Hepatitis D

Ditulis oleh Lenny Tan
Ditinjau dr. Reni Utari
Hepatitis D disebabkan oleh infeksi virus hepatitis delta (HDV) dan dapat menular apabila bersentuhan dengan darah atau cairan tubuh dari penderita
Hepatitis D dapat memperburuk gejala hepatitis B

Pengertian Hepatitis D

Hepatitis D merupakan infeksi yang menyebabkan peradangan pada hati. Kondisi ini kemudian dapat merusak fungsi hati atau masalah jangka panjang lain, seperti jaringan parut hati (sirosis) dan kanker.

Hepatitis D dapat bersifat kronis atau akut (terjadi secara tiba-tiba). Jenis akut umumnya akan menimbulkan gejala yang lebih parah.

Virus penyebab hepatitis D juga dapat berada dalam tubuh jauh sebelum gejala timbul. Penyakit ini dapat menginfeksi seseorang yang sudah terkena infeksi hepatitis B.

Hingga saat ini, belum ada vaksin untuk mencegah hepatitis D. Namun langkah pencegahan tetap dapat dilakukan pada orang yang telah terinfeksi hepatitis B. Pengobatan juga dapat membantu dalam menurunkan risiko komplikasi gagal hati ketika penyakit ini sudah terdeteksi.

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Hepatitis D tidak selalu menimbulkan gejala. Tetapi ada beberapa tanda umum yang dapat Anda waspadai. Di antararanya meliputi:

  • Nyeri sendi.
  • Sakit perut.
  • Urine berwarna gelap.
  • Kelelahan
  • Muntah
  • Kehilangan selera makan.
  • Kulit dan bagian putih mata yang menguning (jaundice).

Gejala yang ditimbulkan hepatitis B dan D hampir serupa, sehingga sulit untuk menentukan penyakit mana yang menyebabkan gejala. Selain itu, hepatitis D dapat memperburuk gejala hepatitis B.

Penyebab

Hepatitis D disebabkan oleh infeksi virus hepatitis delta (HDV). Seseorang bisa terkena HDV jika bersentuhan dengan darah atau cairan tubuh dari penderita. Mulai dari urine, cairan vagina, air mani, maupun darah. Proses persalinan juga dapat menularkan penyakit ini dari ibu pada bayinya.

Meski begitu, virus tersebut hanya dapat menginfeksi seseorang jika dia telah menderita hepatitis B. Pasalnya, HDV membutuhkan virus hepatitis B untuk bertahan hidup. Hepatitis D dapat terjadi melalui dua cara berikut ini:

  • Koinfeksi: Tertular HBV dan HDV secara bersamaan.
  • Superinfeksi: Pengidap menderita hepatitis B terlebih dahulu, kemudian terinfeksi HDV.

Diagnosis

Pada saat berkonsultasi dengan dokter, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik dan beberapa jenis tes untuk melengkapi diagnosisnya. Apa sajakah?

  • Tes darah yang dilakukan untuk mengetahui keberadaan antibodi hepatitis D dalam darah. Jika antigen tersebut ditemukan, berarti Anda sudah terpapar virus.
  • Tes PCR (polymerase chain reaction) untuk mengonfirmasi adanya HDV.
  • Tes fungsi hati jika dokter mencurigai adanya kerusakan hati. Hasilnya akan menunjukkan kondisi hati Anda, apakah ada kerusakan atau mengalami stres.

Pengobatan

Tidak ada pengobatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi hepatitis D akut. Pasalnya, obat antivirus tidak dapat mengobati hepatitis secara efektif lagi.

Namun ada beberapa cara yang bisa dilakuan untuk membantu dalam mengurangi komplikasi akibat hepatitis. Berikut contohnya:

  • Obat interferon yang digunakan selama 12 bulan berfungsi untuk menghentikan penyebaran virus dalam tubuh. Langkah ini akan memicu remisi pada penyakit.
  • Transplantasi hati dapat dilakukan jika pencerita telah mengalami kerusakan pada hati atau sirosis hati. Pembedahan ini dilakukan dengan mengangkat bagian hati yang rusak dan menggantinya dengan organ hati sehat dari pendonor. 70% dari penderita yang telah menjalani operasi, dinyatakan dapat bertahan hidup selama lima tahun atau lebih.

Pencegahan

Belum ada vaksin untuk mencegah terjadinya hepatitis D. Meski demikian, Anda dapat mencegah penularannya dengan beberapa hal di bawah ini:

  • Pemberian vaksin hepatitis B.
  • Terapi antihepatitis B.
  • Menghindari penggunaan obat-obatan terlarang yang disuntikkan. Penggunaan jarum suntik secara bergantian dapat meningkatkan kemungkinan penularan hepatitis D.
  • Menggunakan kondom saat melakukan aktivitas seksual.
  • Berhati-hati saat melakukan tato dan tindikan. Pasalnya, menggunakan jarum bekas orang lain dapat meningkatkan risiko penularan hepatitis D.

Informasi Dokter

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Hubungi segera dokter jika Anda memiliki gejala hepatitis D atau jika Anda mengalami gejala penyakit tanpa sakit kuning. Karena dokter dapat saja mencurigai Anda mengalami hepatitis.

Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Berkonsultasi dengan Dokter?

Sebelum berkonsultasi dengan dokter, terdapat beberapa hal yang dapat Anda siapkan. Berikut penjelasannya:

  1. Mintalah pasangan untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter.
  2. Catat semua gejala yang Anda alami dan kapan mulai muncul.
  3. Siapkan pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter, misalnya:
    • Apa yang penyebab hepatitis D?
    • Apa jenis pemeriksaan yang perlu dilakukan?
    • Apa saja komplikasi yang dapat dialami?
    • Apakah hepatitis D dapat disembuhkan?

Apa yang Akan Dilakukan Dokter pada Saat Konsultasi?

Pada saat konsultasi, dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan mengenai riwayat kesehatan dan aktivitas Anda. Dokter kemudian mungkin akan mengambil sampel darah Anda untuk melakukan tes darah dan memastikan ada atau tidaknya virus hepatitis D dalan tubuh Anda.

Referensi

Healthline. https://www.healthline.com/health/delta-agent-hepatitis-d
Diakses pada 20 Desember 2018

Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/178038-overview
Diakses pada 20 Desember 2018

SA Health. https://www.sahealth.sa.gov.au/wps/wcm/connect/public+content/sa+health+internet/health+topics/health+conditions+prevention+and+treatment/infectious+diseases/hepatitis/hepatitis+d+-+including+symptoms+treatment+and+prevention
Diakses pada 4 April 2019

Web MD. https://www.webmd.com/hepatitis/hepatitis-d-overview#1
Diakses pada 4 April 2019

Back to Top