Kepala

Hidrosefalus

Diterbitkan: 09 Dec 2020 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Hidrosefalus
Hidrosefalus dapat terjadi pada segala usia, namun lebih sering terjadi pada bayi dan lansia.
Hidrosefalus adalah penumpukan cairan serebrospinal pada rongga otak (ventrikel) yang dapat menyebabkan kerusakan otak. Hidrosefalus dapat terjadi pada usia berapa saja, tetapi lebih sering terjadi pada bayi dan orang dewasa diatas 60 tahun.Ada 3 tipe hidrosefalus, antara lain:
  • Hidrosefalus kongenital (bawaan), yang sudah ada saat lahir
  • Hidrosefalus didapat (acquired), yang muncul setelah lahir
  • Hidrosefalus tekanan normal, merupakan hidrosefalus dengan tekanan dalam otak (Intrakranial) normal yang biasanya diderita pada usia lanjut
Hidrosefalus dapat diobati dengan berbagai cara. Prinsip pengobatan dari kondisi ini adalah dengan menghilangkan penyakit yang menyebabkan penyumbatan di otak atau dengan mengalirkan penumpukan cairan serebrospinal.
Hidrosefalus
Dokter spesialis Anak, Saraf
GejalaUkuran kepala yang tidak normal, pandangan kabur, kesulitan berjalan
Faktor risikoPerkembangan sistem saraf pusat yang tidak normal, infeksi rahim saat hamil, tumor otak
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, CT scan, MRI
PengobatanOperasi
KomplikasiGanggun intelektual, gangguan perkembangan, gangguan fisik pada anak
Kapan harus ke dokter?Jika bayi mengalami kesulitan saat menyusu, kesulitan bernapas, kejang
Gejala hidrosefalus dapat sangat bervariasi pada tiap individu di berbagai kalangan usia dan berdasarkan tipe hidrosefalus yang diderita. Berikut penjelasannya:

Gejala awal hidrosefalus pada bayi ditunjukkan dengan:

  • Ukuran kepala yang sangat besar
  • Pertumbuhan ukuran lingkar kepala yang cepat
  • Ubun-ubun yang menonjol
  • Vena kulit kepala menonjol
  • Bola mata yang mengarah ke bawah
  • Sangat rewel
  • Muntah-muntah
  • Kantuk berlebihan
  • Nafsu makan yang buruk
  • Otot yang lemah
  • Kejang-kejang

Gejala hidrosefalus pada anak-anak dan remaja ditunjukkan dengan:

  • Tangisan pendek bernada tinggi
  • Ukuran kepala yang besar
  • Mual dan muntah
  • Pembengkakan pada saraf optik mata (papilledema)
  • Penglihatan kabur
  • Mata juling
  • Kejang otot
  • Sakit kepala
  • Perubahan pada struktur wajah
  • Kelainan keseimbangan yang menyebabkan kesulitan dalam berjalan
  • Pertumbuhan yang tertunda
  • Perubahan kepribadian
  • Ketidakmampuan untuk berkonsentrasi
  • Nafsu makan buruk
  • Inkontinensia urine (sulit menahan buang air kecil)
  • Sulit tidur atau tidur terlalu lama
  • Mudah tersinggung

Gejala hidrosefalus pada anak-anak dan remaja ditunjukkan dengan:

  • Sakit kepala kronis
  • Mual dan muntah
  • Kesulitan berjalan atau mengalami gangguan dalam gaya berjalan
  • Kehilangan keseimbangan
  • Lesu
  • Gangguan kandung kemih
  • Gangguan penglihatan
  • Keterampilan kognitif terganggu
  • Hilang ingatan
  • Demensia ringan
 
Hidrosefalus terjadi ketika cairan otak menumpuk dalam volume yang tinggi dan terakumulasi di rongga (ventrikel) otak.Alasan utama terjadinya hidrosefalus adalah:
  • Terlalu banyak cairan serebrospinal yang dihasilkan.
  • Salah satu ventrikel di otak tersumbat atau menyempit sehingga menghentikan atau membatasi aliran cairan serebrospinal untuk bisa bisa keluar dari otak.
  • Cairan serebrospinal tidak dapat disaring ke dalam aliran darah.
Berdasarkan tipenya, penyebab hidrosefalus dijelaskan sebagai berikut:

Penyebab hidrosefalus kongenital

Hidrosefalus kongenital adalah penyakit bawaan yang menyebabkan bayi dilahirkan dengan kondisi khusus, seperti:
  • Mengalami penyumbatan di saluran otak, tepatnya di bagian panjang otak tengah yang menghubungkan dua ventrikel besar. Hal tersebut adalah penyebab paling umum dari hidrosefalus kongenital.
  • Pleksus koroid yang bertanggung jawab dalam produksi cairan otak menghasilkan terlalu banyak cairan serebrospinal.
  • Kondisi kesehatan lain yang diderita oleh bayi. Misalnya:
    • Spina bifida yang parah (cacat lahir pada sumsum tulang belakang).
    • X-linked hydrocephalus yang disebabkan oleh mutasi kromosom X
    • Kelainan genetik langka, seperti malformasi Dandy Walker
    • Kista arakhnoid atau kantung berisi cairan yang terletak di antara otak atau sumsum tulang belakang dan membran arakhnoid
  • Infeksi selama kehamilan yang dapat mempengaruhi perkembangan otak bayi. Contohnya termasuk: CMV (cytomegalovirus), Campak jerman (rubella), penyakit gondok, sipilis, toksoplasmosis.

Penyebab acquired hidrosefalus

Hidrosefalus jenis ini muncul setelah lahir. Biasanya disebabkan oleh cedera atau penyakit yang menyebabkan penyumbatan di antara ventrikel, seperti:
  • Perdarahan otak
  • Cedera otak yang diakibatkan oleh kecelakaan otak, infeksi, paparan bahan kimia tertentu, atau masalah pada sistem kekebalan tubuh.
  • Tumor otak
  • Meningitis, radang selaput otak atau sumsum tulang belakang.
  • Stroke, suatu kondisi di mana bekuan darah atau apembuluh darah pecah hingga mengganggu aliran darah ke area otak.

Penyebab hidrosefalus tekanan normal

Hidrosefalus tekanan normal biasa terjadi pada orang dewasa. Penyebab pastinya belum diketahui, tetapi beberapa hal berikut diduga dapat menyebabkan terjadinya hidrosefalus tekanan normal.
  • Ganguan penyerapan cairan otak
Cairan sereprospinal yang tidak diserap kembali ke dalam aliran darah dengan baik. Oleh sebab itu, otak mulai memproduksi lebih sedikit cairan serebrospinal. Akibatnya,  akan terjadi peningkatan tekanan secara bertahap dalam jangka waktu yang panjang. Peningkatan tekanan tersebut pada akhirnya akan menimbulkan penumpukan cairan yang mengakibatan kerusakan otak yang progresif.
  • Penyakit yang mendasari
Kondisi seperti penyakit jantung, kadar kolesterol darah tinggi, atau diabetes dapat memengaruhi aliran darah normal sehingga menyebabkan pelunakan jaringan otak. Jaringan otak yang melunak kemudian akan menghasilkan peningkatan tekanan. 

Faktor risiko

Beberapa faktor berikut dapat meningkatkan risiko terjadinya hidrosefalus, yakni:
  • Sistem saraf pusat yang perkembangannya tidak normal sehingga dapat menghalangi aliran cairan serebrospinal
  • Perdarahan di dalam ventrikel, kemungkinan sebagai komplikasi dari kelahiran premature
  • Tidak menjaga kesehatan janin selama kehamilan sehingga mengalami infeksi pada rahim saat hamil. Infeksi rubella atau sifilis dapat menyebabkan peradangan pada jaringan otak janin.
  • Mengalami kecelakaan atau kondisi lain yang memengaruhi otak atau sumsum tulang belakang.
Baca jawaban dokter: Kepala terbentur saat bayi, apakah bisa berpengaruh sampai besar?  
Dalam mendiagnosis hidrosefalus, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik diikitu tanya jawab terkait gejala dan riwayat kesehatan pasien dan keluarga. Di samping itu, beberapa pemeriksaan penunjang untuk membantu diagnosis juga akan dilakukan, diantaranya adalah:
1. Pemeriksaan neurologis
Pemeriksaan ini dilakukan untuk memeriksa jika ada kelainan pada sistem saraf. Tes ini dilakukan dengan memeriksa kondisi otot, pola gerakan dan seberapa baik indra-indra pasien berfungsi.2. Pemindaian otakTes pencitraan yang dapat memindai otak dapat membantu mendiagnosis hidrosefalus dan mengidentifikasi penyebabnya. Tes ini mungkin termasuk:
  • USG. Pencitraan ultrasonografi menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk menghasilkan gambar organ dalam. USG sering digunakan untuk penilaian awal pada bayi karena prosedurnya relatif sederhana dan berisiko rendah. USG juga dapat mendeteksi hidrosefalus sebelum kelahiran pada saat pemeriksaan kehamilan rutin.
  • Magnetic Resonance Imaging (MRI). Jenis pemindaian ini menggunakan gelombang radio dan medan magnet untuk menghasilkan gambar 3D yang rinci dari otak. Pemindaian MRI dapat menunjukkan pembesaran ventrikel yang disebabkan oleh cairan serebrospinal berlebih. Alat ini juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi penyebab hidrosefalus atau kondisi lain yang berkontribusi pada gejala yang dirasakan pasien.
  • Pemindaian tomografi terkomputerisasi (CT-Scan). Pemeriksaan CT scan menggunakan teknologi sinar-X khusus yang dapat menghasilkan gambar penampang otak. Kelemahan dari CT scan adalah menghasilkan gambar yang kurang detail dibandingkan dengan MRI. Selain itu, karena ada paparan radiasi dalam jumlah kecil pada CT scan yang dapat memengaruhi otak, pemeriksaan ini biasanya hanya dilakukan sebagai pemeriksaan darurat.
Baca juga: Mengenal Apa Itu Pemeriksaan Fetomaternal, Apakah Baik untuk Semua Ibu Hamil? 
Pengobatan hidrosefalus berfokus pada mencegah kerusakan otak yang lebih lanjut. Hal tersebut dilakukan dengan melancarkan aliran otak melalui prosedur pembedahan. Pembedahan tersebut diantaranya adalah:
  • Pemasangan shunt
Shunt atau selang yang ditanam di dalam otak dapat digunakan untuk mengalirkan kelebihan cairan serebrospinal pada pasien hidrosefalus. Proses ini akan mengalihkan cairan yang menumpuk di otak serta mengembalikan aliran normal dan penyerapan cairan serebrospinal.
  • Endoscopic Third Ventriculostomy (ETV)
Prosedur ETV terkadang juga digunakan sebagai alternatif untuk operasi shunt terutama untuk hidrosefalus yang diakibatkan oleh blokade aliran cairan serebrospinal (hidrosefalus obstruktif). Prosedur ini dilakukan dengan membuat lubang di bagian bawah ventrikel atau di antara ventrikel otak sehingga cairan serebrospinal yang menumpuk dapat mengalir. 

Komplikasi

Komplikasi hidrosefalus dalam jangka panjang meliputi:
  • Hidrosefalus pada bayi lahir dapat mengakibatkan cacat intelektual, keterlambatan perkembangan, dan perbedaan fisik yang signifikan.
  • Hidrosefalus pada orang dewasa dapat menyebabkan penurunan memori yang atau keterampilan berpikir lainnya.
 
Tidak ada tindakan pencegahan khusus yang direkomendasikan untuk hidrosefalus. Akan tetapi, beberapa hal berikut dapat membantu menurunkan risiko hidrosefalus, meliputi:
  • Menjalani pemeriksaan kehamilan secara rutin bagi ibu hamil.
  • Vaksinasi atau imunisasi sesuai rekomendasi. Pencegahan infeksi terutama mumps dan rubella dapat menurunkan risiko hidrosefalus.
  • Menghindari cedera pada kepala, dengan:
    • Menggunakan sabuk pengaman saat berkendara
    • Tidak berkendara saat di bawah pengaruh alkohol
    • Menggunakan alat pengaman seperti helm saat mengendarai motor, berkuda, dan olahraga lainnya yang memungkinkan terjadinya benturan di kepala.
    • Pasang batang pengaman di samping bak mandi atau toilet untuk digunakan anggota keluarga yang usianya sudah lanjut.
    • Lansia harus tetap aktif secara fisik untuk memastikan tubuh bagian bawah masih kuat dan belum kehilangan keseimbangan tubuh
    • Pastikan pencahayaan di dalam rumah cukup terang.
    • Pilih permukaan yang lembut pada area bermain anak.
    • Tempatkan gerbang pengaman di bagian bawah dan atas tangga jika memiliki anak-anak yang masih kecil.
Baca juga: Panduan Pemeriksaan Kehamilan Saat Pandemi Virus Corona 
Hubungi rumah sakit jika bayi Anda mengalami tanda-tanda berikut:
  • Tangisan yang kencang
  • Kesulitan saat menyusu, menyedot atau makan
  • Muntah
  • Kesulitan memindahkan kepala atau berbaring
  • Kesulitan bernapas
  • Kejang
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda atau anak Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda atau anak Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda atau anak Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda atau anak Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
 Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah gejala-gejala tersebut berubah seiring waktu?
  • Apakah gejala-gejala tersebut termasuk mual dan muntah?
  • Apakah Anda atau anak Anda memiliki masalah penglihatan?
  • Penahkah Anda atau anak Anda mengalami sakit kepala atau demam?
  • Pernahkah Anda memperhatikan adanya perubahan kepribadian, termasuk menjadi mudah marah atau tersinggung?
  • Apakah anak Anda mengalami perubahan dalam belajar?
  • Pernahkah Anda memperhatikan masalah dengan gerakan atau koordinasi?
  • Apakah gejala yang timbul termasuk kantuk yang tidak biasa atau kekurangan energi?
  • Pada bayi: Apakah gejala tersebut termasuk kejang?
  • Pada bayi: Apakah gejala tersebut termasuk masalah dengan makan dan bernapas?
  • Pada anak-anak yang lebih besar dan orang dewasa: Apakah gejala tersebut termasuk inkontinensia urine?
  • Pernahkah Anda atau anak Anda mengalami cedera kepala baru-baru ini?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis hidrosefalus agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hydrocephalus/symptoms-causes/syc-20373604
Diakses pada 2 November 2018
Web MD. https://www.webmd.com/brain/hydrocephalus-directory
Diakses pada 11 November 2018
Healthline. https://www.healthline.com/health/hydrocephalus#treatment
Diakses pada 8 Desember 2020
Medicalnewstoday. https://www.medicalnewstoday.com/articles/181727#prevention
Diakses pada 8 Desember 2020
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/hydrocephalus/
Diakses pada 8 Desember 2020
 
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email