Hipersomnia dapat terjadi meski Anda telah tidur untuk waktu yang lama atau cukup.
Hipersomnia dapat terjadi meski Anda telah tidur untuk waktu yang lama atau cukup.

Hipersomnia adalah suatu kondisi yang membuat seseorang merasakan kelelahan berlebih di siang hari. Kondisi ini masih dapat terjadi meski Anda telah tidur dalam waktu yang lama. Hipersomnia dapat juga disebut dengan excessive daytime sleepiness (EDS). Seseorang dikatakan hipersomnia adalah ketika ia mengalami EDS setidaknya selama tiga bulan.

Kondisi ini bisa menjadi gangguan primer dan sekunder. Pada jenis sekunder, hipersomnia merupakan manifestasi dari penyakit lain. Orang yang mengalami hipersomnia sekunder umumnya kesulitan untuk melakukan rutinitas akibat rasa lelah yang begitu parah, sehingga mengganggu konsenterasi.

Gejala hipersomnia dapat berbeda-beda di tiap orang, tergantung dari penyebabnya. Namun secara umum, gejala yang dialami dapat berupa:

  • Merasa sangat lelah sepanjang waktu.
  • Selalu merasa butuh tidur siang.
  • Tetap mengantuk meski telah tidur cukup atau dalam jangka waktu yang lama.
  • Sulit berkonsterasi sehingga sulit untuk membuat keputusan.
  • Kurang antusias.
  • Mengalami gangguan memori.
  • Meningkatnya risiko kecelakaan, terutama saat mengoperasikan kendaraan bermotor.
  • Mudah marah
  • Sering merasa cemas
  • Kehilangan nafsu makan

Terdapat beberapa kondisi yang bisa memicu timbulnya hipersomnia, di antaranya adalah:

  • Gangguan tidur lain, seperti narkolepsi dan apnea tidur.
  • Tidak memiliki waktu yang cukup untuk tidur di malam hari.
  • Kelebihan berat badan.
  • Memiliki kebiasaan mengonsumsi alkohol berlebihan dan menggunakan obat-obatan terlarang.
  • Cedera kepala atau adanya gangguan pada saraf, seperti multiple sclerosis atau penyakit Parkinson.
  • Konsumsi obat-obatan yang diresepkan untuk penyakit lain.
  • Memiliki keluarga dengan riwayat penyakit yang sama.
  • Depresi.

Pada beberapa literatur, penyebab hipersomnia dibagi menjadi primer dan sekunder. Penyebab primer disebabkan oleh gangguan otak yang mengatur pola tidur dan bangun, sedangkan penyebab sekunder dikarenakan kualitas tidur yang buruk misalnya gangguan pernapasan saat tidur yang menyebabkan terbangun pada malam hari dan mengganggu jam tidur.

Untuk mendiagnosis hipersomnia, dokter akan memeriksa gejala-gejala yang Anda alami serta melihat kembali riwayat kesehatan Anda dan keluarga. Dokter juga akan mendata obat-obatan yang sedang Anda konsumsi dan melakukan pemeriksaan fisik.

Dokter mungkin pula menyarankan Anda untuk mengambil serangkaian tes guna mempermudah proses diagnosis mengetahui penyebab hipersomnia yang dialami, dan menyingkirkan kemungkinan-kemungkinan penyakit lain yang memiliki gejala yang serupa.

Jenis pemeriksaan yang dapat dijalani untuk mendeteksi hipersomnia meliputi:

  • Epwroth sleepines scale. Dokter akan meminta Anda untuk menilai rasa kantuk yang Anda rasakan, guna melihat pengaruhnya terhadap aktivitas Anda sehari-hari.
  • Sleep diary. Dokter juga mungkin menyarankan Anda untuk mencatat waktu tidur dan bangun Anda. Demikian pula dengan pola dan durasi tidur Anda.
  • Polysomnogram. Pada pemeriksaan ini, Anda diharuskan untuk menginap di klinik khusus gangguan tidur selama semalam. Saat tidur, dokter akan memeriksa aktivitas otak Anda, serta pergerakan mata, kaki, detak jantung, pernapasan, hingga kadar oksigen.
  • Multiple sleep latency test. Pemeriksaan ini bertujuan melihat kadar kantuk yang Anda rasakan. Tidak hanya itu, dokter juga akan mengecek sejauh mana Anda masuk ke fase tidur saat tidur siang. Umumnya, tes ini dilakukan sehari setelah polysomnogram.

Perawatan untuk kondisi ini bisa bervariasi, tergantung dari penyebab yang mendasarinya. Beberapa jenis obat yang dapat mengatasi narkolepsi juga bisa digunakan dalam mengatasi hipersomnia.

Jenis obat tersebut meliputi amphetamine, methylphenidate, dan modafinil. Obat-obatan ini tergolong jenis stimulan yang dapat membantu Anda merasa lebih segar dan tidak mengantuk.

Perubahan gaya hidup juga penting dilakukan sebagai bagian dari perawatan hipersomnia. Dokter mungkin akan menyarankan Anda untuk mengikuti jadwal tidur yang teratur dan menghindari kegiatan yang dapat memperparah gejala yang dirasakan, terutama menjelang waktu tidur.

Penderita hipersomnia juga sebaiknya tidak mengonsumsi alkohol maupun obat-obatan terlarang. Dokter pun akan membuatkan rencana pola makan yang kaya nutrisi agar energi tubuh tetap tercukupi.

Hingga saat ini, belum ada metode khusus untuk mencegah hipersomnia. Meski begitu, Anda dapat mengurangi risikonya dengan mencoba menciptakan lingkungan tidur yang tenang dan menjauhi konsumsi alkohol.

Selain itu, Anda juga disarankan untuk menghindari konsumsi obat yang dapat menyebabkan kantuk. Bekerja hingga larut malam pun sebaiknya dihindari jika Anda tidak ingin terkena kondisi ini.

Meski hipersomnia bukanlah suatu kondisi yang bisa membahayakan nyawa, konsekuensi yang ditimbulkannya bisa merugikan untuk Anda. Hipersomnia dapat meningkatkan risiko Anda mengalami kecelakaan kendaraan bermotor akibat tertidur saat berkendara.

Karena itu, ketika Anda mulai merasakan gejala-gejala hipersomnia, tidak ada salahnya jika Anda berkonsultasi dan memeriksakan diri ke dokter.

Sebaiknya mencatat berapa lama anda tidur dalam 24 jam. Sebaiknya Anda berkonsultasi ke dokter jika anda sering tidur bukan pada jam mengantuk Anda.

Saat pemeriksaan, dokter akan mencari penyebab awal munculnya kondisi ini, misalnya mengajukan beberapa pertanyaan guna memeriksa kemungkinan Anda menderita depresi. Dokter juga akan menyarankan Anda untuk membuat catatan tentang jam tidur Anda.

Jika diperlukan, dokter juga mungkin merujuk Anda ke dokter spesialis yang bisa merawat pasien dengan gangguan tidur secara lebih rinci.

National Institue of Neurological Disorders and Stroke. https://www.ninds.nih.gov/Disorders/All-Disorders/Hypersomnia-Information-Page#disorders-r1
Diakses pada 31 Mei 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hypersomnia/symptoms-causes/syc-20362332
Diakses pada 31 Mei 2019

Better Health Channel. https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/conditionsandtreatments/sleep-hypersomnia
Diakses pada 31 Mei 2019

WebMD. https://www.webmd.com/sleep-disorders/guide/hypersomnia
Diakses pada 31 Mei 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/hypersomnia
Diakses pada 31 Mei 2019

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/excessive-daytime-sleepiness-hypersomnia/
Diakses pada 31 Mei 2019

Artikel Terkait