Herpes simplex tipe 2 termasuk penyakit menular seksual yang tidak dapat diobati dan hanya dapat dikurangi gejalanya.

Herpes simpleks tipe 2 adalah salah satu jenis penyakit menular seksual (PMS), yang ditandai dengan adanya lepuhan atau luka di sekitar alat kelamin dan rektum (organ terakhir dari usus besar). Karenanya, penyakit ini juga disebut sebagai herpes genital dan merupakan penyebab utama dari penyakit ulkus genital.

Herpes simpleks tergolong sebagai masalah global karena tingginya angka infeksi yang terjadi. Pada tahun 2012, sebanyak 417 juta penduduk dunia berusia 15-49 tahun terinfeksi herpes simplex virus type 2 (HSV-2).

Kejadian terbanyak terdapat di Afrika (31,5%) diikuti dengan Amerika (14,4%). Jumlah penderita HSV-2 ini jauh lebih banyak dibandingkan jumlah penderita herpes simplex virus type 1 (HSV-1).

Banyaknya jumlah penderita tersebut disebabkan oleh penularan yang terus terjadi karena banyak kasus yang tidak terdiagnosis. Kondisi ini sering disebabkan oleh tidak adanya gejala atau indikasi yang tidak khas dari HSV-2.

Meski bisa menular pada siapa saja, wanita lebih banyak menderita herpes genital dibandingkan pria. Pasalnya, penularan HSV-2 lebih efektif jika ditularkan dari pria pada wanita. Pada tahun 2012, terdapat sekitar 267 juta orang wanita dan 150 juta orang pria yang hidup dengan HSV-2.

Infeksi HSV-2 menyebabkan seseorang menjadi lebih rentan terinfeksi HIV sebanyak tiga kali lipat. Orang yang terinfeksi HSV-2 dan HIV lebih mudah menularkan HIV ke orang lain. Sebanyak 60-90% orang dengan HIV juga menderita HSV-2. Ini berarti, HSV-2 tergolong sebagai jenis infeksi yang paling banyak ditemukan pada penderita HIV.

Kebanyakan penderita HSV-2 tidak memiliki gejala, sehingga tidak menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi. Biasanya, herpes simpleks tipe 2 ditandai dengan munculnya lepuhan pada daerah kemaluan atau rektum. Jumlah lepuhan ini bisa lebih dari satu.

Lepuhan akan pecah dan meninggalkan luka, seperti sariawan yang nyeri. Gejala tersebut merupakan gejala khas herpes simpleks tipe 2. Gejala ini juga dapat disertai sensasi seperti terbakar dan gatal pada kemaluan, gangguan berkemih, serta keluarnya cairan abnormal dari kemaluan.

Pada orang yang baru saja terinfeksi dapat timbul beberapa gejala seperti demam, sakit kepala, kelenjar getah bening yang membesar, kelelahan, tidak nafsu makan.

Penyakit ini disebabkan oleh infeksi herpes simplex virus type 2 (HSV-2) dan sebagian kecil oleh HSV-1. HSV-2 ditularkan melalui hubungan seks dengan penderita herpes simpleks tipe 2. Penularan dari ibu ke anak saat melahirkan juga dapat terjadi meskipun jarang.

Proses penularan paling mudah terjadi jika penderita sedang mengalami gejala. Namun tanpa gejala bukan berarti penderita bisa menularkan virus ini. Pasalnya, HSV-2 juga dapat menyebar meski penderita tidak menunjukkan gejala.

Banyak orang telah terinfeksi HSV-2, tapi tidak mengalami gejala apa-apa. Kondisi ini terjadi karena virus tersebut dalam keadaan dorman atau tidak aktif di dalam tubuh. Aktivasi virus di kemudian hari bisa disebabkan oleh beberapa hal di bawah ini:

  • Adanya penyakit tertentu (penyakit ringan sampai serius)
  • Kelelahan
  • Stress fisik maupun emosional.
  • Turunnya sistem kekebalan tubuh, misalnya pada penderita HIV/AIDS, penderita kanker yang sedang menjalani kemoterapi, serta orang yang mengonsumsi obat-obatan penekan sistem imun (seperti kortikosteroid).
  • Trauma pada daerah yang terinfeksi HSV-2, termasuk hubungan seksual.
  • Menstruasi.
  • Paparan sinar matahari.

Meskipun herpes genital paling banyak disebabkan oleh HSV-2, HSV-1 juga dapat menjadi penyebab herpes genital.

Karena gejala yang ditimbulkan oleh infeksi HSV-2 sangat khas, biasanya tidak diperlukan pemeriksaan lain untuk menegakkan diagnosis penyakit ini. Namun jika gejala yang ada tidak jelas, dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi adanya virus.

Pemeriksaan laboratorium bisa meliputi pengambil sampel cairan pada luka genital untuk diperiksa di laboratorium. Demikian pula dengan tes darah untuk mendeteksi ada atau tidaknya antibodi HSV-2 dalam tubuh penderita.

Tidak ada obat atau prosedur medis yang mampu menghilangkan virus herpes simpleks tipe 2 dari dalam tubuh penderita. Ini berarti, virus akan tetap berada dalam tubuh penderita seumur hidup.

Pemberian obat-obatan hanya ditujukan untuk mengurangi nyeri dan mempercepat penyembuhan saat gejala muncul. Namun pada dasarnya, gejala HSV-2 kemungkinan dapat hilang sendiri tanpa diobati.

Selain mengurangi gejala, obat-obatan  juga dapat menurunkan frekuensi kemunculan gejala serta menurunkan tingkat penularan virus. Jenis obat yang biasa digunakan meliputi asiklovir, famsiklovir, dan valasiklovir.

Sediaan obat tersebut dapat berupa obat minum atau salep. Jika gejala yang timbul sangat berat, obat dapat digunakan dengan cara injeksi. Perlu diingat bahwa pengobatan HSV-2 penting untuk mencegah risiko terkena HIV.

Sementara untuk nyeri akibat luka pada genital yang mengganggu, penderita dapat menguranginya dengan mandi air hangat.

Untuk mencegah risiko penularan HSV-2, Anda dapat melakukan langkah-langkah berikut:

  • Penderita herpes simpleks tipe 2 harus menghindari hubungan seksual saat sedang mengalami gejala herpes genital. Pasalnya saat ada gejala, HSV-2 sangat mudah menular.
  • Pemakaian kondom dapat menurunkan risiko penularan meski tidak sepenuhnya melindungi karena virus tetap bisa menular melalui bagian kemaluan yang tidak tertutup kondom.
  • Setialah pada pasangan Anda dan tidak berganti-ganti pasangan seksual.
  • Pada pria, sunat dapat melindungi dari infeksi HSV-2, HIV, maupun HPV (Human Papillomavirus).
  • Ibu hamil yang memiliki gejala herpes genital harus berkonsultasi dengan dokter untuk mencegah penularan pada bayinya.

Jika mencurigai ada kemungkinan terkena infeksi herpes genital atau penyakit menular seksual lainnya, Anda disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter.

Sebelum berkonsultasi, Anda dapat mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan yang akan diajukkan oleh dokter berikut ini:

  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala timbul?
  • Apakah Anda memiliki lebih dari satu pasangan seksual?
  • Apakah Anda pernah menderita penyakit menular seksual?
  • Apakah Anda selalu menggunakan kondom saat berhubungan seksual?
  • Apa saja obat maupun suplemen yang sedang Anda konsumsi?

Dokter akan menanyakan beberapa pertanyaan seperti:

  • Apakah Anda merasakan nyeri di daerah pinggul?
  • Apakah Anda mengalami nyeri saat berkemih?
  • Apakah Anda memiliki luka terbuka di sekitar genital?
  • Apakah ada cairan abnormal yang keluar dari kemaluan Anda?

WebMD. https://www.webmd.com/genital-herpes/pain-management-herpes#1
Diakses pada 13 Maret 2019

WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/herpes-simplex-virus
Diakses pada 13 Maret 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/herpes-simplex#symptoms
Diakses pada 13 Maret 2019

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2598582/
Diakses pada 13 Maret 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/genital-herpes/diagnosis-treatment/drc-20356167
Diakses pada 13 Maret 2019

Artikel Terkait