Infeksi

Hepatitis C

Diterbitkan: 28 Jan 2019 | dr. Joni Indah SariDitinjau oleh dr. Anandika Pawitri
image Hepatitis C
Hepatitis C adalah radang hati yang bisa ditularkan melalui kontak darah
Hepatitis C adalah peradangan pada hati akibat infeksi virus hepatitis C. Hepatitis jenis ini ditularkan melalui kontak darah, transplantasi organ, hubungan seksual, dan sebagainya.Infeksi virus hepatitis C kerap tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Keluhan baru terasa ketika penderita sudah mengalami kerusakan hati yang parah.Oleh karena itu, pemeriksaan skrining hepatitis C sangat penting untuk orang-orang yang berisiko tinggi mengalami infeksi ini.Penanganan sejak dini akan menentukan tingkat kesembuhan infeksi hepatitis C. Bila tidak ditangani dengan baik, hepatitis C kronis (menahun) dapat menimbulkan komplikasi berupa gagal hati, kanker hati, bahkan kematian. 
Hepatitis C
Dokter spesialis Penyakit Dalam
GejalaMual, muntah, kulit menguning
Faktor risikoMemiliki profesi sebagai petugas medis, HIV/AIDS, menggunakan NAPZA
Metode diagnosisWawancara, pemeriksaan fisik, tes darah
PengobatanObat-obatan
ObatRibavirin, simeprevir, paritaprevir
KomplikasiSirosis hati, gagal hati, kanker hati
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala
Gejala hepatitis C sering tidak terasa pada masa-masa awal infeksi. Inilah yang menyebabkan penderita baru menyadari penyakitnya setelah berlangsung lama atau kronis.Hepatitis C terbagi dalam dua jenis, yakni akut dan kronis. Hepatitis C akut umumnya berlangsung dalam beberapa bulan, dan kerap sembuh tanpa penanganan khusus (sekitar 6 bulan). Bla bergejala, keluhan biasa muncul pada 1-3 bulan setelah penderita terpapar virus.Meski begitu, 75-85 persen dari keseluruhan kasus hepatitis C akut bisa berkembang menjadi hepatitis C kronis (jangka panjang). Jenis infeksi kronis bisa berujung pada kerusakan hati dan kanker hati jika terus dibiarkan.Oleh sebab itu, sangatlah penting untuk mengenali gejala hepatitis C secepat mungkin. Berikut penjelasannya:

Gejaja hepatitis C akut

  • Mual
  • Muntah
  • Demam
  • Kelelahan
  • Sakit perut
  • Tidak nafsu makan
  • Nyeri pada sendi
  • Kulit dan bagian putih mata yang menguning (sakit kuning)
  • Tinja berwarna pucat seperti dempul

Gejala hepatitis C kronis

  • Mudah memar
  • Gampang mengalami perdarahan
  • Kelelahan yang ekstrem
  • Tidak nafsu makan
  • Penurunan berat badan
  • Sakit kuning
  • Urine berwarna gelap
  • Gatal-gatal pada kulit
  • Perut yang tampak membesar karena penumpukan cairan
  • Pembengkakan pada kaki
  • Linglung
  • Pelafalan yang tidak jelas
  • Muncul pembuluh darah seperti jaring laba-laba pada kulit
Mungkin saja ada tanda dan gejala hepatitis C yang tidak disebutkan. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan keluhan tertentu, konsultasikanlah dengan dokter. 
Penyebab penyakit hepatitis C adalah infeksi virus hepatitis C. Virus ini dapat ditularkan melalui:
  • Saling meminjamkan jarum suntik, misalnya pengguna narkoba yang memakai jarum suntik bekas orang lain
  • Mendapatkan transfusi darah atau transplantasi organ dari pengidap hepatitis C.
  • Pernah melakukan tindikan atau tato dengan alat yang tidak steril.
  • Saling berbagi barang pribadi, seperti sikat gigi, alat cukur, dan gunting kuku
  • Memiliki profesi sebagai petugas medis, contohnya tidak sengaja tertusuk jarum suntik bekas penderita hepatitis C
  • Melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan penderita hepatitis C
  • Ibu hamil yang mengalami hepatitis C dapat menularkannya pada sang bayi ketika menjalani persalinan normal
Selain cara penularan tersebut, faktor-faktor risiko hepatitis C di bawah ini perlu diwaspadai:
  • Memiliki profesi sebagai petugas medis
  • Mengidap HIV/AIDS
  • Menyalahgunakan obat-obatan terlarang (NAPZA)
  • Terlahir dari ibu yang mengidap hepatitis C
  • Menjalani prosedur cuci darah untuk waktu lama

Hal-hal ini tidak menularkan hepatitis C

Meski begitu, hepatitis C tidak dapat menyebar melalui:
  • Bersin atau air liur ketika penderita batuk
  • Berpelukan
  • Berciuman
  • Bersalaman
  • ASI, kecuali ada luka terbuka pada puting susu sang ibu yang mengidap hepatitis C
  • Berbagi makanan atau minuman
  • Berenang
  • Duduk toilet
  • Gagang pintu
 
Diagnosis hepatitis C dapat dipastikan dengan cara:

Tanya jawab

Dokter akan menanyakan mengenai gejala dan riwayat penyakit pasien terlebih dulu.

Pemeriksaan fisik

Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik yang meliputi perabaan pada perut bagian atas, tempat organ hati. Langkah ini bertujuan menentukan ada tidaknya pembengkakan hati.

Tes darah

Tes darah terdiri dari pemeriksaan antibodi hepatitis C dan PCR. Hasilnya biasa keluar dalam 2 minggu.Tes antibodi bertujuan menentukan apakah pasien pernah terpapar virus hepatitis C atau tidak. Bila pernah terpapar, hasilnya akan positif.Namun hasil positif dari tes antibodi hepatitis C tidak otomatis berarti pasien sedang mengalami infeksi virus hepatitis C. Untuk memastikannya, pasien perlu menjalani pemeriksaan lanjutan berupa tes PCR.Tes PCR akan menentukan apakah virus hepatitis C masih terdapat dalam tubuh pasien atau tidak. Hasil yang positif menandakan bahwa tubuh pasien belum sepenuhnya berhasil melawan virus, dan infeksi telah berkembang menjadi hepatitis C kronis.

USG

USG dilakukan untuk mengevaluasi apakah organ liver mengerut atau tidak. Apabila sudah mengerut, kondisi ini mungkin menandakan adanya jaringan parut pada hati (sirosis).

Uji fungsi hati

Karena hepatitis C bisa memicu kerusakan pada hati, dokter harus mengevaluasi fungsi hati pasien. Pemeriksaan ini juga dilakukan melalui tes darah yang akan mengukur kadar protein atau enzim dalam hati.

Magnetic resonance elastography (MRE)

Pemeriksaan MRE memungkinkan dokter untuk mengecek ada tidaknya kerusakan pada hati.

Transient elastography

Transient elastography adalah pemindaian untuk mendeteksi apakah ada kerusakan hati yang terjadi atau tidak pada pengidap hepatitis C.

Biopsi hati

Untuk mendeteksi kerusakan hati, dokter bisa menganjurkan biopsi hati. Prosedur ini dilakukan untuk mengambil sedikit  sampel jaringan dari hati, kemudian diperiksa di bawah mikroskop. 
Cara mengobati hepatitis C umumnya akan tergantung dari tingkat keparahan penyakit dan seberapa lama pasien sudah mengalami kondisi tersebut.Sebagian besar hepatitis C jenis akut bisa sembuh dengan sendirinya, terutama bila penderita memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik. Penyakit ini bahkan tidak disadari oleh penderita karena tidak bergejala.Namun untuk penderita hepatitis C yang mengalami gejala atau komplikasi tertentu, beberapa metode penanganan di bawah ini bisa dianjurkan oleh dokter:

Obat antivirus

Obat antivirus yang biasa digunakan untuk mengatasi hepatitis C adalah kombinasi PEG-INF (pegylated interferon) dan ribavirin.PEG-INF tersedia dalam bentuk suntik yang diberikan setiap minggu. Sedangkan ribavirin tersedia dalam bentuk pil yang diminum dua kali sehari. Kedua obat ini umumnya digunakan selama 6 bulan.Namun pada tahun 2011, terdapat obat b hepatitis C baru yang diperkenalkan. Obat ini adalah golongan direct-acting antivirus (DAA).DAA lebih efektif daripada kombinasi PEG-INF dan ribavirin. Efek sampingnya juga lebih minimal.Karena itu, DAA telah menjadi penanganan standar untuk penderita hepatitis C kronis. Contoh obat ini meliputi simeprevir, paritaprevir, glecaprevir, dan grazoprevir.

Interferon-free therapy

Dua golongan obat baru, yang termasuk dalam interferon-free therapy, telah tersedia di Amerika Serikat sejak tahun 2014. Obat ini sudah terbukti dapat menyembuhkan lebih dari 90 persen penderita hepatitis C. Efek sampingnya juga relatif lebih ringan.

Vaksin hepatitis A dan B

Vaksin hepatitis dan B diberikan untuk mencegah kedua penyakit yang bersangkutan. Pasalnya, bila penderita hepatitis C juga mengalami infeksi hepatitis A dan B, kerusakan hati yang terjadi akan bertambah parah.

Transplantasi hati

Transplantasi hati dapat direkomendasikan bagi penderita hepatitis C yang sudah mengalami komplikasi berupa kerusakan hati. Contohnya, sirosis dan kanker hati.Dokter spesialis bedah akan mengangkat bagian hati pasien yang rusak dan menggantinya dengan jaringan hati yang sehat dari pendonor.

Perubahan gaya hidup

Guna mencegah komplikasi dan pemburukan kondisi, penderita hepatitis C juga dianjurkan untuk memperbaiki gaya hidupnya. Mulai dari berhenti merokok, rutin berolahraga, mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang, tidak minum alkohol, serta selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan obat-obatan.

Komplikasi hepatitis C

Bila tidak ditangani dengan benar, hepatitis C dapat menyebabkan komplikasi berupa:
  • Sirosis hati, yaitu timbulnya jaringan parut di hati
  • Gagal hati
  • Kanker hati
  
Berbeda dengan hepatitis A dan B yang telah memiliki vaksin, vaksin hepatitis C belum tersedia. Namun Anda dapat menerapkan beberapa cara di bawah ini untuk mencegah hepatitis C:
  • Rajin mencuci tangan dengan air besrsih yang mengalir dan sabun, khususnya sebelum makan dan setelah bepergian.
  • Bila tidak tersedia air bersih dan sabun, Anda bisa menggunakan hand sanitizer dengan bahan dasar alkohol.
  • Setialah pada pasangan dan tidak berganti-ganti pasangan.
  • Melakukan aktivitas seksual yang aman, misalnya menggunakan kondom.
  • Tidak berhubungan seks saat sedang haid.
  • Jangan saling meminjamkan barang-barang pribadi, seperti sikat gigi, gunting kuku, atau alat cukur.
  • Berhenti menggunakan obat-obatan terlarang terutama yang disuntikkan.
  • Berhati-hatilah saat ingin melakukan tindik atau tato. Pastikan Anda memilih tempat tindik dan tato yang terpercaya serta memiliki peralatan yang steril.
  • Memakai alat pelindung yang memadai ketika harus melakukan kontak dengan darah, misalnya petugas medis.
  • Meningkatkan sistem imun, contohnya dengan mengonsumsi makanan sehat dan berolahraga secara teratur.
  • Jangan menggunakan obat-obatan terlarang, terutama melalui jarum suntik.
  • Khusus untuk penderita hepatitis C, tutupi luka terbuka dengan plester agar menimimalkan risiko penularan pada orang lain.
 
Hubungi dokter bila apabila Anda mengalami gejala-gejala yang terasa mencurigakan, terutama keluhan berikut:
  • Sakit kuning
  • Penurunan nafsu makan
  • Penurunan berat badan yang drastis
 
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali muncul?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait hepatitis C?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis hepatitis C agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
CDC. https://www.cdc.gov/hepatitis/hcv
Diakses pada 4 Desember 2018
Family Doctor. https://familydoctor.org/condition/hepatitis-c
Diakses pada 4 Desember 2018
Healthline. https://www.healthline.com/health/hepatitis-c
Diakses pada 4 Desember 2018
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hepatitis-c/symptoms-causes/syc-20354278
Diakses pada 4 Desember 2018
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/hepatitis-c
Diakses pada 4 Desember 2018
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/326283#seeing-a-doctor
Diakses pada 19 Agustus 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Mengenal Tanda Awal Gejala Liver yang Perlu Anda Waspadai

Gejala liver dapat terjadi secara akut maupun kronis. Tanda-tanda awal yang paling sering ditemukan adablah kelelahan, urine yang pekat, dan kulit yang menguning.Baca selengkapnya
Gejala liver dapat dilihat dari warna urine

HBsAg Positif atau Reaktif saat Tes Lab, Ini Artinya

HBsAg positif menandakan infeksi hepatitis B. Pengidap penyakit ini bisa sembuh total jika diobati sejak dini. Vaksin hepatitis B pun sangat efektif untuk mencegah penularan.
01 Oct 2020|Nina Hertiwi Putri
Baca selengkapnya
HBsAg positif menandakan ada infeksi hepatitis B

Fakta di Balik Anggapan Makanan Menyembuhkan Hepatitis B

Makanan menyembuhkan hepatitis B sebenarnya hanya mitos. Namun, penderita penyakit ini memang harus diet ketat agar organ hati tidak cepat rusak. Apa saja makanan yang dianjurkan dan sebaiknya dihindari?
12 Oct 2020|Asni Harismi
Baca selengkapnya
Makanan menyembuhkan hepatitis B tidak ada, tapi buah dan sayur tetap dianjurkan.