakit jantung, gagal ginjal, dan stroke.

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Seperti hipertensi primer, pada hipertensi sekunder jarang timbul tanda ataupun gejala meskipun tekanan darah sangat tinggi. Gejala hipertensi sendiri antara lain adalah:

  • Sakit kepala
  • Mimisan
  • Pusing
  • Mudah lelah
  • Gangguan penglihatan
  • Nyeri dada
  • Sesak napas
  • Detak jantung tidak teratur
  • Urine bercampur darah
  • Berdebar-debar

Pada orang dengan hipertensi, beberapa kondisi yang dapat menunjukkan hipertensi sekunder, di antaranya adalah:

  • Hipertensi yang tidak membaik dengan mengonsumsi tiga obat antihipertensi dosis optimal, termasuk obat diuretik (obat untuk membuang kelebihan cairan tubuh).
  • Tekanan darah yang biasanya stabil terkontrol tiba-tiba naik secara cepat.
  • Tekanan darah yang sangat tinggi (180/120 mmHg).
  • Hipertensi yang muncul mendadak pertama kali pada umur <30 tahun atau >50 tahun.
  • Tidak ada riwayat keluarga dengan hipertensi.
  • Tidak obesitas.

Penyebab

Hipertensi sekunder dapat disebabkan oleh banyak kondisi kesehatan, di antaranya adalah:

  • Diabetes: komplikasi dari penyakit ini salah satunya kerusakan ginjal (nefropati diabetikum), yang dapat menyebabkan hipertensi
  • Penyakit ginjal: bermacam-macam seperi penyakit ginjal polikistik, tumor ginjal, penyakit pada glomerulus ginjal, gagal ginjal, dan penyempitan pembuluh darah ginjal.
  • Pemakaian obat-obatan seperti kortikosteroid, obat antiinflamasi non–steroid (anti radang), obat flu termasuk dekongestan, seperti pseudoefedrin, obat migrain, obat penurun berat badan, dan pil KB (komponen estrogen) yang dikonsumsi jangka panjang.
  • Tumor hipofisis (bagian dari otak yang berfungsi memproduksi hormon yang dapat meningkatkan tekanan darah). Jika bagian tersebut mengalami tumor, maka produksi hormon tersebut akan menjadi berlebihan.
  • Tumor atau kelainan pada kelenjar adrenal (kelenjar di atas ginjal) menyebabkan kenaikan hormon yang berfungsi untuk menahan air tetap di dalam darah. Volume air dalam darah yang berlebihan dapat menyebabkan hipertensi. Contoh dari gangguan ini adalah sindrom Cushing, pheochromocytoma dan hiperaldoteronisme.
  • Penyakit kelenjar tiroid: kelenjar ini menghasilkan hormon yang mengatur tekanan darah. Jika mengalami gangguan, tekanan darah dapat naik.
  • Hiperparatiroid: kondisi kelebihan hormon paratiroid menyebabkan peningkatan kadar kalsium dalam darah yang memicu terjadinya peningkatan tekanan darah.
  • Kelainan struktur aorta (pembuluh darah utama jantung), yaitu coarctation of the aorta koartasio aorta), yang merupakan kelainan bawaan di mana aorta tersebut menyempit dan menyebabkan jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah melalui penyempitan aorta ke seluruh tubuh, sehingga kondisi ini akan menyebabkan naiknya tekanan darah.
  • Gangguan pernapasan saat tidur (sleep apnea), yang ditandai dengan mengorok, napas tiba-tiba berhenti sehingga oksigen darah berkurang. Kurangnya oksigen dapat menyebabkan kerusakan pada lapisan dinding pembuluh darah yang pada akhirnya menyebabkan hipertensi. Sleep apnea juga dapat menyebabkan bagian dari sistem saraf untuk mengeluarkan zat kimia tertentu yang dapat meningkatkan tekanan darah. Gangguan ini biasa ditemukan pada orang dengan obesitas.
  • Kehamilan: pada wanita hamil, kebutuhan akan darah meningkat sehingga terjadi peningkatan tekanan darah.

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko hipertensi adalah:

  • Umur: semakin tua, pembuluh darah semakin kaku sehingga risiko terkena hipertensi lebih tinggi
  • Ras: tekanan darah pada orang Afrika-Amerika lebih tinggi daripada orang kulit putih
  • Riwayat keluarga dengan hipertensi
  • Jenis kelamin: pria lebih sering terkena hipertensi dibandingkan dengan wanita
  • Obesitas: jumlah berat badan 30% melebihi berat badan normal
  • Kurang berolahraga
  • Kebiasaan mengonsumsi alkohol 
  • Menggunakan Pil KB

Diagnosis

Pertama-tama harus dipastikan adanya hipertensi, dengan melakukan pemeriksaan tekanan darah oleh dokter sebanyak 3–6 kali pada saat yang berbeda. Jika ditemukan gejala di atas (misalnya hipertensi yang tidak membaik dengan obat), akan dilakukan beberapa pemeriksaan untuk menemukan penyebab penyakit seperti:

  • Pemeriksaan darah: untuk mengetahui kadar elektrolit (natrium, kalium), kreatinin, gula darah, kolesterol, trigliserida, dan kadar hormon tertentu, serta senyawa kimia lain.
  • Pemeriksaan urine: untuk mengetahui fungsi ginjal.
  • USG ginjal karena banyak penyakit ginjal yang berhubungan dengan hipertensi sekunder. Oleh sebab itu, pemeriksaan USG ginjal dan pembuluh darah dilakukan.
  • CT scan/MRI untuk mendeteksi kelainan ginjal, jantung, dan pembuluh darah secara lebih jelas.
  • EKG untuk mengetahui fungsi jantung jika terdapat masalah pada jantung yang dapat menyebabkan terjadinya hipertensi sekunder.

Pengobatan

Dengan mengobati penyakit penyebab hipertensi, tekanan darah biasanya akan turun dan bisa kembali normal. Perubahan gaya hidup, seperti mengonsumsi makanan yang sehat, meningkatkan aktivitas fisik, dan mempertahankan berat badan ideal dapat membantu untuk menurunkan tekanan darah atau mempertahankan tekanan darah tetap normal.

Beberapa obat yang dapat digunakan adalah:

  • Obat diuretik, seperti thiazide untuk mengeluarkan kelebihan cairan tubuh dan merupakan obat pilihan pertama.
  • Obat antihipertensi, seperti beta bloker, ACE-inhibitors, Angiotensin II receptor blockers, calcium channel blockers, dan direct renin inhibitors.
  • Obat lain disesuaikan dengan penyebab penyakit lainnya.

Selain obat-obatan, hipertensi sekunder dapat diatasi dengan terapi non obat, seperti:

  • Pola makan yang dianjurkan untuk orang dengan hipertensi adalah berdasarkan DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension), yaitu dengan memperbanyak konsumsi buah, sayur, biji-bijian, makanan rendah lemak, makanan kaya kalium (kentang, bayam, pisang), serta hindari konsumsi makanan yang mengandung lemak jenuh.
  • Mengurangi konsumsi garam dengan membatasi konsumsi garam sebanyak 2300 gram atau kurang dalam sehari. Namun, konsumsi garam sebanyak 1500 mg atau kurang dalam sehari biasanya ideal pada orang dewasa.
  • Menjaga berat badan dalam batas normal. 
  • Olahraga dapat berkontribusi untuk menurunkan berat badan sehingga dapat juga menurunkan tekanan darah. Waktu yang dianjurkan adalah 30 menit setiap hari.
  • Membatasi konsumsi alkohol.
  • Menghindari rokok. Rokok dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah yang merupakan risiko hipertensi.
  • Mengurangi stres dengan tidur yang cukup dan mempelajari teknik relaksasi seperti yoga.

Jika tidak diobati, hipertensi dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti:

  • Kerusakan pembuluh darah: pembuluh darah menjadi kaku dan menebal (aterosklerosis) yang berisiko serangan jantung dan stroke
  • Pembuluh darah rapuh dan mudah pecah (aneurisma). Pecahnya pembuluh darah besar merupakan kondisi yang mengancam nyawa
  • Gagal jantung. Jantung akan bekerja keras untuk memompa darah pada kondisi tekanan darah yang tinggi, sehingga otot jantung dapat menebal, yang dapat menyebabkan jantung bekerja semakin keras untuk memompa darah keseluruh tubuh sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan gagal jantung.
  • Kerusakan pembuluh darah ginjal. Hal ini dapat menyebabkan penyakit ginjal dan yang berujung pada gagal ginjal. Kondisi ini tidak dapat disembuhkan.
  • Kerusakan pembuluh darah di mata yang dapat menyebabkan penurunan penglihatan sampai kebutaan.
  • Sindrom metabolik. Sindrom ini merupakan kumpulan dari kelainan pada metabolisme tubuh, termasuk meningkatnya lingkar pinggang, tingginya kadar trigliserida, rendahnya kadar HDL (kolesterol baik dalam darah), tingginya tekanan darah dan kadar insulin dalam darah. Kondisi ini meningkatkan risiko meningkatnya diabetes, penyakit jantung, dan stroke.
  • Kesulitan dengan ingatan atau pemahaman. Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dapat memengaruhi kemampuan untuk berpikir, mengingat, dan belajar.

Pencegahan

Mencegah hipertensi sekunder berarti mencegah penyakit yang dapat menyebabkan hipertensi. Upaya yang dapat dilakukan adalah:

  • Pemeriksaan kesehatan secara berkala
  • Pengobatan dini untuk mencegah komplikasi penyakit
  • Pola hidup sehat

Informasi Dokter

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Jika terdapat penyakit seperti di atas yang dapat menyebabkan hipertensi sekunder, sebaiknya Anda memeriksakan diri secara rutin ke dokter. Tanyakan kepada dokter seberapa sering tekanan darah Anda harus diperiksa.

Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Berkonsultasi dengan Dokter?

Sebelum berkonsultasi, sebaiknya Anda membuat beberapa daftar mengenai:

  • Mencatat gejala yang dirasakan, waktu timbulnya, dan perubahannya dari waktu ke waktu
  • Mencatat pengobatan yang telah atau sedang dijalani
  • Membawa berkas kesehatan pribadi
  • Mencatat pertanyaan yang ingin ditanyakan ke dokter
  • Tidak mengonsumsi kopi (kafein), tidak merokok 30 menit sebelum pemeriksaan tekanan darah oleh dokter

Apa yang Akan Dilakukan Dokter pada Saat Konsultasi?

Dokter akan memastikan adanya hipertensi dan kemungkinan adanya penyakit penyebab dengan berbagai pemeriksaan penunjang. Jika terbukti hipertensi sekunder, dokter akan merujuk ke spesialis tertentu sesuai dengan jenis penyakit penyebab hipertensi tersebut.

Referensi

AAFP. https://www.aafp.org/afp/2010/1215/p1471.html
diakses pada 8 November 2018.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/secondary-hypertension/symptoms-causes/syc-20350679
diakses pada 8 November 2018.

Mdedge. https://www.mdedge.com/jfponline/article/60601/diagnosis-essential-and-secondary-hypertension-adults
diakses pada 8 November 2018.

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4876411/
diakses pada 8 November 2018.

WebMD. https://www.webmd.com/hypertension-high-blood-pressure/secondary-hypertension
diakses pada 8 November 2018.

Back to Top