Psikologi

Hipersomnia

29 Apr 2021 | Popy Hervi PutriDitinjau oleh dr. Anandika Pawitri
image Hipersomnia
Hipersomnia dapat terjadi meski Anda telah tidur untuk waktu yang lama atau cukup
Hipersomnia adalah kondisi yang membuat seseorang merasa lelah dan mengantuk berlebih di siang hari. Penderita akan tetap kelelahan meski telah tidur dengan durasi yang cukup.Kondisi yang juga disebut excessive daytime sleepiness (EDS) ini memiliki dua jenis, yakni primer dan sekunder.Seseorang dikatakan mengalami hipersomnia primer ketika EDS berlangsung selama minimal tiga bulan, dan tidak disertai gejala lain.Sedangkan hipersomnia sekunder biasanya disebabkan oleh buruknya kualitas tidur di malam hari. Akibatnya, muncul rasa lelah dan terganggunya konsentrasi.Pada jenis sekunder, hipersomnia merupakan manifestasi dari penyakit lain. Contohnya, penyakit Parkinson, gagal ginjal, dan sindrom kelelahan kronis. 
Hipersomnia
Dokter spesialis Jiwa
GejalaLelah sepanjang waktu, sulit konsenterasi
Faktor risikoPria, sleep apnea, sakit jantung
Metode diagnosisEpwroth sleepines scale, sleep diary
PengobatanObat-obatan, perubahan gaya hidup
ObatAmphetamine, methylphenidate, modafinil
KomplikasiGangguan memori, halusinasi
Kapan harus ke dokter?Merasa lelah berlebihan sehingga menganggu aktivitas
Gejala hipersomnia dapat berbeda-beda di tiap penderita. Perbedaan ini tergantung dari penyebabnya.Namun secara umum, gejala yang muncul dapat berupa:
  • Merasa sangat lelah sepanjang waktu
  • Selalu merasa butuh tidur siang
  • Tetap mengantuk meski telah tidur cukup atau dalam jangka waktu yang lama
  • Sulit berkonsterasi sehingga sulit untuk membuat keputusan
  • Kurang antusias
  • Mengalami gangguan memori
  • Meningkatnya risiko kecelakaan, terutama saat mengoperasikan kendaraan bermotor
  • Mudah marah
  • Sering merasa cemas
  • Kehilangan nafsu makan
 
Penyebab hipersomnia tergantung tergantung pada jenisnya di bawah ini:

Penyebab hipersomnia primer

Beberapa literatu medis menyebutkan bahwa hipersomnia primer disebabkan oleh gangguan otak yang mengatur pola tidur dan bangun

Penyebab hipersomnia sekunder

Penyebab hipersomnia sekunder adalah kualitas tidur yang buruk. Kondisi ini bisa disebabkan oleh banyak faktor.Beberapa faktor risiko hipersomnia sekunder tersebut meliputi:
  • Gangguan tidur lain, seperti insomnia, narkolepsi dan apnea tidur
  • Tidak memiliki waktu yang cukup untuk tidur di malam hari
  • Kelebihan berat badan
  • Kebiasaan mengonsumsi alkohol berlebihan
  • Penyalahgunaan obat-obatan terlarang
  • Cedera kepala atau gangguan saraf (seperti multiple sclerosis atau penyakit Parkinson)
  • Penyakit tertentu, seperti gangguan ginjal, penyakit jantung, dan fungsi kelenjar tiroid yang rendah
  • Konsumsi obat-obatan yang diresepkan untuk penyakit lain
  • Adanya anggota keluarga kandung dengan riwayat penyakit yang sama
  • Depresi
Hipersomnia juga biasanya lebih sering dialami oleh laki-laki daripada perempuan. Namun pemicu di balik hal ini belum diketahui. 
Untuk memastikan diagnosis hipersomnia, dokter dapat melakukan serangkaian pemeriksaan di bawah ini:
  • Tanya jawab

Dokter akan menanyakan gejala serta riwayat kesehatan pasien maupun keluarga. Dokter juga akan mendata obat-obatan yang sedang di konsumsi.
  • Pemeriksaan fisik

Dokter akan memeriksa kondisi fisik pasien, misalnya detak jantung.
  • Epwroth sleepines scale

Dokter akan meminta pasien untuk menilai rasa kantuk yang dirasakan. Langkah ini bertujuan melihat pengaruhnya terhadap aktivitas sehari-hari.
  • Sleep diary

Dokter bisa menyarankan pasien untuk mencatat waktu tidur dan bangun, untuk melihat durasi serta pola tidur pasien.
  • Polysomnogram

Pada polysomnogram atau sleep study, pasien harus menginap di klinik khusus selama semalam. Dokter akan memeriksa aktivitas otak pasien, serta pergerakan mata, kaki, detak jantung, pernapasan, hingga kadar oksigen.
  • Multiple sleep latency test
Multiple sleep latency test bertujuan melihat kadar kantuk yang dirasakan oleh pasien. Dokter juga akan mengecek sejauh mana pasien memasuki fase tidur saat tidur siang. Umumnya, tes ini dilakukan sehari setelah polysomnogram. 
Penanganan hipersomnia akan ditentukan berdasarkan penyebab yang mendasarinya. Dokter dpaat menganjurkan cara mengobati hipersomnia yang meliputi:

Obat-obatan

Beberapa jenis obat yang dapat mengatasi narkolepsi, juga bisa digunakan untuk mengatasi hipersomnia. Contohnya, amphetamine, methylphenidate, dan modafinil.Obat-obatan ini termasuk golongan stimulan yang dapat membantu pasien agar merasa lebih segar dan tidak mengantuk.

Perubahan gaya hidup

Perubahan gaya hidup juga penting sebagai bagian dari pengobatan hipersomnia. Dokter mungkin akan menyarankan pasien untuk:
  • Mengikuti jadwal tidur yang teratur
  • Menghindari kegiatan yang dapat memperparah gejala yang dirasakan, terutama menjelang tidur
  • Tidak mengonsumsi alkohol maupun obat-obatan terlarang
  • Menerapkan pola makan kaya nutrisi yang diberikan oleh dokter supaya energi tubuh tetap tercukupi
 

Komplikasi hipersomnia

Bila terus berlangsung dan tidak ditangani, hipersomnia dapat menyebabkan komplikasi berupa:
  • Gelisah
  • Sulit berpikir atau berkonsentrasi
  • Bicara lambat
  • Halusinasi
  • Nafsu makan berkurang
  • Berat badan menurun
  • Gangguan memori
  • Proses bekerja dan kehidupan sosial terganggu
 
Hingga saat ini, belum ada cara mencegah hipersomnia yang bisa dilakukan. Meski begitu, Anda dapat mengurangi risikonya dengan:
  • Menciptakan lingkungan tidur yang tenang
  • Menjauhi konsumsi alkohol
  • Menghindari konsumsi obat yang dapat menyebabkan kantuk
  • Jangan bekerja hingga larut malam
 
Meski hipersomnia bukan kondisi yang bisa membahayakan nyawa, konsekuensi yang ditimbulkannya bisa merugikan penderita. Pasalnya, kondisi ini dapat meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas akibat tertidur saat berkendara.Karena itu, jika merasakan gejala hipersomnia atau kondisi ini menganggu rutinitas, ada baiknya Anda berkonsultasi dan memeriksakan diri ke dokter. 
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat durasi tidur Anda dalam 24 jam.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Sejak kapan gejala muncul?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait hipersomnia?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis hipersomnia agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
National Institue of Neurological Disorders and Stroke. https://www.ninds.nih.gov/Disorders/All-Disorders/Hypersomnia-Information-Page#disorders-r1
Diakses pada 31 Mei 2019
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hypersomnia/symptoms-causes/syc-20362332
Diakses pada 31 Mei 2019
Better Health Channel. https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/conditionsandtreatments/sleep-hypersomnia
Diakses pada 31 Mei 2019
WebMD. https://www.webmd.com/sleep-disorders/guide/hypersomnia
Diakses pada 31 Mei 2019
Healthline. https://www.healthline.com/health/hypersomnia
Diakses pada 31 Mei 2019
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/excessive-daytime-sleepiness-hypersomnia/
Diakses pada 31 Mei 2019
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/hypersomnia
Diakses pada 28 April 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email