Infeksi

Hepatitis

Diterbitkan: 30 Dec 2020 | dr. Levina FeliciaDitinjau oleh dr. Reni Utari
image Hepatitis
Hepatitis bisa disebabkan oleh infeksi virus, kondisi autoimun, hingga penyalahgunaan alkohol
Hepatitis adalah kondisi medis yang ditandai dengan peradangan pada hati. Peradangan dan pembengkakan terjadi ketika jaringan tubuh mengalami cedera atau infeksi. Kondisi ini dapat merusak dan mengganggu fungsi hati.Hepatitis umumnya terjadi karena infeksi virus. Kondisi ini juga bisa disebabkan oleh penyakit autoimun.Kondisi autoimun terjadi saat sistem kekebalan tubuh salah paham dan menyerang sel-sel hati yang sehat.Yyak hanya itu, hepatitis dapat pula disebabkan oleh konsumsi alkohol berlebihan, obat-obatan medis, penyalahgunaan obat terlarang, dan racun tertentu.Beberapa jenis hepatitis dapat sembuh sendiri tanpa memicu komplikasi yang lebih serius. Namun ada juga tipe hepatitis lain yang membutuhkan pengobatan secepat mungkin.Tanpa pengobatan, jenis hepatitis tersebut bisa menyebabkan sirosis hati. Kondisi ini kemudian berujung pada gagal hati atau kanker hati.Pengobatan hepatitis dilakukan berdasarkan jenisnya. Beberapa tipe penyakit hati ini dapat dicegah dengan imunisasi dan gaya hidup yang sehat. 
Hepatitis
Dokter spesialis Penyakit Dalam
GejalaGejala mirip flu, sakit perut, urine yang gelap dan keruh
Faktor risikoPetugas medis, gonta-ganti pasangan seksual, pengguna narkoba suntik
Metode diagnosisTes darah, USG perut, tes fungsi hati
PengobatanCukup istirahat, cukup minum, obat-obatan
ObatAntivirus, kortikosteroid
KomplikasiPenyakit hati kronis, sirosis, dan kanker hati
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala hepatitis
Jika Anda memiliki infeksi hepatitis kronis seperti hepatitis B dan C, biasanya tidak ada gejala awal sampai terjadi kerusakan yang memengaruhi fungsi hati. Tanda dan Gejala dari hepatitis akut dapat terjadi dengan cepat, seperti:
  • Gejala mirip dengan flu
  • Sakit perut
  • Urine yang berwarna gelap keruh
  • Kehilangan selera makan
  • Penurunan berat badan tanpa alasan
  • Kelelahan
  • Kotoran yang berwarna pucat
  • Kulit dan mata berwarna kuning (tanda dari jaundice)
Hepatitis kronis terjadi perlahan, sehingga tanda dan gejala di atas dapat terlalu samar untuk diperhatikan. 
Hepatitis yang disebabkan oleh infeksi virus dapat digolongkan menjadi 5, yaitu hepatitis A, B, C, D dan E. Setiap golongan disebabkan oleh virus yang berbeda.Hepatitis A selalu akut dan merupakan penyakit jangka pendek. Begitu juga dengan hepatitis E, yang biasanya akut. Tipe ini berbahaya terutama pada wanita hamil.Sementara itu, hepatitis B,C dan D merupakan hepatitis menahun dan terjadi dalam jangka waktu yang panjang.
  • Hepatitis A
    Hepatitis A disebabkan oleh infeksi virus hepatitis A. Tipe ini biasanya ditularkan melalui makanan atau air yang terkontaminasi oleh feses dari orang yang menderita hepatitis A.
  • Hepatitis B
    Hepatitis B ditularkan melalui kontak dengan cairan tubuh yang terinfeksi, seperti darah, cairan dari vagina, atau semen pada pria yang mengandung virus hepatitis B. Pemberian obat melalui injeksi, melakukan hubungan seksual maupun berbagi alat pencukur dengan orang yang terinfeksi, meningkatkan risiko terkena hepatitis B.
  • Hepatitis C
    Hepatitis C disebabkan oleh virus hepatitis C, dan ditularkan melalui kontak langsung dengan cairan tubuh yang terinfeksi, biasanya melalui suntikan, dan kontak seksual.
  • Hepatitis D
    Disebut juga Hepatitis Delta, disebabkan oleh virus hepatitis D. Penularan terjadi melalui kontak langsung dengan darah yang terinfeksi. Tipe ini merupakan tipe hepatitis yang jarang, dan hanya muncul bersamaan dengan infeksi hepatitis B. Virus hepatitis D tidak dapat berkembang biak tanpa adanya hepatitis B.
  • Hepatitis E
    Hepatitis E merupakan penyakit yang ditularkan melalui air dan disebabkan oleh virus hepatitis E. Tipe ini biasanya ditemukan pada daerah dengan sanitasi yang buruk dan sebagai akibat dari konsumsi air yang terkontaminasi oleh feses.
Penyebab hepatitis noninfeksi lainnya:
  • Alkohol dan toksin lainnya
    Konsumsi alkohol secara berlebihan dapat menyebabkan peradangan dan kerusakan pada sel hati. Kondisi ini dikenal dengan alcoholic hepatitis. Seiring berjalannya waktu alkohol secara langsung merusak sel-sel hati dan menyebabkan kerusakan permanen, seperti sirosis dan gagal hati. Penyebab lainnya berupa penyalahgunaan obat dan paparan terhadap toksin.
  • Respons sistem autoimmun
    Pada beberapa kasus, sistem imun menyalahartikan sel-sel hati sebagai sesuatu yang berbahaya bagi tubuh dan mulai menyerang sel-sel sehat tersebut, sehingga menyebabkan reaksi inflamasi (peradangan). Reaksi tersebut terjadi dengan kondisi mulai dari ringan sampai berat, sehingga mengganggu kerja atau fungsi hati. Kondisi ini 3 kali lebih umum terjadi pada wanita dibandingkan dengan pria.
 
Untuk mendiagnosis hepatitis, dokter biasanya akan melakukan beberapa hal, termasuk:
  • Menanyakan tentang riwayat penyakit pasien, untuk menentukan faktor risiko hepatitis infeksi maupun noninfeksi, dan melakukan pemeriksaan fisik dengan menekan perut secara lembut untuk melihat adanya rasa sakit atau nyeri, serta memeriksa kemungkinan pembesaran pada hati. Jika kulit dan mata berwarna kuning, dokter bisa memberikan pertimbangan tertentu.
  • Tes darah, untuk mendeteksi sumber masalah pada fungsi hati yang tidak normal. Tes ini juga dapat memeriksa virus yang menyebabkan hepatitis dan juga antibodi yang umum pada kondisi hepatitis autoimun.
  • USG perut, untuk menggambarkan organ-organ dalam perut, terutama hati dan organ-organ sekitarnya. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan terjadinya pembesaran atau kerusakan organ hati, adanya cairan didalam perut, tumor hati, kelainan kandung empedu, dan terkadang pankreas.
  • Tes fungsi hati, dengan menggunakan sampel darah yang menentukan efisiensi kerja hati. Tingginya kadar enzim hati dapat menandakan hati yang sedang stres, rusak, atau tidak berfungsi dengan baik.
  • Biopsi hati, yang merupakan suatu prosedur invasif untuk mengambil sampel jaringan hati dengan menggunakan jarum melalui kulit dan tidak memerlukan operasi. Biopsi biasanya dilakukan dengan dibantu oleh USG (ultrasound) untuk memandu pengambilan sampel untuk biopsi. Melalui pemeriksaan ini, dokter dapat menentukan infeksi atau peradangan terjadi pada hati.
 
Pengobatan diberikan berdasarkan tipe dan kondisi hepatitis.
  • Hepatitis A
    Tipe ini biasanya tidak membutuhkan pengobatan, karena umumnya dapat sembuh dengan sendirinya dan hanya berlangsung sesaat. Istirahat dianjurkan jika gejala menyebabkan ketidaknyaman. Jika mengalami muntah atau diare, maka diperlukan hidrasi dan nutrisi yang memadai. Vaksin hepatitis A tersedia sebagai pencegahan. Biasanya vaksin diberikan pada bayi berusia antara 12-18 bulan. Vaksin ini juga tersedia bagi orang dewasa dan dapat dikombinasikan dengan vaksin hepatitis B.
  • Hepatitis B
    Hepatitis B yang akut tidak memerlukan pengobatan yang spesifik. Namun pasien hepatitis B kronis akan mendapatkan obat antivirus. Pengobatan ini dapat berlangsung dalam hitungan bulan bahkan tahun, dan membutuhkan evaluasi medis secara teratur, termasuk untuk respons virus terhadap pengobatan. Vaksin Hepatitis B dapat mencegah terjadinya penyakit ini.
  • Hepatitis C
    Antivirus akan diberikan baik untuk hepatitis C akut maupun kronis. Pasien hepatitis C kronis biasanya mendapatkan kombinasi dari terapi antivirus. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk menentukan pengobatan yang terbaik untuk tipe ini. Orang yang menderita sirosis karena hepatitis C mungkin dapat menjalani transplantasi hati. Untuk sekarang ini, belum tersedia vaksin untuk Hepatitis C.
  • Hepatitis D
    Belum ada antivirus yang tersedia untuk mengobati hepatitis D. Hepatitis D dapat dicegah dengan pemberian vaksin hepatitis B. Sebab, hepatitis D baru dapat terjadi jika muncul infeksi hepatitis B.
  • Hepatitis E
    Sampai dengan saat ini, belum ada pengobatan khusus untuk tipe ini. Karena biasanya infeksi ini terjadi secara akut, maka hepatitis E akan sembuh dengan sendirinya. Pasien hepatitis tipe ini disarankan untuk beristirahat dan minum dengan cukup, mengonsumsi cukup nutrisi, serta menghindari alkohol. Wanita hamil dengan hepatitis E memerlukan pengawasan dan penanganan yang ketat.
  • Hepatitis Autoimun
    Kortikosteroid seperti prednisone atau budesonide sangat penting dalam penanganan awal autoimun hepatitis. Pengobatan ini efektif untuk sekitar 80 persen penderita. Azothioprine, obat yang menekan sistem imun sering dimasukkan ke dalam pengobatan dan dapat digunakan dengan atau tanpa steroid. Alternatif pengobatan lainnya selain azothioprine adalah dengan mycophenolate, tacrolimus, cyclosporine.
 
Anda dapat mencegah hepatitis dengan melakukan beberapa hal, termasuk:
  • Menjaga kebersihan, untuk menghindari terserang infeksi hepatitis A dan E. Selain itu, hindari air mentah, kerang tiram mentah atau setengah matang, es, buah mentah dan sayuran mentah. Hepatitis B,C, dan D yang ditularkan melalui darah yang terkontaminasi dapat dicegah dengan tidak berbagi alat cukur, tidak berbagi jarum suntuk, tidak menggunakan sikat gigi orang lain, tidak menyentuh percikan darah. Hepatitis B dan C dapat dicegah dengan menjalani perilaku hubungan seksual yang aman dan menggunakan kondom, untuk membantu mengurangi risiko infeksi.
  • Mendapatkan vaksin hepatitis, untuk mencegah perkembangan hepatitis A dan B.
 
Berkonsultasilah dengan dokter, jika Anda memiliki gejala yang mengkhawatirkan, atau sesuai dengan gejala yang disebutkan di atas. 
Sebelum berkonsultasi dengan dokter, buatlah terlebih dahulu daftar gejala yang dialami, informasi medis, informasi pribadi, obat-obatan yang dikonsumsi, dan pertanyaan yang akan diajukan ke dokter, seperti:
  • Apa penyebab gejala yang saya alami?
  • Apa perawatan atau pengobatan yang direkomendasikan?
  • Apakah saya harus menjalani pemeriksaan tertentu?
  • Apakah kondisi saya kronis atau bersifat sementara?
  • Apakah diet saya harus dibatasi?
  • Apakah saya harus berkonsultasi dengan dokter spesialis?
  • Apa efek samping dari pengobatan yang direkomendasikan?
  • Bagaimana pengobatan hepatitis dapat menyebabkan masalah pada hati saya?
  • Seberapa beratkah kerusakan pada hati saya?
  • Apakah saya harus melakukan konsultasi lanjutan?
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali muncul?
  • Apakah Anda memiliki keluarga dengan riwayat penyakit hati?
  • Apa yang kondisi yang meringankan atau memperberat gejala Anda?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait hepatitis?
  • Apakah ada anggota keluarga atau orang di sekitar Anda dengan gejala yang sama?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis hepatitis. Dengan ini, penanganan bisa diberikan secara tepat. 
Healthline. https://www.healthline.com/health/hepatitis
Diakses pada 4 Desember 2018
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/autoimmune-hepatitis/symptoms-causes/syc-20352153
Diakses pada 4 Desember 2018
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/hepatitis/
Diakses pada 4 Desember 2018
Medline Plus. https://medlineplus.gov/hepatitis.html
Diakses pada 30 Desember 2020
Medicinenet. https://www.medicinenet.com/viral_hepatitis/article.htm
Diakses pada 30 Desember 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Mungkinkah Ibu Hamil Menularkan Virus Corona kepada Janin?

Kekhawatiran akan kasus COVID-19 juga dirasakan oleh ibu hamil. Tak sedikit yang berpikir bahwa COVID-19 mungkin dapat menyerang janin di kandungannya.Baca selengkapnya
Ibu hamil tidak akan menularkan COVID-19 pada janin

Penderita Hepatitis B Bisa Sembuh Total? Ini Penjelasannya

Hepatitis B bisa sembuh total tanpa pengobatan khusus. Untuk penderita akut, Anda harus menjalani pola hidup sehat dan untuk penderita kronis, Anda harus mengonsumsi obat tertentu untuk meredakan gejalanya.
08 Aug 2019|Asni Harismi
Baca selengkapnya
Hepatitis B bisa sembuh total

Waspadai Gejala Pembengkakan Limpa yang Bisa Membahayakan Anda

Pembengkakan limpa atau splenomegali adalah kondisi yang terjadi ketika organ limpa membesar melebihi ukuran normalnya. Kondisi ini umumnya ditandai dengan nyeri pada perut kiri bagian atas.
11 Sep 2020|Dina Rahmawati
Baca selengkapnya
Pembengkakan limpa karena infeksi